Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda dan Inah pulang


__ADS_3

Sudah dua Minggu tidak ada kabar dari Anton, dia juga tidak pernah lagi berkunjung di rumah kontrakannya Dinda. Hatinya masih terluka, Anton lebih menyibukkan dirinya dengan proyek barunya dengan di bantu oleh Loren yang masih berstatus sebagai kekasihnya.


Setiap hari Dinda pergi ke rumah Rizal, tetapi Rizal sudah berubah. Tidak begitu perhatian dengannya, itu pun di rasakan oleh Dinda. Sepertinya Rizal ingin mengakhiri hubungannya dengan Dinda, mungkin menunggu waktu yang tepat.


Hari ini Dinda memilih untuk tidak pergi kerumah Rizal. Dia mulai lelah, karena ia tahu Rizal sudah tidak lagi mengharapkannya. Jadi Dinda berusaha untuk tidak mengharapkannya juga.


"Non, hari ini gak antar sarapan ke rumah Rizal?" Tanya Inah sambil bersih-bersih dapur.


"Gak Mbak! Hari ini Mbak Inah masak buat sarapan ya. Aku lagi malas masak." Jawab Dinda menyuruh Inah.


Entah kenapa tiba-tiba Dinda merindukan sang kakak. Ia pun mengambil ponselnya dan mencari nama kontak sang kakak, ia ingin menelponnya. Tetapi ia teringat kata-kata sang kakak, jika dirinya tidak akan pernah datang atau menemuinya. Akhirnya, Dinda pun mengurungkan niatnya.


Janin di kandungannya mulai menendang halus, hal itu membuat perasaan Dinda merasa tersentuh. Air matanya mengalir dan tangannya mengusap perutnya dengan lembut.


"Sayang, sehat terus di dalam kandungan sana ya! Mama sabar menunggumu." Batin Dinda sambil mengelus perutnya yang mulai berisi.


Air matanya semakin mengalir dengan derasnya, tapi sebisa mungkin Dinda tidak menyuarakan tangisannya.


Tok Tok Tok


"Non, Sarapan dulu yuk!" Ajak Inah yang baru saja selesai membuat sarapan.


"Iya Mbak!" Sahut Dinda dengan nada khas orang nangis.


Dinda pun segera menghapus air matanya dan beranjak dari ranjang. Ia bercermin untuk memastikan matanya tidak bengkak. Lalu ia keluar dari kamarnya untuk sarapan.


Inah yang melihat wajah Dinda pun langsung tahu, kalau Dinda baru saja menangis. Karena merasa kasihan dengan Dinda, Inah pun berencana untuk pulang ke rumah Anton. Siapa tahu jika bertemu dengan Anton, Dinda tidak sedih lagi.


"Non, kita pulang ke rumah Den Anton yuk! Aku kangen banget sama Simbok." Ajak Inah beralasan.


"Mbak Inah pulang sendiri saja ya!" Tolak Dinda.


Tidak kekurangan akal, Inah pun beralasan kalau Simbok juga sangat merindukannya, ingin bertemu dengannya. Setelah meyakinkan Dinda, akhirnya Dinda pun setuju, dia mau ikut pulang dengan Inah.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Dinda menyiapkan barang-barang yang ia perlukan. Karena mereka akan menginap di rumah Anton sekitar seminggu. Dinda tidak terlalu banyak membawa barang, karena baju-bajunya masih banyak di rumahnya Anton.


"Non, kenapa sih kita gak pindah saja di rumah Den Anton. Lagian kan tujuan Non Dinda pergi dari rumah agar bebas ngelakuin apa saja dan sekarang Den Anton sudah membebaskan Non Dinda ngelakuin apa saja." Keluh Inah sambil menenteng barang bawaannya.


"Setelah anak ini lahir, aku sama kak Anton kan akan bercerai. Nanti kalau kak Anton Nikah dan aku Nikah harus punya rumah sendiri-sendiri." Sahutnya menjelaskan.


Inah pun hanya bisa menganggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Dinda, walaupun sebenarnya ia mendukung jika Dinda dan Anton menjadi sepasang suami istri selamanya.


Karena taksi online sudah datang, Dinda dan Inah pun masuk ke dalam taksi tersebut. Inah maupun Dinda tidak memberitahu kepada Anton jika dirinya akan datang kesana.


Sesampainya mereka di rumah Anton, Dinda dan Inah melepas rindu dengan Simbok. Lalu Dinda naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya yang masih nampak sama dengan sebelumnya. Lalu ia merebahkan badannya di sana.


*****


Di sore hari, Anton pulang ke rumah bersama Loren. Kebetulan ia mengajak Lorena ada hal yang ingin ia diskusikan dengannya. Tetapi, ketika ia melihat Inah di rumah, Anton pun terkejut.


"Mbak Inah, kamu kok di sini?" Tanya Anton penasaran.


Dinda yang merasa lapar pun langsung keluar dari kamarnya untuk makan malam. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Di lihatnya sang kakak dengan Loren berdiri di dekat meja makan.


Anton yang melihat Dinda turun dari tangga pun langsung menggandeng tangan Loren dan mengajaknya naik ke atas masuk ke dalam kamarnya, tanpa menyapa Dinda. Ia tahu jika sang kakak masih marah kepadanya karena kejadian malam itu.


"Mbak, aku lapar! Mau makan sekarang ya." Rengek Dinda seperti anak kecil.


"Gak nunggu Den Anton Non?" Tanya Simbok.


"Biar dia sama pacarnya saja!" Jawab Dinda.


Walaupun wajahnya nampak ceria, tetapi hatinya terasa sakit. Rizal sudah menjauhinya dan sekarang sang kakak juga tidak perduli dengannya. Memang pantas Dinda mendapatkan itu, karena egonya, akhirnya orang-orang yang ia cintai pergi jauh darinya.


Segelas selesai makan, Dinda naik ke kamarnya. Ia melihat pintu kamar sang kakak, Dinda penasaran apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Di saat ia berdiri tepat di depan pintu kamar sang kakak, pada saat itu juga Anton dan Loren keluar dari kamar. Dinda pun terkejut dan langsung membalikan badannya, masuk ke dalam kamarnya.


*****

__ADS_1


Di tengah malam, Dinda merasa haus. Botol airnya kosong, terpaksa ia harus turun ke bawah untuk mengambil air minum. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati sambil mengelus perutnya.


"Kamu ngapain pulang kesini, bukankah kamu sudah tidak ingin melihatku?" Tanya Anton dengan nada Dingin.


Suara Anton mengagetkan Dinda, karena dia sedang duduk di ruang tamu, sehingga Dinda tidak melihat keberadaannya.


"Kakak, ngagetin saja!" Kata Dinda yang tak menjawab pertanyaan sang kakak.


Dinda pun mengambil air dari dispenser, sedangkan Anton berjalan menghampirinya. Dengan kilat Anto mencium bibir Dinda dan Dinda pun membalas ciumannya dengan agresif.


"Aku tahu alasan kamu pulang kesini, pasti kamu merindukanku hal ini kan? Dasar nakal!" Ledek Anton.


"Tapi sayangnya, setelah kamu lahiran, kita akan bercerai dan aku akan segera menikahi Loren dan kamu dengan pacarmu!" Imbuhnya dingin.


Dinda pun meruntuki dirinya sendiri, karena sudah merespon ciuman dari sang kakak. Entah kenapa Dinda tidak bisa menahan dirinya tiap kali Anton menyentuhnya. Mungkin karena pengaruh hormon atau memang di usianya yang masih muda, sehingga ia ingin merasakan hal itu, lagi dan lagi.


Karena meras malu, Dinda pun segera naik ke atas masuk ke kamarnya. Ia menyesali dirinya sendiri yang bersikap seperti seseorang yang haus akan nikmatnya bercinta.


"Ah sial! Ponselku ketinggalan di meja makan lagi!" Umpat Dinda.


Terpaksa ia turun lagi dengan mengendap-endap, agar tak terlihat oleh Anton. Tetapi, dia tidak melihat ponselnya di meja makan.


"Kamu mau mengambil ponselmu? Nih ambil sendiri." Kata Anton yang saat itu masih duduk di sofa sambil memandangi laptopnya.


Dinda pun langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa. Ketika Dinda hendak mengambil ponselnya, tiba-tiba tangannya di raih oleh Anton dan ia pun terduduk di pangkuan Anton. Tangan Anton mulai menyelinap ke dalam kaos Dinda, mengelus perut Dinda yang mulai buncit.


Lalu Anton menidurkan Dinda di atas sofa, ia meletakkan telinganya di perut Dinda agar mendengar suara calon bayinya di dalam perut Dinda.


"Besok kita periksa ke Dokter dan USG. Aku mau lihat my baby!" Kata Anton bersemangat.


Dinda pun hanya menganggukkan kepalanya, ia bingung dengan sikap sang kakak. Tapi melihat sang kakak tak marah lagi kepadanya, membuat Dinda merasa senang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2