
Dinda tidak terima jika Anton terus-menerus menyalahkan Rizal. Dia sudah cukup sedih atas kehilangan anaknya, di tambah Anton yang tak bisa mengendalikan amarahnya kepada Rizal. Hal itu membuat Dinda kesal, ia pun menangis lagi. Lalu Dinda menyuruh Anton untuk keluar dari ruangan, karena dia ingin berbicara dengan Rizal.
Tetapi Anton menolak, ia memilih duduk di sofa dan membiarkan Dinda berbicara kepada Rizal. Selama ini Anton pikir Dinda sudah mulai menyukainya, karena mereka berdua sudah memutuskan hubungannya. Tetapi nyatanya, Dinda dan Rizal diam-diam saling kirim pesan mesra.
Amarah, cemburu menyatu dalam benaknya, melihat orang yang di cintai mengobrol berdua. Orang yang di yakini membunuh anaknya, malah mendapat perhatian lebih dari Dinda. Seharusnya Anton lah yang mendapatkan perhatian itu, karena saat ini ia merasa sedih atas kehilangan anaknya.
Kring Kring Kring
Suara ponsel Anton berbunyi.
Panggilan itu dari Dimas, Anton mengangkatnya. Dimas mengatakan kepada Anton bahwa CCTV yang berada di lantai sembilan tidak berfungsi dua jam sebelum Dinda jatuh dari tangga. Itu artinya, mereka meyakini bahwa ada seseorang yang memang sengaja membuat Dinda jatuh dari tangga.
Anton tetap menuduh Rizal, tetapi tidak dengan Dimas. Dia mencurigai orang yang bisa mengendalikan fungsi CCTV tersebut, yaitu asisten, ketua team dan Loren. Tentu saja Dimas tidak akan menduga bahwa itu upah Loren. Jadi yang menjadi dugaan Dimas adalah asistennya Anton dan ketua team dari departemen pemasaran.
"Kamu cepetan keluar dari sini, ini sudah waktunya Dinda istirahat!" usir Anton kepada Rizal sesaat ia selesai mematikan ponselnya.
"Din, maafin aku ya! Aku harus pulang sekarang, kamu jangan sedih lagi, semoga kamu lekas sembuh." pamit Rizal sambil mengusap kepala Dinda.
"Iya, Terima kasih Zal udah nyempetin datang kesini." sahut Dinda yang sebenarnya ingin di temani Rizal.
Rizal pikir setelah memutuskan hubungan dengan Dinda, ia bisa pergi ke lain hati. Tetapi nyatanya tidak semudah itu ia melupakan Dinda. Ia begitu mudah memaafkan apa yang telah ia lihat, saat Dinda dengan Anton berciuman. Cintanya sangat tulus untuknya, begitupun dengan Dinda, ia sangat mencintai Rizal yang selalu perhatian kepadanya.
Setelah putus dengan Rizal, Dinda merasa ada sedikit perasaan terhadap Anton. Tetapi itu bukan perasaan cinta, ia sadar jika itu hanyalah rasa kasihan. Dinda sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan, pikirannya benar-benar rumit. Ia ingin melupakan Rizal, tetapi bayangannya selalu menghantuinya. Di sisi lain, dia kasihan kepada Anton yang sepertinya juga tulus mencintainya.
__ADS_1
Mungkin saat ini Dinda tidak bisa memastikan hatinya, tapi ia berharap kepada dirinya sendiri untuk memilih yang terbaik bagi dirinya tanpa harus menyakiti orang salah satu dari mereka, Anton dan Rizal.
"Sayang, apakah ada bagian dari tubuhmu yang sakit?" tanya Anton yang menghampiri Dinda setelah kepulangan Rizal.
"Tidak ada, aku mau istirahat." jawab Dinda memalingkan wajahnya.
Anton tidak tahu kenapa Dinda bersikap seperti itu, seolah-olah Dinda menyalahkannya atas kejadian yang menimpanya. Tetapi, Anton tetap berpikiran positif. Mungkin saja Dinda masih lelah, sakit, sedih sehingga perasaannya tak menentu. Apalagi, atas kehilangan janin yang ia kandung, pasti menyisakan kesedihan yang paling mendalam.
Merasa Dinda tidak ingin berbicara dengannya, Anton pun mematikan lampu dan ia menyetel sofa menjadi tempat tidur. Sebelum ia bersiap untuk tidur, Anton terlebih dahulu memastikan Dinda tidur dengan nyaman. Karena selimut Dinda berantakan, Anton pun merapikan ke badan Dinda, tak ketinggalan, ia pun memberikan kecupan di kening Dinda.
Sebenarnya, saat itu Dinda belum tidur. Ia tidak bisa tidur, ia menangis dalam diam. Pikirannya memikirkan kesana kemari. Sedangkan Anton merebahkan badannya di atas sofa yang baru saja ia alasi dengan selimut. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Dimas, agar dia mencari tahu, siapa pelaku yang mencelakai Dinda.
*****
Karena Dinda tak mau makan, Anton pun keluar untuk membeli makanan yang di pinta oleh Dinda. Padahal pagi itu masih sangat pagi dan belum ada restoran yang buka. Dengan inisiatifnya, Anton pergi ke pasar untuk membeli ikan segar. Lalu ia pulang ke rumah dan menyuruh Simbok untuk menggoreng ikan tersebut. Karena pagi itu Dinda ingin makan ikan gurami goreng dengan sambal tomat.
Agar cepat selesai masaknya, Anton pun membantu Simbok membersihkan ikannya, sedangkan Simbok sibuk membuat bumbunya. Karena Anton tahu akan memakan waktu, ia pun menyuruh Inah untuk pergi ke rumah sakit menemani Dinda.
"Mbak Inah, tolong Mbak Inah ke rumah sakit dulu ya. Kasihan Dinda sendirian, tapi jangan bilang ke Dinda kalau aku di rumah. Soalnya dia tadi minta gurami goreng di restoran, tapi karena restoran seafood belum buka, makanya aku beli dari pasar." suruh Anton menjelaskan.
"Siap Den! Semangat Den, perjuangannya!" sahut Inah menyemangati Anton.
Inah tahu kalau Anton sangat mencintai Dinda, ia merasa kasihan kepadanya. Sudah cintanya belum di terima sepenuhnya oleh Dinda, di tambah kehilangan bayi perempuan yang ia dambakan. Hal itu membuat Inah tidak tega melihat Anton yang sangat baik kepadanya terlihat sedih. Karena ojek online sudah datang, Inah pun segera berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya ia di rumah sakit, Inah melihat Dinda sedang terlihat sedih sambil memainkan ponselnya, melihat photo-photo hasil USG sang bayi yang sudah meninggal. Inah pun lekas menyapanya dan sedikit menghiburnya.
"Non Cantik kok diam saja ada orang datang!" Inah mencoba menghibur Dinda.
"Ingat bayiku Mbak, tadinya aku tidak begitu perduli tapi sekarang aku malah merasa sangat kehilangan." ujarnya yang masih memandangi photo tersebut.
"Ngomong-ngomong, mbak Inah kok kesini?" tanya Dinda.
"Di suruh Den Anton, Non!" jawab Inah keceplosan.
Karena sudah kepala tanggung, Inah pun menceritakan kepada Dinda bahwa saat ini Anton sedang membantu Simbok masak. Hal itu semata-mata Anton lakukan untuk membuat Dinda senang, walaupun dirinya sendiri saat ini juga sedang sangat sedih.
Dinda yang mendengar cerita dari Inah pun merasa luluh. Ia merasa menyesal, karena tiap kali ia melihat Anton, Dinda merasa kesal. Rasa kesal Dinda kepada Anton, lantaran Anton muncul di tengah-tengah hubungannya dengan Rizal. Itu penyebab Dinda kesal tanpa dasar.
"Aku tahu, Non Dinda sangat mencintai Rizal. Tadinya aku juga sangat mendukung kamu dengan Rizal, tetapi semakin kesini aku bisa melihat jika Den Anton juga tulus mencintai Non Dinda." ujar Inah memberitahu.
"Memangnya kak Anton benar-benar mencintaiku mbak?" tanya Dinda memastikan.
"Memangnya Non Dinda gak bisa ngerasain? Emang sih Rizal lebih perhatian daripada Dena Anton, tetapi Rizal masih terlalu mudah Non, kapan saja dia bisa berubah pikiran." jawab Inah heran dengan Dinda yang tidak peka.
Sambil menunggu Anton datang, Dinda dan Inah bertukar pikiran. Ia saling curhat satu sama lain. Inah menyuruh Dinda untuk lebih berpikiran dewasa, agar setiap keputusan yang ia ambil tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Bersambung....
__ADS_1