
Air mata Dinda mengalir membasahi pipinya. Dinda tak percaya apa yang dikatakan oleh Dokter kepadanya. Anton mencoba untuk menenangkannya, tetapi tangisnya semakin menjadi. Ia merasa gagal sebagai seorang istri yang tidak bisa lagi memiliki keturunan.
"Dinda, dengarkan Kakak! Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, jika Allah menghendaki, maka semua akan terjadi. Dokter hanya mengatakan 'sulit' bukan berarti 'tidak bisa', jadi kita masih ada kesempatan dan kita harus berusaha," kata Anton menenangkan Dinda.
"Tapi Kak, Kakak kan ingin segera punya momongan. Kalau nanti aku tidak bisa hamil, Kakak akan ninggalin aku," tangis Dinda semakin menjadi.
"Husssttt... kamu gak boleh bicara seperti itu! Kakak akan selalu ada disisi mu, apapun yang terjadi!" kata Anton menenangkan Dinda.
Hari ini Anton tidak berangkat kerja, karena ia ingin menemani Dinda di rumah. Kondisi Dinda saat ini sedang tidak baik, banyak hal yang ia pikirkan hingga ia mengalami gangguan kecemasan dan stres. Dia sangat khawatir jika dirinya tidak bisa memberi keturunan untuk sang suami.
Karena tidak berangkat kerja, Anton pun menyiapkan makan malam untuk Dinda. Ia memasak makanan yang Dinda sukai, Anton sebisa mungkin menunjukkan rasa cintanya terhadap Dinda.
"Sayang, kita makan dulu ya!" ajak Anton sambil mengecup kening Dinda.
"Aku gak lapar, Kakak saja yang makan," tolak Dinda merebahkan badannya di atas ranjang.
"Kalau kamu seperti ini, bagaimana bisa kandungan mu subur? Bukankah Dokter mengatakan, kalau kamu harus makan makanan sehat dan jangan memikirkan hal yang negatif!" kata Anton menarik tangan Dinda untuk bangun.
Untuk membuat Dinda bersemangat, Anton pun menggodanya. Setelah beberapa menit, akhirnya Dinda pun tersenyum dan mereka berdua turun ke lantai bawah untuk makan malam.
*****
"Kak, kakak harus janji sama Dinda. Apapun yang terjadi, kakak gak boleh ninggalin Dinda!" kata Dinda sambil memeluk Anton.
"Inshaa Allah, Kakak janji tidak akan pernah meninggalkanmu," sahut Anton membalas pelukannya Dinda.
Malam itu, mereka berdua sedang tiduran di atas ranjang sambil berpelukan. Anton yang tidak putus asa pun melakukan hal yang disarankan oleh dokter. Tangannya mulai menyelinap di sela baju yang dikenakan oleh Dinda. Sambil menelusuri tubuh sintal Dinda, Anton memberi ciuman mesra pada bibirnya.
Tanpa penolakan, Dinda mulai membalas ciumannya. Sesekali terdengar suara Dinda membuang nafas beratnya, karena tangan Anton terus merayap di daerah sensitifnya. Hembusan nafas Dinda semakin membuat Anton bersemangat.
"Sayang, kita berdoa dulu sebelum melakukan hal itu. Semoga Allah mempermudahkan kita untuk memiliki keturunan, Aamiin!" Anton menyuruh Dinda untuk berdoa.
"Kakak, terima kasih kamu selalu membuatku bersemangat," kata Dinda memeluk erat tubuh sang suami.
__ADS_1
Dengan meneteskan air matanya, Dinda berdoa memohon kepada-Nya untuk diberikan kepercayaan untuk memiliki keturunan. Dia ingin memiliki keluarga yang lengkap. Suami yang sangat mencintainya dan anak-anak yang selalu memberi keceriaan dalam rumah tangganya.
Setelah ia mengalami keguguran, dokter mengklaim bahwa terjadi kerusakan pada leher rahim dan terbentuknya jaringan parut pada bagian dinding rahim. Kedua hal itu membuat Dinda sulit untuk hamil lagi.
"Dinda, percayalah! Bahwa Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Bersabarlah dan jangan putus asa," bisik Anton ditelinga Dinda.
"Iya sayang, aku sangat mencintaimu!" sahut Dinda dengan lirih.
'Aku sangat mencintaimu', sebuah kalimat yang membuat Anton melayang. Karena itu kata pertama yang terucap dari mulut Dinda bahwa dia sangat mencintai Anton. Dengan bersemangat, Anton melakukan aksinya sambil memandangi wajah cantik sang istri.
Ia mengecup mata Dinda, agar Dinda mau membuka matanya. Mereka saling berpandangan dan Dinda pun tersenyum malu karena melihat tubuh sang suami tanpa mengenakan sehelai benangpun di badannya.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Anton yang juga ikut tersenyum.
"Melihat tubuh Kakak tanpa baju seperti ini, membuatku malu," jawab Dinda sambil menutup wajahnya.
"Ya! Ini bukan kali pertama kamu melihatku tanpa baju dan bahkan kita sering melakukan hal ini. Tetapi kenapa kamu bertingkah seperti ini, jangan bilang kalau kamu sedang menggodaku!" kata Anton sambil membuka tangan Dinda yang menutupi wajahnya.
Dengan posisi Anton menindih tubuh Dinda, ia pun perlahan melakukan pekerjaannya sebagai suami tangguh. Lagi-lagi Dinda memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan yang diciptakan oleh Anton. Mereka berdua berada dalam dunia yang hanya mereka yang merasakan.
*****
"Sayang, beri aku kerjaan dong! Bosen nih, tiduran melulu!" rengek Dinda sambil memanyunkan bibirnya.
"Coba kamu tanya Loren, soalnya ini aku lagi sibuk," sahut Anton yang tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Dinda pun keluar dari ruangan dan menghampiri Loren. Tetapi, ketika ia sampai ditempat kerjanya, Loren tidak ada di sana. Kemudian Dinda mencari Loren di pantry, bukannya Loren yang ia temui, tetapi dia malah melihat Rizal yang sedang menikmati kopi yang dibuatnya.
"Apakah kamu melihat Loren?" tanya Dinda pada Rizal.
"Apa kamu berpura-pura mencari Loren, padahal kamu ingin sekali melihatku!" sahut Rizal berjalan menghampiri Dinda.
"Apa yang kamu katakan, aku sedang mencari Loren dan ada hal yang ingin aku katakan padanya!" protes Dinda yang tak berani menatap Rizal.
__ADS_1
Rizal menatap Dinda dengan tatapan tajam. Dengan segera Dinda membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan Rizal. Tetapi, tangan Rizal lebih cepat dan menarik lengan Dinda dengan kasar, hingga membuat Dinda terkejut. Rizal memepet Dinda ke tembok dan meraih dagunya.
"Lepaskan! Ini kantor dan banyak orang," kata Dinda menepis tangan Rizal.
"Jadi, kalau tidak ada orang, kamu tidak keberatan jika aku melakukan hal lainya?" Rizal tersenyum sinis sambil mengelus pipi Dinda.
Khawatir ada yang melihatnya, Dinda pun mendorong tubuh Rizal dengan sekuat tenaganya. Sikap Rizal membuat Dinda ketakutan. Dia benar-benar tidak mengenal Rizal lagi, sikap lemah lembutnya kini berubah menjadi sikap dingin yang kasar.
Entah apa yang merasuki tubuh Rizal saat itu. Dia menarik lengan Dinda dan mengunci kedua tangannya dengan tangan kirinya dan merapatkannya ke tembok. Sementara, tangan kanannya meraih dagu Dinda dan Rizal pun dengan leluasa mencium bibir Dinda dengan agresif.
"Bukankah kamu sangat merindukanku?" tanya Rizal penuh harap.
"Tidak! Aku sama sekali tidak merindukanmu!" jawab Dinda penuh amarah.
"Jujur padaku, apakah di hatimu sudah tidak ada namaku?" tanya Rizal menatap dingin pada Dinda.
"Aku sudah melupakanmu dan di hatiku hanya ada suamiku seorang! Jangan pernah menyentuhku lagi, pecundang!" jawab Dinda dengan amarahnya.
Dinda benar-benar marah ketika Rizal dengan kurang ajar mencium bibirnya. Ia berasa bersalah kepada Anton, karena sudah membiarkan laki-laki lain menyentuh tubuhnya. Tak terasa air matanya mengalir, Dinda menangis sesenggukan.
Rizal yang melihat Dinda menangis pun hanya bisa membelakanginya. Sejujurnya, Rizal tidak sanggup melihat Dinda menangis seperti itu. Melihatnya menangis, hatinya pun terasa sakit. Ia tidak bermaksud melukai hati Dinda, ia hanya mengekspresikan dirinya, bahwa ia masih mencintai Dinda.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya seseorang yang ingin membuat kopi.
Seketika Dinda dan Rizal menoleh kearah orang tersebut dan Dinda segera membasuh air matanya.
Bersambung...
Hi guys...
Siapa yang kemarin minta dibuatin cerita khusus Inah dan Dimas?
Sudah update ya, dengan judul "Kisah Inah dan Dimas" *silahkan mampir,
__ADS_1
Terima kasih 🙏*