
Dimas datang ke kantor untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Dinda. Ia menemui Rizal yang saat itu tidak ada di tempatnya. Kemudian Dimas menyuruh asistennya Anton untuk menelponnya. Tak lama kemudian Rizal datang dengan penampilan yang acak-acakan. Karena sedari tadi dia masih menangis di tangga emergency.
Tangannya masih terdapat noda darah, begitupun dengan baju kerjanya yang berwarna putih. Lalu Dimas menyuruh Rizal untuk membersihkan badannya terlebih dahulu dari noda-noda darah. Sementara Dimas melihat tempat di mana Dinda terjatuh. Ia melihat sekeliling dan langit-langit mencari penampakan kamera CCTV.
Setelah Rizal membersihkan dirinya, lalu Dimas mengajaknya masuk ke dalam ruangan Anton. Ia menyuruh Rizal untuk duduk dan menceritakan kejadian-kejadian. Karena waktu Dinda jatuh, Rizal orang pertama yang melihatnya.
"Aku dan Dinda berjanjian untuk bertemu di tangga darurat. Jadi aku menunggunya di lantai delapan. Aku duduk di lantai sambil menonton YouTube, tapi tiba-tiba Dinda jatuh dari atas." Ceritanya sambil menahan air mata.
"Kenapa kamu janjian di sana? Kenapa tidak di lain tempat yang lebih aman, sedangkan kamu tahu Dinda sedang hamil." cecar Dimas.
"Dinda pulang dari periksa langsung menemui ku di pantry, dia memberitahuku kalau kak Anton akan meeting dan dia menyuruhku menunggu di tangga darurat." sahutnya yang tak lagi bisa menahan air matanya.
Lalu Dimas memanggil asistennya Anton, ia meminta kepadanya untuk memperlihatkan CCTV yang berada di lantai sembilan. Tetapi, setelah Dimas mengecek semua rekaman CCTV, ia mendapati ada kejanggalan. Pasalnya, CCTV tidak berfungsi sejak dua jam yang lalu.
Itu artinya Dinda jatuh dari tangga ada unsur kesengajaan. Karena CCTV selalu berfungsi dengan baik, tapi sebelum Anton pergi untuk meeting, semua CCTV tiba-tiba tidak berfungsi. Hal itu membuat Dimas yakin bahwa ada seseorang di balik jatuhnya Dinda.
"Siapa yang pegang kendali atas rekaman CCTV?" tanya Dimas kepada asistennya Anton.
"Saya, Mbak Loren, Pak Anton dan ketua team." jawabnya memberitahu.
"Maaf pak, ini ponselnya Mbak Dinda yang juga terjatuh." imbuhnya sambil menyodorkan ponsel Dinda.
Setelah mendapatkan semua informasi, kemudian Dimas pergi ke rumah sakit lagi. Ia membawa ponselnya Dinda, selama di perjalanan ia memikirkan siapa yang mencoba mencelakai Dinda.
*****
Dinda sudah di pindahkan ke ruang inap. Air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya. Baru ia sadari rasanya sangat menyakitkan kehilangan bayi yang sebenarnya tidak benar-benar ia inginkan. Tangannya mengelus perutnya yang rata, tak ada lagi tendangan halus di perutnya. Yuki dan Inah mencoba untuk menghiburnya.
__ADS_1
Setelah kematian sang nenek, Dinda memang tidak begitu menginginkan bayi itu. Terlebih, saat itu Anton tak mengakui kalau janin itu adalah anaknya. Tetapi, sekarang ia benar-benar kehilangan janinnya. Dinda pun sangat sedih yang mendalam dan menyesali sikapnya yang pernah tidak perduli dengan janin yang ia kandung.
"Mbak, aku ibu yang jahat ya?" tanya Dinda sambil menangis.
"Gak non, ini semua sudah kehendak Allah, Non Dinda jangan nangis terus. Sekarang dia sudah di surga, Non Dinda jangan bersedih lagi." jawab Inah menghibur.
Lelah menangis, Dinda pun tertidur. Karena sudah sore, Yuki pun berpamitan kepada Inah untuk pulang kerumah. Karena sang ibu sudah menelponnya dari tadi. Dan dia menyuruh Inah memberitahu jika ada sesuatu yang ia butuhkan atau Dinda butuhkan. Sedangkan Loren sudah pulang terlebih dahulu, karena dia harus mengurus pekerjaan kantor agar tidak berantakan.
Anton dan Dimas pergi ke makam untuk mengubur janin yang berusia lima bulan tersebut. Janin yang berkelamin perempuan, janin yang sangat ia harapkan dan banyak hal yang sudah ia rencanakan untuk kedepannya bersama sang buah hati. Tapi nyatanya Allah berkehendak lain, Allah lebih sayang sama calon bayinya.
Setelah selesai, Dimas mengantar Anton pulang untuk membersihkan dirinya. Kemudian setelah Sholat Isya dan makan malam, Ia mengantar Anton ke rumah sakit untuk menemani Dinda dan membawa barang-barang yang di perlukan oleh Dinda.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Anton yang saat itu baru datang.
Dinda tak menjawab pertanyaan dari sang kakak. Dia hanya diam memalingkan wajahnya dari Anton. Kemudian Anton menyuruh Dimas untuk mengantar Inah pulang, karena dia ingin berbicara berdua dengan Dinda. Tetapi, belum saja Anton mulai berbicara, seseorang mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
Ceklek!
Anton kira yang mengetuk pintu adalah suster atau dokter. Tetapi ketika pintu terbuka, Rizal berdiri di depan pintu, berjalan perlahan mendekati Anton. Dengan masih posisi duduk, raut wajah Anton seketika berubah merah menahan amarah. Tangannya mengepal, ia mulai beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap Rizal.
"Maaf Pak, bolehkan saya menjenguk Dinda?" tanya Rizal dengan ketegangannya.
"Rizal!" sahut Dinda yang menyadari kedatangan Rizal.
Tetapi Anton tak memberinya mereka waktu untuk saling menyapa. Ia mendorong tubuh Rizal keluar dari ruangan. Dengan kasar ia mendorong tubuh Rizal hingga terbentur tembok di depan ruangan Dinda dibrawat. Tangannya mencengkram leher Rizal dan tangan kanannya bersiap untuk menghantam wajah Rizal.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan kepada Dinda hah!" bentak Anton penuh emosi.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku....."
Buuuk!
Sebuah tonjokan melayang ke wajah Rizal hingga di ujung bibirnya terlihat bercak wana merah. Rizal meringis kesakitan, tetapi dia sama sekali tidak memberontak atau melawannya. Bukannya dia tidak pandai berkelahi, tetapi jika ia melawan, hal itu hanya akan menambah masalah. Ia memilih diam dan tiba-tiba dua orang suster berlarian menuju ke ruangan Dinda.
Sontak saja Anton langsung melepaskan Rizal dan berlari mengikuti suster masuk ke dalam ruangan. Begitupun Rizal yang tampak khawatir, ia membersihkan darah di ujung bibirnya dan berlari masuk ke dalam ruangan.
Rupanya Dinda sengaja memencet tombol alarm, agar sang kakak masuk ke dalam ruangannya. Karena sedari tadi dia teriak-teriak, tetapi tak ada yang mendengarnya. Dinda tahu, pasti sang kakak akan menyalahkan Rizal atas insiden yang menimpanya. Walaupun Dinda tak mengingat jelas dengan apa yang terjadi kepadanya, tetapi Dinda yakin jika Rizal tak bersalah.
"Karena tidak terjadi apa-apa pada pasien, jadi kita pamit keluar dulu. Jika terjadi sesuatu atau membutuhkan sesuatu, bapak pencet tombol ini." pamit suster sambil memberitahu tombol darurat.
Setelah suster pergi keluar, Anton berjalan menghampiri Dinda. Ia menanyakan kepadanya, apa yang ia rasakan. Entah kenapa Dinda merasa kesal dengan Anton, melihatnya saja dia ingin berteriak. Ketika Anton menoleh dan di dapati Rizal berdiri di belakangnya, ia pun segera mengusir Rizal untuk keluar dari ruangan.
"Kamu ngapain masih di sini? Lihat saja nanti, nanti aku pasti akan jebloskan kamu ke penjara!" ancam Anton sambil menunjuk wajah Rizal.
"Tetapi aku tidak melakukan apa-apa!" bela Rizal pada dirinya sendiri.
Tetap saja Anton menyalahkan Rizal tanpa bukti, dia juga mengancam Rizal untuk melaporkan ke polisi. Anton akan mencari barang bukti, agar Rizal bertanggungjawab atas kejahatan yang ia lakukan. Tetapi, karena Rizal tidak merasa bersalah. Ia pun mempersilahkan Anton untuk mencari barang bukti.
"Cukup kak! Rizal sama sekali tidak bersalah. Walaupun aku tidak ingat apa-apa, tetapi aku yakin dia tidak melakukan itu kepadaku!" bela Dinda kepada Rizal.
"Pada waktu kejadian aku memang ada di sana, aku menunggu Dinda di tanggal lantai 8, aku duduk di lantai dan tiba-tiba Dinda jatuh dari atas!" Rizal menjelaskan.
Apapun yang terucap dari mulutnya Rizal, Anton sama sekali tidak percaya. Karena dia membaca semua isi pesan di ponselnya Dinda, ia yakin kalau Rizal lah pelakunya. Karena di salah satu pesan yang di kirim oleh Rizal kepada Dinda mengatakan bahwa Rizal jauh akan lebih bahagia jika yang di kandung Dinda adalah anaknya.
__ADS_1
Anton menilai dari isi pesan itu, bahwa Rizal tidak suka jika Dinda hamil anaknya. Dari isi pesan singkat itulah Anton berspekulasi bahwa Rizal pelaku utama atas insiden yang menimpa Dinda hingga bayinya meninggal di dalam kandungan.
Bersambung....