Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton Putus Dengan Loren


__ADS_3

Rasa cintanya semakin dalam, baru berpisah beberapa jam saja Anton sudah sangat merindukan Dinda. Ia pun cengar-cengir sendiri duduk di kursi kebesarannya. Bernostalgia di waktu dirinya dan Dinda masih berstatus sebagai kakak-adik. Dinda yang sangat manja dan selalu ia sayangi sebagai adiknya sendiri, kini telah menjadi istrinya.


Tak pernah terlintas di benaknya, jika sang nenek menjodohkan dirinya dengan Dinda. Mungkin awalnya memang tidak bisa di terima dengan akal sehatnya, tetapi dengan berjalannya waktu, malah Anton semakin tergila-gila dengan Dinda. Entah karena Dinda cantik atau karena dia sedang hamil anaknya? Tetapi rasa cintanya terhadap Dinda sangat berbeda dengan rasa cintanya kepada Loren sebelumnya.


Lamunannya tersadarkan oleh kedatangan Loren yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu. Senyumnya melebar, menyapa Anton yang terlihat tidak suka dengan kedatangannya. Tetapi sebisa mungkin Loren tak menampakkan sisi lain darinya. Kemarahan yang masih ia simpan dalam-dalam.


"Sayang, ayok makan!" Ajak Loren kepada Anton.


"Oren, lain kali gak usah bawa bekal. Ngerepotin kamu saja!" Ucapnya sambil berjalan menghampiri Loren.


"Gak apa-apa, aku gak ngerasa repot kok. Aku malah seneng bisa bawa bekal buat calon suamiku hehe..." Sahut Loren sambil membuka bekal yang ia bawa.


Anton pun hanya bisa menghela nafasnya, tidak tahu harus bagaimana untuk mengatakan kepada Loren bahwa dirinya tidak ingin meneruskan hubungan dengannya. Anton sadar, Loren sangat baik dan juga perhatian kepadanya. Tetapi dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia pikir tidak mau menyakiti Loren maupun Dinda.


Setelah selesai makan, Anton mulai berfikir merangkai kata-kata untuk ia katakan kepada Loren. Mencari kata-kata yang tepat, agar Loren tidak marah ataupun menangis. Tetapi walau menjelaskan dengan kata sehalus apapun, tetap saja Loren akan menangis dan sakit hati. Hati siapa yang tak sakit, laki-laki yang ia cintai dan ia idamkan untuk menjadi suami, ternyata malah mengkhianayinya.


"Oren, aku mau bicara." Ucapnya yakin.


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kamu ingin mengakhiri hubungan kita kan? Sejak aku tahu bahwa bayi yang di kandung Dinda adalah bayimu, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi rasa cintaku sangat besar untukmu dan aku yakin, kamu juga sangat mencintaiku. Aku juga yakin kamu ingin memutuskan hubungan denganku karena bayi itu. Tapi Anton, aku sudah meyakinkan diriku, bahwa aku akan tetap bertahan. Aku tidak apa-apa menjadi yang istri kedua mu." Kata Loren yang tak ingin hubungannya dengan Anton berakhir.


"Awalnya memang aku terpaksa menikahi Dinda, tetapi dengan seiringnya waktu, rasa cinta ini tumbuh. Aku ingin bersamanya, membesarkan anakku dengannya. Aku mohon kamu mengerti Oren, di luar sana masih banyak pria yang lebih baik dari aku. Aku tidak mau menyakiti Dinda maupun kamu. Aku benar-benar minta maaf!" Sahut Anton memohon sambil berlutut.


Anton berharap Loren bisa mengerti dengan keadaannya, tetapi Loren tetap tidak mau memutuskan hubungannya dengan Anton. Dia bersikeras untuk menjadi istri kedua, tetapi Anton tidak mau akan hal itu. Dia tidak mau rakus, tidak mau menyakiti Dinda maupun Loren.


Kali ini Anton benar-benar tegas, dia menyuruh Loren untuk menjaga jarak dengannya. Dia tidak ada pilihan lain, dia tahu jika dirinya kejam dan egois. Tetapi sebaiknya dia kejam dari sekarang, daripada semakin jauh menyakiti Loren.

__ADS_1


"Jika kamu masih ingin bekerja di sini, itu terserah kamu. Aku benar-benar minta maaf, semua ini salahku." Tutur Anton yang saat itu sudah berdiri.


"Ok, kalau itu mau mu!" Sahut Loren dengan nada dingin.


Tak seperti biasanya, hari ini Loren tidak menangis. Dia bahkan menerima keputusan Anton untuk mengakhiri hubungan dengannya. Ia pun berdiri, tersenyum sinis berjalan keluar dari ruangannya Anton. Dari senyum itu, tersimpan sebuah rencana untuk membalas rasa sakit hatinya.


Anton merasa lega, karena Loren sudah menerima keputusannya. Ia hanya ingin berkonsentrasi menjaga Dinda dan calon bayinya. Dia ingin membuat Dinda bahagia, karena dia tahu jika Dinda juga mulai ada rasa terhadap dirinya.


Entah kenapa rasa rindunya begitu besar kepada Dinda. Karena pikirannya tidak bisa berkonsentrasi, Anton pun akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia menelpon Dimas untuk mengantarkannya pulang siang itu. Sebelum pulang, Anton terlebih dulu berpamitan kepada asistennya untuk menghandle pekerjaannya.


"Jam berapa ini?" Tanya Dimas sambil menunjukkan jam di tangannya.


"Bodi amat! Itulah enaknya jadi CEO, mau pulang jam berapa saja bebas. Sudah kangen istri!" Jawab Anton seenaknya.


Tentu saja Dimas tahu semua permasalahannya Anton. Bahkan dia tahu kalau Anton mulai menyukai Dinda. Karena Anton selalu cerita dengannya tentang masalah-masalah yang dia hadapi. Dimas adalah satu-satunya sahabat yang paling mengerti dengannya. Begitupun dengan Dimas, Anton adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.


Melihat sang sahabat sudah punya istri, Dimas pun ingin segera memiliki istri juga. Tapi dia tidak punya pacar yang bisa ia ajak nikah. Walaupun dia playboy, tetapi ia juga ingin punya istri yang baik dan Sholehah. Istri yang mampu membawanya menjadi kepribadian yang lebih baik.


"Kamu ngontrak dimana?" Tanya Anton.


"Dekat kantormu!" Jawab Dimas sambil menyetir.


Karena kamar nenek kosong dan tidak ada yang menempati, Anton pun menyuruh Dimas untuk tinggal di rumahnya. Jadi jika dia butuh apa-apa lebih mudah untuk meminta bantuan kepada Dimas. Jika di pikir-pikir, sebenarnya Dimas jauh lebih kaya daripada Anton. Tetapi karena dia saat ini di depak dari keluarganya, terpaksa ia hidup sederhana.


Sesampainya mereka di rumah, Anton langsung mencari keberadaan Dinda. Ia naik ke lantai dua masuk ke dalam kamarnya, tetapi Dinda tidak di sana. Lalu ia membuka pintu kamarnya Dinda dan dilihatnya Dinda sedang membaca novel. Ia pun langsung memeluk Dinda dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Kakak kenapa? Jam segini kok sudah pulang?" Tanya Dinda sambil melihat jam di ponselnya.


"Kakak kangen banget sama kamu dan bayi kita." Jawab Anton sambil mengelus perut Dinda.


Dengan posisi Dinda duduk di ranjang dan Anton berdiri di hadapannya, Anton pun mencondongkan tubuhnya dan mencium lembut bibir Dinda. Ciuman yang membuat Dinda terhanyut oleh perasaannya.


Jantungnya berdegup kencang, perasaan begitu senang menerima ciuman dari Anton secara tiba-tiba. Apakah itu yang dinamakan cinta? Dinda belum menyadari tentang perasaannya, tapi yang jelas saat ini dia sangat bahagia bisa mendapatkan perhatian lebih dari sang kakak.


Dimas yang tak langsung pulang pun duduk di sofa ruang tamu. Inah dengan malu-malu berjalan menghampirinya sambil membawa minuman dingin untuk Dimas.


"Terima Kasih Mbak Inah..." Ucapnya sembari tersenyum.


"Sama-sama Den, silahkan di minum." Sahut Inah tersenyum malu.


Inah menjadi salah tingkah ketika di hadapan Dimas. Ia pun buru-buru membalikkan badannya, tetapi Dimas malah menyuruhnya duduk dan menemaninya mengobrol. Hal itu membuat Inah gagap dan salah tingkah. Tak percaya seorang Dimas mau mengobrol dengannya.


Walaupun gugup, Inah tetap duduk di sofa pas depannya Dimas. Ia tidak tahu apa yang ingin dia katakan, melihat wajah Dimas begitu dekat membuat Inah yang biasanya cerewet menjadi pendiam. Dimas pun menyadari kegugupan Inah dan ia pun tersenyum.


"Inah, kamu sudah punya pacar?" Tanya Dimas sambil tersenyum.


"Oh my God! Gantengnya itu muka!" Batin Inah.


Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Inah malah senyum-senyum sendiri dan menatap wajah Dimas penuh dengan kekaguman.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2