
Mereka bertiga menuruni anak tangga, Dinda maupun Anton merasa penasaran dengan siapa yang datang. Ketika mereka sampai di lantai bawah, Anton baru tahu kalau yang datang adalah Yuki, sahabat Dinda. Tetapi Dinda tidak mengenal, siapa Yuki.
"Dinda!" sapa Yuki berlarian memeluk Dinda.
"Kamu siapa?" tanya Dinda yang tak membalas pelukan Yuki.
Yuki yang terkejut karena Dinda tak mengenalnya, ia pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dinda dengan raut wajah heran.
"Iya maaf maaf, karena aku gak pulang waktu kamu sakit!" Yuki meminta maaf sambil meraih tangan Dinda.
"Dia gak ingat kamu!" Anton memberitahu Yuki.
"Tapi kenapa?" tanya Yuki heran.
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa, Anton menceritakan apa yang terjadi dengan Dinda. Betapa terkejutnya Yuki, karena selama ia di luar negeri dia tidak tahu jika Dinda mengalami gegar otak. Setiap dia berkomunikasi dengan Dimas, Dimas tidak pernah menceritakan hal itu.
Yuki pun menangis dan langsung memeluk Dinda. Iya meminta maaf karena tidak pulang ke Indonesia untuk menemaninya di hari-hari yang sulit.Dan tak lama kemudian, Dimas pun datang. Yuki pun menyalahkan Dimas, karena tidak memberitahunya.
"Memangnya kalian sering berkomunikasi?" tanya Anton mengerutkan dahinya.
"Sering lah, hampir tiap hari kita melakukan Vidio call!" Jawab Yuki.
Inah yang menghantarkan minuman pun mendengar percakapan mereka. Jadi ia tahu jika ternyata Dimas sering berkomunikasi dengan Yuki. Dimas pun menatap Inah dengan perasaan bersalahnya. Sedangkan Dinda hanya duduk, mendengarkan mereka mengobrol.
"Kamu kenapa pindah kuliah di Jepang?" tanya Anton.
"Karena orangtua yang nyuruh kak!" jawab Yuki.
Karena Dinda tidak mengingatnya, Yuki pun memperlihatkan foto-foto mereka berdua di galeri ponselnya, agar Dinda tahu bahwa mereka berdua bersahabat. Dinda tidak mengingat satu hal pun tentang Yuki, jadi dia terlihat acuh ketika Yuki memperlihatkan foto-foto mereka.
"Din, kita itu gak hanya bersahabat, tetapi kita sudah seperti saudara!" Yuki memberitahu.
"Tapi itu kan dulu, sekarang aku gak merasa punya sahabat sepertimu!" sahut Dinda yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Beri Dinda waktu, kalau kita paksakan dia malah stress," Anton memberitahu Yuki untuk membiarkan Dinda istirahat.
Anton pergi mengikuti Dinda dan membiarkan Yuki sama Dimas duduk berdua di sofa. Setelah Anton pergi, mereka berdua mengobrol menceritakan kehidupan di Jepang. Mereka juga terlihat akrab, karena memang mereka sering berkomunikasi.
Inah yang sedang di dapur pun mendengar apa yang mereka obrolkan. Inah benar-benar kesal saat itu, karena Dimas tidak pernah memberitahunya kalau dia sering berkomunikasi dengan Yuki, apalagi Inah tahu kalau Yuki suka sama Dimas. Selain itu, Inah merasa Yuki yang lebih pantas menjadi kekasihnya Dimas.
"Kak Dimas, kakak janji mau ajak aku jalan-jalan kan kalau aku pulang ke Indonesia?" tanya Yuki menagih janjinya Dimas.
"Iya, tapi gak sekarang, soalnya aku banyak kerjaan akhir-akhir ini," jawab Dimas.
Dimas pulang ke rumah karena mau minta tandatangannya Anton, jadi dia naik ke atas dan meminta Anton untuk menandatangani berkas yang ia bawa. Sementara Yuki berjalan menghampiri Inah.
"Mbak Inah, kamu lupa ya sama aku?" tanya Yuki kepada Inah.
"Eh Non Yuki! Gak lupa sih Non, tapi sempat lupa nama Non Yuki hehe.." jawab Inah dengan grogi.
Melihat Yuki begitu cantik, membuat Inah menjadi tidak percaya diri. Dia merasa kalau Yuki gadis yang cocok untuk Dimas dibandingkan dirinya. Apalagi Yuki juga terlahir di keluarga berada, hal itu semakin membuat Inah ingin mundur untuk memiliki Dimas.
"Ok! Berarti perusahaan A masih melanjutkan kerja sama dengan perusahaan kita?" tanya Anton menuruni anak tangga.
Bersyukur, perusahaannya Anton sudah membaik berkat kerja kerasnya Dimas dan Loren. Anton sangat berterimakasih kepada mereka berdua, tanpa mereka pasti perusahaannya Anton sudah hancur dan bisa dipastikan Anton kehilangan perusahaannya karena ulah Lisa.
"Kak Dimas mau pergi? Aku boleh nebeng gak, soalnya tadi aku kesini diantar sama supir dan supirku lagi jemput Mama!" tanya Yuki dengan khas manjanya.
"Mm.. tapi aku ke kantornya Anton!" jawab Dimas sambil melihat ke arah Dimas.
"Iya gak apa-apa, kan satu arah sama kantornya kak Anton! Nanti sampai di kantor, aku naik taksi online dah!" sahut Yuki yang memang ingin berduaan dengan Dimas.
Terpaksa Dimas mengantarkan Yuki pulang, karena memang jarak dari kantor ke rumahnya Yuki tidak terlalu jauh. Saat itu Dimas merasa bersalah kepada Inah, ia melihat raut wajah Inah yang sedang kesal. Ia yakin kalau Inah semakin marah dengannya.
"Mbak Inah, makanannya Dinda sudah jadi?" tanya Anton.
"Sudah Den, ini tinggal ambil air putih saja!" jawab Inah sambil menyodorkan nampan.
__ADS_1
"Kamu jangan cemburu ya, Dimas serius kok sama kamu. Mbak Inah juga jangan marah kalau Dimas belum melamar mu, itu semua karena aku. Aku menyuruhnya untuk mengurus perusahaan ku," kata Anton yang paham jika Inah saat itu sedang cemburu.
Inah hanya tersenyum mendengar perkataannya Anton, karena dia tidak tahu harus menanggapi apa. Kemudian Anton naik keatas sambil membawa nampan di tangannya. Ketika Anton masuk kedalam kamar, dilihatnya Dinda sedang berganti pakaian.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Anton menaruh nampan di atas nakas.
"Aku gak mau pergi kemana-mana, aku mau ganti baju tidur saja!" jawab Dinda.
Melihat Dinda memakai pakaian super pendek, membuat Anton menelan savilanya. Lalu Anton menyuruh Dinda untuk duduk, karena dia mau menyuapi Dinda makan dan memberinya obat. Dengan lahapnya Dinda memakan habis makanannya hingga kenyang.
Setelah selesai makan, Anton menyodorkan air minum dan beberapa butir obat untuk Dinda minum. Tetapi Dinda tidak mau meminumnya, sehingga membuat Anton merayunya seperti anak kecil.
"Minum obatnya dulu, nanti kakak belikan es krim ok!" kata Anton merayu.
"Kalau dibelikan dua es krim aku baru mau minum obat," sahut Dinda menawar.
"Iya nanti aku belikan dua es krim, tapi sekarang kamu minum obat dulu ya!" kata Anton berjanji.
Akhirnya Dinda pun mau meminum obat. Karena sore itu sudah waktunya salat, Anton pun mengajak Dinda untuk salat berjamaah dengannya. Tak ada penolakan dari Dinda, ia mengikuti apa yang di suruh oleh Anton. Hal itu membuat Anton tersenyum senang.
Selepas itu, Anton langsung pergi untuk membeli es krim di minimarket dengan menggunakan motor. Tak tanggung-tanggung, Anton langsung membeli berpuluh-puluh es krim untuk stok kalau Dinda ingin makan es krim sewaktu-waktu.
"Ini es krimnya, pilih yang mana?" tanya Anton memperlihatkan beberapa es krim ditangannya.
"Ih... aku mau semua!" Dinda beranjak dari ranjang kegirangan.
"Makan satu dulu, di kulkas masih banyak stoknya kok!" kata Anton memberitahu.
Dinda pun memilih salah satu es krim rasa coklat. Ia memakannya sambil menonton TV, sedangkan Anton menaruh sisa es krim kedalam kulkas di lantai bawah. Ia juga memakan es krim, lalu naik ke atas dan masuk ke kamar. Mereka berdua menikmati es krim sambil menonton TV.
Saat Anton menghabiskan es krimnya, ada sedikit es krim yang menempel di bibirnya. Dinda yang melihat itu pun langsung mendekatkan tubuhnya. Dengan segera Dinda mencium bibirnya Anton untuk membersihkan sisa es krim di bibirnya Anton.
"Dinda, kamu nakal sekali!" protes Anton.
__ADS_1
"Kakak mau lebih dari ini?" tanya Dinda.
Belum sempat Anton menjawab, Dinda sudah mendorong tubuh Anton hingga ia jatuh terlentang di atas ranjang. Sore itu pun menjadi hari yang romantis.