
Inah di rumah kalang kabut karena Dinda tidak di rumah, apalagi tadi Rizal menelponnya dan menanyakan keberadaan Dinda. Hal itu semakin membuat Inah khawatir, apalagi malam itu hujan deras dan petir menggelegar terdengar nyaring.
Karena Inah khawatir dengan Dinda dan janin yang ia kandung, Inah pun menelpon Anton. Barang kali Anton tahu keberadaan Dinda. Setidaknya Inah memberitahu kepada Anton jika Dinda tidak ada di rumah.
Tut Tut Tut
"Ada apa Mbak?" Sahut Anton.
"Den, Non Dinda tidak ada di rumah Den. Ponselnya juga di rumah, tetapi Non Dinda gak ada. Tadi Rizal juga menelpon dan menanyakan keberadaan Non Dinda!" Kata Inah melalui saluran telepon.
Tanpa menunggu, Anton yang sudah siap untuk tidurpun segera memakai celana panjang dan mengambil kunci mobilnya. Dengan buru-buru dia melajukan mobilnya menuju kerumah kontrakan Dinda.
Sesampainya dia di sana, Anton turun dari mobil dan mengetuk pintu. Di bukaannya pintu oleh Inah, lalu Anton mengambil ponselnya Dinda, bersyukur Dinda tidak mengganti kata sandi ponselnya, jadi Anton bisa membuka ponselnya. Lalu Anton mengecek dengan siapa Dinda terakhir berhubungan.
Di lihatnya pesan-pesan yang di kirim ke Rizal dan juga berpuluh-puluhan kali Dinda menelpon Rizal. Sudah jelas kalau Dinda bersama Rizal. Kemudian Anton menelpon Rizal menggunakan ponselnya Dinda.
Tut Tut Tut
"Dimana Dinda?" Tanya Anton sesaat ketika panggilannya di angkat oleh Rizal.
"Dia ada di sini, di rumahku!" Jawab Rizal dengan nada dingin.
Kemudian Anton pergi ke rumah Rizal untuk menjemput Dinda. Malam itu hujan semakin lebat, tetapi tak mengurungkan niat Anton untuk menjemput Dinda. Jalanan nampak sepi dan licin, Anton terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya Anton di depan rumah Rizal, ia menelpon Rizal untuk membukakan pintu untuknya. Dengan langkahnya yang malas, Rizal pun membukakan pintu untuk Anton.
"Dimana Dinda?" Tanya Anton dengan amarahnya.
"Di kamar!" Jawab Rizal sambil menunjuk kamar Ibunya.
Tanpa menunggu, Anton langsung membuka kamar ibunya Rizal. Di lihatnya Dinda yang sedang berbaring di atas ranjang. Sontak saja Dinda terkejut dan segera beranjak dari tidurnya.
"Ayok pulang!" Ajak Anton sambil menarik tangan Dinda dengan kasar.
__ADS_1
"Gak mau! Aku bisa pulang sendiri!" Tolak Dinda dengan kesal.
Karena Anton memaksa dan menarik tangannya dengan kasar, Rizal pun berusaha untuk membantu Dinda dengan melepaskan tangan Dinda dari cengkraman Anton. Spontan Dinda langsung memeluk Rizal, berlindung dari amarahnya Anton.
"Dinda! Kamu ini istriku, kamu harus pulang denganku!" Bentak Anton semakin tak bisa mengendalikan amarahnya.
"Kakak kalau mau pulang, ya pulang saja! Aku mau disini sama Rizal!" Sahut Dinda yang masih memeluk Rizal.
Tidak tahu harus berbuat apa agar Dinda mau pulang dengannya. Melihat Dinda memeluk Rizal, membuatnya semakin marah. Apalagi di depan Rizal Dinda menunjukkan sikapnya yang tidak perduli dan tidak menghargai Anton sebagai suaminya. Hal itu membuat harga diri Anton terluka.
"Ok! Ok, kalau mau mu begitu! Jangan pernah menyesali keputusanmu!" Hardik Anton sambil berjalan keluar dari rumah Rizal.
Di sini Rizal merasa jika Dinda benar-benar mencintainya, tetapi tetap saja kejadian kemarin malam tidak dapat ia lupakan. Memaafkannya pun susah, apalagi Anton masih muda, perjalanan hidupnya masih panjang. Dia tidak mau jadi lemah karena cinta.
"Tunggu!" Panggil Rizal kepada Anton.
Anton pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Bawa Dinda pulang! Aku tidak mau menjadi benalu di antara kalian." Ujar Rizal sambil membuka pelukan Dinda.
Dinda pun menangis mendengar perkataan Rizal. Dia tahu, Rizal tidak pernah marah seperti itu sebelumnya. Kali ini Dinda menyadari jika Rizal benar-benar marah padanya.
"Izal, kamu tahukan! Aku sama sekali tidak mencintai kak Anton dan aku hanya mencintaimu! Apa yang terjadi semalam itu hanyalah tugasku seorang istri, gak lebih!" Penjelasan dari Dinda.
Sepertinya Rizal tidak mau mendengar penjelasan apa-apa lagi dari Dinda, ia tetap mengusir Dinda dari rumahnya. Sedangkan perasaan Anton merasa terluka oleh ucapan Dinda yang tak mencintainya sama sekali. Selama ini Dinda menilai, hubungan suami istri antara dirinya dan Anton itu hanyalah sebagai tugasnya saja.
Anton menarik tangan Dinda dengan paksa, menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Lalu Anton melajukan mobilnya tanpa berpamitan dengan Rizal. Matanya merah menahan amarahnya. Harga diri maupun perasaannya terluka atas ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut Dinda.
Sesampainya mereka di rumah kontrakan, Anton menarik tangan Dinda dan menyeretnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Dinda duduk di bibir ranjang sambil menangis, sedangkan Anton berjalan mondar-mandir ingin meluapkan amarahnya kepada Dinda.
"Tidurlah! Mulai hari ini aku tidak akan pernah menemui mu sampai kamu melahirkan. Aku akan mengurus surat perceraian kita, sesaat setelah kamu melahirkan." Ujar Anton dengan nada Dingin.
Dinda tak bergeming, ia masih saja menangis. Bukan menangis karena Anton marah padanya, tetapi menangis karena memikirkan hubungannya dengan Rizal. Sedangkan Anton berjalan keluar dari kamarnya Dinda, ia pun pulang malam itu.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya, setelah Sholat Subuh Dinda sengaja membuat sarapan. Inah pun tidak di perbolehkan untuk membantunya. Karena ia ingin membuat sarapan untuk Rizal.
Setelah selesai masak, Dinda pun pergi mandi. Kemudian makanan yang tadi dia masak, ia tata di sebuah wadah untuk bekal.
"Mbak Inah, aku mau ke rumah Rizal dulu ya! Aku mau antar sarapan untuknya!" Pamit Dinda bersemangat.
"Hati-hati Non, jangan lupa bawa ponselnya." Pesan Inah kepada Dinda.
Dinda pun pergi ke rumah Rizal dengan menggunakan jasa ojek online. Setibanya di sana, Dinda mengetuk pintu rumah Rizal tiga kali.
Tok Tok Tok
Tak lama kemudian, Rizal pun membukakan pintu untuknya. Tak ada sambutan dari Rizal, raut wajahnya datar tak berekspresi. Tetapi tidak mengendurkan niat Dinda untuk baikan dengannya.
"Rizal, aku bawa sarapan untukmu. Aku tahu ibu mu tidak di rumah, jadi aku sengaja masak buat kamu." Tuturnya sambil membuka bekal yang ia bawa.
"Taruh di meja, aku belum lapar. Sebaiknya kamu pulang, kamu kan sedang hamil. Banyak-banyaklah istirahat!" Suruh Rizal dengan nada Dingin.
Tanpa membantah, Dinda pun langsung beranjak dari duduknya. Kemudian ia berpamitan kepada Rizal dan berjalan keluar dari rumah. Sebisa mungkin Dinda memperlihatkan raut wajah cerianya, walaupun sebenarnya ia ingin menangis, karena Rizal bersikap dingin kepadanya.
Rizal sendiri sebenarnya tidak tega bersikap dingin kepada Dinda. Di hatinya masih ada rasa cinta, tetapi rasa cinta itu terkalahkan oleh rasa marahnya. Dia tahu kalau mereka suami istri yang sah, tidak salah mereka melakukan hubungan suami istri. Rizal terlalu berharap, hingga rasa sakit yang ia dapat.
"Non, kok lesu begitu?" Tanya Inah yang sedang mengepel lantai teras.
"Rizal Mbak!" Jawab Dinda duduk di kursi teras.
"Rizal kenapa Non?" Tanya Inah ingin tahu.
"Sepertinya dia tidak bisa memanfaatkan ku!" Jawab Dinda yang tak sanggup lagi membendung air matanya.
Inah pun menyuruh Dinda untuk masuk ke dalam, karena dia tidak ingin orang yang lewat melihat Dinda sedang menangis. Dinda masuk ke dalam kamarnya dan menangis sesenggukan. Lalu Inah mengambilkannya segelas air minum dan duduk di bibir ranjang mulai menghibur Dinda, agar berhenti menangis.
__ADS_1
Bersambung...