Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton Curiga Dengannya


__ADS_3

Waktu sudah menandakan malam hari, Dinda sudah selesai makan malam dan meminum obatnya, tetapi sakit di kepalanya tak kunjung sembuh. Mungkin itu sangat sakit yang ia rasakan, tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sakit dari sang kakak. Karena Dinda tidak mau membuat sang kakak khawatir kepadanya.


"Dim, sudah malam nih! Kamu antar Inah pulang ya!" suruh Anton kepada Dimas.


"Tapi Den, nanti kalau Non Dinda butuh sesuatu bagaimana?" tanya Inah yang ingin menemani Dinda.


"Kan ada aku mbak. Nanti kalau Dinda butuh apa-apa, aku yang bantuin dia." sahut Anton meyakinkan Inah.


Sebab Inah sudah menganggap Dinda sebagai temannya sendiri, jadi ia merasa khawatir dengan kondisi Dinda saat itu. Tetapi karena Anton menyuruhnya pulang, jadi ia pun terpaksa pulang dengan di antar oleh Dimas. Walau dalam hatinya ia ingin menemani Dinda.


Setelah Inah dan Dimas pulang, Anton menyuruh Dinda untuk segera istirahat. Saat itu Anton tidak menyadari jika Dinda sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Karena Anton sibuk dengan laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai.


Keringat dingin pun mulai bercucuran, karena menahan rasa sakitnya. Karena Dinda bergerak, tak sengaja ia menyenggol botol air yang berada di dekat bantalnya hingga jatuh kelantai. Anton pun kaget dan langsung berdiri menghampiri Dinda. Karena lampu sudah di matikan, jadi Anton tak bisa melihat wajah Dinda yang saat itu mulai memucat.


"Sayang, kamu berkeringat?" tanya Anton mengusap dahi Dinda.


Dinda menganggukkan kepalanya, tapi Anton masih tak menyadari jika Dinda saat itu sedang kesakitan. Lalu Anton mematikan laptopnya dan kembali lagi menemani Dinda. Khawatir Dinda merasa kesepian, Anton pun ikut tidur di sebelahnya. Mungkin rasa sakitnya tak tertahan lagi, tanpa berkata-kata Dinda memiringkan badannya dan memeluk Anton dengan erat. Berharap, rasa sakitnya segera menghilang.


Anton membalas pelukannya, tapi ia merasa ada yang aneh dengan tubuh Dinda. Tangannya bergetar, dahinya terus mengeluarkan keringat dingin. Ia pun segera turun dari ranjang dan menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Anton, yang melihat kondisi Dinda yang terlihat pucat pasi. Tak menunggu lama, Anton pun segera memencet tombol untuk memanggil Suster/Dokter.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Anton khawatir sambil mengelus dahi Dinda.

__ADS_1


"Sakit kak!" jawab Dinda lirih sambil menahan rasa sakitnya.


Tak lama kemudian Dokter dan Suster masuk ke dalam ruangan dan segera memeriksakan Dinda. Dokter mengatakan bahwa Dinda mungkin mengalami gegar otak ringan. Jadi Dokter memberinya obat pereda nyeri dan juga menyuruh Dinda untuk tidak banyak bergerak dan istirahat cukup.


Selain itu, Dokter menyarankan Dinda untuk melakukan CT scan untuk memastikan gegar otak yang di alami Dinda termasuk ringan atau berat. Hal itu membuat Anton semakin khawatir dengan kondisi Dinda. Kemudian sang Dokter berpamitan untuk keluar dan berpesan jika membutuhkan sesuatu, agar memencet tombol emergency.


"Kalau terjadi sesuatu pada pasien, segera pencet tombol emergency dan kita akan kontrol pasien setiap tiga jam sekali." kata Dokter berpesan.


"Baik Dok, Terima kasih banyak." sahut Anton berterima kasih.


Setelah meminum obat pereda nyeri, rasa sakit di kepala Dinda perlahan hilang. Anton masih setia duduk di samping Dinda sambil membelai rambutnya. Sesekali Anton memberi semangat untuk Dinda, agar ia bersedia melakukan CT scan. Karena melakukan CT scan itu tidaklah sakit.


Tak tega melihat sang kakak yang sudah terlihat mengantuk, Dinda pun menyuruhnya untuk naik ke atas ranjang dan tidur di sampingnya. Tanpa penolakan, Anton pun segera tidur di samping Dinda dan memeluknya. Mendapat pelukan dari sang kakak, Dinda pun merasa nyaman.


"Dinda hanya tidak ingin jika kakak terlalu khawatir kepadaku." sahut Dinda menoleh ke arah Anton.


"Justru kakak akan khawatir jika kamu tidak terbuka kepada kakak. Sampai saat ini, kakak adalah suamimu, jadi apapun yang terjadi kepadamu, kamu harus cerita kepadaku. Begitupun denganku, aku juga akan cerita semua apa yang terjadi padaku." ujar Anton yang masih memejamkan matanya.


Dinda terdiam sejenak, lalu dengan cepat ia mengecup ringan bibir sang kakak. Anton pun membuka matanya dan terkejut mendapat kecupan yang super kilat itu. Dinda tersenyum gemas melihat ekspresi sang kakak yang sepertinya memprotes jika ciumannya terlalu cepat.


Tidak ingin membuat sang kakak kecewa, Dinda pun dengan lembut mendaratkan bibirnya ke bibir sang kakak. Mendapat serangan seperti itu membuat Anton tidak mau menyia-nyiakan waktu, dia membalas ciuman lembut pada bibir Dinda yang terasa kenyal dan membuat candu.

__ADS_1


Tentu saja, sebagai laki-laki normal Anton menginginkan lebih dari sekedar berciuman. Tapi bukan berarti ia akan mengutarakan keinginannya. Jelas saja dia tahu jika Dinda baru saja melahirkan dan juga Dinda masih dalam keadaan sakit. Anton memilih menyudahi aksi berciuman mereka, dia memilih tidur dan memeluk Dinda.


"Sayang, kamu sudah mengantuk?" tanya Dinda karena Anton menyudahi ciuman mereka.


"Tadinya ngantuk, tapi gara-gara kamu rasa ngantuk pun hilang!" jawab Anton dengan memejamkan matanya.


"Lalu, kenapa kakak berhenti tiba-tiba?" tanya Dinda ingin tahu alasannya.


Sepertinya Dinda belum paham betul dengan hasrat seorang laki-laki. Sehingga Anton hanya tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu dari Dinda. Karena efek samping dari obat yang ia minum, akhirnya Dinda pun tertidur lelap di bawah ketiak Anton dengan nyaman.


Melihat Dinda sudah tertidur, Anton dengan pelan turun dari ranjang. Ia berjalan menuju tempat di mana laptopnya berada. Lalu ia membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Tetapi, tiba-tiba pikirannya mulai memikirkan siapa pelaku yang membuat Dinda terjatuh. Dia yakin sekali bahwa Dinda jatuh karena ulah seseorang yang tidak suka dengannya. Di dalam kepalanya, ia hanya kepikiran Loren atau Rizal sebagai pelakunya.


"Aku tidak akan membiarkan pelakunya berkeliaran bebas. Siapa pun kamu, aku akan mencarinya sampai ketemu dan kamu harus membayar atas rasa sakit yang di alami Dinda dan juga bayiku!" batin Anton dengan amarahnya.


Kemudian Anton membuka rekaman CCTV yang di berikan oleh Dimas. Berulang kali ia menonton rekaman tersebut untuk mengetahui siapa pelakunya. Jika kata para detektif itu perbuatan Loren, tapi hati Anton sangat kuat jika pelakunya adalah Rizal. Entah kenapa dia memiliki pemikiran seperti itu, padahal jika di lihat dari rekaman CCTV, semua bukti mengarah kepada Loren.


"Kenapa aku bisa memikirkan bocah itu sebagai pelakunya? Apa karena aku cemburu atau aku membencinya?" tanya Anton pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Anton teringat sesuatu sebelum meeting di mulai, ia pun segera menelpon Dimas untuk memberitahunya apa yang baru saja dia ingat. Dia menyuruh Dimas untuk mengecek semua saluran CCTV pada waktu Dinda mengalami kecelakaan jatuh dari tangga.


Karena malam sudah larut, tentu saja Dimas tidak bisa langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Anton. Tetapi hal itu membuat Anton tidak tenang, ia semakin yakin jika pelakunya adalah dia.

__ADS_1


Bersambung.....


Hi guys, kalau ada kata-kata yang typo, tolong kasih tahu othor ya! Terima Kasih 🙏


__ADS_2