
Seminggu kemudian,
Anton, Dimas, Loren, Rizal dan para saksi datang ke pengadilan untuk menjadi saksi dan memberi keterangan. Anton berharap Lisa di hukum seberat-beratnya. Lisa terjerat pasal 13 atau Pasal 14 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Lisa juga terjerat pasal 372 KUHP yang bisa menjerat pelaku kurungan 5 tahun penjara.
"Aku harap, Lisa bisa di hukum 5 sampai 8 tahun penjara!" Ujar Anton yang baru selesai menghadiri persidangan.
"Aku malah berharap lebih dari itu! Seumur hidup juga gak apa-apa, aku paling benci sama orang yang haus uang!" sahut Loren dengan kesal.
"Tetapi sepertinya ada pihak yang membantu Lisa, kamu lihat tadi laki-laki yang pakai jas di sudut ruangan?" imbuh Dimas.
Semua orang langsung menoleh ke arah Dimas atas pernyataannya. Bagaimana bisa, hanya seorang Lisa ada orang yang membantunya. Itu artinya ada udang dibalik batu.
"Siapa yang membantunya?" tanya Anton penasaran.
"Dia pesaing bisnismu, tapi kita tenang saja, aku ada rencana!" sahut Dimas dengan yakin.
Karena sudah waktunya makan siang, Anton mengajak mereka semua pergi ke restoran. Hari ini sidang pertama, Anton sedikit khawatir setelah mendengar pernyataan Dimas yang mengatakan jika ada orang yang membantu Lisa. Itu artinya, memang Lisa sudah berencana jauh-jauh hari untuk menghancurkannya.
"Kamu jangan khawatir, serahkan semua masalah ini kepadaku, aku akan membuat Lisa membayar semua apa yang ia lakukan kepadamu dan Dinda!" ujar Dimas yang begitu marah.
"Terima kasih Bro!" sahut Anton yang merasa beruntung punya sahabat seperti Dimas.
Setelah semua selesai makan, mereka kembali ke kantor. Ketika Anton dan Dimas masuk ke dalam ruangan, Dinda dan Inah sudah berada di sana. Anton dan Dimas pun terkejut atas keberadaan mereka yang tiba-tiba.
"Inah, kamu ngapain kesini?" tanya Dimas.
"Tadi Non Dinda maksa mau pergi, jadi aku temani dia," jawab Inah jujur.
Dinda beranjak dari duduknya ketika melihat Anton dan Dimas datang. Dia langsung pergi keluar dari ruangan, karena kedatangannya ke kantor bukan untuk menemui Anton, melainkan Rizal. Anton tak berkata apa-apa, karena dia tahu kalau Dinda akan menemui Rizal.
Benar saja, Dinda berjalan menghampiri Rizal. Ia menarik tangan Rizal dengan keras dan mengajaknya pergi ke atap gedung.
"Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" tanya Dinda dengan kesal.
"Dinda, aku tahu kamu sangat mencintaiku dan aku pun juga sangat mencintaimu, tetapi kita tidak bisa bersama, karena kamu sudah punya suami!" Rizal mengingatkan Dinda jika dia sudah punya suami.
__ADS_1
"Gak Zal, aku belum punya suami dan aku maunya kamu menjadi suamiku!" sahut Dinda menangis.
Tidak tega melihat Dinda menangis, Rizal pun memeluk Dinda dan menenangkannya agar Dinda tak menangis lagi. Dari kejauhan Anton melihat mereka berdua saling berpelukan, lalu Anton pun turun dari atap gedung untuk menghindari mereka berdua.
Anton tidak tahu jika Dinda dan Rizal sedang di atap gedung, biasanya jika ia sedang banyak masalah, Anton selalu naik ke atap gedung, tak ia sangka malah melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit.
"Mungkin saat ini kamu belum ingat jika Anton adalah suami mu, tapi suatu saat nanti kamu akan mengingatnya. Sebaiknya kita sudahi sampai disini saja hubungan kita, jangan ada lagi yang tersakiti," Rizal melepaskan pelukannya.
"Tapi Zal, aku gak mau sama Kak Anton!" Dinda merengek.
"Kamu hanya butuh waktu saja Din, aku tahu kamu sangat mencintai Anton kok!" Rizal pergi turun meninggalkan Dinda seorang diri.
Setelah pikirannya tenang, Dinda turun dari atap gedung. Ia kembali keruangannya Anton, ia mengajak Inah untuk pulang. Dimas yang juga berada di ruangan pun menawarkan untuk mengantar mereka pulang. Sedangkan Anton hanya diam duduk di kursi kerjanya. Diam karena suasana hatinya sedang tidak baik.
"Bro, aku antar mereka pulang dulu ya!" pamit Dimas kepada Anton.
"Okay!" sahut Anton yang mulai membuka laptopnya.
Ketika diruang hanya Anton sendiri, Loren pun masuk kedalam ruangan. Dilihatnya Anton yang sedang berkonsentrasi menatap laptopnya. Walaupun Anton menyadari kedatangan Loren, ia tetap tak menghiraukannya.
*****
"Kalian marahan lagi?" tanya simbok yang menatap Inah dan Dimas bersamaan.
"Tidak! Memangnya kita terlihat sedang marahan ya Mbok?" sahut Dimas yang nampak bingung.
"Gak juga! Kirain kalian sedang marahan," ujar simbok.
Dari tatapan Inah, simbok tahu kalau Inah sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya Inah marah karena Dimas tak kunjung melamarnya, padahal seminggu yang lalu dia janji kepada Inah kalau akan segera melamarnya. Tetapi karena kesibukannya mengurus perusahaannya Anton, ia pun melupakan janjinya.
"Aku mau istirahat dulu Mbok!" pamit Inah tanpa memperdulikan Dimas.
"Ya sudah kamu istirahat sana, nanti biar simbok yang nyiapin makan malam," sahut simbok.
Dimas pun baru menyadari kalau Inah tidak memperdulikannya. Ia merasa bingung, karena dia merasa tidak berbuat salah kepada Inah. Dimas pun segera menghampiri simbok dan mencari tahu apa yang membuat Inah bersikap demikian.
__ADS_1
"Mbok, kenapa Inah tiba-tiba bersikap seperti itu?" tanya Dimas yang membantu simbok memetik sayur.
"Coba tanya pada dirimu sendiri, kesalahan apa yang kamu lakukan?" jawab simbok membalikan pertanyaan Dimas.
Di dalam kebingungannya, Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar tidak menyadari kesalahannya. Karena di kantor ada banyak kerjaan, Dimas pun segera berpamitan kepada simbok untuk pergi ke kantor.
"Mbok, di kantor masih banyak kerjaan, aku pamit dulu ya!" pamit Anton bersalaman.
"Ya sudah, hati-hati!" sahut simbok.
"Sampaikan kepada Inah ya mbok, jangan ngambek terus, akunya jadi bingung!" Dimas memberi pesan.
Simbok hanya tersenyum mendapat pesan dari Dimas. Dia tahu kalau Inah susah di mengerti, karena Inah memiliki sikap yang tertutup. Tidak mengatakan apa-apa yang membuat hatinya kesal. Walaupun begitu, simbok juga tidak mau jika Inah sampai tersakiti hatinya karena laki-laki.
Sementara Dinda di dalam kamar menangis sesenggukan. Menangis karena dia mengingat sang nenek yang sudah meninggal, di tambah penolakan cintanya oleh Rizal. Ia merasa dunia tak adil kepadanya.
Tok Tok Tok
"Non..Non!" Simbok memanggil sambil mengetuk pintu.
Ceklek!
Simbok masuk kedalam kamar, karena Dinda tak menjawab panggilannya. Dinda langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri simbok. Di peluknya tubuh Simbok yang sedikit berisi itu, Dinda meluapkan tangisannya sekencang mungkin.
"Non, Non Dinda kenapa?" tanya simbok khawatir.
"Nenek Mbok, Nenek sudah meninggal!" jawab Dinda masih memeluk simbok.
Simbok yang kebingungan pun membalas pelukannya Dinda. Ia menenangkan Dinda dengan memberitahunya, bahwa masih ada banyak orang yang mencintainya. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, jadi simbok menyuruh Dinda untuk berhenti menangis.
"Masih ada Den Anton yang sangat mencintai Non Dinda, jadi jangan bersedih lagi ya!" Tutur simbok mengelus rambutnya Dinda.
"Kenapa Allah mengambil semua orang yang aku cintai Mbok?" tanya Dinda menangis sesenggukan.
"Sudan Non nangisnya, Non Dinda minum obat dulu, terus istirahat ya!" suruh simbok.
__ADS_1
Dinda pun berhenti menangis dan segera meminum obatnya. Lalu ia tiduran di ranjang, karena efek samping dari obat, Dinda pun terserang rasa kantuk dan tertidur pulas.
Bersambung...