
Ketika Dinda duduk di depan cermin, leher dan bagian dadanya terlihat bekas warna merah di sana. Tanda-tanda itu semakin membuat Dinda kebingungan. Anton yang menyadari hal itu pun langsung membuat tanda di atas dadanya Dinda, agar Dinda mengerti apa yang sudah mereka lakukan.
"Ih... kamu lama-lama kurang ajar ya!" protes Dinda sambil mendorong tubuh Anton.
"Dinda kamu lupa? Beberapa jam yang lalu kamu bilang kalau aku ini suamimu dan berhak melakukan apa saja atas dirimu!" Anton mencoba mengingatkan Dinda.
"Gak ada! Gak mungkin aku mengatakan hal itu! Minggir, aku mau ganti baju!" elak Dinda yang langsung berdiri mengambil baju gantinya.
Anton sendiri merasa bingung dengan sikap Dinda yang tiba-tiba berubah lagi. Baru saja semalam Dinda bersikap lembut dengannya dan pagi ini mereka pun melakukan hubungan suami-istri, tetapi setelah bangun tidur, kepahitan terulang lagi.
Dinda yang merasa sangat lapar pun langsung pergi keluar dari kamar menuruni anak tangga. Ia langsung menuju ke dapur dan membuka penutup makanan di meja makan. Inah yang saat itu sedang bersih-bersih pun langsung menghentikan aktivitasnya dan melayani Dinda.
"Non, jam segini kok baru turun? Kata Mas Dimas, Den Anton gak masuk kerja, kenapa?" tanya Inah sambil melihat leher Dinda yang banyak tanda.
"Tadi ketiduran! Tanya saja sama Anton sendiri!" jawab Dinda dengan nada jutek.
Inah pun menyadari kalau Dinda terlihat jutek hari ini. Tak lama kemudian dilihatnya Anton menuruni anak tangga. Anton terlihat sedih, ia memandangi Dinda dengan seksama. Hal itu membuat Inah bingung, dia pikir Anton dan Dinda sedang bertengkar.
"Den Anton gak masuk kerja?" tanya Inah mengambilkan piring untuk Anton.
"Tidak Mbak, hari ini aku mau antar Dinda ke Dokter," jawab Anton yang tak berhenti memandangi Dinda yang sedang makan.
"Apa! Aku gak mau ke Dokter!" Dinda menolak dan ia langsung pergi ke atas dengan amarahnya.
Anton menopang kepalanya dengan kedua tangannya, ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia lakukan kepada Dinda. Inah yang merasa kasihan kepada Anton pun mencoba menghiburnya.
"Yang sabar ya Den, Non Dinda kan sekarang lagi sakit, jadi sikapnya berubah-ubah!" Inah mencoba menghibur Anton.
"Tapi Mbak, baru tadi kita salat berjamaah dan beberapa jam kemudian dia lupa semua!" Anton mengusap rambutnya dengan kasar.
Setelah Anton selesai makan, ia kembali masuk ke kamarnya. Dilihatnya Dinda sedang tiduran di atas ranjang sambil tersenyum memandangi ponselnya. Anton kemudian menyuruh Dinda untuk meminum obatnya, tetapi Dinda menolak karena dia tidak merasa sedang sakit.
Karena Dinda menolak untuk meminum obat, Anton pun mengambil ponselnya dan hal itu membuat Dinda marah. Dinda mencoba mengambil ponselnya yang berada di tangan Anton, tetapi belum sempat ia merebutnya, Dinda tiba-tiba pingsan. Anton pun terserah kepanikan dan memanggil-manggil Inah.
__ADS_1
"Mbak Inah!" Anton berteriak memanggil Inah.
"Mbak Inah!"
"Mbak!"
Karena Inah tak mendengar teriakannya, Anton pun membuka pintu kamarnya dan memanggil Inah. Inah yang saat itu sedang mencuci piring pun bergegas naik ke atas. Anton menyuruh Inah untuk mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan ke badan Dinda.
Sepuluh menit berlalu, Dinda tak kunjung bangun. Anton pun segera membawa Dinda kerumah sakit dengan memanggil mobil ambulans. Anton menyuruh Inah untuk ikut dengannya. Simbok yang tak tahu apa-apa pun, terkejut melihat Dinda tak sadarkan diri.
"Mbak Inah, kamu ikut ya!" pinta Anton yang terlihat khawatir.
"Non Dinda kenapa Nah?" tanya simbok.
"Pingsan Mbok, mobil ambulans sudah datang, kita pergi dulu ya Mbok," pamit Inah kepada Simbok.
Sesampainya mereka di rumah sakit, dokter langsung memeriksanya. Anton dan Inah menunggu di luar, sementara Dinda masih di dalam ruang UGD. Anton berjalan mondar-mandir, kekhawatirannya terlihat jelas di raut wajahnya. Sedangkan Inah duduk di kursi tunggu dan tak henti-hentinya mendoakan Dinda.
Sekitar satu jam lebih menunggu, akhirnya dokter memanggil Anton untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Dinda. Dokter menjelaskan dengan detail tentang kondisi Dinda saat itu. Anton bisa bernafas lega, karena hal itu wajar di alami seseorang yang mengalami gegar otak.
"Tergantung kondisi pasien, jangan membuat pasien stress dan tertekan, apalagi memaksa untuk mengingat apa yang tidak ia ingat," pesan dari dokter.
"Baik Dok, terima kasih!" sahut Anton.
Dinda saat itu sudah sadar, dokter sudah mengijinkannya pulang, karena memang tidak ada hal serius yang dialami Dinda. Anton pun langsung mengajak Dinda pulang, setelah selesai melakukan pembayaran administrasi.
Sesampainya mereka di rumah, Anton membopong Dinda naik ke atas masuk ke kamarnya. Kemudian Anton menyuruh Dinda untuk meminum obatnya yang tadi pagi belum sempat ia minum. Kali ini Dinda tidak menolak, ia langsung meminum obatnya sambil melirik-lirik ke arah Anton.
"Sudah, sekarang kamu istirahat!" suruh Anton sambil menaruh gelas di atas nakas.
"Tapi aku gak ngantuk! Aku ingin makan es krim," sahut Dinda yang tiba-tiba ingin makan es krim.
"Gak boleh makan es krim, nanti kalau kamu sudah sembuh baru boleh!" Anton melarang Dinda makan es krim.
__ADS_1
Seketika Dinda kesal dan ngambek, ia mengganti posisinya dengan membelakangi Anton yang saat itu duduk di bibir ranjang sampingnya. Dinda juga mendorong tubuh Anton untuk menjauh darinya. Tanpa berkata apa-apa, Anton pun keluar dari kamar.
Sekitar 30 menitan, Anton masuk ke kamar dengan membawa kantong plastik berwarna putih. Anton pun menyodorkan kantong plastik itu di hadapan Dinda. Dengan segera Dinda menepis kantong plastik itu, tetapi karena tangannya merasakan ada yang dingin di plastik tersebut, Dinda pun langsung menarik plastik itu dari tangan Anton.
"Ah... es krim!" Dinda kegirangan.
"Makanlah!" suruh Anton.
Rupanya Anton membelikan Dinda es krim. Saking kegirangannya, Dinda pun beranjak dari ranjang dan memeluk Anton dengan erat. Anton pun dibuat pusing oleh sikap Dinda yang sebentar baik, sebentar jutek. Memang harus dibutuhkan ekstra sabar yang tinggi untuk menghadapi Dinda.
"Enak?" tanya Anton.
"Enak banget!" jawab Dinda sambil memakan es krim di tangannya.
Kemudian Anton duduk di kursi kerjanya, ia membuka laptopnya dan membuka email yang dikirimkan oleh Dimas. Ketika Anton sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba Dinda dari belakang melingkarkan lengannya di leher Anton dan mengecup ringan pipinya.
Tok Tok Tok
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, sehingga Dinda pun segera melepaskan pelukannya dan membuka pintu kamarnya. Dan ternyata Inah sudah berdiri di depan pintu.
"Maaf Non, temannya Non Dinda datang," Inah memberitahu.
"Teman yang mana ya Mbak? Perasaan aku gak punya teman?" tanya Dinda kebingungan.
Anton pun menghampiri mereka, karena dia juga penasaran dengan teman Dinda yang datang.
"Siapa memangnya yang datang Mbak?" tanya Anton penasaran.
"Temannya Non Dinda Den!" jawab Inah.
"Iya, teman yang mana?" sahut Anton semakin penasaran.
Sepertinya Inah lupa dengan nama temannya Dinda. Karena Anton merasa penasaran, Ia pun mengajak Dinda untuk turun kebawah menemui temannya.
__ADS_1
Penasaran...