Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Kemarahan Rizal


__ADS_3

Dinda terbangun dari tidurnya, lalu ia mengambil ponselnya untuk melihat jam. Ada hal yang kurang, tidak ada pesan atau panggilan dari Rizal, bahkan pagi ini Rizal tidak datang untuk membuatkannya susu. Padahal, biasanya Rizal selalu mengiriminya pesan untuk menyemangatinya dan datang ke rumah setiap pagi sebelum berangkat kerja.


Merasa ada yang tidak beres, Dinda pun mencoba menelpon Rizal. Tetapi beberapa kali ia menelpon Rizal, selalu di matikan. Lalu Dinda mengirimkan pesan singkat kepada Rizal, di bacanya, tetapi tidak di balas. Hal itu membuat Dinda gelisah.


Ia pun keluar dari kamarnya, di lihatnya Anton yang tertidur di sofa ruang tamu. Lalu ia mencari Inah, dia mendapati Inah di kamarnya. Dinda menduga kalau tadi pagi Rizal datang dan melihat Anton, jadi Rizal marah padanya dan tidak mau mengangkat panggilannya.


"Mbak Inah, tadi pagi Rizal datang gak?" Tanya Dinda gelisah.


"Dia gak datang Non, tetapi semalam dia datang kesini membawa kue semalam." Jawab Inah.


Deg!


Dinda pun duduk di pinggir ranjang samping Inah. Ia meminta Inah untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan detail Inah menceritakan kejadian semalam. Kini Dinda mengerti kenapa Rizal tidak mau mengangkat panggilannya.


Dinda tidak tahu apa yang harus ia jelaskan kepada Rizal. Dia terduduk di lantai, menyesali apa yang ia lakukan semalam dengan sang kakak. Salah dia sendiri yang tidak bisa tegas kepada Anton, selalu memberi harapan pada Anton dan Rizal bersamaan.


Tak terasa air mata Dinda menetes membasahi pipinya. Penyesalan tidak bisa membalikkan Rizal seperti sediakala. Dinda pun gak bisa mengendalikan dirinya, ia menangis dengan kerasnya.


"Non, sudah jangan menangis!" Kata Inah menenangkan Dinda.


Anton yang mendengar suara tangisan pun terbangun dari tidurnya. Ia langsung membuka kamar Dinda dan tak ia temui, kemudian membuka pintu kamar Inah, di lihatnya Dinda yang sedang menangis duduk di lantai.


Dengan segera Anton menghampiri Dinda dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuat Dinda menangis tak terkendali.


"Semua ini salah kakak! Kalau kakak tidak datang kesini, Rizal tidak akan marah seperti ini!" Teriak Dinda menyalahkan Anton.


"Kalau sampai Rizal memutuskan hubungan ku dengannya, aku tidak akan pernah memaafin kakak!" Ancam Dinda sambil menangis teriak.

__ADS_1


Dinda tidak memberi kesempatan untuk Anton berbicara, bahkan Dinda menyuruh Anton untuk pergi dari rumah kontrakannya. Dinda mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bertemu dengan Anton lagi. Karena Anton, hubungan yang ia bangun selama ini dengan Rizal, hancur begitu saja.


Tidak mau membuat suasana menjadi lebih buruk, Anton pun segera menelpon Dimas untuk menjemputnya. Tak selang berapa lama, Dimas pun sampai di depan rumah kontrakannya Dinda. Tanpa berpamitan, Anton keluar rumah membawa kopernya.


Inah yang merasa serba salah pun mengikutinya keluar rumah, tak ia sangka di dalam mobil ada Dimas. Senyumnya pun mengembang dan dengan reflek ia melambaikan tangannya di saat Dimas melajukan mobilnya.


"Kenapa Mas Dimas semakin ganteng saja! Huft.... orang macam aku mana di lirik!" Gumam Inah menghela nafas panjang.


Setelah Anton pergi, Inah masuk ke kamar Dinda. Ia mencoba menasehatinya dan juga menyenangkannya. Biar bagaimanapun itu bukan salah Anton sepenuhnya. Jika Dinda tegas dan juga tidak meladeni apa yang di minta Anton, semua tidak akan terjadi. Tapi apalah daya, memang Dinda menikmati apa yang ia dan Anton lakukan.


*****


Malam setelah Sholat Isya, Dinda mencoba untuk menelpon Rizal. Beberapa kali ia menelpon, tetapi tidak ada jawaban dari Rizal, pesan singkatnya pun tidak di balasnya. Hal itu membuat Dinda semakin frustasi. Lalu ia keluar dari rumah, dia memesan ojek online untuk mengantarnya ke rumah Rizal. Dinda pergi tanpa sepengetahuannya Inah.


Sesampainya ia di depan rumah, Dinda mengetuk pintu rumah Rizal. Tanpa tahu siapa yang datang, Rizal pun membukakan pintu untuk Dinda. Raut wajah Rizal seketika berubah menjadi kesal.


"Zal, aku mau jelasin semua tentang semalam." Jawab Dinda yang masih berdiri di depan pintu.


"Tidak perlu ada yang di jelasin Din, semua sudah jelas! Lebih baik kamu pulang, sudah malam" Ujar Rizal dengan nada kesal.


Bukannya pulang Dinda malah menyelinap masuk kerumah Rizal. Kebetulan, Ibu dan adiknya Rizal tidak di rumah. Rizal mencoba menarik tangan Dinda agar dia keluar dari rumahnya, tetapi Dinda menahan tubuhnya.


Merasa kesal dengan sikap Dinda, Rizal pun melepaskan tangan Dinda. Ia berjalan menuju ke arah depan TV, dan Dinda mengikutinya dari belakang. Seperti tidak menganggap keberadaan Dinda, Rizal malah bermain dengan ponselnya.


"Izal maafin aku, sampai saat ini kan kak masih sah menjadi suamiku. Aku tidak mau di laknat oleh Malaikat jika aku menolak ajakan kak Anton." Dinda mencoba menjelaskan walau Rizal tidak perduli dengan keberadaannya.


Keheningan pun tercipta, hanya terdengar suara TV. Rizal sibuk dengan ponselnya duduk di lantai depan TV, sedangkan Dinda juga masih duduk di kursi depan TV. Merasa tidak di anggap, Dinda pun hanya terdiam. Air matanya mengalir membasahi pipinya, tetapi tidak ada suara tangisan.

__ADS_1


Dinda menyadari, semua itu adalah kesalahannya. Dia pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Orang yang dengan Ikhlas dan tulus mencintainya, tapi Dinda malah membuatnya marah dan kecewa, mungkin bisa di bilang sakit hati. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat orang yang di cintai tidur dengan laki-laki lain.


Walaupun Anton suami sahnya, tetapi Dinda sudah sepakat akan mengakhiri pernikahannya dengan Anton. Tak sepantasnya, Dinda masih melakukan hubungan suami istri dengan Anton. Itulah yang ada di pikiran Rizal, sehingga ia marah. Apalagi ia melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Aku berjanji gak akan melakukan hal itu lagi Zal, aku pastikan kak Anton tidak akan datang lagi ke rumah." Tutur Dinda dengan menangis sesenggukan.


"Sudahlah Din, aku gak mau dengar penjelasan apapun darimu. Lebih baik kamu pulang, ini sudah malam, aku mau istirahat!" Sahut Rizal dengan kesal.


Memang dasarnya Dinda itu bandel, jadi berapa kali pun Rizal menyuruhnya pulang, dia tidak akan pulang. Dia masih duduk di sana, dengan posisi yang sama, sesekali mengelap ingusnya yang mengalir berbarengan dengan air matanya.


Tidak mau menjadi orang yang kasar, Rizal pun memilih untuk mematikan TV dan berpindah ke kamarnya. Ia membiarkan Dinda duduk di sana, karena memang sudah malam, dia ingin istirahat.


Satu jam sudah Rizal berada di kamarnya, ia tidak bisa tidur. Walaupun dia marah, tetapi di dalam lubuk hatinya masih merasa kasihan dengan Dinda. Dia masuk ke kamar karena tidak ingin melihat atau mendengar Dinda menangis. Karena tangisan Dinda bisa meluluhkan hatinya, sedangkan apa yang di lakukan Dinda dengan Anton tak bisa ia maafkan.


"Apakah Dinda masih di sana?" Tanya Rizal pada dirinya sendiri.


Ia pun membuka pintu kamar sedikit dan mengintip keberadaan Dinda, tetapi Dinda sudah tidak ada di sana. Rizal pun dengan segera keluar dari kamarnya. Tiba-tiba terdengar suara guntur dan malam itu turun hujan dengan lebatnya. Rizal pun panik, mencari semua ke sudut rumahnya tetapi tidak menemukan Dinda.


Dengan kepanikannya, Rizal menelpon Inah dan menanyakan keberadaan Dinda, tetapi Inah mengatakan bahwa Dinda tidak ada di rumah. Lalu Anton membuka pintu rumahnya dan mengeluarkan motornya untuk mencari Dinda.


"Izal, kamu mau kemana?" Tanya Dinda yang saat itu sedang duduk di kursi depan teras rumah Rizal.


Rizal yang sedang panik setengah mati pun menoleh ke arah Dinda. Melihat Dinda ada di sana membuatnya lega, ia pun turun dari motornya. Kakinya lemas terasa lemas, jantungnya yang berdegup kencang mulai perlahan kembali normal.


Hujan semakin deras, Rizal menyuruh Dinda untuk masuk kedalam rumah. Karena kilatan guntur terlihat menakutkan dan suara petir mulai terdengar keras di telinga mereka. Karena sudah jam 10 malam, Rizal pun menyuruh Dinda untuk segera tidur di kamar ibunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2