Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Tidak Boleh Keluar Tanpa Suami


__ADS_3

Dinda pergi ke kamarnya, ia duduk di depan cermin sambil mengoles lipstik warna merah muda di bibirnya. Wajahnya tampak ceria, membiarkan rambutnya terurai panjang menutupi leher jenjangnya. Dari ekspresi Dinda, sepertinya Dinda sedang di mabuk kasmaran.


Senyum yang tak henti-henti menghiasi wajah manisnya, lantunan lagu yang dinyanyikan menambah suasana menjadi riang. Dinda pun berdiri di depan cermin panjang, yang memperlihatkan seluruh badannya, sehingga dia tahu baju yang ia kenakan cocok atau tidak.


Di saat ia mengambil tas punggungnya, bersiap untuk pergi, tiba-tiba sang kakak masuk tanpa permisi. Tanpa memperdulikan kedatangan sang kakak, Dinda meraih ganggang pintu untuk keluar. Belum juga pintu terbuka, Anton memanggilnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Anton penasaran.


"Mau main sama teman!" Jawab Dinda jutek.


Anton memberitahu kepada Dinda kalau sang nenek tidak mengijinkan ia pergi tanpa dirinya. Itu artinya, kemanapun Dinda pergi, Anton juga harus pergi dengannya. Entah itu beneran atau hanya bohongan belaka, tetapi Dinda percaya begitu saja dengan Anton.


"Tapi aku kan mau pergi sama temanku, kalau kakak ikut ya gak asyik lah!" Ujar Dinda dengan rasa kecewa.


"Makanya di rumah saja! Masak buat Nenek dan jagain nenek, jangan keluyuran terus!" Sahut Anton menasehati.


Dinda memanyunkan bibirnya, lalu ia menaruh tasnya di atas ranjang. Dia keluar menuruni anak tangga, menghampiri sang nenek yang saat itu sedang membaca koran.


Dengan bersemangat Dinda duduk di samping sang nenek, lalu ia memijit paha neneknya. Sang nenek yang sudah paham dengan sifatnya Dinda, ia pun tahu pasti ada sesuatu yang akan Dinda bicarakan. Tetapi saat itu sang nenek pura-pura tidak perduli.


"Nenek! Dinda boleh pergi gak, sebelum Maghrib Dinda pastikan sudah pulang kok!" Pamit Dinda merayu.


"Ingat Din, kamu itu sudah punya suami, bukan anak SMA yang keluyuran kesana kemari gak jelas! Kalau mau pergi ya harus sama suami mu, biar ada yang jagain kamu!" Sahut sang nenek menasehati.


"Tapi nek, Dinda sudah gede, Dinda bisa jaga diri sendiri." Ujar Dinda merengek.


Percuma saja Dinda merengek, sang nenek tetap tidak mengijinkannya untuk pergi. Merasa putus asa, Dinda pun mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia sepertinya sedang mengirim pesan kepada seseorang. Mungkin mengirim pesan untuk Rizal, karena hari ini mereka janjian untuk bertemu.


Dari lantai atas Anton melihat ke bawah, melihat Dinda yang sedang duduk di sofa sibuk dengan memainkan ponselnya. Dari raut wajah Dinda, Anton tahu kalau sang nenek tidak memberinya ijin. Ia pun tersenyum dan langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Karena tidak dapat ijin dari sang nenek, Dinda pun berpamitan naik ke atas. Tanpa memperlihatkan sikap kesalnya, Dinda naik ke atas menaiki anak tangga. Lalu ia masuk ke kamarnya sang kakak, merebahkan badannya di atas ranjang.


"Kenapa? Gak boleh pergi sama nenek ya!" Tanya Anton meledek.


"Tau ah! Jadi males mau ngapa-ngapain." Jawab Dinda seraya membenamkan wajahnya di sela-sela bantal.


Merasa kasihan sama sang adik karena apa yang ingin ia lakukan selalu di larang sang nenek, Anton pun tiba-tiba punya ide.


"Mulai besok kamu ikut kerja kakak saja, nanti kakak ijinin kamu keluar dua-sampai tiga jam!" Ide Anton.


"Beneran nih kak! Ok deeh... Besok aku ikut kakak kerja!" Sahut Dinda kegirangan.


Karena sangking girangnya, Dinda menggeser kan badannya dan memeluk sang kakak yang saat itu sedang tiduran di sebelahnya. Anton pun terkejut dengan pelukan Dinda yang dengan tiba-tiba.


*****


Setelah makan malam Dinna langsung masuk ke kamar, ia menggosok giginya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Seperti tak mendengarkan sang kakak, Dinda masih memakai baju tidur super pendek dan tidak memakai dalaman. Karena Dinda merasa nyaman dengan baju tidur yang ia pakai.


Melihat Dinda yang memakai baju super pendek, hal itu membuat Anton berkringat dingin. Di umurnya ke 29 tahun, dia belum pernah melihat gadis memakai baju sependek itu selain Dinda. Wajar saja ia jadi salah tingkah ketika melihat bokong Dinda yang bergerak ke kanan dan ke kiri.


Untuk mengurangi rasa gelisahnya, Anton pun memberi selimut ke tubuh Dinda. Lalu Dinda pun segera menyudahi panggilannya dengan Rizal. Karena dia tidak mau kalau sang kakak mendengar percakapannya dengan Rizal.


"Kak, di kantor kakak ada lowongan pekerjaan gak?" Tanya Dinda dengan manja.


"Memangnya kenapa? Untuk siapa?" Tanya Anton balik.


"Temanku sedang membutuhkan pekerjaan nih, dia orangnya pinter kok! Pekerjaan apa saja deh, yang penting ada kerjaan." Jawab Dinda masih dengan nada manja.


Tanpa bertanya siapa yang membutuhkan pekerjaan, Anton pun langsung menyuruh Dinda untuk memberitahu temannya datang ke kantor besok. Karena kebetulan di bagian marketing butuh karyawan untuk beberapa orang lagi.

__ADS_1


Dinda pun kegirangan ketika sang kakak menyuruhnya untuk memberitahu temannya untuk datang ke kantornya besok. Seperti biasanya, kalau Dinda merasa senang, ia selalu memeluk sang kakak sambil menciumi pipinya.


Kalau dulu Anton menganggap Dinda adik kandungnya, jadi dia tidak merasakan apa-apa. Tapi sekarang Dinda sudah sah jadi istrinya, Anton pun merasa sesuatu yang aneh. Anton mencoba untuk bersikap biasa, tapi adik kecilnya tidak bisa di ajak kompromi.


"Sudah-sudah, cepetan tidur! Besok berangkat pagi-pagi, kamu kan harus siapin sarapan. Biar gak di marahin nenek." Suruh Anton sambil mendorong tubuh Dinda agar menjauh darinya.


"Siap bos! Kalau ada suara Adzan, bangunin aku ya kak!" Sahut Dinda bersemangat.


Sebelum Dinda tidur, ia terlebih dahulu mengirim pesan singkat kepada temanya yang akan bekerja di kantor sang kakak. Sangking senangnya, Dinda sampai senyum-senyum sendiri membaca balasan pesan dari temannya.


"Sudah tidur!" Suruh Anton.


Anton pun mengambil ponselnya Dinda dan ia taruh di atas nakas, lalu Anton merebahkan badannya di samping Dinda. Tak lama kemudian suara ponsel Dinda berbunyi sebagai tanda pesan masuk.


Dengan sigap, Dinda langsung bergerak mengambil ponselnya yang di taruh Anton di atas nakas dekat Anton tidur. Alhasil, posisi Dinda berada di atas Anton saat ia mau mengambil ponselnya. Anton pun terkejut karena dua benda kenyal menempel di dadanya. Seketika detak jantung Anton berdegup dengan kencang dan aliran panas darahnya mengalir di setiap sudut tubuhnya.


Dinda dengan polosnya, berdiam di atas tubuh sang kakak dan membaca pesan masuk. Karena adik kecilnya Anton tidak bisa di ajak kompromi, Anton pun membalikkan tubuhnya dan menggeser tubuh Dinda ke samping.


"Kak, bawa surat lamaran gak?" Tanya Dinda.


"Gak perlu!" Jawab Anton gugup.


Dengan susah payah Anton mencoba untuk tidur, malah tiba-tiba Dinda yang sudah tertidur lelap memeluknya dari belakang. Ingin sekali Anton membalikan badannya dan memeluk Dinda, tapi ia sadar kalau dia tidak boleh melakukan hal itu. Dia tidak mau membuat hubungannya dengan Dinda menjadi canggung.


Karena tidak bisa menguasai dirinya, Anton pun pergi ke kamar mandi. Entah apa yang di lakukan Anton di kamar mandi, karena cukup lama dia berada di dalam sana.


"Kenapa aku jadi begini? Sebelumnya Dinna memeluk, menciumiku, bahkan memakai dalaman saja aku tidak tertarik, tetapi kenapa sekarang aku seperti serigala!" Batin Anton melihat wajahnya di cermin wastafel.


Selesai dari kamar mandi, Anton merasa lega. Adik kecilnya sudah mau tidur dan ia pun merebahkan tubuhnya di samping Dinda. Tanpa ia sadari, Anton tertidur pulas sambil memeluk Dinda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2