Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
CT Scan


__ADS_3

Anton baru saja sampai di rumah sakit. Di lihatnya Dinda yang sedang memainkan ponselnya. Dinda yang menyadari kedatangan Anton pun langsung mematikan ponselnya dengan ekspresi gugup. Sepertinya ada yang Dinda sembunyikan. Tetapi Anton tahu, kalau Dinda sedang berkirim pesan dengan Rizal. Ia berjalan menghampiri Dinda dan menyuruhnya untuk bersiap-siap, karena sejam lagi akan di lakukan pemeriksaan CT scan.


"Tadi kakak lihat Rizal di kantor tidak?" tanya Dinda dengan ragu.


"Iya lihat, kenapa? Kamu rindu dengannya?" jawab Anton dengan santai.


"Tidak juga, cuma nanya saja!" sahut Dinda sambil melihat wajah sang kakak.


Sebenarnya Dinda hanya memastikan jika Rizal baik-baik saja atau tidak. Karena, setiap ia mengirim pesan untuknya tidak di balas. Meneleponnya pun tidak di angkat, hal itu membuat Dinda semakin khawatir. Di tambah sang kakak yang menuduh Rizal sebagai penyebab dia terjatuh dari tangga. Hatinya tak tenang jika Rizal belum memberinya kabar. Tetapi mendengar bahwa Rizal masuk kerja, membuatnya sedikit agak tenang.


Entah kenapa setelah terjadinya kecelakaan, Rizal sama sekali tidak menghubunginya atau membalas pesan darinya dan tidak mau mengangkat panggilannya. Dinda sedikit kecewa atas sikap Rizal yang terkesan tidak peduli dengannya. Mungkin kini saatnya Dinda melepas semua perasaan terhadapnya, tapi itu sangat sulit bagi Dinda. Dia tidak mudah untuk melupakan Rizal begitu saja.


" Mbak Inah, kamu pulang saja, biar aku yang jagain Dinda." suruh Anton kepada Inah.


"Baik Den, aku pulang dulu ya!" pamit Inah.


Anton mengusap kening Dinda,


"Maaf Tuan, kita akan melakukan CT scan sekarang." kata suster yang baru saja masuk.


"Iya, silahkan! Kita sudah siap kok." sahut Anton tersenyum.


Dinda nampak tegang, tetapi Anton setia menemani di sampingnya. Dua suster mendorong ranjang Dinda keluar dari ruangan dan Anton masih tetap di sampingnya sambil memegang tangan Dinda. Ketika Dinda di bawa ke ruang pemeriksaan, Anton di larang oleh suster masuk ke dalam. Ia di suruh menunggu pasien di luar ruangan.

__ADS_1


Anton menasihati Dinda untuk tidak takut, karena pemeriksaan pengambilan gambar dengan mesin CT scan itu tidak akan menyakitinya. Sementara Anton duduk di kursi tunggu, ia berdoa semoga tidak ada hal yang membahayakan Dinda. Ingin rasanya ia menggantikan posisi Dinda dengan dirinya.


Sekitar 30 menit Anton menunggu di luar, sepanjang menunggu ia tak henti-hentinya berdoa. Ada rasa khawatir ketika dua orang suster mendorong Dinda keluar dari ruang pemeriksaan. Anton pun dengan segera beranjak dari duduknya menghampiri Dinda.


"Bagaimana? Sakit tidak?" tanya Anton yang tersenyum ke arah Dinda.


"Tidak sakit kak!" jawab Dinda tersenyum malu.


Kemudian mereka masuk ke dalam ruang inap. Suster menjelaskan jika hasil pengambilan gambar CT scan akan memakan waktu beberapa hari atau kurang lebih satu Minggu. Anton pun mengangguk, mengerti dengan apa yang di maksud oleh suster. Lalu, para suster pun berpamitan untuk keluar.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Anton mendekat ke arah Dinda.


"Aku lagi gak kepingin makan apa-apa kak, kepalaku agak sakit." jawab Dinda sambil meringis kesakitan memegangi kepalanya.


Dinda melarang Anton untuk memencet tombol darurat, karena rasa sakit di kepalanya tidak begitu sakit seperti sebelumnya. Ia hanya ingin istirahat sebentar, mungkin dengan beristirahat bisa mengurangi rasa sakitnya. Dinda hanya tidak ingin membuat sang kakak merasa khawatir karena melihat dirinya yang kesakitan.


"Tapi Din, ini sudah waktunya makan siang dan kamu harus minum obat. Kalau kamu telat minum obat, nanti kapan sembuhnya." Anton merasa khawatir dengan Dinda.


Melihat wajah sang kakak yang tampak khawatir, Dinda pun meminta sang kakak untuk mengambilkan makanan yang di sediakan oleh rumah sakit. Percuma saja jika ia meminta makanan enak, saat ini kepalanya sedang sakit dan ia tidak akan merasakan nikmatnya makanan.


Daripada menyusahkan sang kakak, lebih baik Dinda memakan apa yang ada. Anton pun mengambilkan makanan yang di bawakan oleh suster, dengan telaten ia juga menyuapi Dinda hingga makanan itu habis. Kemudian Anton memberikan obat untuk Dinda yang sudah di siapkan oleh suster. Karena Dinda mengeluh sakit di kepalanya, sang suster pun memberinya obat pereda nyeri.


"Kakak tidak makan?" tanya Dinda yang baru saja selesai minum obat.

__ADS_1


"Kakak belum lapar, nanti kalau kakak lapar, tinggal telepon Dimas." jawab sang kakak yang terus berada di sampingnya.


Dinda kemudian menanyakan kepada Anton tentang siapa pelaku yang membuatnya jatuh. Tidak ingin menutup-nutupi, Anton pun menceritakan kepada Dinda tentang rekaman CCTV yang kemungkinan bahwa pelakunya adalah Loren. Walaupun di rekaman tersebut tidak memperlihatkan Loren mendorongnya, tetapi Anton yakin bahwa pelakunya adalah Loren. Apalagi, ketika Dimas menyewa Detektif, hasilnya juga sama, jika pelakunya adalah Loren.


"Tetapi walaupun mereka Detektif, belum tentu benar kak! Apalagi rekaman itu memperlihatkan dua jam sebelum kejadian. Jangan sampai kita menuduh orang yang tidak bersalah." kata Dinda meragukan jika Loren pelakunya.


"Memang Loren tidak mengakui hal itu, tetapi dia mengakui jika sebelumnya dia memiliki dendam sama kita. Dia juga mengatakan bahwa, dia membencimu. Siapa lagi jika bukan dia pelakunya." Anton menjelaskan.


Tetap saja Dinda tidak ingin menuduh siapapun, dia anggap semua adalah teguran dari Sang Pencipta. Karena sebelumnya ia pernah berpikir bahwa bayi yang ia kandung hanyalah pemisah dirinya dengan Rizal. Kelabilan membuatnya tidak begitu menginginkan bayi itu, hingga akhirnya Allah mengambilnya. Dan sekarang Dinda menyadari, bahwa dia sangat kehilangan bayinya.


Anton ingin juga melakukan hal yang sama, ia ingin mengikhlaskan musibah atas kehilangan bayinya dan apa yang menimpa Dinda. Tetapi hatinya masih berat, ia ingin membuat orang yang mencelakai Dinda dan meninggalnya sang bayi di hukum atas perbuatannya dan bertanggungjawab.


"Kita ikhlasin semua apa yang menimpa kita kak, Insya Allah suatu saat nanti Allah akan ganti yang lebih baik." ujar Dinda mengelus lengan sang kakak uang duduk di sebelah ranjangnya.


"Insya Allah, kakak akan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya." sahut Anton yang masih berat untuk melupakan semuanya.


Efek samping dari obat yang ia minum, membuat Dinda terserang rasa kantuk. Rasa sakit di kepalanya berangsur hilang, hal itu membuat Dinda tertidur nyenyak. Setelah Dinda tertidur, Anton kemudian pergi keluar ruangan menuju ke Mushola yang berada di lantai bawah untuk menunaikan Sholat Dhuhur.


Setelah selesai Sholat, ia pergi ke kantin untuk makan siang. Kemudian ia naik ke atas dan masuk ke ruangan. Ia terkejut ketika Dinda sudah tidak ada di ruangannya. Lalu ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Anton berlarian pergi untuk menemui suster yang jaga di lantai tersebut dengan perasaannya yang tak karu-karuan.


"Suster, suster! Kemana pasien yang berada di kamar 102?" tanya Anton tergesa-gesa karena merasa khawatir yang teramat.


Seketika dua suster yang berjaga di lantai tersebut langsung menoleh ke arah Anton, karena nada bicara Anton yang cukup tinggi. Lalu salah satu suster tersebut berdiri dan memberitahu di mana Dinda di bawa pergi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2