Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Nenek Meninggal


__ADS_3

Hatinya remuk untuk kesekian kalinya, kakinya tak lagi bisa menopang badannya sendiri. Seluruh badannya bergetar, tidak mempercayai apa yang ia lihat saat itu. Air mata terus mengalir tanpa terdengar suara tangisan. Dia ambruk seketika di depan Almarhumah sang nenek.


Surat bukti kehamilannya belum sempat ia perlihatkan kepada sang Nenek, tetapi sang Nenek terlebih dulu meninggalkannya. Ia sudah mengorbankan kebahagiaanya sendiri, hingga rela menikah dengan sang kakak dan sekarang dia hamil. Tetapi, pada akhirnya Dinda menelan semua kepahitannya sendiri.


Kehamilannya tidak di akui sang kakak, hal itu membuatnya serasa dunianya hancur. Tidak ada harapan lagi baginya. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Saat ini, Dinda hanya memikirkan janin yang ada di kandunganya.


Setelah pemakaman sang nenek selesai, Dinda langsung masuk ke kamarnya. Mengurung diri di dalam sana, meratapi nasibnya yang tidak jelas. Sang kakak tidak memperdulikannya, bahkan sedikitpun tak menghiburnya atas kehilangan sang nenek.


"Non, makan dulu! Dari pagi kan Non Dinda gak makan. Tamu-tamu sudah pada pulang, Non Dinda makan dulu." Suruh Inah sambil mengetok pintu.


Tapi tak ada respon dari Dinda. Bahkan ketika Yasinan, Dinda juga tidak memperlihatkan batang hidungnya. Ia menangis seharian di dalam kamarnya, Anton yang masih marah pun merasa sedikit kasihan. Lalu ia membuka kamar Dinda dengan kunci serep.


Di lihatnya Dinda yang masih menangis, meringkuk sendirian di atas ranjang. Sebenarnya Anton merasa kasihan dan tidak tega melihat Dinda saat itu, tetapi lagi-lagi ingatan tentang Rizal datang menghampirinya, sehingga ia membuang jauh rasa kasian terhadap Dinda.


Gadis nakal, manja, labil dan menyebalkan. Itulah penilaian Anton kepada Dinda saat itu. Tak ada hal kebaikan dari diri Dinda di mata Anton. Hanya karena hal yang belum tentu kebenarannya.


"Cepetan makan dulu! Kamu kan lagi hamil, nanti kalau janin mu kenapa-kenapa juga kamu sendiri yang nyesel!" Suruh Anton sambil menyibakkan selimut Dinda.


Dinda yang tak ingin janinnya kenapa-kenapa pun langsung membalikkan badannya. Mata merah, wajah bengkak karena menangis, tetap saja memancarkan kecantikannya. Anton pun yang tadinya kesal, setelah lihat Dinda merasa hilang rasa kesal itu.


"Sini aku suapin!" Kata Anton mengambil sepiring nasi plus lauk pauk yang di bawa oleh Inah.


Tanpa mengatakan apa-apa, Dinda menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Anton. Ketika makanan sudah habis, Dinda mulai menangis lagi. Ia teringat sang nenek, waktu di mana dirinya di suapin ketika ia sedang sakit.


"Berhenti nangisnya! Nenek gak butuh tangisan mu, yang ia butuhkan hanyalah Do'a mu." Kata Anton menenangkan Dinda.


"Kasihan juga janin yang ada di kandungan mu!" Imbuh Anton.

__ADS_1


Perkataan Anton bukannya menenangkannya, tapi malah membuat Dinda semakin menangis kencang. Mengingat sang kakak menuduh janin yang ia kandung adalah anak Rizal.


"Aku tidak pernah melakukan hal di luar batas dengan Rizal, tapi kenapa kakak menuduh anak ini anaknya Rizal hiks!" Kata Dinda dengan isak tangisannya.


"Tiga Minggu yang lalu kamu dan Rizal hanya berduaan di rumah. Aku lihat, leher Rizal ada tanda merah. Seperti kamu lakukan kepadaku waktu itu. Dan sekarang kamu hamil, tentu saja aku tidak yakin kalau itu anakku, bisa jadi itu anaknya Rizal!" Sahut Anton menjelaskan.


"Oh... jadi kakak berpikir seperti itu kepadaku. Ok! anggap saja ini bukan anakmu. Please, aku mohon kakak keluar dari sini, aku lagi ingin sendiri." Kata Dinda sambil menahan air matanya.


Anton pun segera keluar dari kamar Dinda. Entah apa yang merasuki jiwa raganya, hingga ia tega mengatakan hal itu kepada Dinda. Dinda memang nakal kepadanya, tetapi bukan berarti dia juga nakal kepada laki-laki lain.


Lagipula, Dinda tahu batasan-batasannya dalam pacaran. Dia sadar diri bahwa dia seorang istri. Jika saja pernikahannya tidak suatu paksaan, Dinda tidak akan bersikap seperti istri bodoh yang mau berselingkuh dari suaminya.


*****


Keesokkannya, di sore hari.


Loren dan Rizal datang kerumah Anton untuk berbelasungkawa atas meninggalnya sang nenek.


"Kamu temui saja dia di kamarnya. Mungkin saja hatinya akan lebih baik, setelah melihatmu." Suruh Anton dengan nada tidak suka.


"Memangnya boleh kak?" Tanya Rizal dengan kepolosannya.


"Kan aku yang nyuruh! Sekalian kamu tanyain, keadaan anakmu!" Jawab Anton ketus.


Rizal tidak tahu apa yang di maksud dengan perkataan Anton. Walaupun begitu, ia tetap naik ke atas untuk menemui Dinda. Ia sendiri juga khawatir, karena kemarin Dinda sempat pingsan. Jadi ia ingin memastikan kalau Dinda baik-baik saja.


Tok Tok Tok

__ADS_1


"Din, ini aku Rizal. Tolong bukain pintu." Kata Rizal sambil mengetok pintu.


Tak lama kemudian Dinda pun membuka pintu untuknya. Melihat Dinda dengan wajah lusuhnya, membuat Rizal merasa kasihan dan juga sedih di waktu yang sama.


Dinda yang menangis pun langsung memeluk Anton. Meluapkan semua rasa sesak di dada, karena rasa sakitnya yang teramat. Di tinggal oleh sang nenek yang sangat ia cintai dan tidak di akui oleh sang kakak atas kehamilannya.


Rizal mencoba untuk menenangkannya, agar Dinda tidak larut dalam kesedihannya. Karena semua orang akan merasakan kematian, tidak ada satupun yang bisa menghindari hal itu. Ada kalanya kita ditinggalkan dan ada kalanya kita meninggalkan, itu semua sudah hukum Sang Kuasa.


"Dinda, setiap orang akan merasakan kematian. Kita semua yang masih berpijak di atas bumi juga menunggu giliran. Yang di butuhkan nenek bukan air matamu, melainkan Do'a darimu." Kata bijak dari Rizal.


Dinda melepaskan pelukannya. Ia mulai berhenti menangis dan memandang ke arah Rizal yang terlihat tampan. Dia merasa nyaman, damai dan hangat ketika Dinda bersama Rizal. Setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Rizal mengandung sebuah senyawa yang menghasilkan semangat untuk yang mendengarnya.


Umur tidak melambangkan sebuah kedewasaan. Di umur Rizal yang masih 18 tahun, tapi pemikirannya seperti orang sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Mungkin karena ia tumbuh tanpa sosok seorang ayah, hingga membuatnya bisa berfikiran lebih dewasa.


"Zal, Terima Kasih sudah datang kesini dan kamu sudah memberikan semangat buat aku!" Kata Dinda berterima kasih.


"Sama-sama! Maaf, kemarin aku tidak bisa kesini, karena pihak kantor gak ijinin aku pulang cepat." Sahut Rizal sambil merapikan rambut Dinda.


"Iya gak apa-apa! Sekarang kamu di sini, bagiku sudah lebih dari cukup." Kata Dinda dengan khas manjanya.


Sekitar 30 menitan mereka mengobrol, Rizal pun berpamitan untuk pulang. Karena sebentar lagi sudah waktunya Maghrib. Dinda pun merasa kesepian lagi ketika Rizal pulang.


Loren dan Anton masih duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Rizal pulang terlebih dahulu, karena Loren akan di antar pulang oleh Anton.


"Sayang, kapan kamu akan menikahi ku?" Tanya Loren tiba-tiba.


"Saat ini jangan membicarakan hal itu dulu, kita masih sedih atas meninggalnya nenek. Jadi kita bicarakan di waktu yang tepat." Jawab Anton.

__ADS_1


Merasa kesal, Loren pun segera berdiri dan berjalan menuju ke pintu keluar. Anton yang merasa bersalah pun mengejarnya dan mengantarkannya pulang. Bukan tanpa alasan Loren menekan Anton untuk segera menikahinya.


Bersambung...


__ADS_2