
Pikirannya mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir sang kakak. Pikiran dan hatinya menyatu, mencari jawaban yang tak kunjung ia temukan. Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, cemburu karena cinta atau sekedar tak rela jika sang kakak lebih menyayangi sang kekasih. Terlalu dini jika ia mengatakan rasa itu sebagai rasa cinta, pada dasarnya Dinda belum tahu apa sebenarnya cinta yang sesungguhnya.
Sekitar sepuluh menit Dinda melamun, memikirkan perkataan sang kakak. Sekarang ia paham jika sang kakak memiliki perasaan lebih dari hubungan kakak-adik, yang di namakan cinta. Tetapi dia tidak mengakui bahwa dirinya juga memiliki rasa cinta terhadap Anton.
"Aku merasa tidak suka jika kakak bersikap manis dengan kak Oren. Tapi aku gak tau, itu perasaan cemburu atau mungkin aku tidak rela jika kak Anton lebih perhatian sama orang lain, ketimbang aku." Kata Dinda mencoba mengutarakan perasaannya.
Anton tersenyum, dia sembilan tahun lebih tua dari Dinda. Jadi dia lebih berpengalaman dalam menilai sikap seseorang. Terlebih, ketika Dinda mengatakan bahwa dia tidak suka jika dirinya dekat dengan Loren. Ia menganggap, hal itu adalah awal seseorang mulai ada rasa lebih.
"Kamu tidak perlu menceritakan secara detail tentang perasaanmu. Biarkan waktu yang nunjukin perasaan apa yang kamu miliki untukku. Jika kamu tidak suka kakak dekat dengan Oren, kakak tidak akan melakukan hal itu lagi." Sahut Anton sembari memeluk Dinda.
Dinda pun merasa nyaman berada di pelukan sang kakak. Bau wangi parfum Anton menghipnotisnya untuk tidak melepaskan pelukannya. Baru ia sadari jika sang kakak memiliki tubuh yang atletis. Ia pun semakin mempererat pelukannya.
Sedangkan di lain tempat, Loren sedang menangis di toilet. Ia merasa di permainkan oleh mereka berdua, Anton dan Dinda. Luka di hatinya terkoyak lagi oleh kenyataan pahit yang baru saja di lihatnya. Dendam yang ia kubur dalam, kini ia mulai menggalinya. Mencari cara bagaimana ia bisa membalaskan dendamnya.
Ia pun membasuh air matanya dan keluar dari toilet. Memperlihatkan senyumannya, bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ia pun masuk ke dalam ruangan Anton untuk meminta tanda tangan. Untung saja Anton sudah keluar dari ruang istirahatnya.
"Apakah semua laporan sudah masuk untuk bulan kemarin?" Tanya Anton sambil menandatangani berkas.
"Sudah semua, tinggal di cek lagi." Jawab Loren tersenyum.
Senyumnya mengandung sebuah arti yang hanya Loren yang tahu. Dia bersikap seperti biasanya, bahkan tidak menunjukkan rasa sedihnya sama sekali. Hanya saja, Loren tidak berkata apapun selain berbicara tentang pekerjaan.
*****
Pulang kerja, Dinda dan Anton sedang di parkiran. Dinda yang melihat Rizal pun langsung berpamitan kepada Anton untuk menemuinya. Karena ada sesuatu yang ingin ia katakan kepadanya. Di saat Dinda menemui Rizal, Loren datang menghampiri Anton untuk pulang bareng dengannya.
"Rizal..." Panggil Dinda.
Rizal pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dinda.
__ADS_1
"Ada apa Din?" Sahut Rizal bertanya.
"Aku mau berbicara sebentar." Jawabnya.
Dinda kemudian diam sejenak, mencoba merangkai kata-kata. Ia sedikit gugup, tetapi ia harus berbicara kepada Rizal untuk memperjelas status hubungan mereka. Kebetulan di tempat parkir tidak ada orang, hanya ada Anton dan Loren yang sudah masuk ke dalam mobil. Karena memang para karyawan sudah pada pulang.
"Izal, maafkan aku sudah membuatmu kecewa. Aku terlalu egois, mementingkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu. Kita akhiri hubungan kita sampai di sini dan semoga kamu kelak mendapatkan orang yang tepat untuk kamu sanding." Kata Dinda memutuskan hubungannya dengan Rizal yang tak jelas.
Rizal tidak berkata apa-apa kepada Dinda. Ia membalikkan badannya dan berjalan menghampiri motornya. Di nyalakan motor matiknya dan ia pergi begitu saja meninggalkan Dinda yang masih berdiri di sana.
Bukan tanpa alasan Rizal meninggalkan Dinda, karena dia tidak mau Dinda melihat matanya yang sudah mulai meneteskan air mata. Rizal tidak ingin terlihat lemah di depan Dinda, karena hatinya masih mencintainya. Cintanya sangat tulus, tetapi dia masih terlalu muda untuk menentukan hidupnya. Dia takut jika melanjutkan hubungan dengan Dinda akan semakin merasakan sakit hati. Karena dia tahu, Anton tidak akan melepaskan Dinda begitu saja.
Dengan raut wajah sedih, Dinda berjalan dan hendak masuk ke dalam mobil sang kakak. Ia terkejut ketika melihat Loren sudah duduk di jok depan samping Anton. Ia pun langsung membuka pintu mobil belakang dan masuk ke dalam.
"Kamu kenapa Din?" Tanya Loren.
"Gak kenapa-kenapa kak!" Jawab Dinda yang semakin kesal.
"Hm..."
Dinda benar-benar sedang tidak ingin berbicara. Dia menyandarkan kepalanya pada pintu mobil dan melihat ke arah luar. Di tambah Loren duduk di sebelah Anton, membuatnya semakin tambah kesal.
Akhirnya Loren pun turun dari mobil, Dinda kemudian pindah ke depan. Mulutnya cemberut, bukan karena dia putus dengan Rizal, tetapi karena sang kakak sudah mengijinkan Loren duduk di sampingnya.
"Gimana? Sudah selesai urusanmu dengan Rizal?" Tanya Anton berkonsentrasi nyetir.
"Sudah!" Jawab Dinda ketus.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Sebelum mereka makan, Anton menyuruh Dinda untuk Sholat Isya berjamaah dengannya. Lama tidak Sholat berjamaah, membuat Anton merindukan di cium punggung tangannya oleh Dinda.
__ADS_1
Setelah selesai Sholat, mereka berdua turun untuk makan malam. Dinda, Anton, Inah dan Simbok makan malam bersama dan mereka sudah seperti keluarga sendiri. Inah pun ikut senang melihat Dinda dan Anton akur. Begitupun dengan Simbok yang tersenyum melihat Anton meladeni Dinda makan.
"Nah gitu, akur!" Ledek Inah.
"Apa sih Mbak!" Sahut Dinda yang
Mereka pun makan dengan lahapnya, Anton yang selesai lebih dulu pun naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya. Tentu saja dia tak langsung mandi setelah selesai makan. Dia membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Anton terkejut, ketika Dinda tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Karena Anton masih sibuk, ia pun tidak memperdulikan kedatangannya Dinda.
"Kak, aku boleh mandi sini gak? Kamar mandi di luar, air panasnya gak nyala." Tanya Dinda.
Masih saja Anton tak memperdulikannya, dia masih sibuk dengan laptopnya. Kesal tidak di respon, Dinda pun berjalan mendekati sang kakak yang sedang duduk di ranjang sebelah kanan dan melihat apa yang di lakukan oleh Anton. Ketika ia mencondongkan badannya ke arah Anton, tiba-tiba Anton mencium bibirnya.
Kemudian Anton menutup laptopnya dan menaruhnya di atas nakas. Lalu Anton melanjutkan mencium Dinda yang saat itu sudah duduk di pinggir ranjang.
"Kita mandi bareng ya!" Bisik Anton tepat di telinga Dinda.
Karena merasa geli di daerah telinganya, Dinda pun membalas Anton dengan menggigit bibir bawahnya, hingga membuat Anton berteriak pelan. Hal itu membuat Anton semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih intim lagi.
Mendapat sentuhan di daerah sensitifnya, Dinda pun semakin agresif. Anton pun merasa khawatir jika hal itu mengganggu kenyamanan janin yang ada di dalam kandungan Dinda.
"Sayang, pelan-pelan saja! Takut bayi kita kebangun diri tidurnya." Bisik Anton.
Mendapat panggilan kata 'sayang' membuat Dinda menghentikan aktifitasnya. Ia tersenyum, dia menyukai panggilan barunya. Lalu Anton mengubah posisinya berada di atas Dinda.
Malam itu mereka menghabiskan malam dengan penuh romantis. Mandi bersama, hingga tidur bersama saling berpelukan. Dinda benar-benar merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bersambung....
__ADS_1
Hi guys... novel ini baru beberapa hari berhasil di kontrak. Mohon dukungannya ya, Like dan tinggalkan komentar kalian. Terima Kasih 🙏