Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Ada apa dengan Dinda


__ADS_3

"Mbak, punya pembalut gak? Aku lagi datang bulan nih dan gak bawa pembalut," tanya salah satu karyawannya.


"Di laci meja kerjaku ada, ambil saja!" jawab Dinda yang sedang sibuk menjahit manik-manik di baju.


"Terima kasih ya Mbak," kata karyawannya berterimakasih.


Dinda terdiam dan berhenti menjahit. Dia teringat kalau bulan ini dia belum kedatangan tamu. Jika dihitung-hitung, dia telat datang bulan selama 15 hari. Tetapi Dinda tak ambil pusing, toh biasanya dia kadang juga telat, walaupun tidak selama itu. Ia pun kembali menjahit bajunya yang ia desain sendiri.


Sambil menjahit, Dinda mendengarkan karyawannya yang sedang mengobrol. Bercerita tentang semasa dulu waktu hamil, dia sangat benci melihat suaminya. Dinda pun tersenyum mendengar cerita dari karyawannya. Baginya cerita itu sangat lucu, bagaimana bisa orang hamil bisa membenci suaminya dan ia dengar kalau itu salah satu pengaruh hormon.


"Memangnya apa hubungannya istri hamil dengan membenci suami Mbak?" tanya Dinda heran.


"Gak tahu Mbak! Sebelum hamil aku suka manja-manja sama suami, tetapi waktu hamil aku lihat suami aja bawaannya pengen marah terus. Tapi setelah melahirkan, aku suka manja-manjan lagi kok sama suami," jawab karyawannya yang juga heran dengan apa yang dia alami.


"Kok bisa gitu ya! Aneh sih, tapi nyata," sahut Dinda yang masih terheran-heran.


Setelah selesai menjahit, Dinda kemudian merebahkan badannya di sofa. Dia mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja. Tidak ada pesan masuk ataupun panggilan masuk dari sang suami. Biasanya, Anton selalu meneleponnya atau mengiriminya pesan untuk mengingatkannya untuk istirahat, tetapi siang itu sama sekali tidak ada pesan darinya. Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba ada pembeli yang datang.


Dinda keluar untuk menyapa mereka. Pembeli itu rupanya ingin memesan gaun untuk lamaran yang bernuansa Islami. Saat itu stok sedang habis, lalu pembeli itu menyuruh Dinda untuk mendesain baju untuknya. Dengan segera Dinda menggambar sketsa di buku dan memperlihatkan kepada pembeli tersebut dan rupanya, pembeli itu suka dengan sketsa yang dibuat Dinda.


"Dua Minggu lagi kita ambil ya Mbak," kata pembeli itu.


"Inshaa Allah, kita akan mengerjakannya tepat waktu," sahut Dinda tersenyum puas.

__ADS_1


Setelah memilih-milih bahan yang bagus, pembeli itu pun berpamitan untuk pulang. Ini kali pertamanya Dinda mendapatkan orderan yang ia desain sendiri. Ia pun bersemangat dan meminta karyawannya untuk membantunya. Karena sangking semangatnya, Dinda pun melewatkan makan siangnya. Semua itu karena tidak ada telepon atau pesan dari Anton yang selalu menyuruhnya untuk makan.


Selesai menentukan bahan, Dinda kemudian beristirahat. Dia mengambil ponselnya kembali dan tidak ada pesan dari sang suami. Ia pun beranjak dari duduknya dan dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Dia baru ingat kalau dirinya belum makan. Kemudian ia memesan makanan melalui aplikasi Online.


"Kenapa ya aku kok jadi gak nafsu makan gini," tanya Dinda pada salah satu karyawannya.


"Masuk angin kali Mbak, habisnya Mbak Dinda makannya telat sih!" jawab karyawannya.


"Bisa jadi, kadang gak paper jadi lupa makan," kata Dinda sambil memaksa untuk makan.


Walaupun tak enak makan, Dinda terus memaksakan untuk memakan semua makanan yang ia pesan. Karena ia tak mau jatuh sakit karena telat makan. Apalagi ia juga susah minum obat, jadi Dinda tidak mau sakit.


*****


Sudah jam delapan malam, Dinda masih di butik. Anton yang katanya mau menjemputnya tak kunjung datang, lalu Dinda pun pulang dengan menggunakan jasa taksi online. Ia semakin yakin kalau Anton marah padanya, karena masalah tadi pagi. Dinda pun berencana untuk meminta maaf keatika sudah sampai rumah.


"Males akunya! Kamu marah-marah terus gak jelas!" sahut Anton yang saat itu sedang minum susu segar.


"Ya kalau istri lagi marah tuh dirayu atau apalah! Bukannya malah diam gak peduli gitu!" protes Dinda yang langsung naik keatas.


Rencana tinggalan rencana. Yang awalnya ia ingin meminta maaf, tetapi malah dia yang memancing keributan. Tiap kali melihat Anton, emosinya menjadi tak terkendali. Bahkan ketika ia mandi, ia menangis sejadi-jadinya. Tetapi, setelah menangis hatinya terasa plong. Seperti beban-beban dalam hidupnya hilang begitu saja.


Anton menghampirinya, mencoba mengalah dan meminta maaf. Tetapi kesan yang diberikan oleh Dinda malah membuat suasana hati Anton menjadi panas. Anton pun keluar dari kamar, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Untuk menenangkan hatinya, agar tidak terbawa emosinya.

__ADS_1


Setelah hatinya tenang, Anton pun kembali ke kamar. Dilihatnya Dinda yang sedang menonton TV sambil tertawa-tawa, karena ada adegan yang lucu. Sengaja Anton merebahkan badannya dekat dengan sang istri, lalu ia memeluk paha Dinda dengan melingkarkan tangannya. Karena saat itu Dinda sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Ih... Geseran dikit kenapa sih!" suruh Dinda sambil melepaskan tangan Anton yang menempel di pahanya.


"Aku sudah mencoba untuk mengalah dan kamu malah memancing terus amarahku! Kesabaran orang ada batasnya Din!" Anton pun terbawa amarahnya dan ia membawa selimut keluar dari kamar.


"Baguslah! Sana tidur diluar," kata Dinda yang senang melihat Anton keluar kamar membawa selimut dan itu artinya, ia tidak akan tidur dengannya.


Dinda tersenyum puas ketika melihat sang suami keluar dari kamar membawa selimut. Itu artinya, malam ini dia tidak akan tidur dengan Anton. Entah kenapa, bisa jauh dari Anton membuatnya semakin nyaman. Karena ia belum makan, Dinda pun terserang rasa lapar. Ia keluar dari kamar, berencana untuk membuat mie instan.


Disaat Dinda berada di lantai bawah, ia melihat Anton yang sedang menonton TV sambil tiduran di sofa. Tanpa memperdulikan keberadaannya, Dinda segera memasak mie instan. Aroma mie instan pun tercium oleh Anton dan ia pun segera beranjak menghampiri Dinda. Karena dokter tidak memperbolehkan Dinda makan makanan instan, Anton pun menegur dan memarahinya agar tidak memakan mie instan yang baru saja ia buat.


"Kamu benar-benar keras kepala Din! Kamu gak pernah dengar perkataan ku dan sekarang kamu juga tidak mendengarkan kata Dokter!" kata Anton dengan nada tinggi.


"Kak Anton kenapa sih! Sudah lama juga aku tidak makan mie, baru hari ini ingin makan mie tapi sudah dimarahin kaya ngelakuin kesalahan! Kalau mau hamil ya hamil Kak! Buktinya orang yang tinggal di desa, makan apa saja tanpa pantangan juga bisa hamil, anak-anak mereka juga sehat dan banyak yang cerdas. Sudahlah gak usah berlebihan!" sahut Dinda tidak mendengarkan perkataan sang suami.


Dengan amarahnya, Anton kemudian mengambil mangkok yang berisi mie itu dan membuangnya di wastafel dapur. Dinda pun langsung marah-marah sama Anton, ia juga menangis tak terkendali. Ia merasa kalau sang suami malam itu sungguh keterlaluan. Ia sudah muak dengan sikap Anton yang terlalu protektif.


"Kalau Kakak ingin cepat punya momongan, sana nikah lagi! Cari istri yang bisa hamil, bukan kaya aku yang sudah hamil!" kata Dinda sambil menangis.


"Ok! Kalau kamu maunya seperti itu!" sahut Anton yang terbawa emosi.


"Oh.. jadi Kakak beneran mau nikah lagi! Yasudah sana pergi, biarkan aku sendiri!' kata Dinda semakin menangis kencang.

__ADS_1


Kemudian Dinda naik keatas. Dia menangis, ada rasa khawatir jika sang suami akan mencari istri lagi. Anton masih muda, tampan dan kaya. Jadi cukup mudah baginya untuk mencari istri yang sesuai kriterianya. Semakin memikirkan hal itu, Dinda semakin menangis dengan kerasnya.


Bersambung...


__ADS_2