
"Mbok, Inah boleh gak aku ajak ke puncak?" tanya Anton kepada simbok yang baru pulang dari pasar.
"Tanya Inah Den, kalau dia mau ya diajak saja!" jawab simbok sambil menaruh barang belanjaan.
"Ok! Terima kasih ya mbok!" kata Anton tersenyum.
Walaupun masih kesal atas insiden penyebutan nama, tetapi Anton tetap ingin membuat Dinda senang. Ia berencana mengajak Dinda pergi ke puncak, karena sebelumnya Dinda mengatakan bahwa dirinya ingin jalan-jalan pergi ke puncak.
"Bro, kita pergi ke puncak yuk! Inah, kamu juga ikut ya!" ajak Anton kepada Inah dan Dimas.
"Kapan? sekarang?" tanya Dimas.
"Ya sekarang lah! Sana cepetan siap-siap." suruh Anton bersemangat.
Karena Dimas dan Inah bersedia pergi ke puncak, Anton pun segera naik ke atas. Dilihatnya Dinda yang masih di dalam selimut. Kemudian Anton menyikap selimutnya dan menyuruh Dinda untuk siap-siap pergi ke puncak.
"Hah! Kita mau ke puncak?" tanya Dinda yang langsung duduk.
"Iya, kita pergi ke puncak, sekarang!" jawab Anton membantu Dinda turun dari ranjang.
"Terima kasih sayang!" Dinda mengecup ringan bibir Anton.
Setelah semua siap, mereka berempat masuk ke mobil. Ketika Dimas melajukan kendaraannya, tiba-tiba Dilla melupakan sesuatu. Sehingga Dilla menyuruh Dimas untuk berhenti dan Dimas pun segera memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Apa yang ketinggalan? Biar aku saja yang ambil," Anton menawarkan diri.
"Biar aku saja, kamu kan gak tau tempatnya!" Dilla menolak tawarannya Anton.
Sebelum turun Dilla melihat kearah kanan dan kiri, untuk memastikan kalau tidak ada kendaraan yang lewat. Setelah yakin tidak ada, ia pun menurunkan satu kakinya dan tiba-tiba sebuah mobil yang melaju begitu kencang datang dari arah belakang. Anton yang melihatnya pun langsung menarik tangan Dinda untuk naik ke dalam mobil.
Brak!
Suara keras pintu mobil tertabrak kencang hingga lepas dari tempatnya. Mobil pun sedikit terpental hingga membuat badan mereka terguncang, Inah dan Dilla berteriak kencang. Bersyukur, mereka berempat tidak terluka.
"Gila! Aku yakin kalau mobil itu sengaja!" ujar Dimas yang masih terkejut.
"Untung saja aku melihatnya, kalau tidak, gak tahu apa yang akan terjadi!" kata Anton sambil memeluk Dinda.
__ADS_1
Mereka berempat masih dalam keadaan syok, Dilla terdiam dalam pelukan sang suami. Kaki, tangannya masih bergemetaran. Simbok dan beberapa tetangga keluar dari rumah, karena mendengar benturan yang cukup keras.
"Ya Allah, Den! Apa yang terjadi?" simbok teriak menghampiri Dimas.
"Gak apa-apa Mbok, hanya keserempet saja!" jawab Dimas turun dari mobil.
Anton membopong Dinda masuk kedalam rumah, sementara Dimas mengurus mobil yang rusak. Sedangkan Inah membantu Dimas membersihkan serpihan kaca yang berserakan di jalanan. Dari kejadiannya, Dimas meyakini bahwa ada unsur kesengajaan dalam insiden tadi.
Dimas melihat ke atas untuk mencari adanya CCTV. Beruntung, tetangga Anton memiliki CCTV yang terletak diantara rumahnya Anton. Ia kemudian menemui pemilik rumah dan meminta ijin untuk melihat rekaman CCTV.
"Terima kasih Pak, sudah mengijinkan saya melihat rekaman CCTV nya," ujar Dimas berterimakasih.
"Tidak apa-apa, kan memang harus saling membantu. Apalagi ini hanya rekaman CCTV," sahut pemilik rumah.
Setelah mendapatkan nomer plat mobil yang menabrak dan menyalin isi rekaman, Dimas pun berpamitan untuk pulang. Mobil yang rusak sudah dibawa oleh derek, serpihan kaca juga sudah dibersihkan oleh Inah. Lalu Dimas masuk kedalam ruamah untuk membicarakan masalah ini dengan Anton.
"Inah, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dimas yang baru masuk kedalam rumah.
"Gak apa-apa mas! Mas Dimas gak apa-apa juga kan?" tanya Inah balik.
"Mas juga gak apa-apa kok! Aku nemuin Anton dulu ya!" pamit Dimas.
Anton dan Dimas duduk di sofa ruang tamu. Dimas memperlihatkan rekaman CCTV yang ia copy dari tetangga. Ia memberitahu jika kejadian tadi ada unsur kesengajaan. Setelah menonton rekaman CCTV, Anton juga sependapat dengan Dimas.
"Kita cari tahu dulu siapa pemilik mobil itu!" kata Dimas.
"Ok, aku setuju!" sahut Anton.
"Biar aku yang urus, kamu temani Dinda saja! Kasihan dia, pasti masih syok," suruh Dimas.
Akhirnya Dimas pergi sendirian untuk mencaritahu pemilik mobil yang hampir mencelakai Dinda. Sementara Anton kembali ke kamarnya untuk menemani Dinda. Niat ingin membahagiakan istri, tetapi berakhir dengan hal yang membuat sang istri trauma. Sungguh Anton tak ingin hal itu terjadi.
*****
Inah mulai gelisah, karena sudah malam Dimas tak kunjung pulang. Ia mencoba meneleponnya, tetapi ponselnya tidak aktif. Anton sendiri tidak tahu keberadaannya. Ketika Inah sedang mondar mandir dengan kekhawatirannya, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Inah segera lari untuk membukakan pintu yang ternyata Dimas.
"Kenapa ponselmu gak aktif? Aku seharian mengawatirkan mu!" tanya Inah yang langsung memeluk Dimas.
__ADS_1
Mendapat pelukan dari Inah, Dimas pun terkejut campur senang. Apalagi setelah tahu jika Inah mengawatirkannya, ia semakin salah tingkah.
"Maaf Inah, baterai ponselku habis!" jawab Dimas membalas pelukannya Inah.
"Uhm Uhm!" simbok mendehem melihat mereka berdua yang belum halal saling berpelukan.
Seketika Dimas langsung melepaskan pelukannya dan meminta maaf kepada simbok, karena dia merasa sudah melampaui batas. Begitupun dengan Inah, tetapi dia membela Dimas, karena dia yang memulai memeluknya.
"Jangan diulangi lagi hal seperti itu! Menikahlah kalau kalian sudah tidak bisa mengontrol!" tegur simbok memberi kode agar Dimas segera menikahi anaknya.
"Iya Mbok, saya pastikan tidak akan terulang lagi," sahut Dimas canggung.
Anton yang mendengar suara bel pun langsung keluar dari kamarnya. Dia tahu jika yang datang adalah Dimas. Perlahan Anton menuruni anak tangga dan dilihatnya Dimas sedang berbicara dengan simbok.
"Bagaimana Bro? Sudah tahu mobil siapa?" tanya Anton.
"Iya sudah! Kita duduk dulu," jawab Dimas.
Karena Dimas mau berbicara dengan Anton, Inah dan simbok pergi ke kamar mereka. Lalu Dimas memberitahu kepada Dimas pemilik mobil yang tadi hampir menabrak Dilla. Betapa terkejutnya Anton, ketika tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Saat itu Anton tidak tahu, apakah harus mencurigai jika itu kecelakaan yang disengaja atau memang sudah direncanakan. Karena dia masih tidak percaya jika pemilik mobil itu adalah oarang yang dekat dengannya, terutama dalam segi bisnis.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Dimas mengerutkan keningnya.
"Aku gak tahu, kita selidiki lebih lanjut lagi. Siapa tahu mobil itu sudah dijual ke pihak kedua," jawab Anton masih tak percaya.
"Ok, aku akan cari tahu lebih lanjutnya. Karena hari ini waktunya terbatas, jadi aku belum sempat mengecek secara detai," Dimas memberitahu.
Anton sangat berterima kasih kepada Dimas, karena dia sangat loyal kepadanya. Walaupun begitu, Anton tidak ingin jika Dimas mengorbankan kebahagiaanya sendiri demi untuk membantunya.
"Sebaiknya kamu segera pulang kerumah, bicarakan dengan orangtua mu, jika kamu ingin menikahi Inah." suruh Anton.
"Itu mah gampang Bro, yang penting masalah ini selesai dulu!" sahut Dimas tersenyum.
"Kamu jangan seperti itu, ingat umur mu sudah kepala tiga. Jangan di undur-undur jika kamu sudah siap lahir batin untuk menikah," kata Anton menasehati.
Dimas pun tersenyum mendapat nasihat Anton dan menyuruhnya untuk segera menikah. Karena sangat lelah, Dimas pun berpamitan untuk mandi dan istirahat.
__ADS_1
Bersambung....