Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda Masih Bingung


__ADS_3

Dinda terbangun dari tidurnya, perutnya berdendang terasa lapar. Ia melihat sekeliling ruangan, tidak ada seorangpun di sana. Dilihatnya, ponsel di atas nakas. Dia merasa tak asing dengan benda itu. Lalu ia meraihnya dan mengusap layar ponselnya. Tanpa kode pengamanan, ponsel itu langsung memunculkan daftar aplikasi dalam ponsel tersebut. Dinda pun tersenyum, walaupun dia tidak tahu cara menggunakannya.


"Kenapa tiba-tiba ada ponsel secanggih ini?" tanya Dinda pada dirinya sendiri.


Dengan bersemangat ia membuka aplikasi yang tertera. Jiwa mudanya bergejolak ingin tahu apa saja guna dari ponsel yang ia pegang. Sedangkan Anton sudah berdiri di dekat pintu masuk memperhatikan apa yang sedang dilakukan Dinda dengan ponsel itu.


"Apakah ponsel itu menarik?" tanya Anton sambil tersenyum membawa bingkisan ditangannya.


"Ponsel ini benar-benar canggih! Tapi aku belum paham bagaimana aku menggunakan ini," jawab Dinda yang berkonsentrasi menatap layar ponselnya.


Anton menaruh plastik yang ia bawa di atas meja, lalu ia berjalan menghampiri Dinda untung mengajarinya, bagaimana mengoperasikan ponsel tersebut. Kali ini Dinda tidak marah, ketika Anton duduk dekat disebelahnya. Bahkan kulit mereka saling bersentuhan, tetapi Dinda tidak memprotes.


Puas bermain dengan ponsel, Dinda pun mengeluh lapar. Anton pun segera mengambil plastik yang ia bawa tadi. Dia menarik meja makan dan mengeluarkan isi dalam plastik tersebut. Makanan kesukaan Dinda, ayam goreng kremes komplit dengan sambalnya.


"Ayo makan, ini ayam kesukaanmu!" suruh Anton sambil mengeluarkan nasi dari dalam plastik.


"Terima kasih.... kelihatannya enak sekali," Senyum Dinda mengembang karena dia merasa senang.


Melihat Dinda lahap memakan makanannya, membuat Anton merasa senang. Setidaknya Dinda tidak menyuruh Anton menjauh darinya, walaupun Dinda tidak mengingat Anton sebagai istrinya.


"Kamu mau minum ini atau ini?" tanya Anton sembari mengangkat dua gelas yang berisi berbeda jus.


"Aku mau yang ini saja!" jawab Dinda sambil menunjuk gelas yang berwarna merah.


Setelah selesai makan, Dinda ingin pergi ke toilet. Lalu Anton membantunya turun dari ranjang. Tiba-tiba Dinda terdiam sejenak di depan kamar mandi sambil memandangi Anton yang sedang memegangi botol infus di tangan kanannya.


"Kenapa?" tanya Anton yang juga menatap Dinda.


"Aku malu, karena aku mau mengganti pembalut!" jawab Dinda menggigit bibirnya.


"Gak apa-apa, atau aku bantu kamu untuk menggantikannya. Aku kan suamimu, jadi kamu jangan ada malu denganku!" kata Anton meyakinkan Dinda.


Karena Dinda masih merasa lemas, akhirnya Anton membantu dan membersihkan pembalut untuk Dinda. Tidak ada rasa risih dengan Anton, ia memberikan semuanya dengan bersih. Sedangkan Dinda memejamkan matanya karena merasa malu.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti pembalut, Anton juga menggantikan baju untuk Dinda. Selain itu, ia juga membersihkan wajahnya dan juga membantu menggosok giginya Dinda.


"Ok, sekarang kamu istirahat. Kata Dokter, besok kamu boleh pulang!" suruh Anton memberitahu.


"Pulang kerumah mu atau kerumah nenek?" tanya Dinda yang tidak ingat kalau sang nenek sudah meninggal.


"Pulang ke rumahku, kamu kan istriku!" jawab Anton sambil mengusap rambut Dinda.


Dinda hanya bisa diam, dia merasa jika Anton benar-benar seorang suami yang baik. Dia tidak merasa risih ketika membersihkan badannya Dinda, bahkan ia membersihkan pembalut kotor, karena Dinda belum selesai nifas.


Tetapi, Dinda masih merasa kalau Anton itu orang asing baginya. Tidak ada sedikitpun memori yang tersisa tentang Anton dalam otaknya. Dihatinya hanya ada Rizal seorang. Cinta pertamanya dan orang pertama yang membuat Dinda bisa merasakan apa itu cinta.


"Apakah kamu tidak bisa tidur?" tanya Anton yang mengecek Dinda belum tidur.


"Aku tidak bisa tidur!" jawabnya singkat.


Tanpa meminta izin, Anton langsung naik ke ranjang dan tidur disebelah Dinda. Tidak ada protes dari Dinda, tetapi Dinda merasa tidak nyaman karena merasa Anton seperti orang asing baginya.


*****


Inah dan Dimas baru saja sampai di rumah. Sepertinya Inah benar-benar marah dengan apa yang dilakukan oleh Dimas waktu di lift.


"Kalian sudah pulang, bagaimana keadaan Non Dinda?" tanya simbok yang sedang nonton TV.


"Alhamdulillah Dinda besok sudah boleh pulang Mbok," jawab Inah sambil mengambil air putih.


"Makanan sudah Simbok siapin di meja makan," kata simbok memberitahu.


Inah pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan, sedangkan Dimas langsung duduk di kursi meja makan mengambil nasi di piringnya.


"Sebelum makan, cuci tangan dulu!" suruh Inah dengan nada kesal.


"Iya, maaf..." sahut Dimas yang langsung beranjak dari duduknya untuk mencuci tangannya.

__ADS_1


Dengan segera Inah memakan makan malamnya, setelah selesai, ia mencuci piringnya dan membersihkan meja yang ia tempati untuk makan.


"Kalau sudah selesai makan, cuci piring mu dan bersihkan mejanya!" suruh Inah kepada Dimas.


Kemudian Inah mengambil tasnya dan langsung masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Dimas hanya terbengong melihat Inah yang sedang marah. Simbok yang paham dengan Inah, ia tahu kalau anak semata wayangnya sedang marah. Tetapi simbok hanya tersenyum, karena marahnya Inah tidaklah lama.


Seperti apa yang diperintahkan Inah, Dimas mencuci piringnya dan juga membersihkan meja. Lalu ia berpamitan kepada simbok untuk pergi ke kamar, untuk menunaikan Salat Isya.


"Mbok, aku ke kamar dulu ya, soalnya aku belum Salat," pamit Dimas dengan sopan.


"Iya, jangan lupa berdoa biar Inah gak marah lagi!" sahut simbok meledek.


Dimas pun tersenyum sambil menggaruk kepadanya yang tidak gatal. Ia masuk ke kamar atas, kamarnya Anton. Dia benar-benar sudah dibuat Inah gila. Melihat Inah marah, membuat Dimas tidak tenang. Dia khawatir jika Inah berubah pikiran karena ulahnya tadi di lift.


Selesai mandi dan Salat, Dimas keluar kamar untuk mengambil air minum. Saat itu simbok sudah tidak ada diruang tamu, dilihatnya Inah yang sedang membumbui ayam untuk digoreng besok.


"Kamu belum tidur?" tanya Dimas mengambil gelas.


"Aku masih berdiri disini, berarti ya belum tidur lah!" jawab Inah ketus.


"Inah, aku kan sudah minta maaf. Kamu jangan jutek seperti itu lah, aku kan jadi kepikiran terus nih!" ujar Dimas yang tidak ingin melihat Inah marah.


Tanpa menanggapi perkataan Dimas, Inah memasukkan ayam yang sudah ia bumbui di dalam kulkas. Lalu ia mengupas bawang merah untuk persiapan masak besok. Karena tidak hati-hati jari Inah terkena pisau dan berdarah. Dimas yang melihat jari Inah berdarah langsung memasukkan kedalam mulutnya untuk menghentikan pendarahan.


"Lain kali kamu hati-hatilah! Dengarkan detak jantungku, serasa mau keluar dari tempatnya melihat kamu terluka!" Dimas merasa khawatir.


"Cuma luka seperti itu sudah biasa, gak usah berlebihan deh!" sahut Inah yang tidak merasa kesakitan ketika jarinya tergores pisau.


Dimas yang sedari tadi menerima sikap ketidakpeduliannya dari Inah pun langsung naik ke atas meninggalkan Inah sendiri di dapur. Ia ikut kesal karena tidak dihargai kekhawatirannya terhadap Inah.


Sedangkan Inah dengan santainya meneruskan aktivitasnya setelah menempelkan band-aid di jarinya. Ia masih kesal jika mengingat kejadian di dalam lift tadi. Inah merasa disamakan dengan wanita yang pernah Dimas kenal sebelumnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2