
Dokter menyarankan Dinda untuk mengkonsumsi susu khusus untuk ibu hamil. Karena tubuh Dinda terlalu kurus, karena Dinda ingin melahirkan secara normal, jadi Dokter menyarankan untuk menambah berat badannya. Keadaan janin normal, tetapi juga butuh asupan gizi yang cukup. Mendengar keluhan dari Dokter membuat Anton merasa kurang perhatian dengan Dinda. Karena memang Dinda susah makan, jadi sekalinya mau makan, dia akan makan banyak sekali.
Sepulang mereka dari klinik, Anton mengajak Dinda ke kantornya. Karena meetingnya di undur jam dua siang, jadi tidak ada waktu untuk mengantar Dinda pulang terlebih dahulu. Kebetulan hari itu Dimas tidak masuk kerja, jadi dia sendiri yang menyetir. Ketika Dinda dan Anton masuk ke dalam lift, saat bersama Rizal datang masuk ke dalam lift juga.
"Pak Anton, Siang pak!" sapa Rizal.
"Siang!" sahut Anton dingin.
Anton bersikap dingin lagi kepada Rizal, padahal sudah beberapa hari Anton cukup baik dengannya. Tetapi siang itu Anton memasang wajah dinginnya. Dinda pun tersenyum ke arah Rizal dan Rizal pun membalas senyuman dari Dinda. Mata Anton melirik memperhatikan mereka berdua. Melihat mereka saling lempar senyum, Anton pun semakin kesal di buatnya.
Di saat mereka keluar dari lift, Dinda menyuruh Anton untuk masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu, karena ia beralasan untuk mengambil air minum. Anton menurut begitu saja dan masuk ke dalam ruangannya. Seketika ia membuka laptopnya dan melihat apa yang di lakukan oleh Dinda melalui rekaman CCTV.
Ia pun menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan, melihat apa yang di lakukan Dinda. Tak lama kemudian, Dinda pun masuk ke dalam ruangannya Anton.
"Kamu ngapain lama amat?" tanya Anton datar.
"Tadi minum di pantry." jawabnya bersemangat.
Setelah menjawab pertanyaan sang kakak, Dinda pun langsung masuk ke dalam ruang istirahat. Dia berbaring di atas ranjang sambil bermain dengan ponselnya. Sedangkan Anton berjalan mondar-mandir ingin meluapkan kekesalannya pada Dinda. Tapi mengingat Dinda sedang hamil, ia pun mengurungkan niatnya dan duduk di kursi kebesarannya.
Karena sebentar lagi ada meeting, Anton pun segera menghubungi Loren untuk menyiapkan semua apa yang ia butuhkan untuk meeting. Lalu Anton berpamitan kepada Dinda untuk pergi ke ruang rapat di lantai bawah.
"Sayang, aku turun dulu ke ruang rapat. Kalau kamu butuh apa-apa kamu kirim pesan saja ya!" pamit Anton kepada Dinda.
"Ok kak!" sahutnya bersemangat sambil memandangi ponselnya.
__ADS_1
Ketika Anton keluar dari ruangannya, dia melihat Rizal yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil senyum-senyum sendiri. Anton pun merasa kesal, lalu dia bersama Loren dan asistennya pergi masuk ke dalam lift. Loren bersikap seperti biasanya, sebagai seorang sekretaris.
Sesampainya mereka di ruang meeting, Loren pun berpamitan kepada Anton untuk mengambil berkas yang ketinggalan di meja kerjanya. Sambil menunggu Loren, Anton pun mengirim pesan untuk Dinda. Menyuruhnya untuk segera istirahat dan melarangnya bermain ponselnya terus menerus. Karena belakangan ini Dinda selalu sibuk dengan ponselnya.
"Sudah siap semua?" tanya Anton kepada Loren yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah pak!" jawabnya tegas.
Baru saja meeting akan di mulai, tiba-tiba salah satu karyawan datang dengan tergesa-gesa dan memberitahu Anton bahwa Dinda jatuh dari tangga emergency. Tak bisa berkata apa-apa, Anton langsung berlari keluar dari ruangan. Pikirannya blank, dia berdo'a dalam hatinya, agar istri dan anaknya tidak kenapa-kenapa.
Sesampainya Anton di tempat kejadian, ia syok melihat darah di lantai. Anton juga melihat Rizal di tempat kejadian, ia juga panik sambil menangia. Rizal mencoba untuk menggendong Dinda tetapi Anton melarangnya dan akhirnya Anton lah yang menggendong Dinda. Sementara Loren langsung menelpon Ambulans.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Dinda langsung di bawa ke ruang UGD, tetapi dokter melarang Anton untuk ikut masuk. Jadi Anton pun menunggu di luar. Matanya bengkak, karena di sepanjang jalan ia menangis sesenggukan mengkhawatirkan Dinda dan janin yang ada di kandunganya.
"Anton, sebaiknya kamu cuci tangan mu dulu. Biar aku yang jaga Dinda." suruh Loren yang ikut ke rumah sakit.
*****
Dokter yang menangani Dinda pun keluar dari ruangan. Anton dengan segera berlari menghampirinya. Terlihat dari raut wajah sang dokter yang tidak senang, Anton pun menangis sebelum dokter mengatakan sesuatu.
"Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi bayi anda tidak tertolong. Kandungannya terbentur sangat keras, jadi janin terluka dan meninggal di dalam kandungan. Kondisi sang ibu, baik-baik saja. Tetapi dia masih belum sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah." kata. dokter menjelaskan.
"Mohon untuk tanda tangannya." imbuh dokter.
Tangannya bergerak menandatangani kertas yang di sodorkan oleh dokter. Air matanya terus mengalir, kakinya perlahan lemas tak bertenaga. Ketika dokter masuk ke ruangan, Anton ambruk dan teriak histeris. Dia menyesal karena tidak mengantar Dinda pulang ke rumah, padahal Dinda sudah merengek minta pulang. Karena dia merasa malu dengan karyawan-karyawan.
__ADS_1
"Dinda, maafin kakak yang gak dengerin kamu!" kata Anton sambil menangis histeris.
"Anton, jangan nangis please!" kata Loren memeluk Anton.
Loren mencoba menenangkan Anton, dia paham jika berada di posisi Anton. Tapi karena sekarang mereka sedang di rumah sakit, jadi Loren pun menyuruh Anton untuk diam. Karena dia khawatir jika pasien yang lain terganggu karena teriakannya Anton.
Akhirnya Anton pun berhenti dari tangisnya. Ia duduk bersama Loren, tapi lagi-lagi matanya tidak bisa ia kontrol. Air mata itu terus keluar membasahi pipinya. Loren memeluk Anton dan menenangkannya. Ketika mereka sedang berpelukan, Dimas,Yuki dan Inah datang.
"Bagaimana keadaan Non Dinda Den?" tanya Inah khawatir.
"Dinda......" jawab Anton menangis lagi.
Loren pun menjelaskan kepada mereka tentang keadaan Dinda dan janinnya. Inah dan Yuki pun langsung menangis, sementara Dimas menahan air matanya. Ia mengalahkan dirinya karena tidak bisa antar Dinda ke dokter. Andai saja tadi ia masuk kerja, pasti ia akan langsung mengantar Dinda pulang.
"Bagaiman bisa dia jatuh di tangga emergency?" tanya Dimas ingin tahu.
"Kata karyawan, ketika Dinda jatuh, Rizal sudah ada di sana. Kemungkinan Dinda mau menemui Rizal di tangga emergency." jawab Loren menceritakan.
"Tapi di sana ada CCTV kak, kita harus cari tahu penyebab Dinda jatuh." tutur Dimas.
Dimas kemudian berpamitan kepada Yuki untuk pergi. Entah kemana ia akan pergi, dia buru-buru berlari keluar dari rumah sakit. Dengan menggunakan taksi, ia pun pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara Anton masih menangis menunggu kabar dari sang dokter.
Yuki, Inah dan Loren tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Anton. Inah pun ikutan menangis lagi melihat Anton yang tidak berhenti menangis. Inah tahu itu hal terberat bagi Anton. Inah memberi sebotol air minum yang ia bawa di dalam tasnya.
"Den, di minum dulu. Kita berdo'a bersama-sama, semoga Non Dinda tidak kenapa-kenapa." kata Inah menyodorkan sebotol air minum.
__ADS_1
Anton yang saat itu duduk di lantai pun mencoba meraih botol yang di sodorkan Inah. Tangannya menggenggam botol itu, tapi dia tidak ada tenaga untuk meminumnya. Semua terasa berat, gelap seperti tak ada masa depan baginya.
Bersambung...