
Salah satu suster berdiri melihat raut wajah Anton yang nampak kacau. Memang saat itu Anton benar-benar khawatir dengan kondisi Dinda. Ketika Ia pergi untuk makan siang, Dinda masih tertidur pulas, tetapi ketika ia masuk ke dalam ruangan, Dinda beserta ranjangnya sudah tidak ada di sana.
"Maaf Pak, tadi pasien mengalami kejang dan tidak sadarkan diri. Jadi pasien di pindahkan ke ruang ICU. Mohon Bapak untuk segera ke lantai tiga, nanti Dokter akan menjelaskannya." kata seorang suster memberitahu.
"Terima kasih Sus!" sahut Anton segera bergegas pergi masuk ke dalam lift.
Pikirannya sudah kalut, tidak tahu apa yang terjadi dengan Dinda. Hatinya berdebar, karena kekhawatiran yang ia rasakan. Tangannya gemetar, kakinya mulai tak bisa menopang badannya sendiri. Tanpa ia sadari air mata mulai keluar dengan sendirinya. Suara pintu lift terbuka, pandangan langsung tertuju ke arah tempat di mana para suster sedang berjaga.
Dengan perasaannya yang tak menentu, ia pun berjalan menghampiri para suster yang sibuk bekerja. Ia dengan suara nada yang tak begitu jelas, menanyakan keberadaan Dinda. Salah satu suster mendongakkan kepalanya dan langsung berdiri menyapa Anton dengan sopan.
"Sus, pa pasien yang bernama Dinda ada di mana?" tanya Anton penuh dengan kekhawatiran.
"Selamat siang Pak, mari saya antar ke ruang Dokter. Nanti Pak Dokter akan menjelaskan semuanya." jawab suster dengan sopan.
Lalu suster mengantarkan Anton untuk menemui Dokter. Suster membukakan pintu untuk Anton dan memberitahu ke Dokter, bahwa Anton adalah keluarga dari pasien yang bernama Dinda. Sang Dokter pun mempersilahkan masuk dan Anton duduk tepat di hadapan Dokter. Kemudian, suster pergi keluar meninggalkan Anton dan Dokter di ruangan.
Dokter mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan Dinda. Anton pun terkejut dengan pernyataan Dokter yang memberitahukan bahwa Dinda sedang tidak sadarkan diri. Ternyata benturan keras di kepala Dinda mengakibatkan otaknya cidera. Memang tidak ada bekas luka di kepalanya, jadi Anton tak percaya jika Dinda sampai mengalami gegar otak separah itu.
"Tapi Dok, kapan pasien akan sadarkan diri?" tanya Anton penuh harap.
"Bisa sehari, semimggu, bahkan berbulan-bulan dan dinamakan koma. Kami masih menunggu hasil CT scan dan setelah hasilnya keluar, kami akan menghubungi Anda dan langkah apa yang harus kita lakukan. Untuk saat ini, Anda jangan terlalu khawatir, kita serahkan semua kepada Sang Pencipta. Kami para Dokter akan melakukan yang terbaik." jawab Dokter menjelaskan.
__ADS_1
Hatinya remuk mendengar jawaban dari Dokter. Anton tak menyangka jika kondisi Dinda akan separah ini. Air matanya lagi-lagi jatuh membasahi pipinya. Tenggorokannya terasa sakit saat ia menelan salivanya. Sang Dokter menyodorkan sebuah kertas untuk ia tandatangani, bahwa ia bersedia jika Dinda di rawat di ruang ICU.
Dengan gemetar, Anton pun mengambil bolpoin dan menandatangani kertas itu. Setelah Dokter menjelaskan panjang lebar, Anton beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Dokter. Ia berjalan menuju tempat di mana Dinda di rawat. Hari ini Dokter belum mengijinkan pasien di jenguk, jadi Anton hanya melihat Dinda dari balik kaca.
Dinda berbaring di atas ranjang dengan di bantu oksigen di hidungnya. Tangannya tertancap jarum infus dan tidak ada seorangpun yang menemaninya. Hati Anton meronta, matanya menangis, ingin sekali ia berada di samping Dinda dan menyemangatinya untuk segera bangun. Tak pernah ada di benaknya, jika Dinda sampai di rawat di ruang ICU. Baru beberapa jam yang lalu ia masih bercanda dengannya dan sekarang Anton hanya bisa melihat Dinda berbaring tak berdaya.
"Sayang, maafkan kakak yang tidak bisa menjagamu." kata Anton lirih, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang di alami Dinda.
Lelah Anton berdiri memandangi Dinda dari balik kaca. Ia pun berencana untuk pergi ke ruang inap, karena barang-barangnya masih di sana semua. Ia berjalan memasuki lift dan naik ke lantai atas. Ketika ia keluar dari lift, Anton melihat seseorang masuk ke dalam ruangan. Ia pun berlari dan ingin tahu siapa yang datang.
Anton pun masuk ke dalam dan di lihatnya Dimas dengan Loren yang juga baru masuk. Loren menoleh ke belakang dan tersenyum kepada Anton. Emosinya mulai tak terkendali ketika melihat Loren tersenyum kepadanya. Tangannya mendarat ke pipi Loren dengan sangat kerasnya, hingga membuat Loren tersungkur di lantai.
Merasakan sakit di pipinya, Loren pun dengan spontan menangis dan menyentuh pipinya dengan tangannya. Merasa tidak puas hanya menampar Loren, Anton pun menundukkan badannya hingga sejajar dengan Loren. Ia meraih dagu Loren dengan kasar dan mendorongnya hingga Loren benar-benar terjatuh di lantai. Sedangkan Dimas masih berdiri, tidak mengerti apa yang di katakan Anton.
"Maksud kamu apa Bro?" tanya Dimas memastikan.
"Dinda saat ini di rawat di ICU, dia kejang-kejang dan tak sadarkan diri." jawab Anton yang duduk di lantai sambil menangis.
Dimas masih berdiri tidak percaya dengan apa yang di katakan Anton. Begitupun dengan Loren yang langsung berhenti menangis. Loren sepertinya terkejut dengan apa yang di katakan Anton. Dimas kemudian bertanya kepada Anton, di mana Dinda di rawat. Lalu Dimas pergi keluar meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di lantai.
"Sayang, percayalah padaku. Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan kepadaku." kata Loren mendekati Anton.
__ADS_1
"Jangan pernah lagi kau panggil aku sayang! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Dinda, kamu harus bertanggungjawab atas semuanya." bentak Anton yang tak bisa menahan tangisnya.
Mereka berdua pun menangis bersama dengan posisi yang masih duduk di lantai. Loren bersikeras, bahwa dirinya bukanlah pelakunya. Tentu saja Anton tak mempercayai pernyataan Loren. Ia menyuruh Loren untuk pergi dari hadapannya. Anton merasa muak melihat wajah Loren yang tidak mau mengakui kesalahannya.
"Aku berani bersumpah Anton, aku benar-benar bukan pelakunya. Aku harus melakukan apa untuk membuatmu percaya denganku!" rengek Loren meraih tangan Anton.
"Kalau memang kamu bukan pelakunya, kamu cari buktinya!" sahut Anton dengan nada keras.
Anton beranjak dari lantai dan duduk di sofa sambil memijit dahinya yang terasa pusing. Begitupun dengan Loren, ia beranjak dan berjalan keluar dari ruangan tanpa berpamitan kepada Anton. Sebelum ia pergi, Loren pergi ke toilet yang berada di luar untuk merapikan riasanya yang berantakan atas tamparan yang di layangkan oleh Anton.
Loren memandangi cermin yang ada di toilet, lalu ia membasuh mukanya. Beruntung, saat itu tidak ada orang di dalam toilet. Loren pun mengeluarkan tas make-upnya dari dalam tas, ia mulai merias wajahnya yang tampak bengkak karena menangis. Pipi kanannya juga terlihat lebam, Loren pun menyentuh pipinya yang masih terasa sakit. Lalu ia memoleskan make up untuk menyamarkan lebam di pipinya.
"Kenapa semua pada nyalahin aku? Mungkin aku harus mencari buktinya agar orang-orang tidak menyalahkanku." gumam Loren sambil memakai bedak di pipinya.
Selesai memoles makeup di wajahnya, Loren pun pergi keluar dari toilet. Ia memesan taksi Online untuk mengantarkannya pergi ke kantor. Karena memang jam kerja belum selesai, ia sengaja meminta ijin untuk pergi menjenguk Dinda bareng Dimas.
Loren merasa kalau dirinya memang harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak mau di jadikan kambing hitam atas musibah yang menimpa Dinda. Karena posisinya Loren yang tepat untuk di jadikan kambing hitam. Apalagi hubungannya dengan Anton kandas karena Dinda, jadi orang-orang mengira kalau Loren sedang balas dendam.
Memang Loren mengakui sangat membenci Dinda ketika ia tahu jika Dinda sedang hamil anaknya Anton. Tetapi tidak pernah ada di benak Loren untuk mencelakai Dinda secara kejam seperti yang di tuduhkan kepadanya.
Bersambung....
__ADS_1