
Setiap hembusan nafas yang terbuang, membuat mereka semakin menikmati permainan yang mereka lakukan. Masih di posisi yang sama, Anton mulai kelelahan. Ia menidurkan Dinda di atas ranjang tanpa melepaskan pautan bibir mereka.
Dinda memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan bibir Anton yang terasa lembut. Ketika tangan Anton menyelinap memasuki kaos yang ia pakai, kesadaran Dinda mulai kembali. Ia mendorong tubuh sang kakak yang masih di atasnya, hingga bibir mereka yang berkaitan terlepas.
"Stop kak! Aku gak mau mengecewakan Rizal. Selama ini dia sudah menerima aku apa adanya, aku gak mau ngelakuin ini lagi!" Tutur Dinda sambil menahan tubuh sang kakak agar tidak mendekatinya.
"Tapi kamu masih istri sah ku Din, aku berhak melakukan apa saja atas dirimu. Ok! aku tidak akan menyentuhmu dan aku tidak akan mengganggumu lagi, jika memang Rizal serius denganmu." Ujar Anton penuh dengan kekecewaan.
Anton masih duduk di bibir ranjang sambil menopang kepalanya dengan tangannya, sementara Dinda masih terlentang di atas ranjang. Tiba-tiba dia teringat kata-kata sang nenek, jika menolak ajakan suami, maka Malaikat akan melaknatnya. Dinda pun merasa bersalah, walau bagaimanapun Anton tidak pernah menalaknya.
Karena ia tidak ingin di laknat oleh Malaikat, Dinda pun beranjak dan memeluk Anton dari belakang. Anton pun terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Dinda. Ia pun membalikan badannya, dan saling bertatapan. Melihat Dinda dari jarak yang teramat dekat, membuat jantung Anton berdegup kencang.
Tangan Anton meraih kedua pipi Dinda, ia pun mengecup kening Dinda dengan lembut. Entah kenapa Dinda merasa malu di pandangi oleh sang kakak yang begitu intens. Karena merasa malu, Dinda pun menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu mendekat, jika kamu gak menginginkan hal itu?" Tanya Anton tersenyum.
"Karena aku gak mau di laknat oleh Malaikat!" Jawab Dinda dengan jujur.
Anton tahu jika itu alasan Dinda, ia sendiri tidak mau memaksa Dinda untuk melakukan hubungan badan dengannya. Dia juga tahu kalau Dinda hanya mencintai Rizal, sepertinya tidak ada kesempatan untuk bersama Dinda.
Kemudian ia melepaskan tangannya dari pipi Dinda, Anton berdiri dan berjalan meraih kunci untuk membuka pintu, tetapi Dinda yang tidak ingin di laknat oleh Malaikat, segera menghampiri Anton dan di tariknya tangan Anton hingga tubuh mereka berdekatan.
"Aku mau pul....."
Belum saja Anton menyelesaikan perkataannya, Dinda sudah meraih kepalanya Anton dan mencium bibirnya dengan agresif. Hal itu membuat Anton gelagapan dan mereka pun terjatuh di atas ranjang dengan posisi Dinda di atas badan Anton.
Siapa yang bisa menolak mendapat serangan bertubi-tubi dari wanita yang ia cintai. Tentu saja Anton membalas setiap gerakan yang di lakukan Dinda. Gadis seusia Dinda memang lebih agresif dan memang Dinda tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika ia sudah menitik.
__ADS_1
"Dinda, apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini?" Tanya Anton dengan lirih.
"Aku istrimu, kapan saja kamu bisa melakukan hal ini." Jawab Dinda yang kehilangan kendalinya.
Mendapat lampu hijau dari Dinda, Anton pun bersemangat melucuti pakaian yang di kenakan Dinda, begitupun dengan pakaiannya sendiri. Sehingga mereka berdua tanpa mengenakan sehelai benangpun di badan mereka.
Dengan agresif Dinda menggerakkan tubuhnya, yang menghasilkan ritme naik turun beraturan. Karena Dinda sedang hamil, Anton pun merasa khawatir, lalu ia membalikkan badannya, sehingga Dinda berada di bawahnya.
Perlahan tapi pasti, hingga membuat Dinda melayang tinggi menikmati setiap ritme yang tercipta. Matanya terpejam, sesekali bibir mereka saling bertautan. Hembusan nafas mereka yang memburu, membuat mereka semakin bersemangat dan akhirnya mereka mencapai puncaknya kenikmatan.
"Maafkan Kakak yang egois ini Din!" Ujar Anton lirih di dekat telinga Dinda.
Tak ada sahutan dari Dinda, hingga Anton mengganti posisinya terlentang di samping Dinda. Lalu Anton memeluk Dinda dari arah belakang, mungkin karena kecapekan, Dinda pun tertidur.
Karena Dinda tertidur pulas, Anton yang hanya mengenakan celana boxer berlarian menuju ke toilet sambil membawa pakaiannya. Kebetulan toilet di rumah itu berada di dekat dapur, tak sengaja Inah melihat penampakan Anton untuk pertama kalinya. Untung saja Anton tak melihatnya, sehingga Inah tidak merasa malu.
"Wah.. sepertinya mereka berdua melakukan hal itu! Jadi bingung, Non Dinda pacaran sama Rizal, Den Anton pacaran sama Loren dan mereka juga berencana untuk bercerai. Terus bagaimana ceritanya, sampai mereka berdua kikuk kikuk!" Inah bicara sendiri.
Terdengar suara seseorang membuka kunci kamar mandi, Inah pun dengan buru-buru masuk ke kamarnya agar Anton tidak melihatnya. Anton berjalan keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamar Dinda.
"Din, bangun! Sudah mau Adzan loh, mandi dulu!" Kata Anton membangunkan Dinda.
"Sebentar lagi! Aku masih ngantuk!" Sahut Dinda yang tidak mau di ganggu.
"Kakak mau pergi ke kantor loh! Cepetan bangun!" Imbuh Anton sambil menggoyangkan badan Dinda.
"Kalau mau pergi ya pergi saja, aku mau tidur sebentar lagi." Sahutnya dengan nada kesal.
__ADS_1
Karena Dinda tidak kunjung bangun, Anton pun meninggalkan Dinda sendiri di kamarnya. Sebelum pergi, Anton menyelimuti tubuh Dinda yang masih tanpa busana. Lalu Anton keluar dari kamar dan memanggil Inah.
"Mbak Inah!" Panggil Anton.
"Iya Den, ada apa?" Sahut Inah yang baru keluar dari kamarnya.
Anton menyuruh Inah untuk membangunkan Dinda ketika suara Adzan berkumandang. Dia memberi pesan untuk tidak masuk ke dalam kamar, hanya membangunkan dengan mengetok pintu saja. Karena Anton tidak mau kalau Inah tahu, mereka berdua melakukan hubungan suami-isteri.
Masih banyak pekerjaan di kantor yang harus ia kerjakan, karena sudah seminggu lamanya Loren tidak masuk kerja, hingga membuat Anton keteteran. Untung saja ada Dimas yang sering membantunya, walaupun sering minta tambahan gaji.
Tak lama kemudian Anton sampai di kantor. Ia langsung masuk keruangannya, karena nanti jam dua siang dia ada meeting, jadi harus mempersiapkan apa yang ia butuhkan.
Ketika ia sedang sibuk dengan laptopnya, seseorang mengetuk pintu dan Anton pun menyuruh orang itu untuk masuk. Ternyata orang yang masuk ke dalam ruangannya adalah Rizal. Seketika raut wajah Anton berubah menjadi Dingin.
"Aku dengar, kamu tahu kalau aku dan Dinda menikah dan saat ini Dinda mengandung anakku." Ujar Anton dengan nada Dingin.
"Iya Pak, Saya tahu akan hal itu." Sahut Rizal dengan sopan.
"Lantas kenapa kamu masih mendekati Dinda!" Tanya Anton dengan nada kasar.
Sebelum ia menjawab bertanya dari Anton, Rizal menaruh berkas yang ia bawa untuk di tandatangani Anton ke atas meja dan di sodorkannya di hadapan Anton.
"Karena kita akan menikah setelah kalian bercerai!" Jawab Rizal mulai berbicara informal.
"Sebaiknya kamu segera menjauhinya, karena aku tidak akan menceraikannya. Aku beri kamu pilihan, Jauhi Dinda atau aku pecat kamu!" Ujar Anton mengancam.
"Jika kamu ingin memecat ku, pecat saja! Tapi aku tidak akan menjaga jarak dengan Dinda!" Sahut Rizal yang tak kalah dingin sambil menyerobot berkas di tangan Anton.
__ADS_1
Hal itu membuat Anton kesal. Kalaupun ia memecat Rizal, pasti Dinda marah kepadanya. Di sisi lain Anton benar-benar tidak suka jika Dinda dekat dengan Rizal. Anton merasa bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Bersambung...