Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Di Kantor Memacu adrenalin


__ADS_3

Hari ini Anton mengajak Dinda pergi ke kantor. Agar Dinda tidak bosan di rumah saja. Di saat ia akan memasuki ruangannya Anton, tak sengaja ia menoleh ke arah lain. Hati Dinda goyah lagi, ketika melihat Rizal yang saat itu sedang duduk di kursi kerjanya.


"Dinda, ayo masuk!" ajak Anton.


"Aku ingin minum hot Chocolat!" rengek Dinda.


"Sebentar, aku suruh OB buatkan untuk kamu!" sahut Anton yang langsung menelpon karyawan OB.


Melihat Dinda yang hanya diam duduk di sofa, Anton pun menghampirinya. Dia berlutut di depan Dinda dan menyandarkan kepalanya di paha Dinda. Anton memohon kepadanya, agar Dinda selalu bersikap baik kepadanya. Ia mengutarakan perasaannya, jika Dinda bersikap buruk kepadanya, hatinya terasa sakit.


Lalu Dinda mendongakkan kepala Anton, ia pun memberikan kecupan ringan di bibirnya. Dinda mengatakan, bahwa dirinya akan berusaha untuk selalu bersikap baik kepadanya. Kemudian Anton mensejajarkan tubuhnya dengan Dinda, ia mencium Dinda dengan lembut.


Ceklek!


"Maaf Pak, Maaf!" seorang OB lupa mengetuk pintu dan melihat mereka berdua berciuman.


"Gak apa-apa, bawa sini coklatnya!" suruh Anton kepada OB tersebut.


Dengan rasa canggung, si OB menaruh secangkir coklat panas di atas meja. Dinda yang tampak malu pun hanya bisa mengatakan 'terima kasih' kepada OB tersebut yang sudah membuatkan minuman untuknya.


Setelah menaruh coklat panas tersebut, sang OB berjalan mundur menundukkan kepalanya. Berpamitan untuk keluar dan sekali lagi si OB meminta maaf atas ketidak sopannya. Karena sebenarnya, si OB takut di pecat.


"Kakak sih, malu dilihatin orang!" protes Dinda.


"Kenapa malu, kamu kan istriku! Lagi pula kita hanya berciuman, wajar lah suami mencium istri!" sahut Anton dengan enteng.


"Tapi kan aku malu Kak! Nanti bagaiman kalau aku lihat dia lagi hiks!" keluh Dinda.


Anton menyuruh Dinda untuk berhenti bersikap seperti anak kecil. Karena dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menerkamnya, ketika Dinda sedang manja. Baginya, Dinda sangat menggemaskan jika bersikap seperti anak kecil.


Sambil meminum coklat panasnya, Dinda tidak henti-hentinya merengek seperti anak kecil yang mengeluh, karena rasa malu. Tak tahan melihat Dinda bersikap seperti itu, Anton yang baru saja mulai bekerja pun langsung menghampirinya.


"Kamu jangan menggodaku!" kata Anton menggendong Dinda seperti anak kecil.


"Ih.. siapa yang menggoda mu!" elak Dinda melingkarkan tangannya di leher Anton, karena takut jatuh.

__ADS_1


"Tuh kan, nada bicaranya seperti itu! Tandanya kamu sedang menggodaku!" Anton sudah tak tahan lagi .


Sisa coklat yang berada di sudut bibir Dinda pun di lahapnya hingga bersih. Anton berjalan menuju ruang istirahatnya sambil mencium bibir Dinda. Lalu ia menidurkannya di atas ranjang. Dengan agresif Anton mulai menurunkan ciumannya hingga sampai di dada. Tak butuh waktu lama, Anton sudah berhasil membuka baju atasannya Dinda.


Dinda melenguh panjang, karena Anton bermain di tempat daerah sensitifnya. Kini mereka berdua sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang di badan mereka. Dengan segera Anton melakukan aksinya.


"Sayang, bolehkan aku di atas?" tanya Dinda yang ingin mengeksplorasi.


"Ah.. lakukan sesukamu!" jawab Anton yang langsung memposisikan dirinya.


Sementara Dimas masuk kedalam ruangan, ia tidak melihat Anton maupun Dinda. Ia berjalan menuju meja kerjanya Anton dan dilihatnya ponsel dan laptopnya masih dalam keadaan menyala. Tiba-tiba terdengar suara Dinda yang sedikit menjerit.


Dimas pun tersenyum geli, ia menjadi teringat Inah. Pikiran nakalnya segera berselancar, sebelum ia kehilangan kendali, Dimas memilih untuk keluar dari ruangan.


"Gila, pagi-pagi sudah bikin anak saja! Di kantor lagi! Bikin adem panas orang yang belum menikah saja!" Gumam Dimas pada dirinya sendiri.


"Anton ada di dalam kan?" tanya Loren yang mau menyerahkan berkas.


"Jangan masuk! Nanti saja, kalau mereka sudah selesai. Tunggu keadaan sudah aman," Dimas melarang Loren masuk kedalam.


Loren yang merasa kebingungan pun langsung putar badan, balik ke tempatnya. Tetapi pikirannya masih memikirkan perkataan Dimas yang nyeleneh. Setahunya, yang berada dibawah ruangan hanya ada Anton dan Dinda, lantas kenapa Dimas melarangnya masuk kedalam?


"Kamu kenapa Mbak?" tanya Rizal yang melihat Loren terkaget.


"Gak apa-apa, teringat sesuatu saja!" jawab Loren tersenyum malu.


Hal itu juga membuat pikiran Loren berselancar. Dia tersenyum geli sambil menghentakkan kakinya dilantai. Rizal yang melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Loren yang aneh.


*****


Anton dan Dinda mandi bersama, dunia seperti milik mereka berdua. Tidak ingat bahwa mereka sedang di kantor. Rambut basahnya pun terurai panjang, kemudian Anton membantu untuk mengeringkannya.


"Kakak, apa aku terlalu gemuk?" tanya Dinda yang melihat tubuh polosnya di depan kaca.


"Siapa yang bilang kamu gemuk? Bagiku, tubuhmu sangat ideal," jawab Anton memeluk Dinda dari belakang.

__ADS_1


Memang akhir-akhir ini Dinda suka makan dan membuat berat badannya naik. Tetapi Anton tidak pernah mempermasalahkan bentuk badan Dinda yang sedikit gemuk, dia malah lebih suka Dinda dengan tubuh yang berisi.


Setelah kembali rapi, mereka berdua keluar dari ruang istirahat. Anton mulai sibuk dengan laptopnya dan Dinda pergi keluar dari ruangan. Ia naik ke atap gedung untuk mencari udara segar dan ternyata Rizal juga sedang berada di atap.


"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Dinda yang berjalan dari belakang.


"Bukan urusanmu, aku merokok atau tidak! Lagi pula umurku sudah 20 tahun, jadi aku bukan bocah lagi!" jawab Rizal jutek.


"Berhentilah merokok, gak bagus untuk kesehatanmu!" Dinda menasihati.


Penampilan Rizal memang berbeda, tidak polos seperti sebelumnya. Dari potongan rambutnya dan cara dia berbicara, Dinda bisa menilai jika Rizal sudah berubah.


Rizal berterima kasih pada Dinda, karena dia sudah berhenti mengganggunya. Karena sebelumnya, Dinda selalu menelepon dan mengiriminya pesan setiap saat, tetapi saat ini Dinda sudah berhenti melakukan hal itu.


"Sepertinya kamu sudah nyaman dengan suami mu!" tanya Rizal yang terlihat cemburu.


"Iya, aku baru menyadari jika aku memiliki suami yang sangat mencintaiku!" jawab Dinda.


Rizal sama sekali tidak melihat ke arah Dinda, karena di dalam lubuk hatinya masih ada rasa cinta. Setelah sebatang rokok habis, Rizal langsung pergi meninggalkan Dinda yang masih berdiri di sana.


Sebenarnya Rizal tidak marah dengan Dinda, dia hanya ingin lepas dari Dinda dengan bersikap acuh kepadanya. Karena dia tahu, untuk memiliki Dinda hanyalah sebuah angan. Kemudian Dinda pun turun mengikuti Rizal.


"Kamu dari mana?" tanya Anton yang sedang mencarinya.


"Aku mencari angin segar di atap!" jawab Dinda tersenyum.


"Ayo makan siang!" Ajak Anton menggandeng tangan Dinda.


Siang itu Anton mengajak Dinda makan di restoran yang dekat dengan kantor. Karena di lobby bertemu dengan Dimas, Anton pun mengajaknya untuk gabung makan siang dengannya. Jadi mereka bertiga berjalan kaki menuju restoran.


"Perusahaan kan sudah mulai membaik, sebaiknya kamu segera lamar Inah dan nikahi dia!" kata Anton menyuruh Dimas.


"Sebenarnya aku masih mau cari barang bukti, agar Lisa bisa dihukum seberat-beratnya!" sahut Dimas yang geram dengan Lisa.


"Terima kasih atas semua, tapi kamu juga harus memikirkan untuk dirimu sendi," Anton menasehati.

__ADS_1


Untuk sementara Dimas memang menggantikan posisi Lisa di perusahaan. Rencananya memang setelah perusahaan membaik, dia akan segera menikahi Inah, tetapi karena dia belum bisa menjebloskan pelaku yang mendorong Dinda, Dimas pun menunggu waktu yang tepat untuk melamar Inah.


Bersambung...


__ADS_2