Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda Sensitif


__ADS_3

Untuk mengisi waktu luangnya, Dinda membuka sebuah butik yang menjual pakaian khusus wanita Muslimah. Sebenarnya ia ingin bekerja di kantor dengan sang suami, tetapi ia memilih menghindar dari Rizal. Ia ingin berdamai dengan hatinya. Mencintai hanya kepada sang suami.


Dinda tidak berpengalaman dalam berbisnis, maka dari itu dia merekrut seorang karyawan yang berpengalaman dalam bidangnya. Ia tak banyak berharap dari butik yang ia dirikan, yang terpenting baginya, ia bisa membuat hari-harinya sangat menyenangkan dan bermanfaat.


"Sayang, kamu pulangnya kok telat sih! Ingat kan kata Dokter, kalau kamu gak boleh capek-capek," protes Anton yang pulang lebih dulu.


"Karena hari ini aku buat desain baju sendiri," sahutnya sambil memperlihatkan desain yang ia buat.


"Wah.. sekarang sepertinya sudah jago nih!" puji Anton memeluk Dinda.


Karena mereka berdua belum makan malam, Dinda pun berencana untuk masak. Tetapi, Anton melarangnya, dia tidak mau Dinda terlalu capek. Kemudian Anton membeli makanan melalui aplikasi Online. Semenjak Dinda membuka butik, ia selalu pulang telat dan hal itu membuat Dinda capek. Dokter memberi saran kepada Dinda untuk tidak terlalu capek dan stress, karena hal itu mengganggu program kehamilan yang ia lakukan.


Saat itu Anton memang ingin sekali segera punya momongan. Tetapi, karena masa suburnya Dinda terganggu karena pasca keguguran, hal itu menyebabkan Dinda sulit untuk hamil. Berbagai cara sudah mereka lakukan, tetapi sampai saat ini Dinda tak kunjung hamil. Apalagi akhir-akhir ini Dinda pulang terlambat, hal itu membuat Anton khawatir.


"Mulai besok, kamu gak boleh pulang telat!" kata Anton memperingati.


"Iya iya! Baru juga menikmati pekerjaan, sudah dikomplain terus!" sahut Dinda dengan nada kesal.


"Bukannya aku komplain sayang! Aku hanya tidak mau melihatmu capek. Ingat kata Dokter, kamu kan gak boleh capek-capek biar kamu cepat hamil," kata Anton menjelaskan.


Dinda memang lagi menikmati pekerjaan yang ia geluti. Apalagi, ia sudah mulai bisa mendesain baju sendiri. Hal itu membuat kepuasan tersendiri baginya. Dan sebenarnya ia tidak merasa capek, karena ada tiga karyawan yang membantunya. Tetapi, tetap saja Anton sangat khawatir dan protektif sekali terhadap sang istri. Mengingat ia yang sudah merindukan kedatangan buah hati dalam rumahtangganya.


Terkadang muncul dibenak Anton untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Tetapi ia belum berani mengatakan kepada Dinda. Ia takut jika sang istri tersinggung dan tidak setuju dengan apa yang ia inginkan. Saat ini Anton hanya bisa bersabar dan tetap menanti.


"Sayang, kamu makan yang banyak ya!" suruh Anton memberi daging untuk Dinda.

__ADS_1


"Kakak suka ya lihat aku gendut," sahut Dinda dengan kesal.


"Kamu kenapa sih Din kok bawaannya pengen marah-marah terus!" tanya Anton heran.


"Habisnya Kakak ngelarang aku ngelakuin ini dan itu huft!" jawab Dinda berhenti makan.


Sebenarnya Anton hanya memberinya perhatian, tetapi Dinda malah menganggap lain. Makanan yang belum habis pun ia tinggalkan. Dinda naik keatas duluan, sedangkan Anton masih dibawah memakan makanannya. Sebelum naik keatas, Anton lebih dulu membersihkan meja makan. Karena dia tidak memiliki asisten rumah tangga.


Semenjak simbok meninggal, Anton tidak memakai jasa asisten rumah tangga lagi. Mereka pindah kerumah yang lebih kecil. Jadi tidak terlalu capek jika membersikan rumah. Hanya terdapat dua kamar tidur plus kamar mandi, ruang tamu, dapur dan kamar mandi tamu. Sengaja Anton membeli rumah yang lebih kecil, karena dia ingin berduaan saja di rumah dengan sang istri. Rumah minimalis yang sederhana.


"Dinda, maafkan Kakak, karena sudah terlalu protektif sekali sama kamu," kata Anton meminta maaf.


"Iya gak apa-apa! Kakak tuh seharusnya dukung aku gitu, biar akunya semangat. Kalau dilarang ini dan itu, gak boleh pulang telat, gak boleh pergi kemana-mana, gak boleh makan ini dan itu, bikin aku tambah stress saja!" celoteh Dinda memprotes.


Dinda semakin kesal dengan perkataannya Anton. Ia pun dengan segera masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Dinda tahu, Anton ingin sekali punya anak, tetapi Dinda sudah melakukan apa yang dokter katakan. Ia memakan makanan sehat dan juga tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya stress. Malah Anton lah yang sering membuatnya stress, karena dia terlalu protektif dengannya. Dan Dinda tidak merasa nyaman dengan cara Anton menyampaikan rasa perhatiannya.


Dinda senang mendapat perhatian lebih dari sang suami, tetapi perhatian dari Anton terkesan menekannya untuk segera hamil. Dinda sendiri juga ingin segera punya momongan, dia juga sedang berusaha dan melakukan semua apa yang disarankan dokter kepadanya.


"Sebenarnya kamu kenapa marah-marah terus?" tanya Anton yang mulai kesal dengan sikap Dinda.


"Aku tahu, Kakak ingin cepat punya momongan dan aku pun juga menginginkan itu Kak! Tapi Kakak jangan menekan ku seperti ini, aku bukan pemegang kendali yang kapanpun aku bisa hamil. Saat ini kita bersama-sama berusaha dan jika belum mendapatkan hasilnya, ya kita musti bersabar. Kakak setiap hari menyinggung kehamilan, hamil dan hamil. Akunya sebagai istri merasa gagal karena tidak bisa memberikan apa yang suami inginkan!" jawab Dinda panjang lebar sampai air matanya mengalir.


"Dinda, Dinda... maksud Kakak bukan seperti itu. Maafkan Kakak, sudah menyinggung perasaan mu. Kakak mohon jangan menangis," kata Anton sambil memeluk Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Kemudian Anton menenangkan Dinda agar berhenti menangis. Berkali-kali ia meminta maaf atas sikapnya yang sudah membuatnya tersinggung. Karena, sebenarnya Anton tak bermaksud seperti itu. Hanya saja Dinda terlalu terbawa perasaan, hingga merasa apa yang dilakukan Anton sebagai tekanan.

__ADS_1


*****


Pagi-pagi Anton mengantar Dinda berangkat kerja. Mungkin suasana hati Dinda sedang tidak baik, disepanjang perjalanan, ia hanya diam dan tak mengatakan sepatah katapun.


"Sayang, kamu masih marah sama aku?" tanya Anton sambil menyetir.


"Enggak, aku gak marah kok. Gak tahu kenapa bawaannya kesel banget kalau di dekat kakak!" jawab Dinda menatap Anton kesal.


"Itu artinya kamu masih marah sama Kakak. Besok waktunya kita pergi ke Dokter," kata Anton memberitahu.


Dinda tak bergeming, tidak memperdulikan perkataan sang suami. Akhir-akhir ini memang ia merasa kesal tiap kali bersama Anton. Entah apa yang menyebabkan ia bersikap seperti itu. Setiap apa yang dikatakan Anton, Dinda merasa terbawa perasaan dan mudah tersinggung. Untung saja Anton berpikiran dewasa, salah tidak salah ia selalu meminta maaf duluan kepada Dinda.


"Kakak gak usah turun," Dinda melarang sang suami.


"Kenapa? Kakak kan mau lihat-lihat juga butik kamu," sahut Anton yang memaksa turun.


"Tuh 'kan, gak pernah dengerin aku ngomong. Giliran aku gak dengerin Kakak ngomong, pasti aku diomelin," protes Dinda dengan kesal.


"Benar-benar, aku sudah gak tahan sama sikap kamu Din! Aku sudah sabar, tapi kamunya selalu memancing-mancing amarahku! Ya sudah kalau aku gak boleh lihat-lihat, aku pergi dulu?" pamit Anton langsung melajukan mobilnya.


Setelah Anton pergi, tiba-tiba perasaan Dinda merasa bersalah dan kasian menyatu jadi satu. Tak sepantasnya ia bersikap seperti itu kepada suaminya. Tapi dia sendiri tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak kesal terhadap sang suami.


Bersambung.....


Bagi yang bingung, kapan Simbok meninggal. Baca juga Kisah Inah dan Dimas ya, biar gak gagal paham. Terima Kasih...

__ADS_1


__ADS_2