
Suara Adzan berkumandang di ponselnya, Anton pun terbangun. Saat itu posisi Dinda sedang memeluknya, ia pun enggan untuk bangun dan membalas pelukan Dinda dengan gemas. Karena pelukan Anton yang begitu erat, Dinda pun terbangun dan dengan spontan mendorong tubuh Anton.
"Kenapa kamu disini? Cepetan turun!" pekik Dinda sambil mendorong tubuh Anton supaya cepat turun dari ranjangnya.
"Iya, iya aku turun!" sahut Anton yang segera turun dari ranjang.
Karena selang infus sudah dilepas, jadi Dinda bebas bergerak dan tanpa ia sadari, semalaman suntuk ia memeluk tubuh Anton.
Sebenarnya Dinda belum menerima Anton sebagai suaminya, dia hanya merasa kasihan kepada Anton yang memperlakukan dirinya dengan baik dan sabar. Ia masih tidak bisa bersikap selayaknya sebagai seorang istri, baginya Anton benar-benar orang asing.
"Apakah kamu lapar?" tanya Anton yang baru saja selesai Salat.
"Aku belum lapar! Bantu aku untuk cuci muka dan gosok gigi," jawab Dinda meminta bantuan.
Dengan segera Anton mendorong meja dan mengambil air untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai, Dinda kembali merebahkan badannya di atas ranjang, sedangkan Anton membaca Al-Qur'an.
Mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an membuat Dinda merasa tenang. Suara merdunya Anton mampu menghipnotis Dinda hingga ia menghayati setiap lantunan yang keluar dari mulut Anton. Suara yang tidak asing baginya, karena dulu Anton selalu mengajari Dinda mengaji.
"Selamat pagi....." Seorang suster masuk kedalam ruangan dengan membawa sarapan dan obat.
"Selamat pagi Sus!" sahut Dinda tersenyum.
Anton yang menyadari kedatangan suster pun langsung berhenti membaca Al-Qur'an. Dia berdiri menghampiri suster yang sedang mengecek suhu badannya Dinda. Ia bertanya kapan Dinda boleh pulang.
"Sus, jam berapa istri saya boleh pulang?" tanya Anton bersemangat.
"Nanti kalau Dokter sudah datang, baru kita tahu Pak!" jawab suster penjaga tersebut.
"Terimakasih Sus..." kata Anton melihat suster keluar dari ruangan.
Dinda yang biasanya tidak suka makanan rumah sakit, pagi itu ia langsung memakan makanan yang dibawa oleh suster. Melihat sang istri makan dengan lahapnya, membuat Anton tersenyum lebar.
"Ini ponselmu!" Anton menyodorkan ponsel milik Dinda.
"Wah! Ini benar-benar ponselku?" tanya Dinda tidak percaya.
__ADS_1
"Iya! Buka saja isi galerinya." jawab Anton menyuruh Dinda.
Tentu saja Anton sudah menghapus semua foto Dinda dengan Rizal di galeri, sebelum memberikan ponsel itu kepada Dinda. Dia sengaja menaruh foto dirinya dan Dinda sewaktu kecil dan waktu mereka menikah, agar Dinda yakin bawa mereka adalah pasangan suami istri.
"Kenapa tidak ada fotonya Rizal sama sekali?" tanya Dinda pada dirinya sendiri.
"Kenapa tiba-tiba aku sangat rindu dengannya!" gumamnya yang didengar oleh Anton.
"Aku ini suamimu, kamu gak boleh berbicara tentang laki-laki lain selain aku!" protes Anton merasa kesal.
Sepertinya Dinda tidak memperdulikan perkataan Anton. Dia terus saja mencari fotonya Rizal di galeri. Sedangkan Anton hanya bisa membuang napasnya dengan kasar dan duduk di sofa menjauh dari Dinda yang sedang berbicara sendiri, memuji Rizal.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan suster masuk kedalam ruangan untuk mengecek kondisi Dinda. Anton pun menyapa dokter tersebut, sedangkan Dinda langsung menaruh ponselnya di nakas. Kemudian sang dokter memeriksa Dinda dengan Stetoskop.
"Pasien sudah boleh pulang hari ini. Saya akan membuat resep obat dan selesaikan administrasinya. Setelah itu, pasien sudah boleh pulang," kata dokter menjelaskan pada Anton.
"Baik Dok!" sahut Anton tersenyum senang.
Setelah dokter dan suster keluar dari ruangan, Anton menghampiri Dinda dan mengatakan kepadanya kalau mereka akan segera pulang. Sambil menunggu resep obat dari dokter, Anton membereskan barang-barangnya.
*****
Dimas baru saja selesai sarapan, dia hendak pergi kekantor, karena ada hal yang harus ia lakukan. Kali ini dia kerja sama dengan ahli untuk memecahkan masalah perusahaan. Untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh Lisa, hingga membuat perusahaan rugi besar. Bahkan beberapa perusahaan memilih memutuskan kerja samanya dengan perusahaan milik Anton.
"Inah, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Dimas kepada Inah.
"Aku gak marah kok!" jawab Inah yang masih menunjukkan sikap ketidakpeduliannya.
"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya! Nanti Dinda pulang jam 10 an, soalnya tadi Anton menelepon ku," kata Dimas memberitahu.
Melihat Inah yang masih bersikap tak seperti biasanya membuat Dimas belum bisa tenang. Entah pesona apa yang dimiliki Inah, hingga membuat Dimas cinta mati kepadanya. Padahal dalam sejarah percintaannya, tidak pernah ia sekalipun mengejar cinta seorang wanita. Tapi kini terbalik, dia dibuat Inah bertekuk lutut dihadapannya.
Mungkin karena Inah berbeda dengan gadis-gadis lainnya yang pernah dekat dengannya. Kalau biasanya dia dikejar-kejar wanita, kini giliran Dimas mengejar-ngejar seorang wanita, yaitu Inah. Seperti itulah gadis yang pandai menjaga harga dirinya, sangat berharga di mata seorang laki-laki.
"Kamu kenapa Nah? Apa yang membuatmu marah sama Dimas?" tanya simbok sesaat Dimas sudah pergi.
__ADS_1
"Aku gak marah Mbok, aku cuma kasih dia pelajaran agar bisa berubah lebih baik," jawab Inah sambil membersihkan dapur.
"Kamu jangan keterlaluan seperti itu, nanti kalau dia ke lain hati, kamunya nangis!" ledek simbok sambil tersenyum.
Tentu saja Inah tidak menginginkan Dimas pergi ke lain hati. Beberapa tahun dia menyukai Dimas dan kini Dimas membalas cintanya. Tidak mudah bagi Inah mendapatkan seorang kekasih setampan Dimas. Sebuah keberuntungan Inah bisa menaklukkan cintanya Dimas.
Kemudian Inah naik kelantai atas untuk membersihkan kamarnya Anton. Karena Dinda hari ini pulang dari rumah sakit.
*****
Di kantor,
"Oren, kenapa Pak Dimas membawa orang-orang itu?" tanya Lisa ingin tahu.
"Aku juga gak tahu! Kita tunggu saja, nanti Pak Dimas juga memberitahu kita!" jawab Loren berpura-pura tidak tahu.
Kemudian Loren menghampiri Rizal yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Rizal tidak memperdulikan kedatangan Loren yang saat itu sudah tepat berada di depannya. Memandanginya sambil tersenyum manis memperhatikan apa yang dilakukan Rizal.
"Serius amat!" tegur Loren sambil menyangga kepalanya dengan tangannya di meja.
"Kamu gak ada kerjaan selain mengganggu orang ya!" Rizal merasa kesal karena saat itu sedang sibuk.
Karena ada tiga perusahaan yang menjalin kerja sama mengundurkan diri, hal itu membuat Rizal sibuk. Tetapi Loren terus mengganggunya hingga membuatnya kesal. Biar bagaimanapun, Loren berperan penting dalam penyembuhan rasa traumanya, jadi Rizal tidak bisa marah dengan Loren.
"Hari ini Dinda pulang dari rumah sakit, kamu mau datang kerumahnya?" tanya Loren tiba-tiba.
Rizal berhenti dari aktivitasnya, ia memandangi Loren sambil menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Aku sangat ingin menemuinya, tapi aku tidak mau melukai perasaan suaminya!" jawab Rizal yang sebenarnya ia juga ingin sekali bertemu dengan Dinda.
"Kamu baru umur 19 tahun, tapi cara pikir mu sangat dewasa. Dua jempol buat kamu Zal!" puji Loren meninggalkan Rizal.
Melihat Rizal yang memiliki pemikiran yang dewasa, membuat Loren kagum dengannya. Dia sendiri yang usianya lebih tua dari Rizal, malah sering bersikap seperti anak kecil dan berpikiran yang tidak bermanfaat.
Rizal yang memang masih mencintai Dinda, hanya bisa memandangi wajah Dinda di wallpaper ponselnya. Dinda adalah orang yang sangat berarti baginya dan tidak mudah bagi Rizal melepas atau melupakan Dinda dengan mudah.
__ADS_1
Bersambung....