Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Pergi ke dokter


__ADS_3

Setahun kemudian,


Dinda mengajak Anton pergi ke dokter kandungan. Bukan karena dia sedang hamil, melainkan dirinya yang sudah lebih dari setahun tak kunjung hamil. Perasaan khawatir terus menghantuinya, karena Anton sang suami sudah mendambakan kehadiran sang buah hati.


"Kamu jangan khawatir, Allah belum mempercayakan buah hati untuk kita, yang terpenting saat ini kamu sehat dan tidak ada keluhan apapun," kata Anton menenangkan sang istri.


"Iya aku tahu, aku hanya ingin periksa kesehatan kandunganku saja kok," sahut Dinda yang saat itu sedang menunggu panggilan dari dokter.


Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya seorang suster memanggil nama Dinda. Anton menemani Dinda masuk keruangan dokter. Karena dia sendiri juga ingin tahu hasil dari pemeriksaan.


Setelah mengobrol dengan dokter tentang keluhannya, Dinda pun disuruh dokter untuk berbaring di atas ranjang pasien, karena dokter akan melakukan tes USG. Untuk melihat kondisi di dalam rahim Dinda.


"Saya tidak menemukan penyakit didalam rahim. Sebaiknya, kita lakukan tes urine, darah dan Pap Smear untuk mengetahui penyebabnya," kata Dokter menjelaskan kepada Anton dan Dinda.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya Dok, terima kasih atas waktunya," Anton berpamitan dan bersalaman kepada sang dokter.


Dinda duduk didalam mobil, pandangannya mengarah ke seorang ibu yang sedang menggendong anak bayinya. Tak terasa, air matanya jatuh membasahi pipinya. Anton yang baru masuk kedalam mobil pun terkejut melihat Dinda yang sudah menangis sesenggukan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Anton khawatir sambil memeluk Dinda.


"Maafkan aku Kak, aku belum bisa memberimu bayi yang selama ini kamu dambakan," tangis Dinda pun pecah karena merasa gagal menjadi seorang istri.


"Ssssttt.. Kamu gak boleh bilang begitu! Semua itu atas kehendak Sang Pencipta, jika saat ini kamu belu hamil, itu artinya Allah sedang menguji kita dalam kesabaran. Anak adalah titipan dari Allah dan Allah belum memberi kita kepercayaan untuk memiliki anak. Kakak mohon, kamu jangan pernah ada pikiran negatif, tetap bersabar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah," Anton menenangkan Dinda dengan menyemangatinya.


Karena di rumah Dinda sendirian, Anton pun mengajaknya untuk pergi kekantor bersamanya. Hari itu, Dinda benar-benar merasa sangat sedih, mengingat ia tak kunjung hamil setelah keguguran setahun yang lalu. Karena memikirkan hal itu terus menerus, membuat Dinda stress.


"Hi Din, lama gak kesini. Apa kabar?" Loren menyapa Dinda.


"Kabar ku baik, kamu sendiri bagaimana?" jawab Dinda balik bertanya.


"Kabarku kurang baik! Gak laku-laku nih, padahal sudah ngebet pengen nikah haha..." canda Loren sambil menutup mulutnya, karena dia tertawa lepas.


Ketika Dinda dan Loren sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Rizal datang dan melempar sebuah berkas di atas meja kerjanya Loren. Seketika, Dinda langsung menoleh kearah Rizal yang saat itu juga sedang memandang kearahnya. Sekejap mereka saling bertatapan, hingga Rizal mengalihkan pandangannya kearah lain.

__ADS_1


Hampir saja Dinda tidak mengenali Rizal. Karena dari segi fisik dan penampilannya sangat berbeda dengan Rizal yang ia kenal. Dan juga Rizal tidak kasar dan sedingin seperti saat itu.


"Ya! Lama-lama kamu membuatku muak! Sebenarnya apa salahku, hingga kamu bersikap seperti ini kepadaku?" tanya Loren kepada Rizal dengan nada agak tinggi.


"Kamu tinggal cek berkas itu, kalau sudah selesai segera kembalikan kepadaku!" jawab Rizal dengan nada dingin.


Setahun terakhir memang sikap Rizal kepada Loren sangat kasar. Entah apa yang membuat Rizal bersikap demikian, yang jelas Rizal benar-benar berubah. Dinda yang melihatnya pun tidak bisa berkata apa-apa. Ia sangat menyayangkan perubahan Rizal yang terlihat seperti pria yang menakutkan.


"Rizal, apa kabar?" sapa Dinda untuk mengurangi ketegangan antara Loren dan Rizal.


"Seperti yang kamu lihat!" sahut Rizal sambil mengambil berkas yang sudah selesai dicek oleh Loren.


"Aku hampir saja tak mengenalimu, karena Rizal yang aku kenal tidak kasar sepertimu," kata Dinda melihat kearah Rizal.


"Karena Rizal yang kamu kenal sudah mati!" respons Rizal tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Dinda dan Loren.


Loren memberitahu kepada Dinda untuk tidak memikirkan perkataan Rizal. Karena semenjak Rizal melepas Dinda sepenuhnya, sikap Rizal menjadi berubah drastis dan sikapnya sangat dingin. Bahkan penampilannya seperti seorang mafia.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Anton menghampiri Dinda yang duduk di depan Loren.


"Aku mau makan batagor saja!" jawab Dinda tersenyum.


"Aku juga mau makan batagor hehe.." canda Loren.


"Minta dipesankan sama Rizal sana! Kalian kan....."


Belum juga Anton selesai berbicara, tetapi Dinda sudah mencubit pinggangnya sebagai tanda untuk berhenti meledek Loren. Lalu Dinda beranjak dari duduknya dan menarik tangan Anton untuk masuk kedalam ruangan.


Mata tajam Rizal memandangi Dinda dan Anton masuk kedalam ruangan. Entah tatapan marah atau cemburu, tetapi tatapannya sangat menakutkan. Loren yang menyadari tatapan itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Jangan harap Dinda peduli dengan tatapan mu yang menakutkan itu!" kata Loren sambil menyunggingkan bibirnya.


Rizal beranjak dari duduknya, ia berjalan menghampiri Loren dan menarik tangannya. Loren memberontak, tetapi karena banyak karyawan yang melihatnya, akhirnya Loren diam dan mengikuti langkah Rizal pergi ke tangga darurat.

__ADS_1


"Mau kamu apa? Apa salahku, sehingga sikapmu seperti ini kepadaku? Kalau kamu marah sama Dinda, jangan lampiaskan kepadaku. Aku capek selama setahun ini, sikapmu begitu dingin dan kasar kepadaku!" Loren meluapkan emosinya.


"Kalau kamu merasa sikapku kasar terhadapmu, kenapa kamu masih memberiku perhatian?" tanya Rizal dengan nada dinginnya.


"Si-siapa yang perhatian? A-a-aku..."


Rizal menutup mulut Loren dengan bibirnya, agar berhenti berbicara. Dengan lembut Rizal mencium bibir Loren dan Loren pun membalas ciumannya. Memang selama ini Loren menunjukkan sikap perhatiannya kepada Rizal, bahkan ia datang kerumahnya menemui sang ibu ketika Rizal sedang tidak enak badan.


Selain itu Loren juga membuatkan bubur untuk Rizal, ketika Rizal sedang sakit. Entah atas dasar apa Loren bisa perhatian kepada Rizal yang selalu kasar kepadanya.


"Kenapa kamu mencium ku?" tanya Loren lirih.


"Sebagai tanda terima kasihku, karena kamu sudah membuatkan bubur ayam untukku," jawab Rizal melepaskan tubuh Loren.


Rizal pun keluar dari pintu darurat. Ia mengusap bibirnya yang ada noda lipstik milik Loren. Sementara Loren masih berdiri bersandar pada tembok. Perasaannya masih tidak bisa ia mengerti. Mendapat ciuman untuk kedua kalinya, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


Ia keluar dari pintu darurat. Kebetulan saat itu Dinda dan Anton keluar dari ruangan, jadi melihat Loren yang terlihat berantakan. Bahkan, lipstiknya sudah tak beraturan.


"Loren, kamu kenapa?" tanya Dinda yang menghawatirkan keadaan Loren.


"Oh a-aku aku gak apa-apa," jawab Loren gugup.


Loren pun segera pergi ke toilet untuk menghindari Dinda dan Anton. Ia melihat wajahnya di cermin dan ia menjerit karena terkejut. Lipstiknya yang berantakan dan rambutnya yang acak-acakan.


Sedangkan Anton dan Dinda pergi ke restoran untuk makan siang. Dinda masih bingung dengan apa yang dilakukan Loren hingga membuat penampilannya berantakan.


"Sayang, kenapa kamu melamun?" tanya Anton yang melihat Dinda diam saja.


"Hehe, gak melamun kok!" jawab Dinda tersenyum dengan paksa.


Anton pun memesankan batagor untuk Dinda. Sedangkan Dinda masih memikirkan apa yang terjadi pada Loren.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2