
Setelah salat subuh Anton tidur lagi, karena semalaman ia tidak bisa tidur karena Dinda tidak berhenti menggodanya. Tetapi, ketika ia sedang pulas tidur, tiba-tiba Dinda masuk ke kamar dan menyuruhnya untuk segera bangun dan sarapan.
"Kak Anton! Cepetan bangun, aku sudah selesai membuat sarapan," suruh Inah sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Anton.
"Nanti saja, aku masih ngantuk! Gara-gara kamu semalam, aku jadi kurang tidur," keluh Anton menarik selimutnya kembali.
"Oh, jadi Kak Anton gak suka kalau aku menggoda mu!" Dinda dengan nada marahnya.
Seketika Anton langsung beranjak dari tidurnya, ketika mendengar suara Dinda yang terdengar marah. Lalu Ia langsung meminta maaf, Anton mengatakan bahwa dia sangat menyukai apa yang dilakukan Dinda kepadanya. Kemudian Anton turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Anton menuruni anak tangga dengan hati-hati, matanya tertuju pada meja makan yang penuh dengan makanan. Yang membuatnya heran, dari jam berapa Dinda memasak itu semua. Dinda yang menyadari kedatangannya pun menyuruhnya untuk duduk dan mengambilkannya sepiring nasi penuh. Hal itu membuat mulut Anton menganga, karena dia tidak makan sebanyak itu.
"Sayang, ini kebanyakan!" komplain Anton.
"Kamu gak suka masakan ku? Ya sudah sini piringnya, kamu gak usah makan. Biar aku sendiri yang menghabiskannya!" ujar Dinda dengan nada kesalnya.
"Bukannya gitu! Ok ok, aku akan habiskan ini," sahut Anton yang merasa tertekan.
Anton pun mulai memakan makanan yang diambilkan Dinda. Dengan terpaksa ia memakan itu semua. Perutnya yang terasa kenyang pun tidak ia pedulikan, hingga ia merasa benar-benar tidak bisa menerima makanan lagi. Demi Dinda, Anton memakan habis semua makanan yang dikasih oleh Dinda. Karena ia tidak mau melihat sang istri kecewa dan marah jika dia tidak menghabiskannya.
Kepalanya pusing dan ingin mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Tetapi Anton mencoba untuk menggerakkan badannya, agar rasa ingin muntah itu sirna. Sepertinya Dinda sangat menikmati melihat Anton tersiksa karena kekenyangan. Terlebih, ketika masakan yang ia masak habis tanpa sisa, hal itu membuat Dinda merasakan kepuasannya tersendiri.
Jika sebelumnya Dinda selalu emosi ketika melihatnya, kini Dinda lebih senang ketika melihat Anton menderita. Pertama, Anton dipaksa menggunakan parfum yang wanginya tidak ia suka, kedua, ia membuat Anton kelelahan dimalam hari dan ketiga, ia memaksa sang suami untuk memakan semua makanan yang ia masak. Anton tak berani memprotes, jika memprotes, ia khawatir kalau Dinda kecewa dan marah kepadanya.
"Gimana sayang, masakan ku enak gak?" tanya Dinda tersenyum puas.
__ADS_1
"Enak banget!" jawab Anton singkat sambil menggerakkan badannya.
"Kalau kamu suka, nanti siang aku masakin lagi buat kamu ya!" kata Dinda membersihkan meja makannya.
Kebetulan hari itu hari libur. Anton tidak berangkat bekerja dan ia membayangkan seberapa banyak Dinda akan masak untuknya nanti siang. Membayangkannya saja membuat Anton sulit untuk bernafas. Sebenarnya, masakannya Dinda bagi Anton sangat enak. Tetapi karena makannya terlalu banyak, membuatnya tidak merasakan kenikmatan sebuah makanan.
"Sayangku! Aku mau belanja dulu ke pasar ya," pamit Dinda yang sudah rapih mengenakan gamis plus Jilbabnya.
"Gak perlu masak untuk nanti siang sayang, kita makan diluar saja! Lagipula, kita sudah lama gak makan diluar," kata Anton tersenyum tertekan.
"Ya sudah kalau mau makan diluar, kalau begitu aku gak jadi belanja," sahut Dinda yang langsung kehilangan semangatnya.
Dinda kemudian kembali lagi ke kamarnya dengan ekspresi kecewa. Anton dengan sigap mengejarnya dan mencoba untuk menghiburnya. Tetapi karena Dinda sudah terlanjur kecewa, ia pun menyuruh Anton untuk menjauh darinya. Karena jika suasana hatinya sedang tidak baik, hal itu membuat Dinda ingin marah tiap melihat sang suami didekatnya.
Salah lagi, salah lagi itulah yang ada dibenak Anton saat itu. Tetapi ia tidak mau menyerah, dia tidak ingin melihat Dinda marah padanya. Ia pun kemudian melarang Dinda tiduran memakai gamis, karena gamis itu akan berkerut jika dibuat tidur.
"Kakak suka gak sama gamis ini, ini aku sendiri loh yang desain?" tanya Dinda tiba-tiba bersemangat.
"Oh, jadi kamu sendiri yang desain? Pantesan lain daripada yang lain, terlihat elegan dan mewah," jawab Anton tak berhenti memuji.
Dari sini, Anton mulai paham dengan sikap Dinda yang ingin selalu dipuji. Karena semangatnya Dinda kembali, ia pun segera beranjak dari ranjang dan berlarian membuka lemari. Ia menunjukan beberapa koleksi baju gamisnya yang ia desain sendiri. Satu persatu ia keluarkan dan meminta pendapat dari sang suami. Tentu saja, Anton akan menilai semua gamis itu dengan positif. Walaupun ada beberapa gamis yang tidak ia suka.
Lelah memperlihatkan koleksinya, Dinda kemudian mengambil parfum yang ia beli kemarin. Ia menyemprotkan ke segala arah dan dia sangat menyukai wangi dari parfum tersebut. Anton hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena selera Dinda yang sudah berubah.
"Gak tahu kenapa, aku jadi suka banget sama wangi parfum ini," kata Dinda sambil menyemprotkan parfum itu ke badan Anton.
__ADS_1
"Tapi enak sih wanginya," sahut Anton yang sebenarnya merasakan pusing di kepalanya karena mencium wangi parfum itu.
Dinda menoleh kearah Anton dan menatapnya dengan tatapan menggoda. Ia tersenyum, berjalan mendekatinya dan merapikan rambut Anton yang berantakan. Dinda mendaratkan ciumannya di leher Anton yang masih ada tanda merah karena ulahnya semalam. Hal itu membuat bulu kuduk Anton berdiri. Tak hanya bulu kuduknya, seniornya pun ikut berdiri.
Mencium wangi parfum yang ia semprot ke tubuh Anton, membuat Dinda tak bisa berhenti menciumi tubuh sang suami. Alhasil, Dinda membuka kaos yang dikenakan Anton agar ia lebih leluasa menciumi tubuh sang suami. Anton tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah dengan apa yang dilakukan Dinda terhadapnya.
"Kakak, aku boleh gak lepas ini?" tanya Dinda malu-malu.
"Bo-boleh!" jawab Anton tersenyum paksa.
Kemudian Dinda mendorong tubuh Anton hingga membuatnya terduduk dibibir ranjang. Lalu Dinda duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Anton merasa bingung dengan sikap Dinda yang begitu agresif, tak seperti biasanya. Seperti semalam, Anton memberikan kesempatan untuk Dinda mengekspresikan apa yang ingin dia lakukan.
Biar bagaimanapun, Anton lebih suka jika Dinda agresif seperti sekarang ini. Tetapi disisi lain ia merasa khawatir, karena tak biasanya Dinda seperti itu. Sambil melakukan hal itu, Anton pun merayu Dinda untuk pergi ke dokter dengannya besok.
"Sayang, besok kita pergi ke Dokter ya!" ajak Anton.
"Gak mau, kapan-kapan saja, soalnya aku besok banyak kerjaan," sahut Dinda.
Tidak ingin membuat mood Dinda hilang. Anton pun segera berhenti membicarakan hal itu. Melihat Dinda bersikap berubah-ubah membuat Anton khawatir. Ia takut jika gegar otak yang dialami Dinda setahun yang lalu kambuh lagi. Sehingga membuat emosi Dinda naik turun.
"Ah... Kakak kenapa tampan sekali," kata Dinda mencium bibirnya Anton.
"Jangan terlalu kencang-kencang sayang, nanti kamu kelelahan," sahut Anton yang melihat Dinda semakin agresif.
"Kakak, aku, aku sudah sampai," ucap Dinda terjatuh lemas di badan Anton.
__ADS_1
Merekapun bersama-sama mencapai puncaknya kenikmatan. Anton berharap, Dinda akan segera hamil.
Bersambung...