
Setelah selesai mandi Dinda keluar dengan lilitan handuk di badannya. Ngilu di bagian daerah sensitifnya mulai terasa. Matanya tidak berani memandang sang kakak yang saat itu masih sibuk mengganti sprei. Karena rasa malu yang teramat, Dinda pun mencoba menghindari Anton. Ia berjalan dengan pelan keluar dari kamar untuk mengambil baju ganti.
Anton yang baru saja selesai mengganti sprei langsung pergi menghampiri Dinda di kamarnya. Ia tahu saat ini Dinda pasti sangat malu untuk menatapnya, jadi ia sengaja menemuinya agar tidak ada kecanggungan di antara mereka.
"Din, apakah daerah sensitif mu terasa sakit?" Tanya Anton yang melihat Dinda berjalan tidak normal.
Dinda terkejut atas kedatangan Anton yang tanpa suara. Ia yang masih mengenakan handuk pun langsung menoleh ke arah sang kakak. Kepalanya menunduk, mulutnya berat untuk berbicara atau sekedar menjawab pertanyaan sang kakak.
Karena Dinda tidak menjawab pertanyaan, Anton pun menghampirinya. Membuka handuk yang di lilitkan di kepala Dinda. Dengan pelan Anton menuntunnya duduk di depan meja rias. Lalu Anton membantu Dinda mengeringkan rambutnya.
"Din, kita sudah sepakat untuk bersikap sebagai suami istri. Jadi jangan merasa malu denganku. Apa yang kita sudah lakukan, memang kewajiban kita sebagai pasangan suami istri." Kata Anton yang masih membelai rambut Dinda.
Masih tak ada respon dari Dinda, ia hanya mengangguk setuju tetapi rasa malu masih melekat di wajahnya. Dia masih tidak bisa memandangi wajah sang kakak. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Yang jelas dari raut wajahnya tersirat raut wajah sedih.
Tiba-tiba air mata mengalir dari sudut matanya. Anton yang menyadarinya pun langsung meraih tubuh Dinda dan memeluknya. Tak tahu kenapa, setelah melakukan hal itu membuat Dinda merasa sedikit menyesal. Pikirannya mulai berfikir bahwa mereka melakukan itu bukan atas dasar cinta, tapi hanya sebuah keterpaksaan.
Tetapi dia sendiri yang memulai, Dinda tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Anton pun mulai merasa bersalah, kalau saja ia tidak menuruti sahwat yang meronta, Dinda tak akan bersedih.
Jika saja waktu bisa terulang, Anton ingin semua tidak terjadi. Di lihatnya Dinda yang sudah berhenti menangis, tangannya sibuk mengelap air matanya yang membasahi pipi Dinda.
"Maafin kakak Din, kakak sudah membuatmu seperti ini." Ucap Anton dengan nada sedih.
"Kenapa kakak minta maaf? Dinda nangis karena kangen sama Mama dan Papa kok!" Sahut Dinda tersenyum.
"Kakak jangan merasa bersalah gitu dunk! Pokoknya mulai saat ini, aku akan makan makanan sehat, agar aku cepat hamil." Tutur Dinda bersemangat.
Dinda berpura-pura tidak menyesali apa yang sudah ia lakukan dengan Anton. Di dalam lubuk hati Dinda, ada sebuah penyesalan yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Tetapi ia hanya akan menyimpan penyesalan itu dalam-dalam. Karena sang nenek lebih penting dari pada meratapi penyesalan itu.
Melihat Dinda tersenyum, Anton pun ikut tersenyum dan menyuruh Dinda untuk segera memakai pakaiannya. Karena hari sudah menunjuk ke siang hari. Entah berapa jam bereka bergelut di kamar, yang jelas mereka tidak menyadari akan waktu. Bahkan deringan ponsel mereka tak mereka hiraukan, malah menyetel ponsel mereka masing-masing ke mode Diam.
"Wah.. Sudah Adzan!" Kata Anton yang tidak menyadari waktu.
"Ya sudah, kakak cepetan ke Masjid and jangan lupa Do'a buat nenek, biar nenek cepat sembuh." Suruh Dinda.
__ADS_1
Sementara Anton pergi ke Masjid, Dinda menunaikan Sholat di kamarnya. Setelah selesai, ia pun keluar turun ke lantai bawah. Ia berjalan menuju ke kamar sang nenek, di lihatnya sang nenek yang sedang tertidur pulas.
Ada yang aneh dari cara Dinda berjalan. Seperti ada luka di bagian belah pahanya. Inah yang menyadari pun tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Ngapain senyum-senyum?" Tanya Dinda yang baru keluar dari kamar sang nenek.
"Itu Non, ada yang lucu!" Jawab Inah sambil menutup mulutnya.
"Ah! Gak usah ngeledek gitu deeh! Belum pernah makan duri ya?" Ujar Dinda yang nampak kesal.
Inah pun langsung diam ketika melihat ekspresi wajah Dinda yang mulai emosi. Ia memberitahu Dinda bahwa sang nenek sudah makan siang dan minum obat. Karena efek dari obat, sang nenek pun mudah untuk tidur.
Kemudian Dinda menyuruh Inah untuk menyiapkan makan siang untuknya dan sang kakak. Karena Simbok sedang Sholat, Dinda pun membantu Inah sambil menahan rasa perih dan ngilu di sekitar selangkangannya.
Ketika Dinda sedang sibuk menyiapkan piring di meja, Anton datang sambil membawa buah rambutan di tangannya yang ia beli di pedagang kaki lima. Dinda yang melihat sang kakak membawa rambutan, ia pun langsung berjalan menghampirinya.
"Ah!" Pekik Dinda.
"Kamu jangan banyak gerak dulu!" Anton menasehati.
"Gak biasa diem, jadi ya begini!" Sahut Dinda yang mulai memakan buah rambutan tersebut.
"Makan nasi dulu, baru rambutan!" Imbuh Anton sambil menggeser rambutan dari dekat Dinda.
Mereka berdua pun menyantap makan siang. Dengan buru-buru, Dinda menghabiskan makanannya, karena ingin segera memakan rambutan. Anton pun menegurnya, agar makan pelan-pelan.
Ketika mereka selesai makan, terdengar suara bell pintu berbunyi.
TingTong.....
Inah berlarian keluar rumah dan mengecek siapa yang datang. Di lihatnya Dimas berdiri di balik pintu pagar sambil memainkan ponselnya. Inah pun segera membuka pintu pagar untuknya.
"Den Dimas, sudah pulang jalan-jalannya?" Tanya Inah membuka pintu gerbang.
__ADS_1
"Iya, baru tadi pagi sampai di rumah. Mbak Inah semakin cantik saja! Baru juga di tinggal dua Minggu, tapi sudah glowing aja!" Jawab Dimas memuji.
"Terima Kasih loh Den sudah di puji!" Sahutnya tersenyum manis.
Pipi Inah berubah menjadi merah merona karena sanjungan dari Dimas. Lalu Dimas masuk ke dalam rumah dan Inah mengunci pintu gerbang.
Dimas Eden, Pria tampan yang terkenal playboy tetapi sangat penyayang. Umurnya 29 tahun, tinggi badan 180 cm, lahir dari keluarga terpandang, tetapi terusir dari rumahnya karena orangtuanya yang sudah menyerah atas kenakalannya. Dia adalah sahabat Anton yang paling setia.
"Kak Dimas!" Teriak Dinda beranjak dari duduknya.
"Kapan kamu pulang? Gak kabar-kabar!" Tanya Anton.
"Wih... lagi makan-makan nih! Aku baru saja sampai beberapa jam yang lalu." Jawab Dimas.
Seperti biasanya, Dimas selalu menggoda Dinda ketika mereka bertemu dan sudah menjadi hal biasa bagi mereka, jadi tidak ada masalah untuk hal itu. Tetapi sepertinya Anton tidak suka akan hal itu, Anton pun menepis tangan Dimas ketika Ia mengelus rambut Dinda.
"Wah.. sentimen banget kamu!" Protes Dimas.
"Dia sudah jadi istri orang!" Ujar Anton tersenyum.
Dimas terkejut mendengar pernyataan Anton. Lalu ia duduk di sebelah Anton dan memintanya untuk menjelaskan apa yang sudah ia katakan.
Tidak mau menutup-nutupi, Anton pun mulai menceritakan semua apa yang terjadi dengannya dan Dinda. Dimas masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Anton hingga Inah pun ikut menjelaskan ke Dimas agar ia percaya bahwa Anton dan Dinda sudah menikah dan sah menjadi suami istri.
"Terus gimana Loren?" Tanya Dimas tiba-tiba.
"Udah... gak usah bahas hal itu. Cepetan kamu makan, kita lanjutin ngobrolnya di ruang keluarga." Suruh Anton.
Antara percaya dan tak percaya, tapi semua orang mengatakan hal yang sama, kalau Anton dan Dinda sudah menikah. Jadi Dimas memaksa dirinya sendiri untuk mempercayai kalau mereka sudah menikah, walaupun di dalam hatinya ia masih belum percaya.
Dinda pun berpamitan kepada mereka untuk beristirahat. Hari itu ia benar-benar capek dan ingin tidur. Apalagi rasa perih dan ngilu membuatnya tidak nyaman.
Bersambung....
__ADS_1