
Anton melihat pesan dari Rizal. Satu per satu ia baca dengan teliti, pesan yang isinya permintaan maaf. Entah apa yang dikatakan Rizal didalam pesan itu, hingga membuat raut wajah Anton berubah. Yang jelas dia tahu, jika Dinda tidak pernah mengundang Rizal datang kerumahnya.
"Ah... aku ingin minum," kata Dinda terbangun dari tidurnya.
"Sebentar, aku ambilkan!" sahut Anton mengambilkan air minum di meja yang berada didalam kamar.
Dinda meminum habis segelas air yang dikasih oleh Anton. Panas badannya sudah turun, hanya saja ia belum merasa sehat, tetapi Dinda tetap beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan ibadah salat subuh. Sedangkan Anton hanya melihatnya yang berjalan menuju kamar mandi.
Sesaat setelah Dinda selesai salat, Anton sudah tertidur pulas. Kemudian Dinda keluar kamar untuk pergi ke dapur. Ia membuka kulkas dan dia lupa kalau kulkasnya tidak ada isinya. Lalu ia melihat jam dinding dan bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Ah.. sepertinya kalau aku memakai Jilbab, akan terlihat lebih fresh," gumam Dinda sambil melihat dirinya di depan cermin.
"Wah.... ternyata selain buat menutup aurat, Jilbab juga membuatku terlihat anggun," celoteh Dinda yang masih berdiri di depan cermin.
Ia bersemangat mengayuh sepedanya pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Beruntung, jarak pasar dan rumahnya tak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai di pasar. Pedagang di pasar yang mengenalnya pun memuji penampilan Dinda yang saat itu mengenakan Jilbab.
Hal itu membuat Dinda semakin mantap untuk hijrah. Bukan sebuah pujian yang diharapkan Dinda, tetapi memang sudah sejak dulu ia ingin mengenakan Jilbab, bahkan dia sudah mengoleksi beberapa Jilbab di dalam lemarinya, tetapi baru hari ini ia memakainya.
"Darimana saja kamu?" tanya Anton yang saat itu sudah bangun dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku dari pasar, ini beli ayam buat sarapan Kakak!" jawabnya sambil menunjukkan kantong kresek ditangannya.
"Badanmu masih panas, kenapa kamu pergi ke pasar!" protes Anton yang langsung menghampiri Dinda dan menaruh punggung tangannya di dahi Dinda.
Kelihatannya panas badannya sudah turun dan Dinda juga merasa badannya tidak sakit. Kemudian Dinda langsung berjalan ke dapur dan mencuci semua apa yang dia beli. Ia juga membeli beberapa buah segar dan juga susu segar. Anton tak bisa mengalihkan pandangannya dari Dinda.
__ADS_1
Melihat Dinda mengenakan Jilbab, membuat Anton merasa sedang memandangi orang lain. Memang tambah cantik ketika Dinda mengenakan Jilbab. Tak dapat menahan diri, Anton pun segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Kakak sudah tidak marah sama aku?" tanya Dinda yang sedikit terkejut ketika mendapat pelukan dari sang suami dengan tiba-tiba.
"Siapa yang marah? Aku tidak pernah marah," jawabnya membalikan badan Dinda, hingga mereka saling bertatapan.
Dengan lembut Anton mendaratkan bibirnya, mengecup bibir manisnya Dinda yang tampak merah merona. Dinda pun kegirangan, karena sang suami tidak marah lagi dengannya. Saking rindunya terhadap sang suami, Dinda pun dengan agresif membalas ciumannya Anton.
Sebuah pujian terlontar dari mulut Anton, memuji kecantikan sang istri karena mengenakan Jilbab untuk yang pertama kalinya. Rencana membuat sarapan pun gagal, mereka berdua naik ke atas masuk ke kamar. Meluapkan rasa rindu mereka yang sudah seminggu yang jarang bertemu.
Tak ingin tahu apa yang membuat Anton bisa memaafkannya, Dinda hanya bisa tersenyum bahagia. Yang terpenting saat itu baginya sang suami sudah tak marah lagi dengannya dan dia berjanji pada dirinya sendiri jika dirinya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dengan begini, Dinda bisa belajar dari kesalahannya.
"Sayang, kamu terlihat cantik mengenakan Jilbab," puji Anton mencium kening Dinda.
"Bukannya begitu, kemarin-kemarin kamu juga cantik, tapi hari ini cantiknya tambah! Ah... buat pikiranku melayang saja!" sahut Anton yang tak bisa menahan dirinya untuk tidak menerkam Dinda.
Dengan agresif Dinda mulai menggoda sang suami. Hingga hubungan suami-istri pun tak bisa dihindari. Seharusnya sarapan sudah siap, tetapi ada hal yang jauh lebih penting dari sarapan. Memang dengan berhubungan suami-istri bisa meningkatkan keharmonisan dalam suatu hubungan.
*****
"Aku membaca semua pesan yang kamu kirimkan kepada Dinda. Sejujurnya, aku sangat muak melihatmu berada di kantorku, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkan mu sepenuhnya," kata Anton.
"Ada adik-adik mu yang harus kamu penuhi kebutuhannya dan juga ibumu yang masih membutuhkan bantuan mu. Kembalilah ke kantor dan gapai lah apa yang jadi keinginanmu," imbuh Anton sambil menyodorkan amplop warna coklat di meja.
Sore itu Anton datang kerumah Rizal. Dia datang bukan untuk menyogoknya untuk kembali bekerja di kantornya, melainkan ingin membantunya untuk meringankan bebannya. Rupanya isi di dalam pesan yang dikirimkan kepada Dinda adalah sebuah curhatan tentang masalah apa yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
Ibunya Rizal sedang sakit dan harus dioperasi. Tetapi untuk mengoperasikan sang ibu, Rizal membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena kartu bantuan dari pemerintah tidak bisa menanggung biaya operasi sang ibu. Tetapi, karena dia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan terhadap Dinda, Rizal pun memutuskan untuk keluar dari perusahaannya Anton.
"Aku tidak meminta bantuan darimu!" kata Rizal yang masih bersikap dingin.
"Aku juga tidak ingin membantumu, tetapi ini rasa kemanusiaan ku. Aku memiliki uang lebih dan aku akan merasa bersalah jika aku tidak menggunakan uangku untuk hal yang bermanfaat. Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang Muslim, menyisihkan rejekiku untuk orang yang membutuhkan. Ini untuk Ibu mu dan bukan untuk mu!" sahut Anton dengan kata-kata bijaknya.
"Ku akui, kamu sangat berpengaruh untuk perusahaan ku. Aku bukan tipe orang yang suka memaksa, tetapi karena kamu seminggu tidak berangkat kerja, hal itu membuat Loren tak semangat kerja!" imbuh Anton beranjak dari duduknya.
Sebelum pulang Anton memberitahu Rizal untuk masuk kerja. Ia juga memberitahu Rizal, bahwa Loren menyimpan rasa untuknya. Untuk masalahnya dengan Dinda, Anton menyuruhnya untuk melupakan hal itu. Tetapi, Anton memperingatkan Rizal untuk tidak menggangu Dinda lagi. Meninggalkan uang setumpuk dimeja, Anton pun pergi keluar rumahnya Rizal.
Rizal pun merasa bersalah, karena sudah mengusik kebahagiaan Dinda dan Anton. Ia merasa seperti orang bodoh yang melakukan hal tanpa memikirkan akibatnya. Setiap orang melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti kita harus membenci orang yang berbuat salah. Maafkanlah dan mencoba untuk melupakan kesalahan orang lain, demi kedamaian hati kita sendiri.
"Kakak darimana saja?" tanya Dinda penasaran.
"Ada urusan sebentar! Aroma masakan apa nih, bikin lapar saja!" jawab Anton mengendus aroma masakan.
"Aku lagi masak kari Ayam. Kakak sudah lapar?" tanya Dinda membantu Anton melepaskan jaketnya.
"Sebenarnya belum lapar sih, tapi karena mencium aroma masakan mu, membuatku ingin makan!" jawab Anton yang langsung pergi ke dapur mengecek masakan Dinda yang belum matang.
Dengan segera Dinda menyelesaikan masaknya. Lalu ia mengambilkan makan untuk Anton, yang saat itu sedang mengganggunya di dapur. Sesekali Anton mencolek pinggang Dinda, hingga membuatnya menjerit karena merasa geli.
Masakan Dinda tak kalah enak dengan masakannya simbok. Memang Dinda belajar masak dari simbok, selain itu memang Dinda sangat menyukai acara memasak, terutama membuat kue kering.
Bersambung....
__ADS_1