Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Dinda Mencoba Menerima


__ADS_3

"Anton, kamu belum pulang?" tanya Loren masuk kedalam ruangan.


"Kamu sendiri kenapa belum pulang?" tanya Anton balik.


"Tadi ada banyak kerjaan yang belum selesai, terus aku lihat lampu ruangan mu masih nyala, jadi aku masuk kesini," jawab Loren.


Malam itu memang Anton sengaja pulang telat, suasana hatinya belum baik. Sedangkan Loren memang lembur, karena pekerjaannya ketua team di limpahkan ke Loren semua. Alhasil, Loren harus kerja lembur dan kerja ekstra agar perusahaan segera membaik.


"Boleh aku temani?" tanya Loren dengan ragu.


"Kenapa gak boleh? Aku malah senang kalau ada yang menemani," jawab Anton yang masih serius dengan laptopnya.


Lalu Loren pergi keluar untuk mengambil laptopnya. Ia kemudian duduk di depan Anton dan mulai mengerjakan pekerjaan. Mereka berdua tanpa mengobrol, sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


*****


Sementara Dinda di rumah memperhatikan jam di dinding. Dalam hatinya bertanya, sudah jam 9 malam tetapi Anton tak kunjung pulang. Ia pun mengambil ponselnya, ia ingin menelpon Anton, tetapi ia urungkan. Keraguan membuatnya mengurungkan niatnya untuk menelepon Anton.


Lalu Dinda turun dari ranjangnya, keluar dari kamarnya. Ketika ia sedang menuruni anak tangga, ia mendengar suara Dimas yang sedang berbicara dengan seseorang. Dinda pun turun perlahan dan mendengarkan perkataan Dimas.


"Berarti kamu sekarang sama Loren?" tanya Dimas dalam panggilan teleponnya.


"Ya sudah kalau gitu, sampai ketemu di rumah!" ujar Dimas mengakhiri panggilannya karena melihat Dinda turun dari tangga.


Dinda tanpa mengatakan apa-apa langsung berjalan menuju ke dapur mengambil air minum. Lalu Dimas berjalan menghampiri Dinda, lalu Dimas mengambil air minum juga.


"Kamu belum tidur? Atau kamu sedang menunggu Anton, suamimu?" tanya Dimas sambil membuka kulkas.


"Siapa yang nunggu Kak Anton! Memang belum kantuk saja!" jawab Dinda sewot.


"Iya, iya... jangan sewot gitu!" sahut Dimas tersenyum meledek.


Karena Dinda tak langsung pergi ke kamarnya, Dimas pun mulai menceritakan bahwa Anton sangat mencintainya. Bahkan Dimas menceritakan semua perjuangan Anton untuk mendapatkan cinta Dinda.

__ADS_1


Mendengar semua cerita dari Dimas, membuat Dinda merasa bersalah. Bersalah karena tidak menerima Anton sebagai suaminya dan juga tidak peduli dengannya.Tujuan Dimas bercerita agar Dinda bisa menerima Anton, walaupun ingatannya belum pulih.


"Terima kasih sudah cerita! Aku naik ke atas dulu, aku ngantuk!" pamit Dinda yang masih dengan sikap juteknya.


"Ok! Selamat malam..." Anton tersenyum.


Ketika Dinda naik ke atas, kebetulan Inah juga keluar dari kamarnya. Ia tak menyadari kalau ada Dimas duduk di kursi meja makan. Inah yang sudah tak bisa menahan kencingnya, berlarian kecil menuju ke kamar mandi. Tingkah Inah membuat Dimas tersenyum gemas.


Inah pun terkejut ketika ia keluar dari toilet melihat Dimas yang sedang berdiri tepat di depan pintu toilet. Dengan spontan Inah mendorong tubuh Dimas tepat di dadanya. Ia langsung berjalan meninggalkan Dimas.


"Aku tahu kamu marah, karena aku tak kunjung melamar mu, sesuai janjiku seminggu yang lalu," ujar Dimas sambil menahan tangan Inah.


"Aku benar-benar minta maaf, karena tidak menepati janjiku. Karena aku masih sibuk, aku belum sempat ketemu dengan orangtuaku, jadi aku minta waktu sampai masalah perusahaan selesai," imbuh Dimas memohon.


"Aku tidak pernah memintamu untuk segera melamar ku, lain kali jangan menggunakan kata 'janji' jika tidak bisa menepati!" sahut Inah melepaskan tangannya dari cengkraman Dimas.


Berhasil melepaskan tangannya, Inah langsung pergi masuk ke kamarnya. Dimas pun hanya mendengus kesal pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menepati janjinya yang ia buat. Lalu Dimas pergi naik ke atas, masuk ke kamarnya.


"Jam segini kok baru pulang? Aku dengar kakak tadi lembur sama Loren!" Tanya Dinda yang langsung duduk.


"Iya, ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan!" jawab Anton sedikit cuek.


Anton pun langsung mandi dan berganti pakaian tidur. Lalu ia merebahkan badannya di samping Dinda dengan posisi membelakanginya. Merasa di abaikan, Dinda pun mengganti posisi tidurnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Anton.


Karena Anton masih kesal dengan kejadian tadi siang, kejadian dimana Dinda berpelukan dengan Rizal. Anton pun memindahkan tangan Dinda dari pinggangnya. Lalu Anton menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Aku ingin di peluk!" rengek Dinda manja.


"Kenapa kamu tidak minta di peluk Rizal saja!" sahut Anton kesal.


"Tapi kan suamiku kakak!" Tutur Dinda.


Dengan segera Anton merubah posisinya dengan menghadap ke Dinda. Ia tak yakin apa yang baru saja ia dengar dari perkataannya Dinda.

__ADS_1


"Apa! Aku suamimu?" tanya Anton meyakinkan.


"Iya, kakak suamiku!" jawab Dinda tersenyum.


"Jadi, kamu sudah ingat semua!" Anton langsung memeluk Dinda dengan erat.


Walaupun Dinda belum mengingat semuanya, tapi ia berusaha untuk menerima Anton sebagai suaminya. Setelah mendengar cerita dari Dimas, hati Dinda luluh. Dia tidak tega jika menyakiti Anton lebih jauh lagi. Karena Anton sudah tulus mencintainya.


"Dinda, aku sangat mencintaimu, please jangan sakit lagi!" bisik Anton di telinga Dinda.


"Iya, maafkan aku kak!" sahut Dinda.


Dinda mempererat pelukannya, bahkan Dinda dengan beraninya mengecup ringan bibir Anton. Sedangkan Anton menepuk pipinya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi.


Bahkan Anton beranjak dari ranjang dan melihat dirinya di cermin untuk meyakinkan dirinya. Lalu Dinda menghampirinya dan memeluk Anton dari belakang. Anton yang mendapat pelukan pun memutar badannya dan membalas pelukan Dinda.


"Dinda, kamu benar-benar sudah mengingatku?" tanya Anton tersenyum tak percaya.


"Seperti yang kakak lihat!" jawab Dinda mengelus kedua pipi Anton.


Dengan sekuat tenaga Anton mengangkat Dinda dan memutar seperti penari. Malam itu ia benar-benar sangat bahagia. Dia baru menyadari jika dirinya cinta mati dengan Dinda. Entah pesona apa yang di berikan oleh Dinda, hingga membuatnya seperti orang yang kehilangan jati dirinya.


Loren yang mencintainya dengan tulus, yang memahami kepribadiannya dan selalu mengalah walaupun dia tak salah, tetapi belum bisa mencuri hati yang terdalamnya. Masih kalah dengan rasa cintanya terhadap Dinda. Anton sendiri bingung dengan perasaannya yang sulit ia mengerti.


"Dinda, bolehkan aku mencium mu?" tanya Anton yang menidurkan Dinda di atas ranjang.


"Tentu saja boleh! Kakak kan suamiku, jadi apapun yang kakak lakukan kepadaku, aku siap menerimanya," jawab Dinda yang lebih dulu mencium Anton.


Sebisa mungkin Dinda melakukan hal yang terbaik untuk menebus kesalahannya kepada Anton, sebagai seorang istri. Dasar dalam lubuk hatinya memang belum bisa menerima, tetapi Dinda yakin dengan berjalannya waktu, ia akan bisa mencintai Anton dengan sepenuh hatinya.


Karena sudah larut malam dan kecapekan, Anton pun terserang rasa kantuk yang teramat. Padahal saat itu Dinda masih menggodainya, tetapi karena Anton tak meresponnya, Dinda pun menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Anton tidur.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2