
Dengan sepenuh hatinya, Anton meracik ayam kuning yang hendak ia goreng untuk Dinda. Mungkin hatinya masih merasa sedih atas kehilangan si buah hati yang ia dambakan. Tetapi, kesedihan tidak dapat membuat hidup lebih baik dan hidup akan terus berlanjut. Maka dari itu, ia bertekad untuk membuat hidupnya dan hidup sang istri jauh lebih baik. Membuat orang-orang yang di cintai bahagia di saat bersamanya.
"Kalau sudah seperti ini, terus di apakan Mbok?" tanya Anton yang baru selesai melumuri ayam dengan bumbu kuning.
"Den Anton masak nasi dulu, bumbunya biar menyerap, kalau sudah menyerap baru bisa di masak. Den Anton sih, tidak memberi tahu simbok dulu, biar simbok buatkan." ujar simbok yang melihat Anton sibuk di dapur.
"Sengaja memang mbok, aku mau masak buat Dinda. Selama ini kan aku tidak pernah manjain Dinda." sahut Anton sambil mencuci beras.
Sementara Dinda masih di rumah sakit dengan di temani Inah. Dia masih tertidur karena efek samping dari obat yang ia minum. Anton sengaja pulang untuk masak, karena kata Inah Dinda belum makan siang. Dan Anton tidak mengajak Dimas pulang, karena dia ingin memberi waktu untuk Dimas dan Inah berduaan.
Anton pikir, dengan memberi perhatian lebih kepada Dinda, hal itu bisa membuat Dinda tidak lagi memikirkan anaknya yang sudah meninggal dan membuat Dinda merasa nyaman di sampingnya. Karena, selama ini Anton sadar jika dirinya kurang memberikan perhatian kepada Dinda.
"Mbok, sudah bisa di goreng?" tanya Anton membuka tutup wadah yang berisi ayam kuningnya.
"Jangan di goreng dulu Den, kamu rebus sebentar biar empuk ayamnya." jawab simbok mengajari Anton.
Dengan sabar Anton merebus ayam yang sudah ia bumbui tadi. Setelah empuk, Anton mengangkat ayam tersebut dan mendinginkan dengan kipas angin. Lalu Anton menggoreng lima biji ayam, karena masih ada air yang menempel, minyaknya pun muncrat ke tangannya, hingga membuat lengan tangannya memerah.
"Hati-hati den! Sini biar simbok saja yang menggorengnya." tutur simbok khawatir.
"Biar aku saja mbok, aku tidak apa-apa kok!" sahut Anton sambil mencuci lengannya agar tidak melepuh.
Setelah semua selesai, Anton menata semua apa yang akan ia bawa ke rumah sakit di tas kecil khusus tempat makanan. Ia tidak lupa membawa buah naga, yang ia tahu salah satu khasiatnya untuk membantu memulihkan luka luar, maupun dalam. Lalu Anton pergi naik ke atas masuk ke kamarnya untuk mandi.
Sekitar lima belasan menit, Anton keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos warna putih dan di padu dengan jeans warna hitam. Dengan buru-buru, ia berpamitan kepada Simbok dan mengambil makanan yang akan ia bawa dari meja makan.
__ADS_1
"Mbok, aku ke rumah sakit dulu ya!" pamitnya sambil menenteng tas makanan di tangannya.
"Iya Den, hati-hati ya! Salam buat Non Dinda, semoga lekas sembuh dan pulang ke rumah. Simbok sudah kangen nih, sepi di rumah kalau tidak ada Non Dinda." sahut Simbok sambil berjalan di samping Anton, membukakan pintu pagar.
Sambil melambaikan tangannya kepada simbok, Anton melajukan mobilnya pergi ke rumah sakit. Senyumnya mengembang, ia merasa puas karena Anton bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Apalagi ia masak buat Dinda, istri yang saat ini ia sayangi. Hal itu menambah rasa bangganya terhadap dirinya sendiri.
*****
Dinda terbangun dari tidurnya, ia merasakan kepalanya masih pusing, perutnya merasakan lapar. Di lihatnya Inah dan Dimas sedang duduk di sofa, mengobrol. Sesekali mereka tertawa kecil, entah apa yang mereka obrolkan, karena Dinda tidak begitu mendengar suara mereka. Apalagi, ruangannya cukup luas dan suara AC di ruangan membuat suara mereka tidak terdengar jelas.
Melihat mereka berdua saling bercanda, Dinda pun tersenyum. Ada rasa iri di hatinya, ia teringat masa-masa di mana Rizal selalu memberinya perhatian. Entah kemana Rizal berada, sampai saat ini Dinda tidak bisa menghubunginya.
Ceklek!
Anton masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Ditangannya banyak plastik ditentengnya, entah apa yang ia bawa, karena di pertengahan jalan ia juga membeli sesuatu. Inah dan Dimas serempak menoleh ke arah Anton, begitupun dengan Dinda yang tidak berhenti memandangi sang kakak hingga ia menaruh apa yang di bawa Anton ke atas meja.
"Ah kamu! Biasanya kita juga dekat!" elak Dimas tersipu malu.
Mereka belum menyadari jika Dinda sudah bangun, Anton masih sibuk ngoceh ke Dimas sambil menyiapkan makanan untuk Dinda, dengan di bantu oleh Inah. Sedangkan Dinda hanya memperhatikan mereka dari ranjangnya. Bibir Dinda mengembang tersenyum, ketika melihat sang kakak melarang Dimas menyentuh makanan yang akan di berikan untuknya.
Lalu Anton berjalan ke arah Dinda dan Dinda memejamkan matanya, berpura-pura masih tidur. Sang kakak mengusap dahinya dan mengecup ringan di sana. Kemudian Anton membisikan sesuatu untuk membangunkan Dinda. Karena Dinda merasa geli, ia pun sedikit tertawa hingga mendorong dadanya Anton.
"Kenapa tertawa?" tanya Anton terkejut.
"Telingaku geli kak!" jawab Dinda memprotes.
__ADS_1
"Ok! Kamu pasti lapar kan? Ayo makan siang." ajak sang kakak.
Sebelum Dinda memulai makan siangnya, Anton terlebih dahulu mencuci wajah Dinda dan menyuruhnya berkumur. Karena kepala Dinda masih agak pusing, Anton pun menyuruh Dinda untuk tetap diam di tempat tidurnya. Lalu Anton menyetel ranjang dengan posisi setengah duduk.
Dengan perlahan, Anton mulai menyuapi Dinda suap demi suap. Anton merasa puas melihat Dinda makan dengan lahapnya, itu berarti makanan yang ia masak rasanya enak. Tetapi Dinda sedikit kecewa, karena tidak ada sambal tomat kesukaannya.
"Kok gak ada sambalnya kak!" protes Dinda.
"Tidak boleh makan sambal terus, tadi pagi kan sudah makan sambal." timpal Anton.
Dinda pun hanya bisa diam ketika Anton melarangnya makan sambal. Memang kesukaan Dinda ayam goreng dengan sambal tomat, tetapi karena kondisi Dinda sedang tidak baik, makanya Anton melarang dirinya makan sambal. Anton masih sabar menyuapi Dinda hingga di piringnya tinggal tulang belulang.
Merasa mendapat perhatian lebih dari sang kakak, membuat Dinda merasa nyaman. Di ambilnya jus jeruk yang ia beli ketika ia sedang di perjalanan menuju rumah sakit. Lalu Anton menyuruh Dinda untuk menghabiskan semua jus itu, tetapi karena Dinda sudah kenyang, Dinda pun hanya meminum setengah dari gelas jus tersebut.
"Ini boleh di makan gak nih?" tanya Dimas dengan nada agak keras.
"Iya makan saja, memang itu buat kalian." sahut Anton yang masih duduk di samping Dinda.
"Tadi di pegang tidak boleh, sekarang malah di kasih begitu saja!" protes Dimas sambil mengambil nasi dan ayam goreng untuk Inah.
"Tadi kan kamu mau ambil makanannya Dinda, makanya aku bilang gak boleh." sahut Anton menjelaskan.
Inah dan Dimas sedang makan siang, mereka juga sudah lapar. Sedangkan Anton sibuk bertanya mengenai kondisi yang Dinda rasakan saat itu. Karena kepala Dinda terasa sakit, Anton menyarankan Dinda untuk melakukan CT scan, agar tahu apa penyebab rasa pusing di kepalanya.
Tetapi Dinda menolak atas saran yang di berikan Anton, karena kata dokter itu hal biasa setelah kepala terbentur terlalu keras. Walaupun Anton sangat khawatir, tetapi dia tidak ingin memaksa Dinda.
__ADS_1
Bersambung...