
Seminggu setelah Dinda tinggal di rumah kontrakannya, ia semakin dekat dengan Rizal. Setiap hari Rizal datang kerumahnya dan mengingatkannya untuk meminum susu khusus Ibu hamil dan juga Vitamin. Selain itu Rizal juga sering mengupas buah untuknya, karena Dinda malas untuk makan buah.
Hari ini Rizal memaksa Dinda untuk memeriksakan kehamilannya, karena sejak terakhir ia tahu bahwa dirinya hamil, Dinda belum pernah memeriksakan kehamilannya lagi. Sebenarnya Dinda tidak mau periksa, karena dia merasa malu. Di usianya yang masih belasan tahun, tetapi sudah hamil. Dia khawatir jika orang-orang berfikiran, kalau dirinya hamil di luar nikah.
"Aku gak mau periksa Zal!" Tolak Dinda dengan manja.
"Pokoknya hari ini kita harus pergi ke dokter! Kamu mau jika terjadi sesuatu dengan anak kita!" Kata Rizal dengan nada menekan.
Deg!
Dinda tertegun mendengar perkataan Rizal yang mengatasnamakan janin yang ada di kandunganya adalah anaknya. Itu artinya Rizal benar-benar menerima dirinya dan calon buah hatinya. Senyum pun melebar menghiasi wajah Dinda.
Akhirnya Dinda mau pergi periksa dengan di antar oleh Rizal. Karena Rizal hanya memiliki sepeda motor dan dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Dinda, Rizal pun memesan taksi online untuk mengantar mereka ke klinik.
"Aku gak apa-apa naik motor Zal! Lagian perutku juga belum kelihatan." Tutur Dinda.
"Kita naik taksi online saja! Kalau naik motor banyak angin, nanti kamu malah masuk angin kaya waktu itu!" Sahut Rizal yang perduli dengan Dinda.
Tanpa mengajak Inah, mereka pun pergi berdua menaiki taksi online. Sekitar 30nmenitan, mereka pun sampai di klinik. Rizal membantu Dinda untuk turun dari mobil, seperti seorang suami yang sedang khawatir dengan sang istri.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam klinik dan mendaftar untuk pemeriksaan kandungan. Selama menunggu di panggil oleh Dokter, mereka berdua tidak melepaskan tangan mereka yang saling bertautan. Mereka mengobrol, bercanda hingga membuat beberapa pasangan yang juga mau periksa iri dengannya.
Tiba saatnya Dinda masuk ke ruangan untuk menemui Dokter, tetapi pada saat yang sama, Anton dan Loren keluar dari ruang sebelahnya. Dinda sempat terkejut, begitupun dengan Rizal, tetapi mereka pura-pura tidak melihat Anton dan Loren.
"Bukankah tadi Dinda dan Rizal?" Tanya Loren yang sekilas melihat mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
"Tidak mungkinlah! Ngapain mereka ke klinik, Rizal kan juga kerja." Jawabnya Anton tidak percaya.
"Wajar sajalah mereka kesini, kan ruangan sebelah untuk pemeriksaan ibu hamil." Ujar Loren sambil berjalan menggunakan tongkat jalannya.
__ADS_1
Benar juga apa yang di katakan Loren, karena memang Dinda sedang hamil. Setelah selesai membayar administrasi, Anton pun segera mengantar Loren pulang. Kebetulan jarak klinik dengan rumahnya Loren tidak jauh, hanya membutuhkan 10 menitan untuk sampai.
Setelah Loren turun dari mobil, Anton segera berpamitan kepada Loren untuk pergi ke kantor dengan alasan pekerjaan. Loren tahu kalau itu hanya alasan saja, tapi tidak masalah baginya. Mendapat perhatiannya Anton pasca kecelakaan itu sudah cukup bagi Loren.
Ternyata Anton kembali lagi ke klinik. Benar saja, ketika ia hendak memasuki arena klinik, ia melihat Dinda dan Rizal sedang bergandengan tangan masuk ke dalam sebuah mobil.
"Pasti Dinda lagi periksa kehamilannya." Gumam Anton yang masih di dalam mobil mengawasi mereka berdua.
Melihat mereka berdua seperti sepasang suami istri membuat Anton cemburu. Seharusnya orang yang mengantar Dinda periksa adalah dirinya, bukan Rizal. Hal yang membuatnya semakin kesal, ternyata selama ini Rizal tau keberadaan Dinda. Itu artinya mereka berdua sering bertemu.
Padahal selama di kantor Rizal tidak bersikap aneh kepadanya, seperti tidak ada masalah. Tapi nyatanya Rizal mengetahui apa yang tidak ia tahu. Lalu Anton pun mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Dinda dan Rizal. Kemudian Anton menelpon asistennya dan menyuruh Rizal untuk masuk kerja, walaupun setengah hari.
Kring Kring Kring
"Kamu suruh Rizal masuk kerja, sekarang juga!" Suruh Anton dengan nada marah.
"Pokoknya aku gak mau tahu! Buat alasan apa saja, agar dia masuk kerja. Aku yakin dia tidak sakit! Kalau dia tidak masuk kerja, seterusnya kamu yang gak usah masuk kerja!" Ancam Anton.
Mereka pun sampai di depan sebuah rumah sederhana dengan kebun depan rumahnya cukup luas. Anton yakin, kalau rumah itu adalah rumah yang di kontrak oleh Dinda. Mereka pun turun dari mobil, sedangkan Anton memarkirkan mobilnya di depan rumah orang dan dia masih tetap di dalam mobil.
Setelah taksi online pergi, Rizal pun keluar dari rumah dan mengendarai motornya pergi meninggalkan rumah kontrakannya Dinda. Dengan begitu, Anton menyalakan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah kontrakan.
Dinda yang menyadari kedatangan mobil pun langsung keluar mengecek siapa yang datang. Saat itu Anton turun dari mobilnya dan seketika Dinda terkejut melihat sang kakak sudah berada di depan rumah kontrakannya.
"Dinda!" Panggil Anton.
Bukannya menyambut kedatangannya sang kakak, Dinda malah buru-buru menutup pintu, tetapi Anton tak kalah cepat. Ia memasuki sepatunya di selah-selah pintu, dan sekali dorong pintu pun terbuka.
"Kakak mau apa kesini?" Tanya Dinda dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Kakak kangen Din, kakak juga ingin tahu perkembangan janin yang ada di perutmu itu." Jawab Anton seperti anak kecil.
"Apa isi surat ku belum jelas kak? Sebenarnya apa maunya kakak?" Ucap Dinda yang masih kesal.
Anton pun memeluk Dinda dengan erat, bahkan seperti orang yang tak tau diri. Mencium bibir Dinda sesuka hatinya. Tidak ingat dengan perlakuannya terhadap Dinda yang tidak mengakui janin yang di kandung Dinda adalah anaknya.
Inah yang mendengar keributan pun langsung keluar dari kamarnya, tetapi ia kembali lagi ke kamar ketika melihat Anton dan Dinda berciuman. Hal itu membuat Inah galau, di umurnya yang menginjak 24 tahun, dia belum pernah merasakan rasanya di cium di bibirnya.
"Kan sudah kubilang, setelah aku melahirkan, kita akan bercerai. Kenapa kakak bersikap seperti ini!" Ucap Dinda sambil mendorong tubuh Anton.
"Kita besarkan anak kita bersama-sama Din, apa kamu lupa pesan nenek. Apapun yang terjadi kita tidak boleh berpisah!" Sahut Anton mengingatkan janjinya kepada almarhumah sang nenek.
Dinda terdiam sejenak, ia berpikir bahwa waktu itu ia berjanji lantaran demi kesehatan sang nenek. Tetapi kini sang nenek sudah tiada, jadi ia lebih memilih untuk menjalani hidupnya sesuai yang ia inginkan. Apalagi dia tidak mencintai sang kakak, bagaimana bisa hidup bersama.
"Sekarang nenek gak ada! Lagian kita gak saling mencintai, kakak bisa menikah dengan kak Loren dan aku mau melanjutkan perjalanan hidupku dengan caraku sendiri. Jika kakak menginginkan bayi ini, aku akan memberikan kepada kakak!" Kata Dinda dengan nada tinggi.
"Apa kamu tidak ada rasa sedikit pun terhadapku? Kita sudah menghabiskan waktu bersama, apakah itu tidak ada artinya bagimu!" Sahut Anton bertanya.
"Bukankah kakak sudah tahu, kenapa aku mau melakukan hal itu dengan kakak! Semua itu hanyalah keterpaksaan, tidak ada yang harus kita pertahankan kak!" Jawab Dinda kesal.
Tentu saja Anton tidak menerima pernyataan Dinda. Ia mencium bibir Dinda dengan kasar sambil mendorong tubuh Dinda masuk ke sebuah kamar yang tidak tertutup. Beruntung, itu bukan kamar Inah, jadi Inah tidak melihat adegan yang mungkin akan membuatnya tambah galau.
Dinda mencoba melawan, tetapi tubuh Anton lebih kuat darinya, hingga pintu pun berhasih terkunci. Anton mengangkat tubuh mungil Dinda, menggendongnya seperti ia sedang menggendong seorang bayi. Sehingga posisi mereka saling bertatapan, tangan Dinda melingkar di leher Anton dan kakinya melingkar di pinggang Anton.
"Apakah tunuan kakak menemui ku hanya menginginkan hal ini." Tanya Dinda sambil memandang wajah Anton.
Seperti tak perduli dengan pertanyaan dari Dinda, Anton pun mulai melahap bibir ranum milik Dinda dengan lembut. Entah kenapa setiap mendapat perlakuan seperti itu dari Anton, membuatnya lupa diri.
Bersambung....
__ADS_1