
Sepulangnya kerja, Loren buru-buru mengejar Rizal yang saat itu lebih dulu sampai di parkiran. Kebetulan hari itu Loren tidak membawa motornya, jadi ia punya alasan untuk menumpang Rizal, lagi pula mereka sudah janjian untuk pergi makan bareng.
"Rizal, aku bareng kamu saja ya! Aku gak bawa motor nih!" pinta Loren merayu.
"Boleh Mbak, tapi kita mau makan di mana?" tanya Rizal yang mengeluarkan motornya dari himpitan motor karyawan yang lain.
"Kita ke Citos saja yang dekat." jawab Loren yang sudah siap membonceng.
Beruntung Rizal selalu membawa helmet dua, lalu ia memberikannya kepada Loren. Mereka berdua pun meluncur ke mall yang mereka tuju. Sebenarnya saat itu Rizal merasa bingung karena belakangan ini Loren terus memperhatikannya.
Paska terjadinya kecelakaan Dinda yang jatuh dari tangga dan membuat bayinya meninggal, Rizal lebih banyak diam. Terkadang dia tidak bisa berkonsentrasi dan pikirannya melayang jauh memikirkan Dinda. Ia merasa bersalah atas insiden itu. Ingin sekali menjenguk Dinda, tapi ia terus menerus di hantui rasa bersalah.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di parkiran mall tersebut. Rizal membantu Loren melepaskan helmet yang ia kenakan, karena helmetnya menyangkut di rambutnya Loren
"Mbak Loren sudah Sholat Ashar belum?" tanya Rizal sambil menaruh helmet di spion motor.
"Sudah tadi si kantor." jawab Loren sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kalau sudah, ayok langsung makan saja ya!" kata Rizal yang menyuruh Loren untuk jalan terlebih dahulu.
Rizal masih seperti yang dulu, yang selalu perhatian dan menghormati orang lain. Itulah kenapa Dinda tidak bisa melupakannya begitu saja, karena memang Rizal orang yang paling mengerti dengan dirinya.
Loren pun menunjuk sebuah restoran yang terlihat sepi, agar ia bebas mengobrol dengan Rizal. Lagi pula sore itu belum waktunya makan malam, jadi restoran pun belum begitu ramai. Dan Rizal langsung menyetujui ajakan Loren untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Mereka pun langsung di sambut oleh karyawan dan Loren memilih duduk di sudut restoran. Lalu mereka berdua mulai memesan makanan. Sengaja Loren memesan makanan yang di bakar, agar dia memiliki waktu yang cukup untuk berbicara dengan Rizal. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Loren pun mulai melontarkan pertanyaan kepada Rizal.
"Rizal, aku perhatiin kamu kok sekarang berubah?" tanya Loren dengan santai.
Seketika Rizal menatap wajah Loren dan mengerutkan dahinya. Seperti orang yang tidak menyukai pertanyaan itu.
__ADS_1
"Berubah bagaimana ya!" jawab Rizal dengan raut wajah tidak suka.
"Setahuku kamu sampai saat ini belum jenguk Dinda, kalian kan saling mencintai dan juga gara-gara kamu Dinda sudah kehilangan bayinya, tapi kamu sepertinya tidak peduli dengannya." ujar Loren yang heran dengan ekspresinya Rizal.
"Aku tahu, semua orang pasti akan menyalahkan ku. Tapi terserah kalian, yang jelas aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menunggunya di sana dan tiba-tiba Dinda jatuh. Kalaupun aku datang menjenguknya, suaminya pun tidak mengijinkan aku untuk menemuinya." sahut Rizal yang tampak kesal.
Baru saja Loren ingin merespon perkataan Rizal, tiba-tiba pesanan pertama mereka datang. Loren pun mengurungkan niatnya, lalu ia menyuruh Rizal untuk memakan makanannya. Mata Loren tak berhenti memandangi Rizal yang saat itu mulai tak nyaman berada di sana. Dari situ Loren bisa menyimpulkan jika Rizal adalah pelaku yang mengakibatkan Dinda jatuh.
"Kamu tahu kan, dua jam sebelum kejadian CCTV di lantai sembilan tidak berfungsi?" tanya Loren ingin tahu.
"Iya aku dengar hal itu dari ketua team." jawab Rizal singkat.
"Terus, menurutmu apa Dinda tak sengaja jatuh atau memang ada orang yang mencelakainya?" tanya Loren ingin melihat reaksi Rizal.
Rizal berhenti makan, lalu ia menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Aku tahu kenapa Mbak Loren belakangan ini terus memperhatikan aku. Mbak Loren curiga kan sama aku, kalau aku sudah mencelakai Dinda?" jawab Rizal mulai menyadari tujuan Loren mengajaknya makan.
Mereka berdua menikmati makanannya tanpa berbicara sepatah katapun. Sesekali, Loren memandangi Rizal yang juga sedang makan. Tampak sekali Rizal yang tidak tenang, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu kenapa tidak tenang seperti itu?" tanya Loren memandangi Rizal.
Rizal tak menjawab pertanyaan dari Loren, ia semakin gugup tak bisa mengendalikan dirinya. Ia pun mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya dan meminumnya satu per satu. Loren pun penasaran dengan obat apa yang di minum oleh Rizal.
"Kamu sakit?" tanya Loren penasaran.
"Iya, aku gak enak badan," jawab Rizal dengan buru-buru memasukan obatnya ke dalam tas.
"Maaf Mbak, sudah mau Maghrib, sebaiknya kita segera pulang!" tutur Rizal melihat piring Loren yang sudah kosong.
__ADS_1
Beberapa menit bersama Rizal, membuat Loren penasaran dengan kepribadian Rizal yang menurutnya menarik. Ia pun melarang Rizal untuk pulang, karena masih banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Rizal. Karena memang tujuannya ingin menyelidiki Rizal apakah dia pelakunya.
"Kita Sholat di sini saja Zal, soalnya aku masih mau mengobrol denganmu." sahut Loren meminta.
"Okay kalau begitu," balas Rizal yang mulai tenang setelah minum obat.
*****
Setelah selesai Sholat, mereka berdua keluar dari mall tersebut. Rizal mengajaknya ke sebuah taman di dekat mall untuk mengobrol dengan Rizal. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan Loren terhadap dirinya, jadi Rizal sendiri juga ingin mengatakan sesuatu pada Loren. Mereka duduk berdua di taman dengan dengan penerangan yang remang-remang.
"Setelah insiden jatuhnya Dinda dan calon bayinya meninggal, aku merasa bersalah akan hal itu. Aku sangat menyayangi Dinda, bahkan jika tangannya tergores pun aku sangat khawatir. Aku ingin selalu di sampingnya, menemaninya dan menghiburnya. Tetapi aku gak sanggup melihat Dinda yang terluka," ujar Rizal serius.
"Aku dan Dinda bersepakat, jika bayinya lahir nanti, kita akan mengurusnya berdua dan memulai hidup baru. Aku sangat mencintainya, tidak mungkin diriku tega melukai orang yang aku cintai!" imbuh Rizal menyeka air matanya.
Rizal berhenti berbicara, matanya penuh dengan genangan air mata yang tidak bisa di tampung lagi. Tanpa ia sadari pipinya sudah basah oleh air matanya sendiri. Loren yang melihatnya pun merasa iba, ternyata cintanya Rizal kepada Dinda sangat besar. Yang awalnya Loren yakin kalau Rizal pelakunya, kini ia malah merasa bersalah karena menuduh Rizal.
"Tetapi kenapa sikapmu berubah dan seperti tidak peduli dengan Dinda?" tanya Loren.
"Setelah kejadian itu, aku mulai tidak bisa tidur, stres dan gangguan kecemasan. Aku pergi periksa dan Dokter mengatakan kalau aku mengalami trauma." jawab Rizal sambil menundukkan kepalanya.
Jadi obat yang di minum Rizal adalah obat anti-depresan yang diberikan oleh dokter. Karena rasa traumatis yang di alami Rizal lah yang membuat sikap Rizal berubah dan susah berkonsentrasi. Jika Rizal melihat Dinda, kejadian itu akan kembali dalam ingatannya dan trauma yang ia alami susah untuk sembuh.
Loren yang merasa bersalah pun meminjamkan pundaknya pada Rizal dan membiarkan Rizal menangis dengan menyandarkan kepalanya. Rizal yang sudah berbagi masalahnya dengan Loren pun sedikit merasa lega.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang Zal!" ajak Loren sambil mengelap air mata Rizal.
"Maaf ya Mbak, membuat suasana jadi seperti ini." sahut Rizal sambil mengelap ingusnya yang terus keluar.
"Aku yang minta maaf Zal, sudah berprasangka buruk terhadapmu." Tutur Loren yang merasa bersalah.
__ADS_1
Kecurigaan Loren tak ada bukti, bahkan Rizal berani bersumpah jika dia bukanlah pelakunya. Karena ancaman dari Dimas, Loren pun meminta bantuan kepada Rizal untuk mencari penyebab Dinda terjatuh.
Bersambung....