
Dengan mengendarai motornya, Rizal pergi menuju kerumah sakit dengan Loren. Ada perasaan ragu dihatinya, karena dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Dinda. Masih ada rasa trauma dihatinya. Bayangan itu masih sering muncul di benaknya dan membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
Sesampainya ia di parkiran, Rizal dan Loren turun dari motor. Mereka berdua berjalan menuju ke ruang dimana Dinda dirawat. Loren membawa sekeranjang buah, sedangkan Rizal membawa sebuket bunga Lily kesukaannya Dinda.
"Assalamu'alaikum....." Rizal dan Loren memberi salam.
"Wallaikum Salam!" sahut Inah yang saat itu sedang menyuapi Dinda buah.
Seketika Anton terbangun dari tidurnya, Dinda pun juga menoleh kearah Rizal dan Loren. Rizal yang melihat Dinda langsung menghampirinya dan memberikan buket bunga itu kepadanya.
"Dinda, maafkan aku!" kata Rizal yang merasa bersalah.
"Rizal, kamu kemana saja? Aku sudah kangen banget sama kamu!" tanya Dinda yang langsung memeluk Rizal.
Anton yang melihat pemandangan itu pun langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak rela melihat istrinya memeluk laki-laki lain.
"Kamu ngapain kesini!" Anton melepaskan pelukan mereka dan menarik tangan Rizal untuk menjauh dari Dinda.
Dinda yang melihat perlakuan kasar Anton terhadap Rizal pun langsung memprotes. Dengan berteriak, Dinda menyuruh Anton untuk keluar. Anton yang saat itu sedang tidak bisa mengendalikan amarahnya langsung keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa.
Loren pun ikut keluar dari ruangan mengikuti Anton. Ia mencoba untuk menghibur Anton, Loren paham ketika diposisi Anton, karena dia pernah merasakan diposisi seperti itu. Sedangkan Inah hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Dinda, kamu gak boleh seperti itu! Dia itu suamimu, kamu gak boleh bersikap seperti itu!" kata Rizal menasihati.
"Bukan! Dia bukan suamiku! Kapan aku menikah dengannya? Kamu pacarku, tapi malah bilang seperti itu kepadaku, hiks...." Dinda menangis sesenggukan, karena ia merasa tidak pernah menikah.
"Saat ini kan Non Dinda ingatannya belum pulih sepenuhnya, jadi dia tidak ingat siapa Den Anton!" Inah memberitahu Rizal.
Inah memberitahu kepada Rizal untuk tidak memaksakan Dinda mengingat apapun. Karena dokter berpesan, agar Dinda tidak banyak stress. Lalu Inah berpindah duduk di sofa dan membari kesempatan kepada Rizal dan Dinda untuk saling berbicara.
__ADS_1
Lalu Rizal menyuruh Dinda untuk berhenti menangis. Jauh dalam lubuk hatinya, Rizal ingin menghiburnya dan ingin memeluknya lebih lama lagi. Tetapi ia sadar, Dinda bukanlah miliknya. Dinda sudah berstatus istri orang dan Rizal tidak mau bersikap lebih, seperti sebelumnya. Ia merasa, apa yang terjadi kepada Dinda sebagai teguran untuknya dan Dinda.
"Din, nangisnya sudah ya! Nih buahnya dihabiskan!" kata Rizal mencoba menyuapi Dinda.
"Zal, apa kamu juga percaya kalau orang itu suamiku?" tanya Dinda yang merasa frustasi karena semua orang mengatakan pada dirinya jika Anton adalah suaminya.
Rizal terdiam sejenak, lalu dia tersenyum. Dalam kondisi ini, Rizal bisa saja memanfaatkan keadaan untuk mendekati Dinda lagi, tetapi ia masih berpikir panjang. Dia juga memikirkan perasaan Anton, Anton sudah kehilangan calon buah hatinya dan Rizal tidak tega kalau Anton juga kehilangan istri yang ia cintai.
"Iya benar, dia adalah suamimu yang selalu setia menunggu dan menemani mu di saat kamu kritis. Bahkan dia rela mengorbankan perusahaannya demi menemanimu disini," jawab Rizal dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Tapi aku tidak mencintainya Zal, yang aku cintai hanya kamu!" sahut Dinda memelas.
"Karena saat ini ingatan kamu belum pulih, jadi kamu bisa berkata demikian. Sebelum musibah ini terjadi, kamu sangat mencintai suamimu," Rizal mencoba untuk menyatukan Dinda dan Anton.
Walaupun dihatinya masih sangat menyayangi dan mencintai Dinda, Rizal tidak mau menjadi orang yang egois demi kebahagiaannya sendiri. Masa depannya masih panjang, masih banyak orang yang ia harus bahagiakan, yaitu sang ibu yang ia kasihi.
Dinda pun terdiam, dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ia juga ingin mempercayai jika Anton adalah suaminya, tetapi ia sama sekali tidak mengingat siapa Anton sebenarnya. Baginya, itu hal yang sulit untuk menerima orang asing sebagai suaminya.
"Tapi Zal, aku sangat mencintaimu. Aku gak bisa berpura-pura menjadi istri orang lain!" Dinda masih belum bisa menerima hal itu.
"Jika kamu mencintaiku, kamu harus dengar perkataanku! Jika kita berjodoh, kita akan disatukan di Surga kelak," pungkas Rizal mengakhiri percakapannya.
Lalu Rizal beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruangan. Dinda tidak bisa berkata apa-apa, tatapannya kosong dan dia bingung dengan apa yang sedang terjadi, hingga perlahan kepalanya mulai sakit dan ia berteriak kesakitan.
"Ayo pulang!" ajak Rizal kepada Loren.
"Tapi......" Loren belum selesai berbicara.
Rizal yang baru keluar dari ruangan menyuruh Anton untuk masuk dan ia mengajak Loren untuk pulang. Ia menggandeng tangan Loren, seperti ia sedang menggandeng kekasihnya.
__ADS_1
Anton yang mendengar suara Dinda berteriak langsung masuk kedalam ruangan. Inah yang sedang panik, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Anton dengan buru-buru memencet tombol emergency untuk memanggil suster penjaga.
"Maaf Pak, tolong jangan buat pasien banyak berpikir dan stres, karena itu mempengaruhi waktu penyembuhan pasien," Dokter datang untuk memberi obat untuk menahan rasa sakit.
"Baik Dok! Aku akan lebih hati-hati lagi," sahut Anton yang merasa lega, karena rasa sakit yang dirasa Dinda sudah berangsur hilang.
Setelah selesai memberi obat kepada Dinda, dokter dan suster berpamitan untuk keluar. Disaat yang bersamaan, Dimas datang untuk menjemput Inah.
"Bagaimana keadaan Dinda Bro?" tanya Dimas.
"Seperti yang kamu lihat. Bagaimana keadaan kantor?" tanya Anton balik.
Dimas kemudian mengatakan semuanya apa yang terjadi dengan perusahaan dan langkah apa yang akan dia ambil. Anton menyerahkan semua urusan perusahaan kepada Dimas, dia percaya apapun keputusan yang akan diambil Dimas adalah keputusan yang tepat. Lalu Dimas menyuruh Anton untuk menandatangani semua berkas yang ia bawa.
"Inah sayang... ayo pulang!" ajak Dimas menggodai Inah.
"Apa sih Mas, sayang sayang!" protes Inah yang merasa malu.
Kelakuan mereka berdua berhasil membuat Anton senyum-senyum sendiri. Inah yang merasa malu pun langsung berlarian kecil, keluar dari ruangan. Sedangkan Dimas mengikutinya dari belakang.
Suasana dirumah sakit sangat sepi, hanya mereka berdua yang berbeda didalam lift. Dimas yang nakal memandangi Inah dengan tatapan tajam. Ia perlahan mendekatkan bibirnya pada wajah Inah, dengan reflek Inah mendorong tubuh Dimas hingga membuat Dimas hampir jatuh.
"Mas Dimas! Kita gak boleh melakukan hal ini sebelum menikah!" protes Inah dengan nada kesal.
"Maaf sayang, kamu mau kan maafin aku? Aku janji, aku gak akan mengulanginya lagi," kata Dimas memohon.
Inah pun memaafkan apa yang dilakukan Dimas, tapi ada perasaan sedikit muak dengan Dimas. Tetapi Inah memaklumi, karena sebelumnya Dimas memiliki pergaulan yang kurang sehat. Dimas pun merasa bersalah, melihat raut wajah Dinda yang kesal, membuat Dimas merasa khawatir.
Sampai mereka masuk kedalam mobil, Inah masih diam saja tanpa berkata apa-apa. Dimas pun mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Inah untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang, tetapi Inah menolaknya dengan alasan Simbok sudah menunggu dirumah.
__ADS_1
Bersambung....