Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Loren Kecelakaan


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi membuat Dinda betah duduk di depan teras. Suasana sunyi, di kelilingi pohon-pohon yang berbuah. Menambah suasana menjadi nyaman. Tak pernah ia tahu jika ada suasana senyaman ini di daerah Jakarta.


Walau jauh dari perkotaan, tetapi perkampungan ini terletak di ibu kota. Beruntung, Dinda mendapatkan kontrakan senyaman dan sebersih itu, walau harganya agak mahal sedikit, setidaknya tempat yang nyaman bisa membantu Dinda untuk tidak larut dalam kesedihannya.


Karena sudah sore, Inah pun menyuruh Dinda untuk segera masuk ke dalam rumah. Karena tidak baik untuk Ibu hamil, ketika waktu matahari terbenam tetapi masih di luar rumah.


"Non, mau makan malam pakai apa?" Tanya Inah.


"Mbak Inah masak apa?" Jawab Dinda berbalik bertanya.


"Belum masak Non, kalau Non Dinda ingin makan sesuatu, bilang ya Non, nanti aku masakan." Tutur Inah sambil membuka kulkas.


Dinda sedang tidak ingin makan apa-apa, jadi ia menyuruh Inah untuk masak apa saja. Lagi pula Dinda tidak pernah memilih-milih makanan.


Karena Dinda tidak tidak request masakan, jadi Inah berniat untuk memasak Ayam dan cah kangkung. Suara Adzan berkumandang, Inah menghentikan aktifitasnya dan mengajak Dinda untuk Sholat berjamaah.


Setelah selesai Sholat, Inah melanjutkan acaranya memasak, sedangkan Dinda duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah, seketika Dinda beranjak dari duduknya dan mengintip dari balik jendela, melihat siapa yang datang.


Dinda tersenyum lebar, karena yang datang adalah Rizal. Sebelum Rizal mengetuk pintu, Dinda terlebih dahulu membukakan pintu untuknya.


"Assallamu'allaikum...." Salam dari Rizal.


"Wallaikum Sallam..." Jawab Dinda.


Melihat Rizal yang mengenakan sarung, baju Koko dan peci, membuat Dinda tampak canggung. Ia merasa tidak pantas memiliki kekasih seperti Rizal yang mendekati kesempurnaan. Tampan dan Sholeh, berkarismatik.


"Kita jadi pergi beli-beli barang kan?" Tanya Rizal duduk di sofa.


"Kayaknya gak jadi Zal, tadi Mbak Inah ke pasar beli sayuran, juga buah-buahan dan Yuki datang juga bawa perabotan. Lain kali saja kalau ada yang kurang." Jawab Dinda.


Karena tidak jadi pergi, mereka bertiga pun makan malam bersama. Menikmati masakan yang di masak oleh Inah. Setelah selesai makan, Inah berpamitan untuk istirahat. Sedangkan Dinda dan Rizal duduk di kursi rotan yang berada di teras rumah.


Mereka berdua mengobrol, merencanakan masa depan mereka setelah Dinda melahirkan. Tidak ada keraguan di wajah Rizal untuk menerima janin yang di kandung Dinda sebagai anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


*****


Malam ini Anton pulang telat, karena ada beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Dengan di bantu oleh Loren, ia pun tidak merasa kesulitan. Selain Loren kekasih yang pengertian, dia juga pandai dalam bekerja. Tanggungjawabnya patut di acungi jempol.


Merasa lelah, Anton merebahkan badannya di atas sofa, sedangkan Loren masih sibuk memandangi laptopnya. Ketika Loren menyadari Anton tiduran di atas sofa, ia pun beranjak dari duduknya. Menghampiri Anton dan berlutut sambil memandangi wajah Anton yang sangat tampan.


Selain tampan, Anton juga termasuk CEO muda yang kaya, hal itu membuat Loren enggan untuk memutuskan hubungannya dengan Anton. Dengan lembut Loren mendaratkan ciuman ke bibir Anton. Sontak saja Anton terkejut dan membuka matanya.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" Tanya Loren lirih.


"Bukannya tidak suka, tapi aku masih suaminya Dinda." Jawab Anton yang beranjak dari tidurnya.


Anton belum selesai berbicara, tetapi Loren sudah menghentikan pembicaraannya dengan mencium bibir Anton dengan agresif. Anton yang mendapat serangan itu pun mencoba untuk menghentikan apa yang di lakukan Loren.


Tetapi Loren mendorongnya hingga Anton terlentang di sofa. Sampai di situ Loren tidak menghentikan aktivitasnya, ia masih memaksa menciumi Anton dengan agresif. Tetapi kekuatan Anton lebih kuat tadi Loren, sehingga sekali dorongan Loren sudah terjatuh di lantai.


"Loren, kamu kenapa? Dulu kamu tidak seperti ini, aku menyukaimu karena kamu berbeda dari wanita-wanita lain." Protes Anton dengan nada sedikit tinggi.


Lagi-lagi Anton merasa kasihan melihat Loren menangis. Semua kesalahan seharusnya di limpahkan kepadanya. Di akuinya, sebelum menikah dengan Dinda, ia sangat mencintai Loren. Tetapi setelah menikah dengan Dinda, ia merasa hatinya berubah. Dia sering memikirkan tentang Dinda.


Anton sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak mungkin kalau ia menikahi Loren, sedangkan dirinya sendiri tidak yakin, apakah dirinya masih mencintai Loren atau tidak. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Dinda dan janin yang ada di kandungan Dinda.


"Kalian kenapa?" Tanya Dimas yang tiba-tiba muncul.


"Dim, tolong antar Laura pulang!" Jawab Anton menyuruh.


Tentu saja Dimas tak menolak, karena mulai hari ini dia adalah sopir pribadinya Anton. Tetapi bukannya berterima kasih, malah Loren menolak di antar oleh Dimas.


Dengan masih menangis, Loren beranjak dari lantai dan mengambil barang-barangnya. Ia segera pergi keluar dari ruangannya Anton. Karena sudah malam, Anton tak tega jika Loren pulang sendirian. Akhirnya ia menyuruh Dimas membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja. Lalu ia mengejar Loren yang sudah pergi masuk ke dalam lift.


Ketika Anton baru keluar dari lift, Loren sudah berada di pintu keluar. Sehingga membuat Anton berteriak memanggilnya.


"Loren! Tunggu sebentar, aku antar kamu pulang!" Teriak Anton.

__ADS_1


Tetapi Loren tidak menghentikan langkahnya, ia malah mempercepat langkahnya. Anton berlari untuk menghampiri Loren, tetapi Loren malah menyebrang jalan dan terjadilah sesuatu yang tidak ia inginkan.


Braaaaak!


Sebuah mobil sport menghantam tubuh Loren hingga ia terpental ke trotoar. Tangan kaki mulai mengeluarkan darah segar, Loren pun tak sadarkan diri. Sedangkan Anton masih berdiri di trotoar, tidak yakin dengan apa yang di lihatnya.


Kakinya gemetaran, bahkan untuk melangkahkan kakinya teramat berat. Orang-orang mulai berdatangan menyaksikan Loren yang tergeletak di pinggir trotoar. Ada yang menghubungi polisi dan juga Ambulans.


"Loren!" Kata Anton lirih.


Tak lama kemudian suara sirene polisi dan Ambulans datang. Hal itu menyadarkan Anton dan ia segera lari menghampiri Loren. Di angkatnya tubuh Loren oleh petugas untuk di masukkan ke dalam Ambulans. Lalu Anton pergi untuk mengambil mobilnya dan mengikuti Ambulans tersebut.


Loren di bawa ke UGD dan Anton turun dari mobilnya, ia mengatakan kepada dokter bahwa dia adalah kekasihnya.


"Dok, saya pacarnya. Tolong selamatkan pacar saya!" Kata Anton khawatir.


"Baik, anda hubungi salah satu keluarganya pasien." Suruh sang Dokter.


Berkali-kali Anton menelpon Ibunya Loren, tetapi tidak di angkat. Sehingga ia memutuskan untuk menunggu Loren sampai selesai di periksa.


Setelah menunggu kurang lebih dua jam, Akhirnya seorang Dokter keluar dari UGD dan memberitahu kepada Anton bahwa kondisi Loren baik-baik saja. Hanya saja, dia harus di rawat inap karena kakinya terluka cukup dalam, jadi harus di pantau oleh Dokter.


Anton menghela nafas lega, kemudian ia menemui Loren yang masih tergeletak di UGD menunggu kamar inap siap. Loren memalingkan pandangannya, ia kesal terhadap Anton yang tidak perduli dengannya.


"Orel, kamu tidak apa-apa?" Tanya Anton yang merasa bersalah.


"Seharusnya aku mati saja! Dari pada aku melihat kamu yang tidak perduli denganku!" Jawab Loren kesal.


"Sssstt... kamu jangan bilang begitu dunk! Maafkan aku, jika aku tidak perduli denganmu." Sahut Anton yang merasa kasian.


Loren pun mengambil kesempatan dengan keadaannya. Ia membuat Anton berjanji untuk tidak meninggalkannya, bahkan ia mengancam Anton, jika Anton berani mencampakkannya, Loren tak segan-segan akan melukai dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2