Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Hari ini Anton menemui rekan bisnisnya, Bapak Handoko. Pemilik perusahaan yang berjalan disebuah bidang periklanan. Tanpa basa-basi Anton langsung menyodorkan isi rekaman CCTV yang ia dapat dari tetangganya.


"Maksudnya apa ini?" tanya pak Handoko kebingungan.


"Bukankah itu mobil milik Anda?" tanya Anton balik.


"Iya, itu mobil saya, tetapi itu sudah saya jual satu bulan yang lalu," jawab pak Handoko yang tampak kebingungan.


Pak Handoko memberitahu Anton dimana ia menjual mobilnya. Dari awal memang Anton tidak percaya jika pak Handoko yang melakukan hal bodoh dengan mencelakai Dinda. Apalagi, pak Handoko adalah salah satu teman ayahnya, jadi tidak mungkin dia melakukan hal itu.


Setelah dapat informasi dari pak Handoko, Anton memberitahu detektif bayarannya untuk mencari tahu, siapa pembeli mobil pak Handoko di dealer B. Ia berharap, agar pelakunya dapat segera ditangkap.


"Kalau begitu saya pamit dulu, maaf sudah mengganggu istirahat Anda!" Anton berpamitan pulang.


"Tidak apa-apa! Jika butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahuku," kata pak Handoko sambil berjabat tangan dan memeluk Anton.


Khawatir Dinda mendapat teror lagi, Anton pun langsung pulang kerumah untuk menjemput Dinda. Anton berencana mau mengajak Dindaa kerja di kantor. Karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor.


Ketika ia sampai di rumah, Anton tak dapat menemukan Dinda. Karena dia selalu membawa kunci sendiri, jadi tidak ada yang tahu jika dia pulang. Anton sudah mencari Dinda di semua ruangan, tetapi ia tak menemukannya.


"Dinda!"


"Mbak Inah!"


"Mbok, Simbok!"


Betapa ketakutannya Anton saat tidak menemukan Dinda dimana-mana. Ketika ia sedang berlari menuruni anak tangga, tiba-tiba Dinda keluar dari kamarnya Inah sambil memeluk bonekanya.


"Kak Anton memanggilku?" tanya Dinda dengan polos.


Belum juga Anton menjawab pertanyaannya Dinda, malah ia lebih dulu memeluknya. Rasa khawatir membuatnya menjadi takut. Apalagi setelah adanya teror, hal itu semakin membuatnya khawatir jika meninggalkan Dinda di rumah.


"Cepetan ganti baju!" suruh Anton.


"Kita mau kemana Kak?" tanya Dinda penasaran.


"Kamu ikut Kakak kerja!" jawabnya sambil mengelus rambut Dinda.


Dinda pun mendengus kesal, ia pikir Anton akan mengajaknya jalan-jalan, tetapi malah mengajaknya ikut kerja dengannya. Walaupun kesal, Dinda tetap nurut mengganti pakaiannya dan ikut pergi dengan Anton ke kantor.

__ADS_1


Ketika mereka berdua hendak pergi, Anton mendapati wajah Inah yang terlihat sedang tidak bersemangat. Tidak ada senyuman diwajahnya, seperti biasanya. Anton pun menegurnya dan sedikit meledek.


"Aduh Mbak Inah, baru ditinggal sehari saja mukanya sudah kayak ditekuk gitu! Semangat dong Mbak, kan Dimas pulang demi mempersiapkan untuk melamar kamu!" ledek Anton tersenyum geli.


"Iya, dari tadi pagi Mbak Inah gak asyik! Diajak ngobrol malah akunya dicuekin terus, kayaknya lagi kangen Kak Dimas tuh!" Dinda ikut ngeledek Inah.


"Apa sih Den, Non, aku lagi ngantuk saja!" sahut Inah berbohong.


Kemurungan Inah sebenarnya karena ia merasa khawatir. Khawatir jika orangtuanya Dimas tidak memberi restu kepada Dimas untuk menikahinya. Secara, Inah sadar diri karena status sosial mereka sangatlah berbeda.


Anton dan Dinda menasihati Inah agar tidak memikirkan hal itu. Kalaupun orangtuanya Dimas tak merestui hubungan mereka, pasti Dimas akan melakukan sesuatu agar mereka bisa bersama. Anton sebagai sahabatnya, ia tahu betul jika Dimas sangat mencintai Inah.


"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, Dimas pasti akan melakukan semua cara untuk bisa menikahi mu," Anton menyemangati Inah.


"Iya, Terima kasih Den!" sahut Inah.


Anton dan Dinda pun pergi ke kantor dengan menggunakan mobil sportnya. Karena mobil yang biasa ia bawa ke kantor masih di bengkel untuk diperbaiki.


*****


"Anton, ini berkas-berkas yang kamu minta," Loren menyodorkan berkas itu di meja.


Loren pun membalikkan badannya, ia berdiri di samping Anton dan membungkuk menjelaskan apa yang Anton kurang paham. Kepala mereka saling berdekatan, bahkan sangat dekat. Karena sangking seriusnya mereka berdua, hampir saja mereka berciuman ketika Anton menoleh ke arah Loren.


Adegan semua itu disaksikan oleh Dinda yang saat itu sedang duduk di sofa. Betapa kesalnya Dinda saat itu, melihat Anton dekat dengan Loren. Ingin sekali ia memprotes, tetapi rasa gengsinya menutupi rasa cemburunya.


"Oh, berarti ini dari perusahaan B?" tanya Anton sambil menunjuk berkasnya.


"Iya! Kalau sudah selesai, aku pamit keluar dulu ya!" pamit Loren.


"Ok! Terima kasih!" sahut Anton tersenyum kearah Loren.


Sesaat setelah Loren pergi, Dinda langsung beranjak dari duduknya. Karena kesal dia langsung masuk keruang istirahat dengan keras menutup pintu. Anton yang menyadari kekesalan sang istri pun langsung menghampirinya.


"Dinda, kamu kenapa sayang?" tanya Anton duduk di bibir ranjang samping Dilla.


"Tau gini aku di rumah saja! Di ajak ke kantor, malah di suruh nonton suami bermesraan dengan perempuan lain!" Dinda merajuk.


"Oh, jadi kamu cemburu! Maaf sayang maaf, tadi ada beberapa hal yang tidak aku mengerti, jadi aku minta Loren untuk memberitahuku." Anton menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi kenapa kalian dekat sekali mukanya!" Dinda masih saja merajuk.


Melihat Dinda cemburu membuat Anton tersenyum senang. Karena itu artinya Dinda sangat mencintainya. Lalu Anton tiduran di belakang Dinda dan memeluknya dari belakang. Dengan nyaman, Anton menyandarkan kepalanya di punggung belakangnya Dinda.


Kenyamanan membuat Anton ingin berlama-lama di sana. Dinda mengerutkan dahinya, karena Anton tak bergerak. Hembusan nafas Anton yang berat terasa di leher Dinda, hingga membuatnya kegelian.


"Apa kamu tidur?" Tanya Dinda.


"Enggak, aku gak Tidur!" jawab Anton tersenyum sambil memejamkan mata, karena memang ia mengantuk.


Dinda pun membalikkan badannya, ia memandangi wajah Anton yang saat itu sedang memejamkan matanya. Lalu Dinda tersenyum dan memainkan rambut Anton dengan lembut. Semakin Dinda memainkan rambutnya Anton, semakin mengantuk lah Anton.


Kring Kring Kring


Suara ponselnya Anton berbunyi. Dinda memberitahu Anton untuk segera mengangkatnya, karena ia khawatir jika ada hal yang penting. Karena Anton malas untuk beranjak, ia pun menyuruh Dinda untuk mengambilkan ponselnya.


"Sayang, tolong ambilkan ponselku!" suruh Anton dengan mata terpejam.


"Sudah berani nyuruh-nyuruh ya!" protes Dinda tapi ia tetap mengambilkan ponselnya Anton.


Dengan segera Dinda turun dari ranjang dan mengambilkan ponselnya Anton. Dan benar saja, penelpon itu dari detektif yang disuruh Anton untuk mencari tahu pemilik mobil yang hampir menabrak Dinda. Dan Anton pun segera mengangkat panggilan itu.


"Baik! Kamu kumpulkan barang buktinya dan berikan kepadaku segera!" kata Anton menyudahi panggilan itu.


Wajah yang tadinya sangat mengantuk, setelah menerima panggilan itu, mata Anton langsung terbuka lebar. Bahkan raut wajah Anton terlihat marah.


"Kenapa Kak, kok kayaknya marah gitu?" tanya Dinda yang penasaran.


"Gak apa-apa, cuma detektif ngasih info saja!" jawab Anton merahasiakan.


"Apa sudah tahu pelakunya?" tanya Dinda lagi.


"Belum pasti, masih dalam penyelidikan," jawab Anton yang sebenarnya sudah tahu pelakunya.


Dinda pun memanyunkan bibirnya, menandakan sebuah kekecewaan karena pelakunya belum ketahuan. Sedangkan Anton langsung melingkarkan tangannya di pinggang Dinda dan menciumnya mesra.


Mereka berdua pun menikmati momen-momen berdua mereka dengan penuh kemesraan. Karena masih banyak hal yang harus ia kerjakan, Anton pun mulai melakukan pekerjaannya lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2