Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Suami Protektif


__ADS_3

Semenjak Dinda dinyatakan hamil oleh dokter, Anton berubah menjadi suami yang protektif. Dia tidak mengijinkan Dinda untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatnya kecapekan. Dia juga menggunakan dua jasa asisten rumah tangga untuk mengurus rumahnya dan yang satu untuk menemani Dinda, kemanapun ia pergi.


Selain itu, Anton jarang pergi kekantor. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Dinda. Anton juga memperkerjakan seorang desainer yang akan mengurus butiknya Dinda. Walaupun sudah punya karyawan yang pandai merancang busana, tetapi Dinda masih mengambil peran penting dalam menentukan mana pemilihan gamis yang sesuai dengan keinginannya.


"Kamu gak boleh masak! Kalau kamu masak, aku gak akan memakannya!" ancam Anton dan mengambil sendok dari tangan Dinda.


"Tapi Kak, aku ingin masak buat Kakak!" rengek Dinda dengan manja.


"Ya sudah, aku mau makan pakai dua telur ceplok saja!" kata Anton.


Bukannya Anton ingin makan telur ceplok, tetapi dia hanya tidak ingin Dinda kecewa. Dinda pun dengan semangat membuatkan telur ceplok untuk Anton. Bersyukur, Dinda sudah tidak terlalu sensitif seperti sebelumnya, jadi Anton lebih leluasa untuk melarang Dinda melakukan hal ini dan itu, tanpa membuat Dinda marah.


Siang itu Anton mengajak Dinda pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi. Tetapi, sesampainya mereka di mall, Dinda melarang Anton untuk membeli apapun untuk calon buah hatinya. Menurut Dinda, jika membeli kebutuhan bayi sebelum bayi dalam kandungan berumur tujuh bulan, hal itu bisa berdampak negatif pada kehamilannya. Karena, waktu hamil yang pertama, Dinda sudah menyiapkan semua perlengkapan bayi, sehingga membuat Dinda kehilangan bayinya.


"Jangan beli sekarang Kak, nanti saja kalau sudah mendekati masa persalinan saja!" kata Dinda melarangnya.


"Memangnya kenapa? Kan biar nanti kalau kamu hamil tua, kamu tidak perlu repot-repot beli ini dan itu!" tanya Anton.


"Bukannya gitu Kak! Kata orang itu pamali kalau kita beli perlengkapan bayi dan bayi kita belum berusia tujuh bulan di dalam kandungan," jawab Dinda menjelaskan.


"Masa kamu percaya begituan? Semua itu atas kehendak Allah Yang Maha Esa, Din!" ujar Anton yang tidak percaya akan hal itu.

__ADS_1


Dinda hanya tidak ingin kenapa-kenapa dengan kandungannya. Mengingat kehamilannya yang tidak mudah, membuatnya untuk lebih hati-hati. Lagipula, perlengkapan bayi mudah untuk didapatkan. Jadi tidak ada masalah jika dibelinya mendadak. Mungkin juga, Anton yang terlalu bersemangat, jadi ia tidak bisa menahan dirinya untuk mempersiapkan kebutuhan calon buah hatinya.


Karena tidak jadi membeli perlengkapan bayi, Anton pun kemudian mengajak Dinda untuk menonton film di bioskop. Kebetulan hari itu ada sebuah film yang menceritakan bagaimana cara untuk menjadi orangtua yang baik. Jadi Anton memutuskan untuk menonton film tersebut.


"Kira-kira yang di film tadi sesuai dengan kenyataan gak sih?" tanya Anton kepada Dinda.


"Sedikit banyak pasti sama lah! Memang menjadi orangtua itu tidak mudah dan ingat tadi pesan yang disampaikan dari film tadi. Bahwa suami harus membantu istri menjaga anak-anaknya, karena menjadi seorang istri itu tidak mudah," jawab Dinda mengingatkan Anton tentang pesan dari film yang mereka tonton tadi.


"Kalau itu mah aku tahu sayang! Kamu jangan khawatirkan hal itu. Aku akan berusaha untuk menjadi suami siaga," ucap Anton mengecup kening Dinda.


Setiap suami memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang tidak peduli dengan sang istri yang baru melahirkan dan ada yang sangat perhatian. Tetapi, suami yang bertanggung jawab adalah suami yang mampu membuat keluarga kecilnya tidak merasakan kehujanan ketika sedang hujan dan tidak kepanasan ketika sedang panas. Apalagi jika pasangan suami-istri yang tidak memiliki asisten rumah tangga, pesan suami sangat penting bagi istrinya.


Sebelum mereka pulang, Anton lebih dulu mengajak Dinda untuk makan malam disebuah restoran vegetarian. Walaupun vegetarian, tetapi masakannya tidak kalah dengan non vegetarian. Sehingga membuat Dinda bisa makan banyak malam itu.


"Apapun yang ingin kamu makan, kamu bungkus semua ok!" kata Anton dengan senyumannya.


"Ok! Ini kan Vegetarian, makan banyak pun tidak akan gemuk kok!" ujar Dinda sambil memesan makanan untuk dia bawa pulang.


Memang akhir-akhir ini Dinda makannya banyak. Mungkin karena dia sedang hamil jadinya lebih sering merasa lapar. Tidak ia sadari, pipinya semakin hari semakin tembem karena berat badannya. Untung saja bagi Anton tak masalah, mau berat badannya naik atau kurus, baginya Dinda adalah orang yang sangat ia cintai. Dia sudah menjadi bagian hidupnya yang tidak bisa dilepaskan.


Sesampainya mereka di rumah, Anton pergi mandi. Sementara Dinda membantu asistennya menata belanjaan bulanan yang ia beli. Setelah selesai, Dinda naik keatas masuk ke kamarnya. Dilihatnya setiap sudut ruangan dan tidak ia temukan Anton di sana. Itu artinya Anton sedang berada di kamar mandi. Dengan semangat, Dinda kemudian ikut masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, kamu belum selesai?" tanya Dinda menatap Anton dengan penuh hasrat.


"Iya, sebentar lagi selesai," jawab Anton yang saat itu sedang memakai shampo.


Tetapi tiba-tiba sebuah tangan merayap diperutnya, hingga membuat Anton terkejut. Tanpa memprotes, Anton pun membiarkan Dinda melakukan apa yang ingin dia lakukan atas dirinya. Anton pun membalikkan badannya dan memberikan shampo kepada Dinda. Lalu memberi sabun ke seluruh badannya. Selesai mandi, Anton pun membantu Dinda mengeringkan rambutnya.


Dinda yang belum mendapatkan apa yang ia inginkan pun mulai menggoda sang suami. Melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya Anton. Lagi-lagi Anton dibuatnya melayang, hingga kaki-kakinya terasa lemas. Entah apa yang membuat Dinda semakin agresif, mungkin faktor kehamilannya, sehingga membuat hormonnya naik.


"Sayang, aku ingin kamu seperti ini seterusnya," kata Anton mengecup kening Dinda.


"Kalau aku gak begini, berarti kamu gak suka?" tanya Dinda memanyunkan bibirnya.


Dengan mesra Anton mencium Dinda dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Dinda yang menurutnya semakin menggoda. Pelan-pelan Anton melakukan hal itu, karena dia tidak mau menyakiti Dinda maupun bayinya. Tetapi, Dinda mulai hilang kendali, dia begitu agresif sampai lupa jika dirinya sedang hamil.


"Sayang, pelan-pelan. Ingat, di dalam perut mu ada bayi kita," bisik Anton di telinga Dinda.


"Tidak apa-apa, kata Dokter tidak masalah jika aku sedikit menggoyangkan badanku," kata Dinda yang sedang menikmati apa yang ia lakukan.


"Tetapi kamu terlalu agresif sayang, pelan-pelan saja," ujar Anton yang juga menikmati perlakuan Dinda.


Kehamilan menimbulkan berbagai perasaan, sensasi, dan emosi baru. Ini semua disebabkan oleh hormon yang sedang berfluktuasi dan peningkatan aliran darah. Itulah yang dirasakan Dinda saat itu. Keagresifan Dinda membuat Anton tersenyum geli. Setidaknya dia merasa berada di pihak yang diuntungkan. Tetapi emosi Dinda yang berubah-ubah, terkadang membuat Anton geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Sebagai suami siaga, tentu Anton banyak belajar dan berkonsultasi dengan dokter, bagaimana menghadapi sikap istri yang moodnya sering berubah-ubah.


__ADS_2