
Pagi-pagi Loren datang ke kantor dan ternyata Rizal sudah berada di sana. Dengan sengaja Loren berjalan menghampirinya, ingin melihat reaksi yang diberikan oleh Rizal. Reaksi yang sama, gugup seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Loren tidak mau gegabah dalam menanyakan hal itu, karena ia ingin membicarakannya hanya berdua saja. Memang pagi itu sudah ada beberapa karyawan yang sudah datang.
"Selamat pagi Rizal....." sapa Loren dengan nada khas manjanya.
"Pa pagi Mbak Loren..." sahut Rizal yang terlihat gugup.
Loren membalikkan badannya, ia duduk di kursi kerjanya sambil tersenyum memandangi Rizal. Karena selalu di pandangi oleh Loren, Rizal pun beranjak dari duduknya dan pergi ke pantry untuk membuat minuman. Seperti tidak mau melewatkan waktu sedetikpun dengan Rizal, Loren pun mengikuti Rizal ke pantry.
Wajah Rizal semakin pucat ketika Loren berjalan mendekatinya. Mungkin Rizal gugup karena ia pikir Loren tertarik padanya. Karena Loren bersikap seperti orang yang sedang mendekati seseorang yang ia sukai. Lagi-lagi Rizal merasa gugup ketika Loren benar-benar nempel dengannya.
"Maaf Mbak Loren, bisakah jangan memandangiku seperti itu?" kata Rizal sambil mendorong tubuh Loren agak menjauh darinya.
"Maaf kalau itu mengganggumu. Setelah pulang kerja, bisakah kita jalan sebentar." pinta Loren sambil menyeruput kopi yang baru ia buat.
Awalnya Rizal menolak ajakan dari Loren, tetapi karena Loren terus memaksanya, jadi Rizal pun terpaksa menerima ajakannya Loren. Lalu Rizal keluar dari pantry sambil membawa secangkir kopi buatannya. Begitupun dengan Loren yang tersenyum sinis, berjalan mengikuti Rizal.
*****
Setelah Sholat Subuh Inah membantu Simbok membuat sarapan. Ketika sarapan sudah siap, Inah menyuruh Dimas untuk segera sarapan. Karena rencana Dimas kemarin yang ingin melamarnya, hal itu membuat Inah merasa gugup tiap kali berhadapan dengan Dimas. Ya, mungkin itu karena rasa cintanya sehingga ia merasa gugup.
"Den, sarapannya sudah siap." kata Inah sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan panggil aku den lagi ya! Mulai sekarang kamu panggil aku mas atau kakak. Terserah kamu, mana yang membuat mu nyaman." sahut Dimas tersenyum melihat Inah yang tidak berani menatapnya.
__ADS_1
"Baik Den! Eh, maksudku mas." Inah langsung membalikan badannya pergi ke dapur.
Dimas pun di buat Inah gemas melihat tingkahnya. Padahal sebelumnya Inah itu cerewet dan ceplas-ceplos. Tetapi karena Dimas sudah mengutarakan cintanya, Inah pun menjadi pemalu dan sekaligus pendiam di hadapan Dimas.
Setelah Dimas sarapan, Inah menyiapkan bekal sarapan untuk Anton. Inah berencana untuk pergi ke rumah sakit dengan Dimas. Ia juga ingin melihat kondisi Dinda saat ini, yang katanya di pindahkan ke ruang ICU. Biar bagaimanapun, Inah sudah menganggap Dinda sebagai adiknya sendiri. Jadi, ketika mendengar Dinda di tempatkan di ruang ICU membuat Inah sangat khawatir.
"Mas, ayo kita berangkat!" ajak Inah kepada Dimas.
"Oh, kamu sudah siap?" tanya Dimas yang gelagapan melihat Inah tampak cantik pagi itu.
Senyum Inah mengembang, tangannya menyilakan rambut di antara telinganya. Sehingga, sedikit memperlihatkan leher jenjangnya yang menarik dan rambut panjangnya yang ia gerai menambah kesan menawan. Itu kali pertama Inah terlihat cantik di depan Dimas. Karena Simbok memaksa Inah untuk berdandan, agar tidak terlihat lusuh.
Mata Dimas tak berhenti menatapnya, dia terpana oleh perubahan Inah yang berbeda dari biasanya. Tanpa riasan saja Inah sudah terlihat manis, apalagi di tambah riasan ringan di wajahnya, hal itu membuat Inah terlihat manis dan cantik menyatu jadi satu. Sehingga orang memandangnya tak merasa bosan, walau menatapnya beribu kali.
"Eh! Maaf, tadi aku gak konsentrasi." sahut Dimas dengan senyumannya.
Simbok yang melihat tingkah Dimas yang lucu pun ikut tersenyum geli. Dia sebenarnya tidak tahu pasti, seberapa nakalnya Dimas dulu. Mungkin jika Simbok mengetahui kenakalan Dimas yang dulu-dulu, ia tidak akan merestui hubungan sang anak dengan Dimas. Tetapi orang bisa saja berubah dan apa yang di lihat Simbok hanya kebaikan dari Dimas.
Dimas dan Inah pun pergi ke rumah sakit dengan mobil Anton yang jarang di pakai. Mereka berdua di dalam mobil masih tampak canggung, tetapi Dimas yang sudah berpengalaman dalam menjalin hubungan pun tak kehilangan akal untuk mencairkan suasana. Inah lah gadis pertama yang membuat Dimas merasa canggung.
Sesampainya mereka berdua di rumah sakit, Dimas dan Inah berjalan menuju ke tempat di mana Dinda di rawat. Tangan Dimas meraih tangan Inah, mereka berdua jalan sambil bergandengan tangan. Hati Inah tak berdegup kencang, tapi senyumnya terus mengembang. Menandakan bahwa saat itu dia sedang gugup, sekaligus bahagia. Karena orang yang ia idamkan sudah dekat di hati dan jiwanya.
"Bro! Bagaimana keadaan Dinda?" tanya Dimas kepada Anton yang saat itu duduk menunduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Anton mendongakkan kepalanya menatap wajah Dimas yang saat itu berdiri tepat di hadapannya. Sedangkan Inah melihat Dinda yang tergeletak tak berdaya di ruang ICU. Air matanya tak terasa menetes di pipinya. Bedak yang ia kenakan pun tersapu bersih ketika Inah menyapu air matanya dengan telapak tangannya.
"Kata Dokter belum ada perubahan bro! Aku minta Doanya, supaya Dinda cepat sembuh." jawab Anton dengan nada sedih.
"Tidak kamu minta pun aku akan mendoakan Dinda Bro! Kamu sarapan dulu, jaga kesehatanmu biar bisa jagain Dinda." suruh Dimas sambil menyodorkan kotak bungkus nasi.
Anton pun langsung meraih kotak nasi yang di sodorkan oleh Dimas. Ia berdiri dan berpamitan untuk pergi ke ruang atas, ruang inap yang masih ia sewa. Kebetulan saat itu rumah sakit VVIP tidak penuh, jadi Anton masih bisa menyewanya untuk jaga-jaga jika Dinda sadar tiba-tiba. Sedangkan Dimas berjalan menghampiri Inah yang saat itu masih memandangi Dinda dari balik kaca.
Dimas menyadari jika Inah sedang menangis, ia pun langsung memeluk Inah dari belakang dengan tujuan untuk menenangkannya. Walaupun hanya pelukan ringan, hal itu membuat Inah terkejut. Air matanya seketika berhenti, hatinya berdegup kencang dan ia pun menundukkan kepalanya, karena merasa malu. Inah tidak berani menoleh ke belakang, tubuhnya terasa kaku mendapat pelukan dari Dimas.
"Inah, stop nangisnya. Kita doakan biar Dinda cepat sembuh dan pulang ke rumah." tutur Dimas mencium kepala Inah.
"I iya mas...." sahut Inah dengan gugup.
Menyadari Inah yang tampak gugup, Dimas pun tersenyum dan melepaskan pelukannya. Dimas pun merasa bersalah, di keadaan seperti ini dia masih bisa tersenyum. Tersenyum di atas penderitaan Dinda, tetapi Dimas sendiri tidak bisa menahan senyumnya yang melihat tingkah Inah yang sangat lucu. Lalu Dimas mengajak Inah untuk duduk di kursi tunggu yang dekat dengan ruang ICU.
Inah masih terlihat gugup, apalagi Dimas sengaja duduk menempel dan merangkul pundak Inah. Hal itu semakin membuat tubuh Inah bergetar dan tidak tahan dengan skin ship di antara mereka. Rasa sedih karena melihat Dinda tak berdaya, berubah menjadi rasa yang susah ia artikan. Inah pun berdiri dan berpamitan untuk pergi ke toilet.
"Mas Dimas, aku pergi ke toilet dulu ya!" pamit Inah dengan gugup.
"Iya, toiletnya ada di sebelah kanan." sahut Dimas sambil menunjukkan arah toilet.
Dimas benar-benar tidak tahan untuk menyembunyikan rasa senangnya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, karena bibirnya terus menerus tersenyum mengembang. Ia sadar, saat itu ia sedang di depan ruang ICU, tak pantas jika ia bisa tersenyum lebar. Sementara orang-orang di sana yang juga sedang menjenguk pasien tidak ada satupun memiliki wajah ceria.
__ADS_1
Bersambung....