
Akhirnya Anton bisa bernafas lega. Karena pak Haikal dan Lisa mendekam di penjara. Merekalah pelakunya atas jatuhnya Dinda dari tangga hingga membuat calon bayinya meninggal. Hanya karena bisnis dan uang, membuat mereka berdua rela menghalalkan segala cara untuk membuat perusahaan Anton hancur dan Anton menderita.
"Maaf ya sayang, tadi aku sudah bersikap cuek sama kamu," Anton meminta maaf kepada Dinda atas sikapnya yang sedikit menjengkelkan.
"Kamu tahu tidak, tadi pas dipersidangan aku mau nangis karena sikapmu yang sama sekali tidak peduli sama aku!" sahut Dinda dengan cemberut.
"Iya maaf, kakak salah," Anton memeluk Dinda dengan erat.
Karena mereka merasa lapar, Dinda pun pergi kedapur dan mengambilkan makanan untuk Anton dan dirinya. Inah pun keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan di dapur. Inah pun terkejut, karena dia melihat Dinda dan Anton sudah pulang.
"Kalian sudah pulang?" tanya Inah terkejut.
"Iya baru saja kita pulang. Mbak Inah istirahat saja, biar aku nanti yang beresin," jawab Dinda.
Baru saja Inah hendak masuk ke kamarnya, tiba-tiba suara bell pintu berbunyi. Dengan segera Inah pergi untuk membukakan pintu. Sebelum ia membukakan pintu, Inah lebih dulu mengecek siapa yang datang dari lubang pingu. Senyumnya mengembang, karena ia mengenali orang tersebut.
"Mas Dimas!" Inah membukakan pintu.
"Inah, apa kabar?" tanya Dimas tersenyum sambil memberikan sesuatu pada Inah.
"Baik Mas, silahkan masuk!" jawab Inah tersenyum malu.
Hampir dua bulan lamanya Dimas tidak menampakkan batang hidungnya, bahkan dia sama sekali tak memberi kabar kepada Inah ataupun Anton. Beruntung, Inah tak marah kepadanya. Karena sejak Dimas pulang kerumah orangtuanya, Inah menyadari bahwa dirinya tidak ingin kehilangan Dimas.
"Siapa yang datang Mbak?" tanya Anton yang baru selesai makan.
"Mas Dimas yang datang Den," jawab Inah sambil mengambilkan minum untuk Dimas.
"Wah... lama gak ada kabar, aku pikir mau jadi laki-laki pecundang!" kata Dinda yang langsung beranjak dari duduknya.
Mereka semua pun duduk di ruang tamu, mengobrol kesana kemari dan menceritakan tentang masalah mereka masing-masing. Ternyata, selama hampir dua bulan, Dimas mempelajari perusahaan ayahnya. Karena itu salah satu syarat agar direstui hubungannya dengan Inah.
"Jadi kamu kesini mau ajak Inah bertemu sama Orangtua mu?" tanya Anton ingin tahu.
"Iya, karena Mama ku ingin mengenal Inah dulu," jawab Dimas sambil memandangi Inah.
Kemudian Inah masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia juga berpamitan kepada simbok untuk pergi kerumah Dimas. Terapi, karena simbok sedang tidak enak badan, ia pun tidak bisa menemui Dimas.
Setelah Dimas dan Inah pergi, Anton mengajak Dinda masuk ke kamar. Siang itu ia ingin merayakan atas keberhasilannya menjebloskan Lisa dan pak Haikal ke penjara dengan hukuman puluhan tahun. Walaupun bagi Anton itu belum impas, tetapi setidaknya ia bisa memenjarakan orang yang sudah membuat Dinda dan dirinya menderita.
__ADS_1
"Ah... capek sekali!" keluh Dinda merebahkan badannya di atas ranjang.
"Mandi air hangat biar capeknya hilang," suruh Anton sambil melepaskan bajunya.
"Malas mandi, maunya dimandiin!" kata Dinda menggoda Anton.
Namanya juga Anton, mendapat lampu hijau dari sang istri pun langsung bersemangat. Dengan segera ia menghampiri Dinda yang masih telentang di atas ranjang sambil memejamkan matanya. Tangan Anton yang lincah mulai membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan Dinda.
Dinda yang merasa lelah pun membiarkan Anton melakukan apa yang ia inginkan. Hingga tak terasa, hanya tertinggal pakaian dalam yang melekat ditubuh Dinda.
"Sayang, kamu mau mandi sekarang atau nanti?" tanya Anton sambil menciumi telinga Dinda.
"Nanti saja, sekarang aku ngantuk dan ingin tidur," jawab Dinda tanpa membuka matanya.
"Gak boleh tidur sekarang, kita bikin Anton junior dulu!" kata Anton yang mulai melakukan aksinya.
Karena serangan-serangan yang dilakukan oleh Anton di daerah sensitifnya, rasa kantuk pun berubah menjadi rasa yang membuatnya seperti melayang. Walaupun matanya masih terpejam, tetapi ia sangat menikmati permainan Anton yang terus menerus menyerang di bagian bawah.
Dinda yang sudah tidak bisa mengendalikan diri pun langsung beranjak, mengganti posisinya di atas tubuh Anton. Dengan agresif, Dinda melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Anton terhadapnya.
"Ah... kenapa kamu menggigitnya?" Anton kesakitan karena Dinda menggigit bagian dari tubuhnya.
"Maaf sayang, soalnya milikmu menggemaskan hehe..." Dinda berhenti melakukan aktivitasnya dan tersenyum menatap wajah sang suami yang terlihat tampan.
"Sini, aku balas gigitan mu!" Anton dengan segera menindih tubuh Dinda dan mulai membuat Anton junior.
Tak bisa dipungkiri bahwa hubungan suami-istri dalam pernikahan sangat penting karena akan memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Hubungan suami-istri dalam pernikahan juga bisa meningkatkan bonding karena mampu merekatkan emosi dan perasaan satu sama lain.
Jika suami istri melakukan hubungan suami-istri secara teratur, hormon dalam tubuh akan seimbang. Keseimbangan hormon ini mengatasi masalah emosional lainnya seperti depresi dan kecemasan dan juga meningkatkan kesuburan.
Berhubungan suami-istri secara teratur sangat bermanfaat bagi tubuh dan membuatnya tetap bugar dan termotivasi. Hubungan suami-istri sangat penting bagi setiap manusia dan tanpa berhubungan suami-istri, itu mengganggu mekanisme alami dalam tubuh. Dalam suatu hubungan, cinta dan **** berjalan bersama.
Hubungan suami-istri sama pentingnya dengan cinta. Tanpa melakukan hubungan suami-istri, jangan berharap memiliki hubungan yang sehat.
"Jangan tidur dulu, ayo mandi!" ajak Anton yang melihat Dinda kelelahan.
"Mandinya nanti saja, aku capek dan ngantuk!" Dinda menolak, karena dia benar-benar capek dan kantuk.
Karena Anton tidak mau Dinda tidur dalam keadaan belum mandi, ia pun dengan segera membopong Dinda masuk kedalam kamar mandi. Beberapa kali Dinda memprotes dan memberontak, tetapi tetap saja Anton menyiramkan air di kepalanya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya, Dinda pun akhirnya bisa tidur siang juga. Sedangkan Anton membuka laptopnya, mengecek email yang masuk.
*****
Setelah makan malam, Dinda dan Anton langsung masuk ke kamarnya. Karena simbok masih tidak enak badan, malam itu mereka beli makanan dari luar.
"Siapa yang datang?" tanya Anton pada Dinda.
"Gak tahu, mungkin Inah," jawab Dinda sambil memainkan ponselnya.
Mereka berdua pun melihat dari jendela kamarnya dan benar saja, dilihatnya Inah yang baru saja keluar dari dalam mobil. Melihat mereka sedang berduaan, membuat Dinda merasa iri. Karena dia tidak mengalami masa-masa pacaran seperti itu dengan Anton.
"Ih... bikin iri saja! Aku juga ingin pacaran seperti itu," rengek Dinda seperti anak kecil.
"Kita setiap hari juga pacaran terus, malah kita sudah halal! Apa yang kamu iri kan dari orang pacaran, yang ada orang pacaran tuh dosa!" sahut Anton dengan lugas.
"Iya aku tahu, tapi kayaknya ingin aja seperti itu hehe.." Dinda tersenyum memandangi Inah dan Dimas dari jendela kamarnya.
Mendengar perkataan Dinda, Anton pun segera menutup jendela dan mencium Dinda dengan mesra. Ia ingin membuat Dinda merasakan betapa besar cintanya yang ia berikan untuk Dinda.
Perlahan Anton mendorong tubuh Dinda hingga ia terlentang di atas ranjang. Sambil membisikkan kata-kata romantis, Anton pun menciumi bibir Dinda penuh dengan perasaan. Mendengar kata-kata romantis yang Anton ucapkan, membuat Dinda tertawa terbahak-bahak.
"Kok malah tertawa?" Anton menghentikan aksinya dan memprotes kepada Dinda.
"Sejak kapan Kak Anton tahu kata-kata romantis seperti itu haha?" Dinda tertawa sampai perutnya sakit.
"Ah, yasudah lah aku tidur saja!" Anton merajuk.
Dinda pun segera memeluknya dari belakang dan mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.
Bersambung....
*Hai Kak, maaf ya updatenya telat terus🙏
Oh iya, aku buat cerita kisah Inah dan Dimas loh,
karena Lebaran sudah berakhir, aku usahakan untuk update rutin. Terima kasih atas dukungannya.
Jangan lupa baca juga novel berjudul* "Kisah Inah dan Dimas"
__ADS_1