
Dimas pulang kerja mampir ke rumah sakit, karena dia tahu kalau Inah ada di sana. Karena saat ini Dimas tinggal dirumahnya Anton. Jadi ia ingin menjemput Inah untuk pulang bersamanya.
"Bagaimana urusan kantor Bro?" tanya Anton yang ingin tahu.
"Mbak Lisa mengundurkan diri, tapi aku memintanya untuk stay selama dua Minggu. Nunggu penggantinya," jawab Dimas memberitahu.
Sedikit kaget Anton mendengar jika Lisa mengundurkan diri, karena Lisa pernah merengek-rengek minta dinaikkan gajinya dan berjanji akan bekerja lebih giat lagi. Anton merasa dikhianati oleh langkah yang di ambil Lisa yang dengan mudahnya mengundurkan diri.
"Tetapi, apa alasannya mengundurkan diri?" tanya Anton penasaran.
"Katanya, suaminya menyuruh Lisa mengurus anaknya saja di rumah!" jawab Dimas sesuai apa yang dikatakan Lisa kepadanya.
Anton mengerutkan dahinya, karena setahunya, suami Lisa hanya bekerja sebagai proyek bangunan dan Lisa pernah bilang kepadanya kalau gaji suaminya tidaklah cukup. Bahkan, terkadang suaminya Lisa menganggur jika tidak ada proyek dan Lisa memiliki pengasuh untuk mengurus anaknya. Tapi, bagaimana bisa suaminya menyuruhnya berhenti untuk bekerja, sedangkan gaji Lisa lebih banyak dari suaminya.
"Coba kamu cari tahu tentang pekerjaan suami Lisa. Kok aku merasa ada yang aneh dengan pengunduran diri Lisa," suruh Anton yang merasa janggal.
"Yup! Itu juga sama yang aku rasakan, ada kejanggalan. Laporan-laporan perusahaan juga tidak sesuai, seharusnya dia sebagai ketua team tahu permasalahan-permasalahan dalam perusahaan. Tetapi, dia malah mengundurkan diri di saat seperti ini," ujar Dimas yang setuju kalau ada kejanggalan.
Selesai berdiskusi tentang perusahaan, Dimas pun mengajak Inah untuk pulang. Karena sedari tadi Inah hanya diam di sudut sofa sambil memainkan ponselnya. Hal itu membuat Dimas merasa kasian. Rasa cintanya semakin dalam kepada Inah dengan seiringnya waktu.
"Bro, besok aku gak kesini ya, aku langsung kekantor. Gara-gara ngurusi perusahaan mu, membuatku ingin pulang kerumah dan ingin mengelola perusahaan orangtuaku sendiri." kata Dimas yang berpamitan ingin pulang.
"Aku sangat berterimakasih Bro! Kalau gak ada kamu, aku gak tahu jadi apa perusahan ku. Nanti kalau Dinda sudah sembuh, kamu pulanglah dan dengarkan apa kata Ayahmu," Anton memeluk Dimas berterimakasih.
Lalu Dimas mengajak Inah untuk pulang. Tanpa malu-malu lagi, Dimas menggandeng tangan Inah tetapi Inah berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan Dimas. Karena ia merasa malu bermesraan di hadapan orang lain, apalagi dihadapan Anton.
Anton yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa tersenyum. Namanya juga sedang dimabuk asmara. Anton pun tiba-tiba rindu dengan Dinda yang begitu menggemaskan kalau sedang manja. Dengan menghela nafas, Anton pun langsung pergi untuk melihat Dinda dari balik kaca.
*****
__ADS_1
"Mas Dimas, lepasin tangannya. Malu dilihatin orang banyak!" protes Inah yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Dimas.
"Siapa yang ngelihatin, tuh Pak satpam hanya menyapa kita!" kata Dimas tersenyum geli.
Saat itu mereka baru keluar dari rumah sakit menuju ke tempat parkiran, tetapi bertemu satpam penjaga dan menyapa mereka. Alhasil, Inah panik bukan main, ia merasa malu dan menarik tangannya dengan kuat.
Polos seperti itulah Inah, di usianya yang menginjak umur 24 tahun tetapi belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Dia yang terlahir tanpa ayah, membuat simbok mendidiknya dengan keras. Lulus SMP, Inah langsung di ajak bekerja oleh simbok.
"Inah, kenapa sih kamu lucu banget!" puji Dimas dengan gemas.
"Lucu apanya Mas? Perasaan biasa-biasa saja!" reaksi Inah saat mendapat pujian dari Dimas sang pujaan hati.
Inah pun menjadi salah tingkah ketika Dimas membantunya memasangkan sabuk pengaman. Dia tak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis sampai sedekat itu, hingga jantungnya berdegup kencang ingin keluar dari tempatnya.
Senyum Dimas lagi-lagi mengembang, ketika melihat Inah salah tingkah. Inah hanya bisa melihat kearah luar sambil menahan rasa malunya yang teramat.
*****
"Aku sedang dimana?" tanya Dinda yang tampak linglung.
"Kamu sedang dirawat di rumah sakit. Sudah seminggu lebih kamu tidak sadarkan diri, karena cidera di otakmu." jawab dokter sambil mengecek detak jantungnya.
Dinda tampak kebingungan dan dokter memeriksa mata dan tenggorokannya. Oksigen pun sudah mulai dilepas, karena Dinda sudah tidak memerlukan alat bantu pernafasan tersebut.
Setelah selesai memeriksa dan hasilnya semua normal, dokter menyuruh suster untuk memanggil Anton yang sedang tidur di ruang inap lantai atas. Untuk memberitahu bahwa pasien sudah sadarkan diri. Suster pun segera pergi untuk memanggil Anton.
"Pak, pasien yang bernama Dinda sudah sadarkan diri. Dokter ingin berbicara sama Bapak," kata suster membangunkan Anton.
"Apa sus? Dinda sudah bangun?" tanya Anton yang tidak percaya, karena matanya berat masih merasa kantuk.
__ADS_1
"Iya Pak, Ibu Dinda sudah siuman," jawab suster mengulanginya lagi.
Dengan semangat, Anton langsung beranjak dari tidurnya. Sebelum ia turun kelantai bawah, dia terlebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membasuh wajahnya. Perasaannya senang bukan main, dia sudah tidak sabar ingin menemui Dinda.
Setelah selesai, Anton langsung turun kebawah menemui dokter yang saat itu masih di ruang ICU. Anton langsung masuk kedalam dan memeluk Dinda yang saat itu masih berbaring di ranjang pasien tanpa ekspresi.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga sayang!" kata Anton sambil memeluk Dinda.
"Kamu tahu, sudah satu Minggu lebih kamu tidak sadarkan diri. Kakak sangat mengkhawatirkan mu tau!" imbuh Anton sambil melepaskan pelukannya.
Dinda yang masih tanpa ekspresi hanya menatap bingung kepada Anton yang tiba-tiba memeluknya. Anton yang melihat Dinda tampak kebingungan pun mulai merasa khawatir dan Anton menoleh kearah dokter.
"Pak Anton, mari keruangan saya. Karena ada yang perlu saya jelaskan dari hasil pemeriksaan saat ini." ajak dokter kepada Anton.
"Baik Dok!" sahut Anton tersenyum.
"Sayang, aku keruangan Dokter dulu ya!" pamit Anton kepada Dinda.
Saat itu Dinda hanya menganggukkan kepalanya ketika Anton berpamitan dengannya. Tatapan mata Dinda masih kosong dan kebingungan. Anton memaklumi hal itu, karena Dinda baru saja siuman dari komanya.
Ketika dokter dan Anton pergi keluar, Dinda ditemani oleh suster penjaga. Dinda pun merasa lapar dan meminta makanan kepada suster. Karena diruang ICU tidak boleh makan, sang suster pun menyuruh Dinda untuk bersabar. Menunggu dokter memindahkannya di ruang inap.
"Suster, aku lapar ingin makan," pinta Dinda seperti anak kecil.
"Maaf Bu, di ruang ICU tidak diperbolehkan untuk makan. Nanti jika Dokter sudah mengijinkan Ibu pindah keruang inap, ibu bisa makan apa saja di sana," ujar sang suster memberitahu
Dinda pun cemberut, karena dia menganggap sang suster pelit, tidak memberinya makanan. Seminggu lebih Dinda tidak sadarkan diri, membuatnya tampak seperti orang linglung. Mungkin karena efek dari obat atau memang dia mengalami gegar otak yang belum sembuh total.
Bersambung....
__ADS_1
Guys.... maaf ya updatenya telat terus, karena urusan dunia nyata juga sangat penting. Oh ya! Othor buat cerita baru loh "Berkah Ramadan" mampir di cerita baruku ya, biar othor semakin semangat update. Terimakasih 🙏