
Akhirnya Lisa di jemput oleh pihak kepolisian atas tuduhan menggelapkan uang perusahaan dan membocorkan rahasia perusahaan. Tanpa melawan, Lisa langsung dibawa ke mobil polisi.
"Gak nyangka Lisa bisa berbuat seperti itu!" kata salah satu karyawan.
"Padahal dia kan karyawan yang paling di sayang si bos, tapi malah jadi penghianat!" imbuh karyawan yang lainnya.
"Kasihan Pak Anton! Sudah jatuh, ketiban tangga pula!" sahut rekan yang lain.
Setidaknya Anton merasa lega bisa membuang sampah perusahaan, sebelum benar-benar terlambat. Kini ia fokus untuk menyelesaikan permasalah perusahaan, dia tidak ingin perusahaan peninggalan orangtuanya hancur begitu saja.
"Terima kasih, kemarin sudah temani aku nonton!" kata Loren yang baru masuk keruangan.
"Hm... bagaimana, kamu sudah dapat pengacara?" tanya Anton.
"Tadi Dimas merekomendasikan pengacara yang bagus, nanti sore kita akan meeting," jawab Loren sambil menyodorkan berkas ke arah Anton.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Dinda datang kekantor. Hal itu membuat Anton dan Loren terkejut. Dinda yang melihat mereka sedang berduaan pun timbul rasa kesal. Sedangkan Anton yang merasa khawatir pun langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Dinda.
"Kamu sama siapa kesini? Bagaimana kamu tahu kalau kantorku disini?" tanya Anton dengan penuh kecemasan.
"Aku ingat kalau kantor mu disini dan aku datang kesini sendiri naik taksi online," jawab Dinda sambil menghisap permen lollipop.
Ada kemajuan dengan ingatan Dinda, walaupun belum sepenuhnya ingat, tetapi ia mengingat jika Anton adalah kakak angkatnya. Selain itu, kedatangan Dinda ke perusahaan bukan tanpa alasan, tetapi dia ingin memberi tahu sesuatu kepada Anton.Lalu Anton menarik Dinda untuk duduk di sofa.
"Kamu bandel amat, disuruh istirahat malah keluyuran!" Anton memarahi Dinda.
"Ya sudah kalau gak boleh kesini, aku mau pulang saja!" Dinda pun merajuk.
Dinda berdiri dari sofa, tapi tangan Anton lebih cepat menarik tangannya hingga Dinda terjatuh di pangkuannya. Loren yang melihat pemandangan itu pun langsung keluar dari ruangannya Anton. Ia tahu diri, kalau mereka berdua memang halal sebagai pasangan suami istri.
"Ih... lepasin!" rengek Dinda karena Anton melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
"Kamu kesini, Mbak Inah tahu gak?" tanya Anton yang masih belum melepaskan tangannya dari pinggang Dinda.
"Gak tahu! Lagian gak apa-apa, aku kan sudah ingat alamat rumah juga!" jawab Dinda yang tak merasa bersalah.
Karena Inah tidak tahu jika Dinda berada di kantor, Anton pun segera melepaskan Dinda dari pelukannya. Lalu ia beranjak dari duduknya untuk mengambil ponselnya. Anton menelpon Inah dan memberitahu, jika Dinda berada di kantornya.
"Tuh, Mbak Inah kebingungan mencari kamu! Lain kali kalau mau pergi kemana-mana, pamitan sama Simbok dan Inah," Anton masih memarahi Dinda.
__ADS_1
"Kakak, kenapa nenek meninggal?" tanya Dinda dengan lirih.
Suasana pun menjadi hening, Anton maupun Dinda terdiam. Anton melihat wajah Dinda yang terlihat sedih, air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Rupanya Dinda mengingat jika Nenek sudah meninggal. Sedikit rasa terkejut, ketika Dinda memanggilnya dengan sebutan 'Kakak', itu artinya Dinda mengingat juga siapa Anton.
"Apa kamu sudah mengingat semua?" tanya Anton berharap.
"Aku mengingat beberapa hal, tetapi aku belum mengingat semuanya," jawab Dinda sambil menangis sesenggukan.
Anton pun segera menghampiri Dinda dan memeluknya. Anton tahu kalau Dinda belum mengingatnya sebagai suami, tetapi setidaknya ia ingat jika dirinya adalah kakaknya Dinda. Anton yakin, kalau Dinda akan segera mengingatnya sebagai suaminya.
"Nenek sekarang sudah tenang di sisi Allah, tugas kita sekarang adalah untuk mengirimkan Doa untuknya," kata Anton sambil mengelus rambutnya Dinda.
"Dan aku ingat, siapa yang sudah mendorongku, hingga aku terjatuh dari tangga!" ujar Dinda yang berhenti menangis.
Deg!
Anton mendongakkan kepalanya Dinda, ia sangat terkejut atas perkataannya. Dia tak sabar untuk mendengar, siapa yang sudah mendorongnya hingga membuat mereka kehilangan calon buah hatinya.
"Siapa Din, siapa yang mendorong mu?" tanya Anton ingin tahu.
"Orang yang datang kerumah kita sore itu," jawab Dinda memberitahu.
Dinda menggeleng.
"Rizal!"
Dinda menggeleng lagi.
"Apakah Lisa?" tanya Anton sambil menahan amarahnya.
Dinda menganggukkan kepalanya, tanda bahwa Lisa lah yang mendorongnya hingga ia terjatuh dan membuatnya gegar otak. Kebetulan Dimas baru saja masuk kedalam ruangan, dia mendengar percakapan Anton dan Dinda. Jadi dia juga tahu jika Lisa lah pelakunya.
Anton yang sudah dikuasai amarahnya pun langsung bergegas untuk pergi menemui Lisa di kantor polisi, tetapi Dimas melarangnya. Karena Dimas tahu, bahwa tidak ada satu bukti pun yang mengarah kepada Lisa jika dia pelakunya.
"Bro, sebaiknya kamu jangan temui Lisa sekarang. Percuma saja kamu mau melapor, karena tidak ada barang bukti. Biarkan hukum yang menjeratnya saat ini berjalan dulu, sambil menunggu persidangan, kita cari barang bukti dulu," Dimas memberi saran kepada Anton.
Merasa ucapannya Dimas ada benarnya, Anton pun mengurungkan niatnya untuk tidak menemui Lisa. Karena permasalahan perusahaannya juga belum selesai. Dia tidak mau gegabah mengambil keputusan. Anton juga tidak mau kalau rencananya gagal hanya karena amarahnya.
"Terus aku harus bagaimana Bro, aku harus diam saja, padahal aku tahu siapa pelakunya? Sudah kuduga sejak sore itu, pasti Lisa ada kaitannya dengan jatuhnya Dinda," Anton terduduk di sofa dengan lemas.
__ADS_1
"Aku pun juga punya pemikiran yang sama, sembari menunggu persidangan, aku akan berusaha mencari barang bukti!" sahut Dimas dengan yakin.
Dinda yang tidak paham dengan apa yang mereka katakan pun langsung berjalan menuju ke pintu keluar. Dia ingin pergi ke makam sang nenek.
"Dinda, kamu mau kemana?" tanya Anton yang langsung berdiri.
"Aku mau pergi!" jawab Dinda sambil membersihkan pipinya dari sisa-sisa air mata.
"Aku antar kamu," sahut Anton yang langsung mengikutinya dari belakang.
Sebelum pergi, Anton menyuruh Dimas untuk mengurus perusahaan. Ketika Dinda dan Anton keluar dari ruangan, tak sengaja Rizal melihat mereka berdua. Melihat Dinda tak menoleh kepadanya, membuat Rizal semakin yakin kalau Dinda tak lagi bisa ia gapai.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Anton yang saat itu mereka berdua sudah di dalam mobil.
"Aku mau ke makam nenek!" jawab Dinda cemberut.
"Ok, kita kesana!" sahut Anton yang mencoba memahami Dinda.
Sesampainya mereka di makam, Dinda langsung menangis sejadi-jadinya di atas makam sang nenek. Sedangkan Anton mencoba untuk menenangkannya, tangisan Dinda tak terdengar terlalu keras. Ketika Dinda sudah mulai tenang, Anton mengajaknya ke makam calon bayi mereka.
"Ini makam calon bayi kita!" kata Anton memberitahu.
Dinda tak bergeming, dia merasa belum pernah hamil, apalagi melahirkan. Jadi Dinda tak memberi reaksi apapun ketika melihat makam bayinya. Anton bisa mengerti, karena dia tahu jika ingatannya belum sepenuhnya pulih.
"Ayo pulang!" ajak Dinda kepada Anton.
"Kita makan dulu, ini sudah waktunya makan siang," Anton mengajak balik Dinda.
"Gak mau, aku mau makan di rumah saja!" Dinda menolak ajakan Anton.
Karena Anton tidak mau ribut, ia pun menuruti kemauannya Dinda. Anton pun membawa Dinda untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan Dinda hanya bisa diam, seperti orang yang sedang marah.
Sesampainya mereka di rumah, Dinda langsung naik ke atas dan masuk ke kamar. Anton pun mengikutinya, karena suasana hati Dinda sedang tidak bagus.
"Kita makan dulu yuk!" ajak Anton yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku gak lapar! Kamu saja yang makan!" sahut Dinda yang langsung tengkurap di atas ranjang.
Anton hanya bisa menghela nafasnya, dia keluar dari kamar dan turun kebawah untuk makan.
__ADS_1
Bersambung....