Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Rizal Masih Ada Rasa


__ADS_3

Masih seperti biasanya, Loren datang ke kantor tepat waktu. Dia duduk di kursi meja kerjanya, membuka file satu per satu yang belum sempat ia periksa. Bibirnya mengembang ketika karyawan lain menyapanya. Memang dia terkenal ramah tamah di kalangan karyawan lain.


Senyumnya selalu mengembang, seperti tidak terjadi apa-apa. Ketika Anton dan Dinda datang, ia pun berdiri dan menyapa mereka dengan senyum terbaiknya. Seperti seorang karyawan yang dengan sopan menyapa atasannya. Anton pun ikut tersenyum dan balik menyapa Loren dan langsung masuk keruangannya.


"Kak, kayaknya ada yang aneh deh! Antara kakak dan kak Oren." tanya Dinda heran.


"Iya, aku sama Loren sudah putus!" jawab Anton tersenyum.


Dinda terkejut mendengar jawaban sang kakak, bagaimana bisa baru beberapa hari yang lalu mereka masih bermesraan, tapi tiba-tiba mereka putus. Ia pun tidak percaya dengan perkataan sang kakak.


"Kakak gak usah bercanda deh! Nanti kalau putus beneran nangis-nangis." ujar Dinda sambil melipat tangannya.


Anton berjalan menghampirinya, memeluknya dan mencium keningnya. Ia memberitahu kepada Dinda bahwa hatinya telah di curi seseorang. Sehingga membuatnya tidak lagi mencintai Loren. Karena tidak mau berlarut-larut melukai Loren, makanya dia memilih untuk mengakhiri hubungan dengannya.


Dinda menatap wajah Anton dengan manja, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang kakak. Dia mengerti dengan apa yang di katakan Anton, bahwa dirinyalah yang sebenarnya mencuri hati sang kakak. Dinda pun melepaskan pelukannya dan mencium bibir sang kakak dengan lembut. Ia yakin dengan dirinya sendiri bahwa hatinya juga mencintai Anton.


"Kenapa kamu mencium kakak seperti itu?" tanya Anton melepas tautan bibir mereka.


"Pengen saja!" jawabnya dengan malu.


Sepertinya Dinda tidak mau mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan sang kakak. Karena merasa haus, Dinda pun berpamitan dengan Anton untuk keluar ke pantry mengambil air minum. Anton sempat melarangnya, agar OB yang mengambilkannya minum, tetapi Dinda tetap bersikeras mengambil sendiri.


Ketika ia sampai di pantry, tak sengaja ia bertemu dengan Rizal. Entah kenapa jantungnya masih berdegup kencang di saat ia melihat Rizal. Mungkin karena dia cinta pertamanya, makanya sulit untuk melupakannya walaupun mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa. Mereka berdua terdiam, tidak saling sapa atau sekedar berpandangan.


Karena rasa gugupnya, Dinda mengambil sebungkus kopi instan dan menuangkannya ke dalam cangkir. Rizal yang masih berdiri di sana sambil meminum kopi, hanya memperhatikan apa yang di lakukan Dinda. Ketika kopi yang di buat Dinda sudah jadi, tiba-tiba Rizal berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu sedang hamil, tidak boleh minum kopi!" kata Rizal sambil mengambil kopi di tangan Dinda.


Dinda tak bergeming, dia merasakan gugup yang luar biasa. Ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruang pantry, tetapi langkahnya terasa berat sekali. Entah kenapa dengan dirinya, yang jelas rasa gugup terus menguasainya. Dinda menunduk dan Rizal meraih tangannya. Di berikan segelas air putih di tangannya oleh Rizal.


"Minum ini, jangan minum kopi lagi!" ujar Rizal dengan nada dingin.


"Te-terima Kasih." sahut Dinda yang langsung meminum air tersebut.


Rizal menatap wajah Dinda yang terlihat agak kurus, ia merasa khawatir. Padahal Dinda sedang hamil, tetapi semakin terlihat kurus. Seharusnya ibu hamil bertambah berat badannya. Kemudian Rizal mengingatkan Dinda untuk meminum susu ibu hamil. Karena memang semenjak ia pulang di rumah sang kakak, Dinda tidak pernah minum susu hamil lagi. Bahkan di usia kehamilan Dinda yang sudah lima bulan, tak terlihat seperti orang hamil


Mendapat perhatian lebih dari Rizal membuat Dinda sedikit senang. Lagi-lagi hatinya goyah, karena perhatian Rizal sangat detail. Perhatian yang tidak ia terima dari sang kakak. Ketika mereka berdua masih di dalam pantry, tiba-tiba Loren masuk ke dalam untuk membuat kopi.


"Eh! Kalian pacaran kok di sini. Tapi, bukankah kalian sudah putus ya! Kita senasib Zal, di campakkan haha...." ledek Loren sambil tertawa kesal.


Lalu Dinda dan Rizal pun keluar dari pantry, sedangkan Anton memperhatikan mereka dari CCTV. Karena Dinda mengambil airnya lama, Anton pun membuka laptopnya yang tersambung oleh CCTV. Berarti sedari tadi ia melihat semua apa yang di lakukan Rizal dan Dinda. Hatinya menjadi kesal, cemburu karena terlihat Dinda masih menyukai Rizal.


"Minumnya ambil di rumah ya, kok lama sekali!" tanya Anton meledek.


"Hehe... tadi ketemu Rizal, ngobrol bentar." jawab Dinda dengan jujur.


Setidaknya Dinda jujur dengan apa yang ia lakukan. Dinda yang merasa lesu pun terduduk di sofa, lalu ia menghela nafas panjang. Anton sedikit kesal, tapi tak seharusnya ia melimpahkan kekesalannya kepada Dinda. Karena dia tahu Dinda belum bisa melupakan Rizal sepenuhnya.


Lalu Dinda meminta pekerjaan kepada sang kakak agar dia tidak merasa jenuh. Walaupun Dinda di beri pekerjaan olehnya, tetap saja Anton mengingatkan Dinda untuk perbanyak istirahat. Dia khawatir jika punggung Dinda sakit lagi.


*****

__ADS_1


Setelah makan siang, Dinda dan Anton masuk keruangannya. Karena merasa capek, Dinda pun tiduran di ruang istirahat. Sambil memainkan ponselnya, Dinda berbaring di atas ranjang. Tak lama kemudian Anton pun masuk menghampirinya.


Ia mengambil ponsel dari tangan Dinda, lalu ia mencium kening Dinda dengan lembut. Turun ke hidung dan ke bibirnya. Dinda tidak memprotes, dia membiarkan sang kakak melakukan apa yang ingin dia lakukan. Kemudian Anton memeluk tubuh Dinda.


"Din, apa kamu masih cinta sama Rizal?" tanya Anton lirih.


"Memangnya kenapa kak?" jawab Dinda balik bertanya.


"Gak apa-apa, kakak cuma tanya saja!" Sahutnya sambil berjalan keluar dari ruangan.


Dinda yang melihat sang kakak terlihat sedih pun langsung turun dari ranjang. Ia berjalan keluar mengikuti sang kakak. Lalu Dinda memeluk Anton dari arah belakang, Anton pun membalikan badannya dan mereka berdua pun saling berciuman mesra, tanpa memperdulikan jika ada karyawan yang masuk.


Ketika mereka berdua sedang menikmati ciuman mereka, tiba-tiba seorang karyawan masuk ke dalam. Betapa kagetnya karyawan itu, melihat kakak dan adik berciuman. Karena merasa malu, karyawan itu pun keluar dari ruangan sang CEO. Anton dan Dinda tidak menyadari jika karyawan itu masuk ke dalam ruangannya.


Sebelumnya karyawan itu mengetuk pintu berkali-kali, tetapi karena dia butuh tanda tangan sang CEO, ia pun segera masuk begitu saja. Dan karyawan itu melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.


"Kamu kenapa Mbak?" tanya Loren yang terlihat gugup saat tidak jadi masuk ke ruangan sang CEO.


"Anu...e...Pak Anton sedang sibuk." jawabnya dengan gugup.


Loren sudah menduga kalau karyawan itu melihat sesuatu yang dilakukan oleh Dinda dan Anton. Hal itu membuat Loren geram, karena mereka berdua mengobral kemesraan tanpa melihat tempat.


Gosip pun menyebar dengan cepatnya, dari mulut ke mulut. Semua karyawan tahu jika Anton adalah pacarnya Loren dan Dinda adalah adiknya Anton. Banyak orang menduga kalau Anton dan Dinda menjalin hubungan sedarah.


Pergosipan itu pun terdengar sampai di telinga Rizal. Karena Rizal tak terima mereka menjek-jelekkan Dinda, ia pun kemudian menceritakan hubungan Dinda dan Anton. Menjelaskan bahwa mereka bukanlah kakak-adik kandung. Selain itu Rizal memberitahu karyawan lain bahwa Anton dan Dinda sudah sah menjadi suami istri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2