Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton atau Rizal?


__ADS_3

"Rizal, besok kan hari libur! Aku ingin jalan-jalan ke puncak!" Dinda merayu Anton mengajaknya jalan-jalan.


"What! Apa, kamu memanggilku Rizal?" Anton kesal dengan ekspresi marah menjadi satu.


"Enggak, aku tadi panggil nama Kakak kok!" elak Dinda membela.


Dinda tidak sadar jika dia memanggil Anton dengan nama Rizal. Saat itu Anton terkejut dan marah secara bersamaan. Dia yang saat itu sedang duduk di sofa langsung beranjak pergi naik ke lantai dua. Anton masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya, seperti seorang wanita yang sedang marah.


Dinda yang tak ingin Anton marah pun langsung mengikutinya. Ia memohon kepada Anton, agar Memaafkan. Karena tak mendapat respon dari Anton, Dinda pun langsung merangkak di atas Anton dan menggodanya.


"Sayang, maafkan aku! Aku gak sadar kalau aku manggil kamu dengan nama Rizal!" Dinda masih memohon.


"Jangan ganggu aku, aku mau istirahat!" protes Anton sambil mendorong tubuh Dinda hingga membuatnya hampir jatuh di lantai.


"Ih.. ngambeknya kaya perempuan saja!" celetuk Dinda kesal.


Karena Dinda tak berhenti menggangunya, Anton pun keluar dari kamar dan turun kelantai bawah. Di sana ada Dimas dan Inah yang sedang mengobrol di dapur, tetapi Anton yang sedang marah tak menghiraukan keberadaan mereka berdua.


Dinda terus mengikutinya kemanapun dia pergi. Ketika Anton sedang duduk di sofa dan menyalakan TV, Dinda berlarian dan segera duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Inah dan Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Anton dan Dinda.


"Maklum, mereka gak pacaran, jadi sedang dalam masa pubertas kedua!" ujar Dimas sambil memandangi mereka berdua.


"Semoga nanti kita tidak seperti mereka!" sahut Inah yang juga memandangi mereka.


"Tidak apa-apa seperti itu, hal itu adalah bentuk rasa sayang dalam berumah tangga!" kata Dimas menggelengkan kepalanya.


Dengan berbagai cara Dinda merayu agar Anton memaafkannya, tetapi tak ada hasil. Dinda yang saat itu masih duduk dipangkuan Anton pun langsung meluncurkan sebuah ciuman yang cukup agresif di bibir Anton. Inah yang melihatnya pun langsung menutup matanya.


Anton membiarkan Dinda melakukan apa yang ia suka, bahkan Dinda membuat tanda di lehernya. Karena mendapat serangan bertubi-tubi, Anton pun tidak bisa menahannya lagi. Ia membalas ciumannya Dinda dan menggendongnya naik ke atas tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Inah kesini!" Dimas menarik tangan Inah, agar tidak menggangu mereka berdua.


Tetapi karena Dimas menariknya terlalu kencang, kaki Inah tersandung dan tak sengaja jatuh menubruk Dimas. Hingga mereka berdua terjatuh di lantai hingga membuat Inah kesakitan. Karena Inah hendak berteriak, Dimas lebih dulu menutup mulut Inah dengan bibirnya.

__ADS_1


"Inah, maafkan aku!" bisik Dimas meminta maaf.


"Iya gak apa-apa!" sahut Inah mengelus tangannya yang sakit.


Sedangkan Dinda dan Anton tak memperdulikan suara itu, mereka masih menikmati apa yang mereka lakukan sambil berhati-hati menaiki anak tangga. Saat itu Dinda tidak tahu jika ada Inah dan Dimas di dapur, karena memang lampunya samar-samar jadi tak terlihat olehnya.


Jika Dinda tahu ada mereka, pasti dia akan sangat malu. Sesampainya mereka berdua dikamar, Anton langsung merebahkan Dinda di atas ranjang.


"Kamu pandai sekali merayu orang ya!" ujar Anton sambil mencubit hidung Dinda.


"Habisnya kakak marah sama Dinda, aku sudah minta maaf berkali-kali tapi malah dicuekin! Kan Dinda gak suka dicuekin!" sahut Dinda dengan gemas.


Mereka berdua kemudian melanjutkan aktivitasnya yang belum selesai. Sementara di dapur, Inah dan Dimas melanjutkan ngobrol mereka sambil duduk dilantai. Sebenarnya, saat itu Inah masih kecewa karena Dimas tak kunjung melamarnya.


*****


Keesokan harinya, Anton memasang wajah masamnya. Ia duduk di meja makan sambil memakan roti tawar dengan selai coklat. Dimas yang baru keluar dari kamarnya pun langsung menegurnya.


"Kenapa pagi-pagi wajahmu seperti asem Jawa, kecut!" ledek Dimas tertawa kecil.


"Haha... kamu kayak anak kecil saja! Beneran, kamu sudah hilang jati dirimu semenjak menikah dengan Dinda!" Dimas tak henti-hentinya meledek Anton.


Dinda yang saat itu mendengar mereka berdua mengobrol pun hanya bisa tersenyum manis sambil menggoreng kentang. Sedangkan Inah tiba-tiba merasa malu, teringat kejadian semalam dimana Dinda dan Anton sedang bermesraan.


"Mbak Inah, kamu kenapa?" tanya Dinda heran, karena tiba-tiba Inah menutup wajahnya.


"Gak apa-apa Non, ingat kejadian lucu saja!" jawab Inah tersenyum.


"Ah, kirain kenapa kok kamu senyum-senyum sendiri terus," kata Dinda membawa kentang goreng untuk Anton.


Simbok yang baru keluar dari kamar pun berpamitan untuk pergi ke pasar. Dimas sebagai calon menantu yang baik, menawarkan diri untuk mengantarnya. Tetapi, karena simbok berencana mampir kerumah temannya, jadi simbok menolak tawarannya Dimas.


Setelah simbok pergi, mereka semua sarapan pagi. Pagi itu Inah sengaja membuat bakwan jagung, karena semalam Dimas cerita kalau dirinya ingin makan bakwan jagung ketika melihat jagung muda di dalam kulkas.

__ADS_1


"Ini di makan dulu bakwannya, katanya mau makan bakwan jagung!" suruh Inah sambil meletakkan bakwan jagung di meja.


"Terima kasih Inah, kamu memang istri idamanku! " puji Dimas dengan gemasnya.


Melihat Inah yang terlihat romantis pun membuat Dinda juga ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Inah. Dipandanginya Anton yang saat itu masih makan roti tawarnya, lalu ia menyodorkan sepiring kentang goreng di dapan Anton.


"Sayang, ini kentang gorengnya. Aku yang goreng sendiri loh, khusus buat kamu!" kata Dinda dengan gemasnya.


"Siapa yang minta kentang goreng? Sana, kasih sama Rizal saja!" sahut Anton dengan kesal.


"Ih.. sayang kok masih marah sih! Kan Dinda sudah minta maaf!" Dinda merayu Anton.


Padahal semalam mereka berdua sudah baikan, bahkan sudah melakukan hubungan suami-istri. Tapi, pagi-pagi bangun tidur Anton mulai marah lagi, karena masih tidak terima dipanggil dengan nama Rizal.


Karena masih kesal, setelah roti tawarnya habis dimakan, Anton pun langsung naik ke atas. Tapi kali ini Dinda tidak memperdulikannya, ia dengan santai memakan kentang gorengnya dengan dicolek saus pedas. Karena dia sudah tahu bagaimana mengatasi Anton yang sedang marah.


"Semalam aja, pada ciuman sampai gak lihat orang, sekarang marahan lagi!" kata Inah keceplosan, sambil menutup mulutnya.


"Hah, memangnya semalam Mbak Inah lihat?" tanya Dinda terkejut.


"Ya lihat lah! Dari sofa sampai naik ke atas, kita lihat semua!" sahut Dimas tersenyum meledek.


Dinda pun merasa malu setengah mati, makanan yang belum habis ia makan pun langsung ia tinggalkan begitu saja. Dengan buru-buru ia naik ke atas, pergi ke kamarnya. Anton yang saat itu sedang berganti pakaian pun merasa heran dengan apa yang terjadi dengan Dinda. Kara Dinda langsung masuk kedalam selimut.


Karena merasa heran, Anton pun langsung membuka selimutnya dan menanyainya apa yang sedang terjadi, hingga membuat Dinda bertingkah aneh.


"Ya! Kamu kenapa?" tanya Anton sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Dinda.


"Jangan dibuka! Aku mau tidur!" Dinda menarik selimutnya kembali.


"Yasudah, tidur sana!" sahut Anton dengan kesal.


Kemudian Anton turun kebawah untuk menanyakan kepada Dimas, apa yang terjadi pada Dinda. Setelah tahu alasan Dinda bersikap seperti tadi, Anton pun tertawa terbahak-bahak. Karena ia merasa sang istri sangat menggemaskan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2