
Dokter mempersilahkan Anton untuk duduk. Lalu dokter mulai menjelaskan kondisi Dinda saat itu. Anton pun dengan serius mendengarkan setiap perkataan dari Dokter tentang kesehatan Dinda. Tiba-tiba senyum yang menghiasi bibirnya menghilang, karena satu perkataan dari dokter.
"Berapa lama ingatannya akan kembali Dok?" tanya Anton dengan raut wajah sedihnya.
"Kami tidak bisa memastikan berapa lama ingatan Dinda akan kembali, karena setiap pasien yang mengalami hal serupa tidak sama dalam penyembuhan. Besok kita akan melakukan CT scan, untuk melihat pembengkakan pada selaput otaknya," jawab dokter menjelaskan.
"Aku percayakan semua pada Dokter, lakukan yang terbaik untuk istri saya," tutur Anton lesu.
Kemudian Anton dan Dokter keluar dari ruangannya dan memindahkan Dinda keruang inap. Karena dokter menyatakan, kalau Dinda tidak memerlukan penanganan intensif lagi. Dari segi fisik dan mental, Dinda sudah membaik. Hanya saja perlu pengawasan dari dokter untuk pemulihan luka dalamnya.
"Maaf, kamu siapa ya? Dari tadi kok sok kenal dan peluk-peluk tanpa permisi?" tanya Dinda pada Anton yang saat itu membantu suster mendorong ranjang.
"Aku suamimu Din, Kan Anton!" jawab Anton memberitahu namanya.
"Enak saja suami, suami! Nikah saja belum, bagaimana aku bisa punya suami. Kalaupun aku punya suami, gak mungkinlah aku mau nikah sama kamu!" protes Dinda kesal.
Perkataan Dinda benar-benar menyakiti hati Anton, tapi mau apalagi, saat itu Dinda masih belum bisa mengingat siapa dirinya. Jadi Anton berusaha menutupi kesedihannya dan bersabar menerima kenyataan pahit itu.
Setelah dokter dan suster pergi dari ruangan, Anton berjalan mendekati Dinda dan memperlihatkan foto pernikahan mereka dari dalam ponselnya.
"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa aku menikah dengan orang sepertimu!" kata Dinda tidak mau mengakui jika dirinya adalah istrinya Anton.
"Saat ini kamu sedang sakit, makanya kamu tidak ingat siapa aku. Semua foto-foto ini membuktikan bahwa kamu istri aku dan kamu harus nurut denganku!" ujar Anton memberitahu Dinda.
Dinda bertingkah seperti anak-anak. Dia mendorong tubuh Anton untuk menjauh darinya. Tetapi Anton tidak mau pergi, dia malah mencium pipinya Dinda. Tentu saja Dinda marah dan langsung menangis sesenggukan.
Dalam ingatan Dinda, ia masih gadis lajang yang belum mempunyai suami. Karena tidak mau melihat Dinda marah dan menangis, Anton pun pergi menjauh darinya. Dinda sudah sadarkan diri saja sudah membuatnya bersyukur sekali.
*****
Keesokan harinya,
Dimas dan Inah datang ke rumah sakit, karena Anton memberitahu mereka kalau Dinda sudah sadarkan diri. Ada hal yang membuat mereka terkejut, karena Dinda mengingat Inah dan simbok.
__ADS_1
"Mbak Inah, bagaimana kabarnya nenek Mbak?" tanya Dinda sesaat melihat Inah.
"Non Dinda ingat denganku?" Inah berbalik bertanya.
"Ya ingatlah Mbak! Mbak, laki-laki itu siapa Mbak, kok dari semalam disini terus?" tanya Dinda sambil menunjuk ke arah Anton.
Inah pun cukup terkejut, karena Dinda bisa mengingatnya tapi malah lupa dengan Anton suaminya sendiri. Tetapi itu wajar kata dokter, karena kerusakan otak Dinda tidak begitu parah. Ada beberapa hal yang Dinda lupa, bahkan kematian sang nenek pun ia lupa.
"Non, dia Mas Anton dan dia adalah suamimu!" jawab Inah memberitahu.
"Gak mungkin! Kapan aku menikah sama dia? Kalau aku sudah menikah, bagaimana dengan Rizal?" Dinda masih tidak percaya kalau Anton adalah suaminya.
Ternyata tidak hanya Inah yang diingat Dinda, tetapi ia juga mengingat Rizal. Hal itu membuat Anton kesal. Tetapi ia masih bisa memaklumi, berharap Dinda lekas mengingat semua orang.
Karena di kantor banyak kerjaan, Dimas pun berpamitan untuk pergi ke kantor dan rupanya Dinda juga tidak mengingat siapa dia.
"Eh kamu! Ajakin dia pergi juga dong!" suruh Dinda menunjuk ke arah Anton.
"Non Dinda jangan begitu dong! Dia kan suamimu Non!" tegur Inah mengingatkan Dinda.
Anton pun mengalah, dia keluar dari ruangan bersama Dimas. Sedangkan Inah masih didalam menemani Dinda. Hatinya terasa sakit ketika tahu Dinda mengingat Rizal, tetapi bukan dirinya. Air matanya tak tertahan lagi dan Dimas pun menyadari jika Anton menangis.
"Bro! please jangan seperti ini! Kamu banyak berdoa saja, biar Dinda cepat sembuh." Dimas mencoba menenangkan Anton.
"Doa sudah pasti, tapi lihat Dinda, dia tidak mengenaliku," sahut Anton mengusap air matanya.
"Kamu pergi ke kantor saja, gak usah khawatirkan aku. Aku hanya butuh waktu saja!" imbuh Anton duduk di lantai dan bersandar di tembok.
Dimas pun pergi meninggalkan Anton yang masih duduk di lantai. Sebenarnya ia tidak tega, tapi ia juga tidak ada pilihan, karena ia harus mengurus perusahaan yang sedang bermasalah. Sesampainya Dimas di kantor, ia langsung memanggil Loren dan Rizal.
"Maaf aku telat, soalnya tadi jenguk Dinda dulu," kata Dimas memberitahu.
"Bagaimana keadaan Dinda?" tanya Loren ingin tahu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, dia sudah siuman dan dipindahkan di ruang rawat inap. Tetapi dia amnesia ringan, ada yang dia ingat dan ia lupa. Oh ya, dia ingat sama kamu loh Zal!" jawab Dimas memberitahu Rizal.
Rizal tersenyum, rasa rindu yang ia pendam tiba-tiba muncul lagi. Ingatannya tentang kejadian dimana Dinda jatuh dari tangga, membuatnya kesulitan bernafas. Kakinya terkulai lemas, hingga ia terjatuh dilantai. Loren yang tahu dengan trauma yang dialami Rizal pun langsung berlari keluar mengambil obatnya Rizal.
Dengan buru-buru, Loren kembali lagi dengan membawa obat dan segelas air putih ditangannya. Dimas yang tidak tahu apa-apa pun hanya kebingungan.
"Dia sakit apa?" tanya Dimas penasaran.
"Trauma!" jawab Loren singkat.
Dimas dan Loren pun membantu Rizal untuk duduk di sofa. Perlahan, kondisi Rizal mulai membaik. Rizal duduk dengan tegap dan memberitahu Dimas, jika ketua team berkhianat dan juga mengkorupsi uang perusahaan.
"Sudah kuduga!" kata Dimas.
"Ini bukti semua laporan, kemungkinan ketua team juga membocorkan rahasia perusahaan kepada saingan perusahaan kita," sahut Rizal sambil menunjukan bukti di ponselnya.
"Langkah apa yang harus kita lakukan?" tanya Loren.
Kemudian Dimas memberitahu kepada Loren dan Rizal, hal apa yang harus mereka lakukan. Dimas tidak mau gegabah mempublikasikan masalah ini terlebih dahulu, dia ingin mencari bukti-bukti yang kuat, agar ketua team tidak berbelit ketika dilaporkan ke polisi.
Loren dan Rizal pun keluar dari ruangan. Rizal duduk di kursi kerjanya, membuka ponselnya dan melihat foto-foto Dinda dengan dirinya. Dia sangat merindukannya, setelah beberapa Minggu tidak bertemu dengannya. Apalagi, dia dengar Dinda sudah dipindahkan di ruang inap.
"Lihatin apa ya, serius amat?" tanya Loren yang tiba-tiba berdiri dihadapan Rizal.
"Kenapa sih Mbak Loren selalu ngagetin!" protes Rizal, karena ponselnya hampir jatuh.
"Habisnya, pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri gak jelas. Nanti pulang kerja kita jenguk Dinda ya!" ajak Loren.
Deg!
Hati Rizal terasa berhenti berdetak. Mendengar nama Dinda membuatnya merasa bersalah. Loren yang melihat Rizal terdiam pun langsung menyadarkannya dengan menepuk lengannya.
"Zal, kamu gak boleh seperti itu terus, nanti kita jenguk Dinda dan hadapi kenyataan. Semua yang terjadi bukan salahmu, kamu pun juga tidak ingin itu terjadi kepada Dinda. Jadi kamu harus kuat dan temui Dinda. Siapa tahu, Dinda bersemangat ketika melihatmu dan cepat sembuh." kata Loren menasihati.
__ADS_1
Rizal pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia setuju.
Bersambung...