
Sepulang kerja, karena kemacetan. Dinda dan Anton pulang agak telat. Di saat mereka sampai di rumah, sang nenek sedang di kamar bercerita dengan Simbok. Dinda masuk ke dalam kamar sang nenek. Lagi-lagi sang nenek nagih Buyut kepadanya. Anton yang baru saja masuk pun langsung melihat ke arah Dinda yang terlihat tertekan.
"Nek, untuk urusan itu kan hanya Allah yang menghendaki. Tapi aku dan Dinda selalu berusaha agar kita cepat di karuniai anak. Nenek jangan banyak pikiran, sekarang nenek istirahat ya!" Tutur Anton sembari menyelimuti sang nenek.
"Iya, terima kasih sayang. Aku senang dengarnya, kalau kalian sedang berusaha." Sahut sang nenek.
Dinda dan Anton keluar dari kamar sang nenek. Lalu mereka berdua berjalan menaiki anak tangga. Anton masuk ke kamarnya untuk mandi, sedangkan Dinda masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.
Setelah mandi dan Sholat, mereka berdua tiduran di atas ranjang sambil mengobrol. Mereka membicarakan hal apa yang harus mereka lakukan untuk kedepannya.
"Din, apa sih sebenarnya hubungan kita bagimu?" Tanya Anton yang membuat Dinda bingung.
"Ya adik kakak lah... Nanti setelah kita punya anak dan nenek senang, kamu bisa ceraikan aku dan aku sama Rizal bisa menikah. Kak Anton dan Kak Loren juga bisa langsung menikah!" Jawab Dinda dengan kepolosannya.
Jawaban Dinda membuat Anton melongo. Antara tidak percaya dan heran dengan cara pikir Dinda. Apa karena memang Dinda masih polos atau memang tidak tahu kalau Rizal belum tentu menerima keadaannya yang seorang janda.
"Tapi kan Rizal belum tentu menerima keadaanmu!" Ujar Anton.
"Makanya, kalau aku nanti hamil, aku akan memberitahunya tentang hubungan kita dan kalau memang dia sangat mencintaiku, pasti dia menerima aku apa adanya." Sahut Dinda dengan yakin.
Anton membalikkan tubuhnya ketika mendengar perkataan Dinda yang menurutnya tidak benar. Kepolosan dan kelabilan Dinda membuat Anton menghela napas panjang. Berharap nanti dengan bertambahnya usia Dinda dan pengalaman, membuat Dinda bisa berfikiran dewasa.
Ketika Anton sedang meraih selimutnya, tiba-tiba Dinda memeluknya dari belakang. Tangannya menyelinap di balik kaos yang di kenakan Anton. Kenakalan Dinda tercipta karena rasa kenikmatan yang membuatnya ketagihan.
Karena Anton tidak mau mandi lagi, ia pun dengan sekuat tenaga menahan untuk tidak menanggapi Dinda. Tetapi tangan Dinda terus merayap masuk ke dalam celananya. Bibir Dinda bermain di bagian leher Anton. Laki-laki mana yang tahan dengan godaan seperti itu.
"Din, jawab jujur. Ketika kita melakukan ini, apa yang kamu rasakan?" Tanya Anton membalikan badannya hingga mereka saling bertatapan.
__ADS_1
"Gimana ya jawabnya? Pertama kita ngelakuin aku merasa kayak gak punya masa depan. Tapi karena rasanya nagih, jadi ya ingin ngerasain lagi! Memang kenapa kak?" Jawab Dinda balik bertanya.
Anton cukup terkejut mendengar jawaban Dinda. Bagaimana bisa Dinda mengatakan hal itu. Sungguh tidak baik untuk Dinda yang memiliki pemikiran seperti itu. Anton merasa Dinda perlu bimbingannya, karena dia khawatir Dinda mau melakukan hal itu dengan orang lain.
"Din, karena kita suami istri, jadi tidak ada dosa bagi kita! Jadi kamu gak bisa ngelakuin hal itu dengan laki-laki selain suamimu. Kamu harus tahu, mana yang baik dan mana yang menghasilkan dosa!" Anton memberi penjelasan kepada Dinda.
"Kakak kira Dinda bodoh, ya jelas saja aku tahu hal itu! Terus kenapa kakak masih pacaran sama Loren, bukankah tidak boleh orang yang sudah punya istri tetapi pacaran dengan perempuan lain!" Sahut Dinda kesal.
Karena perkataan sang kakak, mood nya pun kabur. Dinda membalikan badannya dan membelakangi sang kakak. Sedangkan Anton merasa tertampar dengan perkataan Dinda. Ia menyadari, bahwa hubungannya dengan Loren adalah suatu hal yang menghasilkan dosa.
Tapi, untuk memutuskan hubungan dengan Loren adalah hal yang sulit baginya. Ia tak ingin bermain-main dengan pernikahan dan Agama, tetapi di sisi lain dia tidak ingin menyakiti hati Loren. Suatu hal yang memusingkan jika di pikirkan.
*****
Di pagi hari, tepatnya jam 08.00 pagi. Karena hari ini hari libur, Anton sibuk dengan jadwalnya untuk membentuk otot di perutnya. Nenek sedang berada di halaman belakang, berjemur dengan Simbok. Dinda berjalan mengendap-endap seperti maling sambil menenteng sepatunya.
"Eh.. Mbak Inah, ngagetin saja! Aku mau pergi sebentar Mbak, ada hal yang penting. Aku sudah ijin sama kak Anton kok!" Kata Dinda berbohong.
Kali ini Inah melepaskan Dinda pergi. Sebenarnya Inah tahu kalau Dinda sedang bohong. Dari tingkahnya sudah kebaca, bahwa Dinda sedang berbohong. Karena Inah sendiri merasa kasian sama Dinda yang tidak bisa menikmati masa mudanya.
Sebelum Dinda pergi, dia terlebih dahulu menulis sebuah surat di kertas dan ia tinggalkan di atas nakas kamar sang kakak. Dinda melakukan hal itu karena dia tahu, Nenek maupun sang kakak tidak akan mengijinkan ia pergi. Apalagi ia berencana untuk pulang malam.
"Mbak Inah, Dinda kemana?" Tanya Anton yang baru keluar dari ruang fitness.
"Non Dinda keluar Den! Tadi katanya sudah pamitan sama Aden." Jawab Inah jujur.
Anton pun langsung lari menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Dengan segera ia mengambil ponselnya yang terletak di atas ranjang, ia berencana untuk menelpon Dinda. Tetapi, belum sempat ia menelpon, matanya melihat secarik kertas di atas nakas yang di tindih dengan bolpoin.
__ADS_1
"Kakak sayang... kali ini biarkan Dinda bersenang-senang, kakak tidak perlu khawatir! Sampai ketemu nanti malam!" Isi surat tersebut.
Membaca isi surat dari Dinda membuat Anton berpikiran negatif.
"Bersenang-senang seperti apa yang di maksud Dinda? Apa jangan-jangan...... karena semalam kita tidak jadi melakukan hal itu!" Gumam Anton yang sedang berpikiran negatif.
Mencoba menelpon Dinda, tetapi ponselnya tidak aktif. Semakin menjadi-jadi pikiran Anton. Dengan gugup ia mencari nama Yuki di ponselnya, lalu ia menelponnya berkali-kali, tetapi tak sekalipun ada jawaban.
Anton tahu kalau temennya Dinda hanyalah Yuki, kali saja ia tahu kemana Dinda pergi. Tapi tak sesuai harapannya, Yuki tidak membalas pesannya atau mengangkat panggilannya.
Tiba-tiba Anton teringat dengan Rizal. Dia yakin kalau Dinda pergi dengan Rizal, karena Dinda sudah resmi berpacaran dengannya. Pikiran Anton semakin kalang kabut, mengingat anak jaman sekarang yang sangat berani melakukan hal-hal negatif. Dan di tambah perkataan Dinda yang ketagihan dengan rasanya berhubungan intim, Anton pun jadi tambah panik.
Dengan segera ia menelpon Loren untuk meminta nomer ponselnya Rizal. Tak butuh waktu lama, Anton pun mendapatkan nomer Rizal dari Loren. Dengan segera ia menelpon Rizal, lagi-lagi Rizal tidak mengangkatnya. Hilang sudah kesabaran Anton dan ia pun mengirim sebuah pesan singkat yang berisi ancaman.
"Eh kunyuk! Kalau kamu tidak mengangkat telpon ku, Hari Senin kamu jangan masuk kerja! Kalau kamu mau mengangkat panggilan ku, ku angkat kau jadi karyawan tetap!" Isi pesan dari Anton.
Pesan itu sudah bertanda dua centang warna biru, itu artinya Rizal sudah membaca pesan darinya. Anton yang tidak berkedip memandangi ponselnya pun bergegas menelpon Rizal untuk yang kedua kalinya.
Tut...Tut....Tut....
Cukup lama Anton menunggu panggilannya di angkat, tapi Rizal malah menolak panggilan itu. Anton pun murka dan mengirim pesan ancaman untuk yang kedua kalinya.
"Kunyuk! Jangan harap kamu bisa kerja di lain perusahaan, karena aku akan blacklist nama kamu!" Isi pesan kedua Anton.
Kring...Kring...Kring....
Ponsel Anton berdering.
__ADS_1
Bersambung....