Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton Akan Menerima


__ADS_3

Dengan penuh tekat, Dinda berencana untuk memberitahu semua rahasianya kepada Rizal. Dia berharap Rizal tidak berubah kepadanya setelah tahu jika Dinda sudah menikah dengan kakaknya dan sekarang sedang hamil.


Jika Rizal menerima semua apa yang terjadi pada Dinda, ia ingin meminta nasihat darinya,hal apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Walaupun Dinda sudah punya rencana, tetapi ia ingin Rizal memberinya masukkan. Agar suatu saat nanti dia tidak akan kesusahan dalam hal apapun.


Dinda dan Yuki pergi ke rumah Rizal. Kebetulan, Ibu dan adik-adiknya pergi kerumah neneknya. Jadi di rumah hanya ada mereka bertiga. Dengan begitu, membuat mereka lebih leluasa untuk mengobrol.


"Seharusnya aku yang ke rumah mu, tapi aku gak enak sama kak Anton. Terakhir aku kerumah mu, dia terlihat tidak suka dengan ku. Gak tahu kenapa?" Kata Rizal.


"Hehe... gak apa-apa. Aku ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan." Sahut Dinda dengan ragu.


Yuki keluar rumah duduk di depan teras, ia memberi waktu mereka berdua untuk berdiskusi. Agar mereka lebih leluasa untuk berbicara dan tidak ada kecanggungan di antara mereka.


Dinda terlihat gelisah, nampaknya dia ragu untuk membicarakan soal pernikahannya dan juga kehamilannya. Dengan segenap keberanian, ia mulai merangkai kata-kata untuk ia ucapkan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman atau ucapan yang menyakitinya.


"Mau bicara apa Din? Kok malah diam saja!" Tanya Rizal memprotes.


"Mm... aku..aku sebenarnya mm..." Dinda yang tidak tahu harus memulai dari mana.


"Katakanlah... aku pasti akan dengar semuanya!" Rizal mencoba untuk membuat Dinda tenang.


"Tapi kamu harus janji. Apapun yang aku katakan, kamu tidak boleh marah!" Kata Dinda dengan yakin.


Rizal menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia setuju atas perjanjian itu dan mereka saling mengaitkan jari kelingking. Hal itu membuat Dinda sedikit tenang, walau detak jantungnya berdegup kencang.


Kata demi kata Dinda mulai menceritakan semua masalahnya. Dari ia di paksa untuk menikah dengan sang kakak, hingga kehamilannya yang baru usia 4 Minggu. Dan juga, ia menceritakan bahwa sang kakak tidak mengakui itu anaknya, tetapi malah menuduh bahwa anak yang di kandung Dinda adalah anak Rizal.


Tampak wajah Rizal memerah menahan amarahnya. Dari sorot matanya bisa di lihat bahwa ia sedang marah dan kecewa menjadi satu. Dinda pun merasa ketakutan, takut jika Rizal marah dan menyuruhnya pergi dari kehidupannya.


"Maafkan aku Din, pasti ini adalah hal terberat dalam hidupmu." Kata Rizal sambil memeluk Dinda.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, kita besarkan bayi yang ada di kandungan bersama-sama. Kamu jangan bersedih lagi, ada aku yang selalu di sampingmu." Imbuh Rizal sambil menangis.


Mereka pun saling berpelukan dan menangis hingga suara tangisan mereka terdengar sampai luar. Yuki yang mendengar tangisan itu pun segera masuk ke dalam rumah dan melihat mereka berdua berpelukan. Yuki pun merasa tersentuh dan berlari menghampiri mereka. Akhirnya mereka bertiga berpelukan dan menangis bersama.


Lelah menangis, mereka bertiga pun duduk di kursi ruang tamu. Rizal mengambilkan minuman untuk Dinda dan Yuki. Lalu mereka bertiga membicarakan tentang rencana Dinda untuk kedepannya.


Rizal dan Yuki pun setuju dengan rencana yang di buat Dinda. Bahkan mereka berdua bersedia membantu apapun yang di butuhkan Dinda di kemudian hari.


Sungguh beruntungnya Dinda memiliki kekasih seperti Rizal dan juga memiliki sahabat seperti Yuki. Walaupun mereka akhir-akhir ini jarang bersama, tetapi persahabatan tidak mengenal jarak dan waktu. Mereka saling melengkapi dan juga mengisi kegundahan hati. Itulah namanya sahabat, tidak mengenal waktu dan materi.


*****


Setelah Sholat Isya, Dinda dan Yuki berpamitan kepada Rizal. Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Yuki mengantarkan Dinda pulang kerumahnya. Karena umur Yuki sudah genap 18 tahun, jadi dia sudah punya SIM dan bebas bepergian kemanapun dengan mobil kesayangannya.


Sesampainya Dinda di rumah, ia masuk ke dalam dan di lihatnya Anton dan Loren sedang makan malam. Tanpa menyapa, Dinda langsung berjalan menaiki anak tangga. Anton pun hanya memandangnya dengan kesal.


"Non Dinda gak makan malam dulu?" Tanya Inah yang melihat Dinda.


Pikiran Anton mulai kacau, berpikiran negatif tentang Dinda. Rasa marah, cemburu membuatnya tidak lagi ingin makan. Ia pun menghentikan makannya dan membanting sendok dan garpu pada piring, hingga membuat Loren kaget.


"Oren, sorry aku gak bisa antar kamu pulang. Kamu pulang sendiri pakai taksi online ya!" Suruh Anton dan meninggalkan Loren sendirian di meja makan.


"Anton! Kamu......." Sahut Loren yang belum selesai berbicara tetapi Anton sudah naik ke atas masuk ke kamar Dinda.


Dengan kesal Loren menyudahi makannya dan keluar dari rumahnya Anton. Ia menyadari kalau Anton sudah jatuh hati dengan Dinda, dia yakin cemburu atas perkataan Dinda yang mengatakan bahwa dia sudah makan malam bersama Rizal.


Sementara Anton masuk ke dalam kamar Dinda dan menutup pintunya dengan keras, hingga membuat Dinda yang sedang berganti pakaian terkejut. Anton mendekati Dinda yang sedang setengah telanjang, lalu Dinda mendorongnya dengan kasar.


Dengan amarahnya, Anton mulai mencium bibir Dinda dengan kasar. Dinda berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangannya sang kakak, tetapi semakin Dinda memberontak, semakin kasar Anton menciumi bibir dan lehernya. Dinda benar-benar tidak mengenal sikap Anton yang begitu kasar.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankan gadis nakal sepertimu hanya menginginkan hal ini. Apa kurang puas denganku, sehingga kamu melakukannya dengan Rizal ha!" Teriak Anton sambil meneteskan air matanya.


"Kakak.... aku benar-benar....." Kata-kata Dinda yang belum selesai tapi bibirnya sudah di bungkam dengan bibirnya Anton.


Dengan agresif Anton mencium dan memainkan tangannya secara bersamaan. Dinda seperti orang bodoh yang menikmati setiap sentuhan dan gerakan dari Anton. Tanpa ia sadari, sang kakak sudah tanpa sehelai benang pun di badannya.


Ia merasakan benda kenyal di bagian selakangnya. Entah kenapa Dinda malah menikmati semua permainan dari Anton, hingga benda kenyal itu menusuk masuk ke bagian sensitifnya.


Setiap hentakan adalah kenikmatan bagi mereka berdua. Amarah, keinginan menjadi satu hingga membuat mereka lupa diri. Dinda melayani Anton dengan keagresifan dan keahliannya hingga mereka berdua merasakan di ujung kenikmatan.


"Apakah Rizal lebih jago dariku?" Tanya Anton dengan senyum sinis.


"Aku ti......." Lagi-lagi Anton membungkam bibir Dinda dengan bibirnya.


Seakan-akan ia tidak ingin mendengar jawaban dari Dinda yang mungkin akan membuatnya sakit hati. Sehingga ia memotong setiap Dinda ingin menjawab pertanyaannya.


Karena amarahnya, Anton benar-benar tidak membiarkan Dinda istirahat. Dia melakukan hubungan intim dengan keagresifan nya. Entah tenaga dari mana ia dapatkan, hingga membuatnya melakukan berkali-kali.


"Kakak cukup! Aku sudah tidak kuat lagi." Kata Dinda yang kelelahan.


"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan!" Sahut Anton dengan nada tinggi.


Karena ia benar-benar kelelahan, Dinda pun hanya pasrah terlentang di atas ranjang. Membiarkan Anton memainkan tubuhnya sesuka hatinya. Anton yang melihat Dinda terkulai lemah pun langsung menghentikan aktivitasnya.


Ia mencium kening Dinda dan tiduran sambil menangis di sampingnya. Dalam lubuk hatinya, Anton tidak ingin kasar dengan Dinda. Tetapi karena prasangka-prasangkanya yang tak berdasar, hingga membuatnya tega menyakiti Dinda.


"Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan membiarkan pulang sendiri! Kenapa Din, kamu tega ngelakuin itu hiks..." Batin Anton menangis.


Anton menyadari bahwa dirinya mulai menyukai Dinda. Ia mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Ia ingin menerima janin yang ada di kandungan Dinda sebagai anaknya. Dia tidak ingin menyakiti Dinda lagi, ingat dengan janjinya yang akan selalu menjaganya dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Malam itu setelah lelah melakukan hubungan intim dengan Dinda. Pikiran Anton mulai jernih, ingin mengatakan kepada Dinda bahwa dia akan menerima janin itu, walaupun jika nanti janin itu bukanlah darah dagingnya.


Bersambung....


__ADS_2