Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Adzan Subuh terdengar sayu-sayu di telinganya. Ia pun menggerakkan badannya yang terasa lelah. Di sampingnya ada Dinda yang masih tertidur lelap tanpa mengenakan pakaian. Ia pun segera beranjak dari ranjang dan membangunkan Dinda untuk mandi. Tetapi, karena Dinda tak kunjung bangun, Anton pun pergi dahulu untuk mandi.


Ketika Anton pergi ke kamar mandi, Dinda membuka matanya. Ia mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Bagian ************ terasa ngilu, karena beberapa kali Anton melakukan hal itu hingga ia kelelahan. Di saat ia sedang memakai pakaiannya, tiba-tiba Anton membuka pintu.


"Din, kakak ke Masjid dulu! Cepetan mandi dan Sholat!" Kata Anton berpamitan.


Dinda hanya menganggukkan kepalanya, heran dengan sikap sang kakak yang tiba-tiba perduli dengannya. Sempat ragu akan rencananya, tapi ia sudah bertekad melakukan hal itu. Jadi, sebelum mandi ia masuk ke kamar sang kakak. Ia mengambil ponselnya dan melakukan sesuatu dengan ponsel sang Anton.


Entah apa yang ia lakukan, yang jelas Dinda mengetahui setiap password yang ada di ponsel tersebut. Dengan serius, Dinda membuka-buka aplikasi dan tak lama kemudian, senyumnya mengembang. Senyum penuh kemenangan.


Setelah selesai dengan ponsel sang kakak, Dinda pun bergegas untuk mandi dan menunaikan Sholat Subuh. Dia tetap di kamarnya ketika Anton pulang dari Masjid. Ia mengunci pintunya, sehingga ketika Anton ingin masuk pun mengurungkan niatnya.


Tok Tok Tok


"Non Dinda, sarapan dulu!" Panggil Inah sambil mengetok pintu.


"Iya Mbak, bentar lagi aku turun." Sahut Dinda


Dinda sengaja turun dari kamarnya agak siangan, karena dia tidak ingin bertemu dengan sang kakak. Terdengar suara mobil Anton sudah menjauh, Dinda pun segera keluar dari kamarnya untuk sarapan.


Ia mulai kesusahan, karena setiap sarapan perutnya selalu mual ingin muntah. Ia pun mencoba menahan rasa mual dan memakan semua hidangan yang tersaji di meja makan.


"Mbak Inah, kamu mau ikut aku gak?" Tanya Dinda.


"Ikut kemana Non?" Jawab Inah berbalik bertanya.


Dengan serius Dinda mulai memberitahu tentang rencananya kepada Inah. Karena Inah merasa kasihan pada Dinda, ia pun mau ikut pergi dengan Dinda. Lalu Inah pergi ke kamarnya untuk berpamitan sama sang Ibu. Dengan penjelasan yang sangat detail, agar sang Ibu mengijinkan ia pergi dengan Dinda.

__ADS_1


Bersyukur, sang ibu tidak melarangnya dan membiarkan Inah pergi dengan Dinda. Senyumnya pun melebar, Dinda sangat berterima kasih atas pengertian dari Simbok. Karena selama ini neneknya Dinda sangat Royal dan Loyal terhadap mereka, jadi Simbok berfikir untuk membalas kebaikan nenek melalui Dinda.


"Ya sudah, Mbak Inah beresin baju-baju kamu ya! Aku juga mau ke atas, siap-siap." Suruh Dinda.


"Iya Non! Hati-hati Non kalau jalan, jangan lari-lari begitu. Ingat, Non Dinda sedang hamil." Sahut Inah yang khawatir melihat Dinda pecicilan.


Memang dasarnya Dinda tidak bisa diam, jadi walaupun dia sedang hamil tidak seperti orang hamil pada umumnya. Hal itu membuat Inah menggelengkan kepalanya, antara heran dan khawatir.


Setelah semuanya beres, Dinda menelpon taksi online. Dinda dan Inah berpamitan kepada Simbok. Entah mau kemana ia pergi, Dinda maupun Inah masing-masing membawa sebuah koper berukuran sedang. Itu artinya, mereka akan pergi jauh.


*****


Sesampainya mereka di tujuan, Dinda menyuruh Inah untuk mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil. Sedangkan Dinda membayar taksi online tersebut. Inah tampak bingung melihat rumah-rumah mewah di sekeliling kompleks. Biar rumah Dinda baginya cukup besar, tetapi ada yang lebih besar lagi.


Sambil melihat-lihat sekitar, Dinda menyamakan bentuk rumah yang berada di depannya dengan sebuah photo di dalam ponselnya. Di rasa bentuknya sama, Dinda pun mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tas gendong miliknya.


"Non, ini rumah siapa?" Tanya Inah.


"Ini rumah temanku Mbak. Untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Nanti kalau kita sudah dapat rumah kontrakan, kita akan segera pindah." Jawab Dinda yang mulai memasuki rumah tersebut.


Rumah itu adalah milik keluarga Yuki. Rumah itu sebenarnya mau di jual, tetapi karena belum laku, jadi Yuki menyuruh Dinda untuk menempati rumahnya terlebih dahulu, sampai ia dapat rumah kontrakan.


Rumah mewah dengan dua lantai. Walaupun rumah itu mau di jual, tetapi masih ada beberapa perabotan rumah yang di tinggalkan. Karena sangking besar dan luasnya rumah tersebut, Dinda dan Inah pun merasa takut.


Lalu Dinda mengirim sebuah pesan kepada Yuki dan Rizal. Memberitahu mereka bahwa dia dan Mbak Inah sudah berada di rumah Yuki yang mau di jual. Karena Dinda tahu Yuki masih ada jam kuliah dan Rizal bekerja, jadi ia hanya mengirimkan pesan singkat untuk mereka.


"Yuki, aku dan Mbak Inah sudah berada di rumah lama mu. Tapi aku takut, karena rumahmu terlalu besar dan luas." Isi pesan untuk Yuki.

__ADS_1


"Kamu tunggu sebentar ya, satu mata pelajaran lagi aku selesai. Setelah itu aku langsung kesana." Jawab Yuki kepada Dinda.


"Zal, aku dan Mbak Inah baru sampai di rumah lama Yuki." Isi pesan singkat untuk Rizal.


"Maaf Din, aku gak bisa antar kamu. Sepulang kerja, aku usahakan datang menemui mu dan kita cari kontrakan rumah yang dekat dengan rumahku." Balas Rizal.


Rizal tampak khawatir dengan Dinda, sebenarnya ia ingin sekali mencari kontrakan pagi itu juga. Tetapi jika ia tidak masuk kerja, Anton akan mencurigainya, bahwa dirinya membawa Dinda pergi. Apalagi Dinda dalam keadaan hamil, hal itu membuat Rizal semakin tak tenang.


Untung saja Dinda menyiapkan semua kebutuhannya. Jadi, ketika ia dan Mbak Inah kehausan, di kopernya ada beberapa minuman dan makanan ringan untuk mengganjal perut mereka ketika merasa lapar.


Walaupun rumah itu besar dan sudah beberapa bulan tidak di tempati, tetapi semua terlihat bersih tanpa debu. Karena, setiap pagi Subuh seorang pekerja membersihkan rumah itu.


"Non, kenapa Den Anton tidak mengakui janin itu anaknya?" Tanya Inah penasaran.


"Dia hanya salah paham Mbak, dia pikir aku melakukan hal itu sama Rizal. Aku memang salah, karena aku sudah bersuami tapi malah punya pacar." Jawab Dinda yang merasa dirinya bersalah.


"Lantas, kenapa Non Dinda gak jelasin dan malah pergi seperti ini?" Tanya Inah ingin tahu.


"Sebenarnya aku sudah mencoba untuk menjelaskan, tapi dia tidak percaya. Setelah aku pikir-pikir, tidak ada gunanya aku menjelaskan, toh nyatanya kak Anton gak percaya sama aku. Dia sudah menilai buruk tentang aku. Jika dia percaya sama aku sebelumnya, pasti dia akan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, dari pada langsung menuduh." Jawab Dinda dengan nada sedih.


Sambil menunggu kedatangan Yuki dan Rizal, mereka berdua tiduran di sofa ruang tamu. Inah yang ingin buang air kecil pun tak berani pergi ke kamar mandi, ia memilih untuk menahannya. Entah sampai kapan ia bisa menahan kencingnya itu.


Sedangkan Dinda melihat ke arah langit-langit, berfikir jika suatu saat nanti ia bisa menata hidupnya kembali. Kehilangan sang nenek adalah hal terberat baginya, ia bertekad untuk tidak kehilangan harapan-harapannya kedepannya.


Ia pergi dari rumah karena, ia tidak ingin menjadi benalu di hubungan sang kakak dan Loren. Apalagi Anton sendiri tidak mengakui janin yang ia kandung, hal itu membuat Dinda bertekad untuk pergi jauh dari kehidupan sang kakak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2