Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda Menolak!


__ADS_3

"Aku mau tidur di kamarku!" rengek Dinda yang tak mau tidur sama Anton.


"Terserah kamu, tapi kamarmu sudah jadi kamarnya Dimas!" sahut Anton yang mulai putus asa menghadapi Dinda.


"Kenapa sih dia tinggal disini? Kaya gak punya rumah saja!" gerutu Dinda dengan kesal.


Terpaksa Dinda tidur di samping Anton dengan posisi membelakanginya. Begitupun dengan Anton yang tidur dengan posisi membelakangi Dinda, karena Anton merasa kesal dengan sikap Dinda yang belum bisa menerima dirinya sebagai suaminya.


Jduar!


Tiba-tiba suara Guntur terdengar nyaring, karena malam itu hujan sangat lebat. Seketika Dinda berteriak dan membalikkan badannya memeluk Anton dengan erat. Anton yang paham jika Dinda takut suara Guntur pun langsung memeluknya balik, sambil menenangkannya.


"Jangan takut, kakak disini," kata Anton sambil mengelus rambutnya Dinda.


"Aku takut!" sahut Dinda menutupi telinganya.


Perlahan, hujan mulai reda. Dinda maupun Anton belum bisa tidur. Karena tidak ada suara Guntur yang terdengar, Dinda pun melepaskan dirinya dari pelukan Anton. Tetapi Anton enggan melepasnya, ia malah mencium bibir Dinda dengan sedikit agresif.


Dengan sekuat tenaga Dinda mencoba melepaskan pelukannya Anton. Walaupun dia tahu kalau Anton adalah suaminya, tetapi dalam ingatannya, Rizal lah kekasihnya. Jadi Dinda belum bisa menerima Anton sebagai suaminya. Karena Dinda terus memberontak, Anton pun melepaskannya dengan penuh kekecewaan.


"Din, kamu ini istriku! Kamu gak boleh bersikap seperti itu!" protes Anton dengan raut wajah kesalnya.


"Mungkin kamu memang suamiku, tapi dalam ingatanku, aku sama sekali tidak mengenalmu. Beri aku waktu, aku gak suka dipaksa!" sahut Dinda yang juga merasa kesal.


Anton yang merasa kesal pun turun dari ranjang, ia keluar dari kamar. Dinda yang melihat Anton keluar dari kamar pun merasa senang, ia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rizal. Betapa bahagianya Dinda, ketika Rizal mengangkat panggilannya.


Mereka berdua saling mengobrol melalui panggilan Vidio. Rizal terlihat tidak nyaman, karena dia khawatir jika Anton tahu, kalau mereka berdua sedang mengobrol. Tapi, dari dalam lubuk hatinya, Rizal juga senang bisa melihat Dinda tersenyum. Ketika mereka berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Anton datang dan Rizal pun mematikan ponselnya.


"Yah! Kok dimatiin sih!" gerutu Dinda dengan kesal sambil membanting ponselnya di atas kasur.


"Banting saja dilantai, biar sekalian rusak!" kata Anton yang tahu jika Dinda teleponan dengan Rizal.


"Apaan sih! Ganggu saja!" sahut Dinda menaruh ponselnya di atas nakas.

__ADS_1


Anton yang masih kesal pun duduk di kursi kerjanya, ia membuka laptopnya dan mengecek beberapa berkas yang belum sempat ia cek. Sementara Dinda merebahkan badannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, bersiap untuk tidur.


Setelah selesai mengecek semua berkas-berkasnya, ia pun terserang rasa kantuk. Kemudian Anton tidur disebelah Dinda. Kali ini Anton menyerah, dia tidak mau memaksa Dinda untuk menerimanya sebagai suami.


*****


"Mbak Inah, nanti kalau Dinda sudah bangun, suruh dia sarapan ya! Obatnya sudah aku siapin, untuk pagi dan siang," suruh Anton kepada Inah sambil menyodorkan kotak obat.


"Baik Den, serahkan semua sama Inah!" sahut Inah dengan percaya diri.


Pagi itu Anton dan Dimas pergi kekantor, sedangkan Dinda masih nyenyak tidur. Anton sengaja tidak membangunkan Dinda, karena dia tahu kalau kondisi Dinda belum pulih. Bahkan Dinda mengatakan bahwa dia lupa dengan bacaan Salat.


Sesampainya Anton dan Dimas di kantor, Anton langsung meminta Loren untuk memberikan semua laporan. Dia juga meminta Dimas untuk segera melaporkan Lisa kepada pihak yang berwajib atas dugaan menyalah gunakan uang perusahaan dan juga membocorkan rahasia perusahaan.


"Hari ini hasilnya akan keluar!" kata Dimas memberitahu Anton.


"Ok! Kamu urus semua!" sahut Anton yang tampak stress.


Perusahaan Anton mengalami kerugian hingga puluhan milyar. Hal itu karena ulah Lisa yang tidak tidak bertanggungjawab. Anton memilih jalur hukum untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Dia sengaja tidak memberitahu Lisa, perihal kasus yang akan menimpanya.


Loren masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Anton yang terlihat stress duduk di bangku kebesarannya. Dengan perlahan, Loren berjalan menghampiri Anton untuk memberikan berkas laporan. Dimas yang sedang duduk di sofa pun segera keluar, karena ada urusan yang harus ia selesaikan.


"Bro, aku pergi dulu ya!" pamit Dimas buru-buru.


"Ok, hati-hati! Telepon aku kalau ada sesuatu yang tidak bisa di selesaikan," pesan Anton.


Loren berdiri tepat dihadapan Anton sambil menyodorkan berkas ditangannya. Bibirnya tersenyum tipis, senang bisa melihat Anton datang ke kantor lagi.


"Anton, ini laporan yang kamu minta!" kata Loren.


"Taruh di meja!" sahut Anton cuek.


Ada sedikit rasa kecewa di hati Loren melihat Anton yang cuek dengannya. Tapi ia mencoba untuk menyadarkan dirinya, bahwa Anton sudah punya istri dan tidak ada sisa cinta untuknya lagi. Jadi, setelah menaruh laporan itu di meja, Loren segera membalikan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu keluar?" tanya Anton dengan nada dinginnya.


"Aku sudah taruh laporannya dimeja, sudah tidak ada yang harus aku lakukan kan?" jawab Loren menolehkan kepalanya.


"Duduk!" suruh Anton.


Dengan raut wajah bingungnya, Loren pun kembali dan duduk dihadapan Anton. Mereka berdua terdiam dan saling menatap satu sama lain, hingga membuat Loren menjadi salah tingkah. Sebelumnya ia tidak pernah melihat tatapan Anton yang begitu dingin terhadapnya. Sehingga, Loren tidak berani mengucapkan sepatah katapun.


"Maafkan aku, karena sudah menuduh mu mencelakai Dinda!" kata Anton meminta maaf.


Deg!


Jantungnya Loren berdegup kencang, tak pernah terlintas dipikirannya, kalau Anton akan meminta maaf kepadanya. Tapi, ia bersyukur, paling tidak citranya tidak buruk di mata Anton.


"Iya tidak apa-apa, itu bisa saja terjadi," sahut Loren yang menahan dirinya untuk tidak terlihat senang.


"Sebagai permohonan maaf ku, nanti pulang kerja aku traktir makan kamu!" kata Anton yang ingin menebus kesalahannya.


"Yang benar! Ih... mau banget!" Ujar Loren berdiri dari duduknya kegirangan.


Melihat Loren kegirangan seperti itu, membuat Anton mengingat kenangan-kenangan saat mereka berdua masih berpacaran. Loren adalah gadis yang paling mengerti dan sabar menghadapi Anton. Sebenarnya, Anton pun merasakan bahwa hanya Loren lah yang paling mengeri dengan dirinya. Ia sendiri merasa heran, bagaimana bisa ia berpindah hati begitu cepat kepada Dinda.


"Aku traktir makanan kesukaan mu, di restoran yang biasa kita makan," Anton memberitahu sambil tersenyum.


"Kamu gak lagi sakit kan?" tanya Loren yang langsung memegang dahinya Anton.


"Apaan sih! Sudah sana, balik ke tempat kerjamu!" sahut Anton menepis tangan Loren yang menempel di dahinya.


Bibirnya tersenyum lebar, Loren tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sampai ia keluar dari ruangannya Anton pun masih senyum-senyum sendiri. Seperti seseorang yang sedang dimabuk asmara. Rizal yang melihat Loren pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rizal paham, jika Loren masih menyukai Anton, jadi wajar saja kalau Loren senang ketika bertemu dengan Anton.


"Segitunya ya, berharap sama suami orang!" ledek Rizal ketika Loren berjalan melewati depannya.


"Sudah mulai berani meledek seniornya ya sekarang!" sahut Loren yang langsung menghampiri Rizal.

__ADS_1


Mereka berdua mengobrol, Loren menceritakan kepada Rizal jika Anton akan mentraktirnya makan malam, sebagai tanda permintaan maafnya. Rizal memperingati Loren, agar tidak terlalu berharap kepada Anton, karena Anton sudah punya istri yaitu Dinda. Tidak baik jika berharap dengan seseorang yang sudah berumah tangga, karena ujung-ujungnya harapan itu hanya menyakiti diri sendiri.


Bersambung...


__ADS_2