
Inah baru saja kembali dari toilet, wajahnya kini sudah polos tanpa riasan, karena dia sudah mencuci bersih wajahnya. Dimas pun melihat ke arahnya dengan tatapan mengagumi. Walaupun tanpa riasan, wajah Inah tampak bersih tanpa jerawat. Mungkin karena seringnya Inah membasuh wajahnya dengan air wudhu, sehingga wajahnya berseri walau tanpa riasan apapun.
"Inah, duduk sini!" suruh Dimas sambil menarik tangan Inah.
"Aku di sini saja Den, maksudku Mas." tolak Inah yang saat itu memilih berdiri tak jauh dari Dimas.
Karena Inah benar-benar merasa canggung saat berada di dekat Dimas, ia pun memilih untuk menjaga jarak. Dan sepertinya Dimas paham akan hal itu, jadi ia tidak mau memaksakan Inah untuk duduk di dekatnya. Padahal dalam hati Dimas berasa gemas dengan tingkah Inah yang sangat polos, ingin mencubit pipi tembemnya.
Sedangkan Anton yang baru selesai memakan sarapannya pun menghampiri mereka berdua. Dari raut wajah Anton terlihat ia sangat lelah, karena semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Dinda yang tak kunjung sadarkan diri.
"Bro! Aku minta tolong, sementara ini urus perusahaan dulu. Aku ingin menemani Dinda sampai ia sadar." kata Anton kepada Dimas.
"Tenang saja Bro! Aku akan melakukan yang terbaik." sahut Dimas dengan yakin.
Inah menoleh ke arah mereka berdua, mendengarkan percakapan antara Anton dan Dimas.
"Biar aku saja yang menemani non Dinda den, Aden pulang istirahat dulu. Lihat itu wajah den Anton, pucat kayak gitu." suruh Inah yang merasa kasihan terhadap Anton.
"Tidak apa-apa mbak! Mbak Inah pulang saja, kalau aku butuh sesuatu nanti aku telepon kamu ok!" tolak Anton yang ingin selalu menemani Dinda.
Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba seorang suster penjaga datang menghampiri mereka. Suster itu memberitahu bahwa, pasien boleh di jenguk tetapi hanya satu orang yang boleh masuk ke dalam. Anton pun segera berdiri dan berjalan mengikuti suster tersebut dengan semangat.
Sebelum masuk ke ruang ICU, Anton terlebih dahulu mensterilkan badannya dan mengenakan pakaian khusus. Ketika pintu terbuka, Anton berjalan perlahan menghampiri Dinda. Tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi pipinya. Di raihnya tangan Dinda dan ia duduk di sampingnya. Tak ketinggalan ia mengecup kening Dinda dengan lembut.
__ADS_1
"Dinda, ini kakak. Cepatlah sembuh, kakak sudah sangat merindukanmu." bisik Anton di telinga Dinda.
"Setelah kamu sembuh, kakak berjanji akan membawamu keliling Eropa." imbuhnya lagi dengan air matanya tak berhenti mengalir.
Rasa pilu membuatnya tidak bisa menguasai dirinya untuk tidak menangis. Begitupun dengan Inah yang melihat mereka berdua dari balik kaca pun ikut menangis. Sedangkan Dimas hanya bisa memandangi Inah, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Karena memang sebelumnya dia tidak pernah memenangkan seorang wanita yang sedang menangis, jadi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Satu jam sudah Anton berada di ruang ICU bersama Dinda, seorang suster pun menyuruhnya untuk segera keluar. Dengan berat hati, Anton pun keluar dengan perasaannya yang sedih. Dia tidak tega melihat orang yang ia cintai tergeletak lemah tanpa orang di sampingnya.
"Maaf Tuan, jam jenguk sudah selesai. Pasien bisa di jenguk lagi nanti sore." kata suster tersebut.
"Baik sus, Terima kasih." sahut Anton yang langsung keluar dari sana.
Melihat Anton yang kacau seperti itu membuat Dimas prihatin. Merasa kasihan karena tak henti-hentinya Anton menerima cobaan. Dari kehilangan kedua orangtuanya, meninggalkannya sang nenek, bahkan calon buah hatinya pun baru beberapa hari yang lalu juga meninggal dan sekarang istri yang Anton cintai berbaring tak berdaya.
"Bro! Aku ke kantor dulu ya!" pamit Dimas kepada Anton.
"Mbak Inah, kamu pulang saja, biar aku saja yang jagain Dinda." imbuh Anton menyuruh Inah pulang.
"Baik Den! Oh ya den, nanti untuk makan siang den Anton ingin makan apa?" tanya Inah yang tampak terlihat sedih.
"Nanti aku bisa makan di luar." jawab Anton sambil memandangi Dinda dari balik kaca.
Dimas pun mengantar Inah pulang kerumah, lalu ia pergi ke kantor untuk mengurus perusahaannya Anton. Karena sudah beberapa hari Anton tidak datang ke kantor dan ia khawatir jika perusahaan mengalami penurunan penjualan. Walaupun Dimas tak pandai-pandai mengatur perusahaan, tetapi setidaknya ia mengetahui langkah-langkah apa yang harus ia lakukan dalam perusahaan.
__ADS_1
Sesampainya Dimas di kantor, ia langsung masuk ke ruang kerjanya Anton. Dengan segera, ia memanggil Loren untuk menemuinya. Dia meminta semua laporan yang belum sempat Anton tandatangani. Loren pun langsung menghadap ke Dimas yang saat itu sudah duduk di kursi kebesarannya Anton.
Plok plok plok.....
Suara tepukan Dimas saat melihat Loren masuk ke dalam ruangan.
"Ternyata kamu punya nyali besar juga ya! Membunuh seorang bayi yang tak berdosa dan membuat Dinda sekarat. Tetapi kamu tanpa bersalah masih bekerja di sini dan mengambil gaji. Sungguh hebat kamu Loren!" kata Dimas tersenyum sinis.
"Aku berani bersumpah, kalau aku bukanlah pelakunya!" sahut Loren sambil meletakkan berkas-berkas di meja kerjanya Anton.
"Penjahat mana ada yang ngaku! Jika bukan kamu pelakunya, siapa lagi? Kamu satu-satunya orang yang punya dendam dengan Anton dan Dinda!" tuduh Dimas dengan yakin.
Saat itu Loren hanya bisa menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Ia menahan dirinya untuk tidak terpancing amarahnya, karena perkataan Dimas yang terus-menerus menuduhnya. Saat ini Loren hanya bisa bersabar dan berusaha untuk menyelidiki siapa pelaku sebenarnya, agar dia tidak di salahkan lagi.
Sampai hilangnya nyawa, itu berarti bukan masalah sepele lagi. Masih beruntung Anton tidak melaporkan kecelakaan itu kepada polisi, karena di setiap rekaman CCTV itu menunjukkan bukti kuat jika Loren adalah pelakunya. Tetapi Loren tidak merasa bahwa ia pelakunya, jadi ia akan menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
"Untuk saat ini kamu dan semuanya boleh menyalahkan ku, tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan sesuatu, hingga terkuak kebenarannya." ujar Loren sambil mengambil berkas di meja yang sudah dicek oleh Dimas.
"Ok, aku tunggu pembuktiannya! Ingat, jika dalam sebulan ini kamu tidak menemukan kebenarannya, Anton akan melaporkan masalah ini kepada pihak berwajib." sahut Dimas mengancam.
"Oh iya, berkas-berkas itu sepertinya tidak valid. Tolong buat laporan baru dari bulan lalu." imbuh Dimas yang mendapati laporan itu ada yang tidak beres.
Tanpa menanggapi perkataan Dimas, Loren pun langsung keluar dari ruangan. Ia menemui ketua team dan menyuruhnya untuk membuat laporan dari bulan lalu. Dengan kekesalannya, ia langsung kembali ke tempat kerjanya dan duduk sambil menghela nafas.
__ADS_1
Matanya tertuju ke arah Rizal yang saat itu sedang konsentrasi menatap layar komputernya. Loren menaruh kecurigaan terhadap Rizal, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Rizal lah pelaku di balik jatuhnya Dinda dari tangga. Dari gerak gerik Rizal yang tak seperti biasanya dan ketidak pedulinya kepada Dinda, hal itu semakin membuat Loren yakin jika Rizal adalah pelakunya.
Bersambung...