
Sore itu Dinda tiduran di kamar, sedangkan Anton masih sibuk dengan laptopnya. Walaupun dia tidak berangkat kerja, tetapi dia tetap bekerja dari rumah. Karena merasa bosan, Dinda pun memutuskan untuk mandi sore.
"Sayang mau kemana?" tanya Anton yang melihat Dinda turun dari ranjang.
"Aku mau mandi, matiin AC nya dulu ya!" jawab Dinda sambil mematikan AC.
"Okay!" sahut Anton yang masih serius memandangi laptopnya.
Sebenarnya saat itu Dinda sedikit kesal karena Anton sibuk dengan pekerjaannya. Ia merasa dicuekin, jadi ia sengaja beralasan untuk mandi agar perhatian Anton beralih kepadanya. Tetapi tak sesuai ekspektasinya, Anton tak perduli dengan apa yang akan dilakukan Dinda.
Saat itu Dinda cemberut, ia masuk kedalam kamar mandi. Anton yang menyadarinya pun langsung mengikuti Dinda dari belakang, tersenyum karena baginya Dinda sangat menggemaskan.
"Kok kesini?" tanya Dinda sembari membuka bajunya.
"Mau mandi sama istriku!" jawab Anton sambil memeluk Dinda dari belakang.
"Ih... jangan ganggu aku, akunya mau mandi!" protes Dinda dengan manja.
Karena Dinda sangat menggemaskan, Anton pun membopong Dinda keluar dari kamar mandi dan menidurkannya di atas ranjang. Dinda yang saat itu tak mengenakan pakaian pun merasa malu. Tetapi rasa malu itu segera hilang, ketika Anton mulai melakukan aksinya.
Mereka berdua pun akhirnya melakukan hubungan suami-istri. Anton berharap, Dinda segera hamil lagi, karena Anton sudah ingin menjadi seorang ayah. Setelah selesai melakukan hal itu, Anton dan Dinda mandi bersama. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka berdua. Berharap kebahagiaan itu tak ada akhir.
"Kayaknya Dimas sudah pulang!" kata Anton sambil memakai bajunya.
"Kayaknya sih sudah, tadi aku dengar suara klakson mobil," ujar Dinda yang sedang merapikan rambutnya.
Anton keluar duluan untuk menemui Dimas, karena ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Dimas tentang perusahaan. Sementara Dinda sedang mengoleskan fondation untuk menutupi tanda merah dilehernya. Setelah menyamarkan tanda merah, Dinda juga turun kebawah.
Dilihatnya Anton dan Dimas sedang mengobrol serius di ruang tamu. Tidak mau menggangu, Dinda menghampiri Inah yang saat itu sedang sibuk menyiapkan makan malam dengan simbok.
"Mbak Inah! Aku sudah lapar, kamu masak apa?" tanya Dinna seperti anak kecil.
"Ayam goreng sama cah kangkung Non," jawab Inah yang masih sibuk menggoreng ayam.
Di saat Dinda sedang asyik mengganggu Inah, Anton pun memanggilnya dan menyuruhnya untuk datang menghampirinya. Seperti anak kecil, Dinda pun berlarian kecil menghampiri Anton dan Dimas.
"Iya, ada apa kak?" tanya Dinda yang berdiri di depan Anton.
"Duduk, Kakak mau tanya!" suruh Anton.
__ADS_1
"Kamu yakin kalau yang mendorong mu waktu itu adalah Lisa?" Tanya Anton dengan serius.
Dinda terdiam sejenak, ia mencoba untuk mengingat-ingat lagi kejadian itu. Anton maupun Dimas bersabar menunggu jawaban dari Dinda. Setelah sekitar 10 menit Dinda mengingat, ia pun akhirnya teringat semua dan memberitahu kepada Anton dan Dimas.
"Iya, aku melihat jelas jika dia yang mendorongku dan dia juga merekam ku ketika aku jatuh!" kata Dinda menceritakan.
"Rekam? Kamu masih ingat, dengan apa dia merekam?" tanya Dimas antusias.
"Dia merekam dengan ponsel!" jawab Dinda singkat.
Tentu saja Anton dan Dimas tidak akan tinggal diam, mereka kemudian merencanakan sesuatu untuk mencari bukti jika Lisa adalah orang yang membuat Dinda jatuh dan mengakibatkan janinnya meninggal sebelum lahir.
Ketika mereka sibuk berdiskusi, suara bel pintu berbunyi. Dinda kemudian beranjak dari duduknya dan membukakan pintu, karena simbok dan Inah sedang sibuk memasak di dapur.
"Dinda....." sapa Yuki sambil memeluk Dinda.
"Silahkan masuk!" suruh Dinda dengan canggung.
Dinda tidak ingat kalau dirinya punya sahabat Yuki, jadi dia merasa canggung ketika Yuki bersikap selayaknya sahabat dekatnya. Apalagi tingkah Yuki yang sedikit genit, hal itu membuat Dinna tidak nyaman. Padahal sebelum Dinda kehilangan ingatannya, dia tidak mempermasalahkan sikap Yuki yang genit.
Inah yang melihat kedatangan Yuki pun seketika lemas tak bertenaga. Keberadaan Yuki pasti membuat Dimas senang dan Inah pun merasa cemburu. Ditambah sikap Dimas yang juga perhatian padanya.
"Semakin hari semakin cantik saja kamu Ki!" puji Anton.
"Ohhh.... gitu ya!" Dinda membelalakkan matanya kearah Anton.
Mereka serempak tertawa ketika melihat Dinda cemburu. Anton yang tidak mau melihat Dinda marah pun langsung beranjak dan memeluknya. Mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda memuji Yuki dan hanya Dinda lah wanita yang tercantik baginya.
Karena makanan sudah siap, Inah pun memanggil mereka untuk segera makan. Inah melihat Dimas yang sedang bercanda dengan Yuki, hal itu membuat Inah dibakar api cemburu.
"Yuki, kamu mau makan ini?" tanya Dimas menawari.
"Boleh!" jawab Yuki tersenyum.
Dimas mengambilkan ayam goreng ke piring Yuki. Inah yang melihat itu pun merasa kesal, karena Dimas begitu perhatian sama Yuki.
*****
Anton dan Dimas baru pulang dari Masjid, begitupun dengan Dinda, Inah, Yuki dan simbok yang baru selesai menunaikan salat berjamaah. Karena sudah malam, Yuki pun berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Kamu pulang naik apa?" tanya Dimas.
"Aku pesan taksi online saja!" jawab Yuki.
"Aku antar kamu ya!" Dimas menawarkan diri mengantar Yuki pulang.
Tentu saja Yuki tidak menolak, dia malah senang diantar pulang. Inah semakin kesal dan cemburu melihat sikap Dimas yang sangat perhatian kepada Yuki. Ia memilih pergi masuk ke kamarnya dari pada melihat Dimas memberi perhatian kepada Yuki.
Sementara Dinda dan Anton langsung naik ke atas ketika Dimas mengantar Yuki pulang. Dinda dengan kesal mengatakan kepada Anton kalau dia tidak menyukai Yuki.
"Dia kan sahabatmu, dulu kalian selalu ngapa-ngapain berdua kok!" Anton memberitahu.
"Pokoknya aku gak suka Yuki!" gerutu Dinda sambil melipat tangannya.
"Iya, iya... sayang!" sahut Anton sambil mengelus rambut Dinda.
Inah yang sedang dilanda api cemburu pun tak bisa tidur. Dia keluar dari kamarnya, ia duduk di ayunan halaman belakang sambil bermain dengan ponselnya. Dimas yang baru pulang pun melihat cahaya ponselnya Yuki. Ketika melihat Yuki yang sedang di sana sendirian, Dimas pun menghampirinya.
"Inah, kamu ngapain disini? Banyak nyamuk nih!" tegur Dimas.
"Lagi nyari angin segar!" jawab Inah dengan nada dinginnya.
"Apakah kamu cemburu?" tanya Dimas tersenyum.
Sebenarnya Dimas sengaja mendekati Yuki, karena dia ingin tahu reaksi Inah. Karena selama ini Inah tidak pernah menunjukan jika dia mencintai Dimas, jadi Dimas ingin tahu apakah Inah benar-benar mencintainya atau tidak.
"Aku lagi ingin sendiri, kamu masuk sana!" suruh Inah kesal.
"Aku tahu, kamu pasti cemburu kan? Yes! Berarti kamu mencintaiku kan!" sahut Dimas kegirangan.
Dimas berlutut di hadapan Inah. Dia meminta maaf atas sikapnya tadi, hal itu ia lakukan karena ingin tahu seberapa besar cinta Inah terhadapnya. Lalu Dimas juga meminta maaf, karena belum melamarnya dan mengingkari janjinya.
Diraihnya kedua tangan Inah, Dimas memohon kepada Inah agar dia tidak marah lagi dengannya. Karena, ketika Inah marah, Dimas sangat khawatir jika kehilangan Inah.
"Mungkin aku dulu laki-laki playboy, tapi saat ini aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilanganmu. Tolong maafkan aku dan jangan marah kepadaku," Dimas mengecup punggung tangan Inah.
Inah terdiam, ia memandangi wajah Dimas yang baginya sangat tampan. Entah apa yang merasuki Inah malam itu, ia meraih dagu Dimas dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya dengan lembut. Dimas terbelalak, tetapi dia membalas ciuman Inah dengan lembut.
Bersambung...
__ADS_1