Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Yakin Pelakunya Adalah Loren


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Anton menelpon Inah dan menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit, menemani Dinda. Pagi itu Dinda belum bangun dari tidurnya, sehingga ketika Anton pergi dia tidak tahu. Sebelum Anton pergi, ia memberi pesan kepada Inah untuk menanyai Dinda, makanan apa yang ingin ia makan untuk sarapan.


"Nanti tanya Dinda kalau dia sudah bangun, dia ingin sarapan apa? Terus telepon aku, nanti biar aku belikan." kata Anton memberi pesan.


"Iya Den, nanti aku kabari jika Non Dinda sudah bangun." sahut Inah.


Kemudian Anton pergi keluar dari ruangan. Ia pulang ke rumah untuk mandi dan pergi ke kantor. Setibanya ia di kantor, belum ada siapa-siapa di sana, hanya ada satpam penjaga dan cleaning servis. Karena memang masih terlalu pagi, jadi belum ada karyawan yang datang.


Anton duduk di kursi kebesarannya menunggu kedatangan Dimas. Sembari menunggu, lagi-lagi Anton menonton rekaman CCTV di lantai sembilan, sebelum terjadinya kecelakaan. Sekarang ia setuju dengan Dimas, jika pelakunya adalah Loren.


Ceklek!


Dimas datang membuka pintu ruangannya Anton, dia berjalan menghampiri Anton sambil membawa rekaman CCTV yang ia dapat dari scurity yang bagian untuk mengawasi CCTV. Dimas meminta rekaman CCTV di lantai satu, tempat dimana di lakukan meeting.


"Bagaimana Bro! Bener kataku kan, jelas-jelas itu ulah Loren. Karena pas Dinda dan Rizal sedang mengobrol di pantry, dia dengar pembicaraan mereka. Pasti Loren dendam karena kamu campakkan!" kata Dimas sambil melekatkan rekaman CCTV di atas meja.


"Ya memang dari rekaman CCTV, sepertinya memang Loren pelakunya." sahut Anton sambil mengambil USB yang di bawa Dimas.


Dengan berkonsentrasi, Anton menonton isi rekaman tersebut. Benar saja, ketika Loren sudah masuk ke dalam ruang meeting, ia tiba-tiba keluar lagi. Dan tak lama kemudian, dia masuk ke ruang meeting dengan membawa berkas di tangannya. Anton ingat betul, jika Loren berpamitan kepadanya bahwa ia akan mengambil sesuatu sebelum meeting di mulai.


Sesaat setelah Loren masuk dengan membawa berkas dan memulai meeting, tiba-tiba salah satu karyawan datang dan memberitahu kalau Dinda jatuh dari tangga. Anton menyimpulkan, bahwa ketika Loren mengambil berkas, di saat itulah Loren kemungkinan mendorong Dinda hingga jatuh dan membuat Dinda kehilangan bayinya.

__ADS_1


Anton berdiri sambil mengepalkan tangannya. Lalu ia menyuruh Dimas untuk memanggilkan Loren dan kebetulan saat itu Loren sudah datang. Tak lama kemudian Loren masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajahnya yang ceria. Loren pun merasa bingung, karena Anton menatapnya tajam dengan mata merahnya. Loren tahu dari ekspresinya Anton, jika Anton saat itu sedang marah.


"Ada apa ini?" tanya Loren melihat ke arah Anton dan menoleh ke arah Dimas.


"Kamu jangan pura-pura polos! Kamu kan yang sudah membuat Dinda celaka?" tanya Dimas dengan senyum sinis.


Merasa tidak terima atas tuduhan yang di lontarkan Dimas, Loren pun mengelak dan membela dirinya sendiri. Dia memberitahu Anton jika ia memang membenci Dinda dan sempat ada rasa dendam di hatinya, tapi dia mengaku tidak tega jika harus melukai sampai ada korban. Tetapi dia tetap tidak mengakui, jika ia pelakunya.


Anton pun geram mendengar berkata Loren. Ia berjalan menghampirinya dan menarik lengan Loren dengan kasar. Ia menunjukkan rekaman tersebut kepada Loren dan memaksa Loren untuk mengakui jika dirinya adalah pelakunya. Tapi bukan penjahat namanya jika mengakui kesalahannya.


"Aku ingat betul! Sebelum kita mulai meeting, kamu pergi ke atas untuk mengambil berkas yang ketinggalan. Sudah, kamu jangan mengelak lagi atau akan aku jebloskan kamu ke penjara!" ancam Anton membentak.


"Tapi aku bukan pelakunya! Aku sendiri bingung, bagaimana bisa berkas ku ketinggalan, padahal aku sudah siapkan sejam sebelum meeting." elak Loren merasa ketakutan jika di laporkan ke polisi.


Di dorongnya Loren hingga ia terjatuh di lantai. Anton benar-benar marah, sampai-sampai ponselnya berdering pun tak terdengar olehnya. Sedangkan Loren menangis dan memohon kepada Anton untuk tidak melaporkan dirinya kepada polisi. Karena dia tahu, dalam rekaman tersebut menunjukkan bahwa dirinya adalah pelakunya.


Loren masih belum mengakui kesalahannya, dia masih teriak-teriak memohon dan menyatakan bahwa dirinya tak bersalah. Karena tangan Loren meraih kaki Anton, dengan kasar Anton menendang Loren hingga ia tersungkur di lantai.


"Anton, aku tidak melakukan hal itu! Percayalah..." kata Loren sambil menangis.


"Tetapi semua bukti mengarah kepadamu. Siapa lagi jika bukan kamu? Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. Atas rasa sakit yang di alami Dinda dan bayiku!" sahut Anton dengan matanya yang memerah.

__ADS_1


Kemudian Anton menyuruh Dimas untuk melaporkan Loren ke kantor polisi. Tetapi sepertinya Dimas tidak menyetujui rencana Anton, lalu ia membisikan sesuatu ke telinganya, memberitahu sebuah rencana. Entah rencana apa, hanya mereka yang tahu. Anton pun tersenyum sinis dan segera menyuruh Loren keluar dari ruangannya.


Sebelum keluar dari ruangan, Loren terlebih dahulu merapikan bajunya dan juga rambutnya. Kemudian Anton melihat ponselnya dan ada empat panggilan tak terjawab dari Inah. Ia pun segera menelponnya balik. Karena Anton khawatir jika ada sesuatu yang terjadi dengan Dinda.


Tetapi setelah ia menelponnya, Anton merasa lega. Ternyata Inah hanya ingin memberitahunya, bahwa Dinda ingin makan bubur ayam dan Inah membelikan sarapan untuk Dinda melalui aplikasi Online.


"Bagaimana Bro, kita pakai rencana itu?" tanya Dimas yang sedari tadi duduk di sofa.


"Apa gak sebaiknya kita laporkan saja ke pihak berwajib." jawab Anton ragu.


"Yah terserah kamu!" sahut Dimas yang berdiri dari duduknya.


Karena Dinda ada jadwal untuk melakukan CT scan pada kepalanya, Anton menyuruh Dimas untuk mengawasi kantornya dan ia berencana untuk kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Dinda. Ketika Anton keluar dari ruangannya, ia melihat Rizal yang saat itu sedang duduk di kursi kerjanya.


Anton berjalan menghampirinya dan menyapanya. Ada gelagat aneh ketika Rizal menjawab sapaan darinya. Tidak seperti biasanya, Rizal tidak berani menatap wajahnya, ia malah menundukkan kepalanya ketika Anton mulai mengajaknya berbicara. Mungkin karena rasa bersalahnya atau dia menyembunyikan sesuatu, yang jelas saat itu Anton merasa heran.


"Kenapa kamu terlihat gugup?" tanya Anton menatap mata Rizal.


"Eh.. anu... saya tidak apa-apa Pak!" jawab Rizal gugup.


Dengan perasaan herannya, Anton pun pergi meninggalkan Rizal yang tampak gugup. Dari dalam lubuk hatinya, ia yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan Rizal dan ia yakin jika Rizal ada kaitannya dengan jatuhnya Dinda dari tangga.

__ADS_1


Tetapi Anton segera membuang pikiran itu jauh-jauh, karena jelas-jelas di rekaman CCTV menunjukan jika Loren lah pelakunya. Mungkin karena rasa bencinya kepada Rizal, sehingga Anton punya pemikiran buruk terhadap Rizal. Jika bukan karena permintaan Dinda, Anton sudah dari dulu memecat Rizal.


Bersambung....


__ADS_2